
"Aku tidak apa-apa, aku masuk ke kamar dulu yah."
Lusi pun masuk kamar dengan berjalan gontai, Rangga yang melihat hal itu merasa kasihan terhadap kekasihnya. Namun ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Lusi kembali seperti semula.
Lusi terduduk di kasurnya, ia kembali menangis mengingat tentang kejadian tadi. Dirinya tidak percaya bahwa kedua kakaknya akan berkata seperti itu.
"Apakah sebegitu benci itu kah mereka kepada ku? hiks ... haaaah! bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan situasi seperti ini jika tanpa mereka," gumam Lusi di sela-sela ketakutannya.
"Maafkan aku kak. maafkan aku."
Satu minggu kemudian ...
"Semua berkas-berkasnya akan segera kami kirim."
__ADS_1
"Baik, terimakasih."
"Sama-sama."
"Sayang ...? Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita," ucap Rangga sembari tersenyum manis ke arah kekasihnya itu.
Lusi membalasnya dengan senyuman tulus. "Aku juga tidak sabar mas."
"Baiklah, yuk kita pulang," ucap Rangga sembari meraih tangan Lusi menuju ke tempat parkir. Karena mereka baru saja dari tempat kursus (kursus perkawinan). Setiap orang yang akan menikah harus wajib melakukan kursus perkawinan di kota itu.
Hari demi hari telah berlalu dan saat ini adalah hari yang di tunggu oleh kedua belah pihak. terutama Rangga yang sudah bersemangat untuk menunggu hari ini tiba. (entahlah, author tidak tahu kenapa laki-laki itu seperti itu).
Para tamu pun berdatangan ke acara tersebut yang di selenggarakan di Dewan (gedung pernikahan) yang terletak di Dewan Sifik Petaling Jaya sana. Dengan di hadiri oleh teman-teman Rangga, para keluarga Rangga dan termasuk teman-teman rekan yang bekerja di university termasuk Mak By supervisor nya.
__ADS_1
Lusi melihat-lihat sekeliling, seperti mencari keberadaan seseorang. Beberapa saat, gadis itu menundukkan kepalanya sembari tersenyum getir ke arah lantai.
'Ternyata, mereka benar-benar tidak datang.' batin Lusi.
Rangga yang mengetahui istrinya sedang menundukkan kepala, ia dengan lembut menyentuh tangan Lusi dan menggenggamnya dengan erat.
"Sayang, baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut sembari menatap wajah Lusi yang hari ini telah berstatus menjadi istrinya.
Lusi yang berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar hanya mengangguk kecil sembari tersenyum tipis ke arah laki-laki itu. Ia memberitahu bahwa dirinya tidak apa-apa.
Rangga pun tersenyum meskipun ia tahu bahwa Lusi hanya sedang menahannya.
Akhirnya setelah seharian penuh, acara pernikahan tersebut pun selesai. Mereka kembali ke tempat tujuannya, sebenarnya orang tua Rangga mengajak mereka untuk tinggal bersama dengan keluarga mereka. Namun Rangga menolaknya, ia berkata ingin hidup bersama dengan istrinya tanpa seseorang ada di dalam rumah tersebut. Sang mama pun tak banyak berkata mereka hanya menyetujui permintaan anaknya saja.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tinggal mereka, mereka berdua memutuskan untuk membersihkan diri karena hari itu sudah sangat malam. Setelah keduanya selesai, mereka memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa di hari malam pertama mereka.
Di tengah malam, Lusi tidak bisa tidur. Ia melirik ke arah laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. 'Kenapa, dia tidak menyentuhku? Apakah karena dia kelelahan, sehingga dia lupa?' batin Lusi saat menatap wajah suaminya yang sudah menutup matanya. Akhirnya Lusi pun memilih untuk menutup matanya kembali agar ia bisa tidur dan merasa segar di pagi harinya.