
Tepat jam tujuh pagi. Akhirnya aku pun sampai di tempat kediaman saudara ku. Di sana aku melihat kedua saudaraku telah menunggu ku di depan pintu rumah yang mereka tinggali. Sebuah senyuman kecil terukir di bibir mereka, aku pun membalas senyuman tersebut dan menghampiri keduanya.
Kakak Amber segera memeluk ku dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menenggelamkan wajahnya pada pundak ku. "Dek ... akhirnya kau sampai juga."
Aku hanya mengangguk sebagai respon. Dan ku lirik ke samping melihat kak Arya yang merupakan saudara kedua ku , ku lihat kak Arya mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah ku. Akhirnya setelah beberapa saat, kak Amber melepaskan pelukannya dan langsung membawa ku ke dalam rumah tanpa memedulikan kak Arya yang sudah membulatkan matanya karena belum mendapatkan pelukan dariku.
"Kak. kenapa kau membawa Lusi kedalam, hah? Aku kan belum memeluknya, hei!" teriak kak Arya dari arah luar.
Kak Amber mempersilahkan aku untuk duduk di ruang tamu yang tidak seberapa luas itu. Aku hanya memandangi ruangan itu. Rupanya tempat yang saudaraku tinggali tak jauh beda dengan rumah yang ada di kampung.
"Lusi, minumlah ini." ucapnya seraya memberikan aku segelas air putih.
Aku pun menerimanya. "Makasih kak."
"Saat di perjalanan ... kau tidak kesulitan, 'kan?" tanyanya saat dirinya telah duduk di samping ku.
Aku pun menggeleng. "Tidak."
Kak Arya yang tadi berada di luar, akhirnya masuk dan duduk di sebelah kiri tempatku duduk dan merangkul ku hingga rasanya terasa sesak. "Dik! Syukurlah kamu sampai dengan keadaan masih hidup."
__ADS_1
Aku melirik ke arahnya. "Kak Arya pikir aku sampai tujuan dalam keadaan meninggal begitu?"
Kak Arya tersenyum sembari melepaskan rangkulannya. "Maaf, Kakak hanya bercanda."
Aku hanya menggeleng dan menoleh ke arah mbak ku. "Kak Amber. Kira-kira kapan aku akan mulai bekerja?"
Kakak perempuan ku itu terlihat menyipitkan matanya lalu menatap ku heran. "Kau ingin langsung bekerja? Istirahatlah dulu beberapa hari."
Aku pun menggeleng dengan perkataannya. "Tidak! Aku ingin cepat-cepat mendapatkan kerja kak."
"Dek ... kamu kan masih capek dari perjalanan jauh."
"Tapi dek-"
"Aku ingin cepat menghasilkan uang kak, supaya aku mengirimkan ayah uang di kampung," ucapku dengan suara pelan.
Kak Amber melirik ke arah Kak Arya. Dan kak Arya pun hanya menganggukkan kepalanya untuk mengizinkan keputusan ku. Hingga akhirnya kak Amber pun langsung meraih ponselnya yang ada di kantong celananya dan menelepon teman-temannya untuk mencarikan pekerjaan baru untukku.
Tidak butuh satu jam akhirnya Kak Amber memberitahu ku bahwa mulai besok aku bisa bekerja bersama dengan temannya. Aku yang mendengar penuturannya merasa senang karena aku dapat secepatnya mendapatkan uang untuk ayah di kampung.
__ADS_1
"Sudah. Kalau begitu kau pergilah tidur! Besok kau harus bangun pagi-pagi mengerti?" ucapnya padaku.
"Em, makasih mbak."
****
Paginya jam enam aku terbangun dari tidur ku dan segera membersihkan diri, saat mau melewati dapur aku melihat kak Amber sedang memasak dengan orang dari penghuni kamar di sebelah ku. Karena rumah yang kak Amber dan kak Arya tempati itu memiliki kamar empat yang satunya di huni oleh orang luar, yang merupakan satu kampung juga. Orang separuh baya itu menoleh ke arah ku dan memberikan senyuman. Aku pun membungkukkan badan memberi salam kepadanya, lalu aku pun masuk kedalam kamar mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku pun telah selesai dengan pakaian ku, dan segera keluar untuk menemui kakak perempuan ku. "Kak Amber."
"Sudah selesai?" ucapnya sembari keluar dari dalam kamarnya.
"Em, sudah." balas ku sembari mengangguk.
"Ini ...?" kak Amber memberikan ku sebuah tas kotak kecil padaku yang berisikan bekal yang akan ku bawa ke tempat kerja.
Aku pun mengambilnya dan bertanya. "Apa ini kak?"
"Itu bekal untukmu makan nanti pas sampai di tempat kerja, dan yang di bawah ini untuk makan siangnya," terangnya.
__ADS_1
"Sudah, yuk kita berangkat." sambungnya lagi.