Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Telepon Misterius


__ADS_3

"Carly?"


Aska terkejut begitu mendapati Carly berdiri dihadapannya. Meskipun Ela telah lebih dahulu memberitahunya, tetap saja Aska tidak ingin bertemu Carly secepat ini.


"Aku pikir kamu sedang berduka atas meninggalnya Bima, tapi aku salah," Carly tersenyum mengejek. "Sepertinya kamu sedang bersenang-senang. Apakah ini tidak terlalu pagi untuk ke bar?"


Aska melirik pintu bar yang masih tertutup rapat. Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Tempat hiburan selalu beroperasi di malam hari, jadi tidak mungkin Aska ada disini untuk bersenang-senang. Aska tahu, Carly salah paham padanya.


"Aska,"


"Siapa lagi kali ini? Kenapa hari ini banyak orang yang memanggil namanya," batin Aska dalam.


Hervi yang baru selesai menyelidiki kasus pembunuhan di sekitar tempat ini, melihat Aska. Jadi dia berpikir untuk menyapanya.


"Sepertinya kamu terlalu sibuk dengan laki-laki lain hingga lupa padaku," sindir Carly begitu melihat Hervi.


Aska mendesis pelan. Carly selalu saja menyimpulkan masalah apapun berdasarkan apa yang dia lihat seperti sekarang, Aska dapat melihat jelas kemarahan di wajah laki-laki itu. Aska mendekati Carly yang berstatus sebagai tunangannya, mengiringnya untuk berbicara dengan tenang dan menjauh dari keramaian tapi laki-laki itu menepis tangan Aska dengan kasar.


"Kamu salah paham Carly," Aska mencoba menenangkan emosi Carly agar tidak membuat keributan di depan banyak orang. "Dia polisi yang menangani kasus Bima dan aku tidak punya hubungan apapun dengannya," jelasnya.


Carly tertawa jengah, seolah ia baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. "Hampir satu bulan kamu tidak ada kabar. Aku hanya mendengar rumor buruk tentangmu. Kamu tahu! Keluarga ku marah besar dan mereka bilang kamu mulai gila dan ingin kita putus."


Aska mengernyit, "putus? Carly, kita ini bukan bocah yang pacaran lalu putus. Kita akan menikah dua bulan lagi dan kamu mau kita putus?!"


"Kalau kamu tahu kita akan menikah harusnya kamu nggak berbuat konyol. Bahkan sekarang kamu selingkuh," tunjuk Carly pada Hervi.


Hervi kebingungan, mengapa tiba-tiba dia terjebak diantara pasangan ini.


Aska menepis tangan itu. "Jaga mulut kamu. Aku nggak selingkuh! Aku cuma mau cari Bima," bentaknya mulai kehilangan kesabaran.


"BIMA, BIMA, BIMA! Terus saja kamu membawa Bima ke dalam hubungan kita. Aku muak Aska, yang ada di pikiran mu cuma Bima!" Tuding Carly tajam. Laki-laki itu mengguncang tubuh Aska kasar.


"Hei, jangan kasar!"


Hervi maju karena sikap Carly mulai kasar dan semena-mena. Dia menepis tangan Carly, menarik tubuh Aska ke sisinya.


"Oh, liat! Selingkuhan kamu datang! Dasar perempuan murahan!" Charly mengamuk tidak terkendali. "**** You Aska!"


Aska tidak terima terus-terusan dihina dan disalahkan. Ia merengsek maju untuk menampar Carly tapi Hervi segera menghalangi dan menggeleng, meminta Aska tenang. Hervi membiarkan Carly pergi sambil tetap memaki Aska dengan sumpah serapah. Dia mengiring Aska ke mobilnya, memaksanya masuk dan segera menutup pintu. Sepanjang jalan Aska hanya diam, ia masih sibuk dengan pikirannya hingga Hervi memarkirkan mobilnya di pinggir pantai, membuka jendela. Membiarkan deru angin laut menerpa wajah keduanya.


"Jadi, kamu udah tunangan?"


"Kurasa sekarang sudah tidak," sahutnya malas.


Aska mengalihkan pandangannya menatap laut biru yang tidak berujung. Menata hati dan pikirannya agar kembali ke tempat di mana seharusnya dan kembali bekerja. Setelah ini banyak yang harus dihadapinya. Hervi menatap Aska sesaat sebelum ikut larut dalam lamunannya.


...***...


"Drrrttt ... Drrrttt ..."


"Aska, Aska! Kumohon Aska. Angkat ponsel mu. Kumohon ..."


"Drrrttt ... Drrrttt ..."


...***...


"Terima kasih untuk tumpangannya," ucap Aska begitu mobil berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.


