
Rangga pun hanya mengangguk kecil, sembari melihat ke arah istrinya, Lusi yang mengetahui suaminya menatapnya ia segera mengangkat kepalanya dan membalas senyuman Rangga lalu menganggu. Ia tahu suaminya merasa tidak nyaman kepadanya atas datangnya sang kakak, namun Lusi memberikan kepercayaan bahwa ia tidak apa-apa akan hal itu.
"Baiklah, kakak boleh tinggal di kamar sebelah kanan. Di sana ada dua kamar yang tidak di tempati, dan kamu dik Mol (Adik bungsunya Rangga) kamu tidurlah di ruang ini karena Abang tidak ada kamar lagi," ucap Rangga kepada kakak dan adiknya.
"Aku tidur dimana saja boleh kok bang," sahut Mol adik Rangga.
Lusi tersenyum ke arah adik laki-laki suaminya itu. Ia baru tahu kalau suaminya itu memiliki adik, karena seingatnya saat ia di pertemukan kepada keluarganya Lusi hanya melihat kedua orang tua suaminya dan kedua kakak ipar serta kedua suami dari kakak iparnya itu, namun Lusi tak melihat adiknya ini. Atau mungkin saat ia kesana dulu adiknya itu sedang berada di luar.
"Baguslah, kalau begitu. Sebaiknya kami berdua masuk dulu ya kak, dik," ucap Rangga setelah itu ia mengajak Lusi untuk mengikutinya ke kamar.
Malamnya, mereka semua berkumpul di depan meja makan untuk makan malam. Lusi dan kedua kakak iparnya berada di dapur untuk menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah dan Lusi membuka bingkisan makanan yang ia beli tadi lalu memanaskannya. Saat Lusi tengah menyiapkan makanan sang kakak ipar pertama menghampirinya dan bertanya. "Lusi, kenapa kamu hanya membeli makanan dari luar? Kenapa tidak memasaknya saja, kan lebih hemat juga?"
Lusi melihat kakak iparnya sembari tersenyum. "Iya kak kami membelinya di luar, sebab saya masih belum pandai memasak," balas Lusi sembari tersenyum tipis ke arah kakak iparnya itu.
Kakak iparnya seperti menggelengkan kepalanya lalu kembali ke tempatnya tadi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Lusi, sehingga membuat gadis itu menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
__ADS_1
Sesaatnya ... mereka semua memulai makan malam bersama-sama. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang menemani makan malam mereka, sehingga Satiyeh kakak kedua Rangga bersuara.
"Dik Karin ...?" panggilnya
Lusi yang sedang menyantap makanannya mengalihkan pandangannya ke arah suara. "Iya, kak?"
"Sejak bila adik datang ke Malaysia?" tanya Satiyeh kakak ipar kedua.
"Oktober, tahun lalu kak." balas Lusi sembari tersenyum kecil.
"Iya kak, aku bertemu dengan Lusi di university ku. Dia bekerja di sana," sahut Rangga, ia mencoba menjawabnya sendiri pertanyaan sang kakak.
Sang kakak menoleh ke arah Rangga. "Begitu rupanya. Lalu kau terpincut kepadanya gitu karena Lusi cantik, betul?" goda sang kakak ipar kedua sehingga membuat Rangga tersenyum malu.
Lusi melihat ke arah kakak ipar keduanya, lalu beralih ke arah kakak ipar pertama. Lusi dapat melihat pandangan mereka yang berbeda saat menatapnya, entah kenapa Lusi merasa ada ketidaksukaan dari sang kakak ipar terhadapnya.
__ADS_1
"Lusi. Kalau kakak boleh tau kamu umur berapa?" tanya Satuna tiba-tiba. Membuat Lusi yang melamun tersadar dan langsung menjawab pertanyaan tersebut.
"Em ... bulan depan ni saya sudah dua puluh tiga tahun kak," balas Lusi.
"Dua puluh tiga tahun?" ucap Satuna membulatkan matanya tidak percaya. Lusi pun menganggukkan kepalanya dan menatap wajah wajah mereka yang sedang melihat satu sama lain kecuali Rangga suaminya.
"Wah, ternyata lebih tua kamu dong ya daripada suami mu."
Ucapan kakak ipar keduanya itu, membuat Lusi mengernyitkan dahi lalu mencoba bertanya kepada kakak iparnya itu. "Benarkah? Lalu, mas Rangga umurnya berapa kak?" tanya Lusi sembari melihat ke arah suaminya yang sudah terlihat menundukkan kepalanya.
"Rangga? Hah kamu tidak tahu umur suami kamu sendiri? Rangga masih muda lah, dia baru umur dua puluh satu tahun. Berarti dia tahun lebih muda darimu" ucap Satiyeh kakak kedua menjelaskan.
Lusi yang mendengar itu langsung membulatkan matanya tak percaya. Apa? dia puluh satu tahun? Benarkah? Lusi terdiam saat mendengar ucapan dari kakak iparnya itu. Ia hanya terlalu kaget tentang kebenaran bahwa suaminya itu ternyata masih dua tahun lebih muda darinya.
'Jadi ... aku menikahi seorang brondong?' gumam Lusi dalam hatinya.
__ADS_1