Hervi menengok keluar jendela, melihat dengan jelas rumah Aska. Rumah khas para arsitek, dua pilar menjulang tinggi sebagai tiang utama yang menjadi daya tarik di arah teras depan. Ukiran khas timur tengah mendominasi setiap pasak dan langit-langit plafon rumah. Puluhan pot putih dengan aneka bunga tertata rapi sepanjang sudut depan area taman. Secara keseluruhan rumah ini merefleksikan gaya timur tengah yang di beri sedikit sentuhan ala Eropa latin.


"Tok ... Tok ..."

__ADS_1


Hervi berhenti mengangumi design rumah dan beralih pada laki-laki yang mengetuk kaca disampingnya.


"Hervi?"


"Aldi?"


"Kalian kenal?" sambut Aska dengan wajah bingung.


Hervi dan Aldi saling bertukar pandangan. Begitu Aska bertanya, keduanya mengernyitkan dahi bersamaan.


"Kenapa kamu bersama Hervi, Aska?" Tanya Aldi.


Aska membuka pintu mobil, keluar dari sana dan berjalan ke sisi Aldi. "Kamu kenal?" Aska menjawab Aldi dengan pertanyaan lainnya.


"Dia teman SMA ku. Lalu kamu, kenapa kalian berdua-"


"Berhenti berpikir Al. Apapun yang kamu pikirkan di kepala mu itu, jawabannya adalah TIDAK," potong Aska sebelum Aldi sempat membayangkan hal-hal yang rumit.


Hervi ikut turun dari mobilnya. "Aku bertemu Aska di kantor polisi. Aku bekerja disana," jelasnya.


"Oh, kamu polisi sekarang?" Seru Aldi lega. Dia cukup dipusingkan dengan Carly yang sudah dua jam menunggu Aska di dalam rumah. Kalau laki-laki itu melihat Hervi sekarang, bisa di pastikan mulut comelnya akan langsung mengeluarkan keluh kesah tanpa henti.


"Kalian?" Hervi menunggu penjelasan dari Aska dan Aldi, dia cukup penasaran hubungan diantara keduanya.


"Aku masuk dulu. Terima kasih," pamit Aska cepat begitu menyadari mobil Carly terparkir di teras samping.


"Oh," Hervi tidak sempat bertanya lagi karena Aska setengah berlari masuk ke dalam rumah.


"Aska adik tiri ku. Anak Papa," kata Aldi. "Dia pasti buru-buru, ada Carly di dalam rumah. Kurasa mereka sedang bertengkar," jelasnya karena melihat raut kecewa di wajah Hervi.


Hervi mengangguk pelan, "lebih baik kamu masuk. Laki-laki bernama Carly itu salah paham dan dia bersikap sedikit temperamental," sarannya.


Hervi segera mengibaskan tangannya meminta Aldi tenang. "Tidak, hanya sedikit berselisih."


"Hervi, maaf aku harus masuk. Sampai jumpa lagi," pamitnya. Menepuk pundak Hervi dua kali sebelum bergegas masuk ke dalam rumah.


...***...


Seharian ini Rani menghabiskan waktunya dengan menonton kembali rekaman video masa kecil Bima dan Aska. Diam-diam Nirmala selalu merekam kebersamaan keduanya saat bermain di rumah. Entah untuk ke berapakali video ini di putar selama beberapa hari terakhir. Rani tertawa hingga terbahak-bahak lalu semenit kemudian dia akan menangis tersedu-sedu.


"Drrrttt ... Drrrttt ..."


Rani mengecilkan volume televisi dan beralih menjangkau telepon di atas meja samping.


"Halo,"


"Ma? Mama!"


"Tut ... Tut .."


Rani terdiam. Matanya memanas, perlahan bulir air mata jatuh ke pipinya. Horn telepon yang di tangannya terlepas, jatuh membentur lantai.


"Bim - Bima,"


...***...


"Carly, bisa kita bicara berdua saja?" Bujuk Aska. Begitu masuk ke dalam rumah Aska mendapati Carly dan Papa duduk menunggunya dengan raut wajah suram. Pasti Carly sudah melaporkan masalah yang terjadi hari ini pada Papa. Tidak mungkin laki-laki itu menyia-nyiakan kesempatan untuk memojokkan Aska di depan Papa dan Mama Nirmala.


"Aska, duduk," perintah Papa.


Selama ini Agus berusaha keras untuk tidak terlibat dalam hubungan Aska dengan Carly. Meskipun keduanya bertunangan karena perjodohan tapi Agus tidak ingin Aska terpaksa melakukannya. Jika Aska ingin menyudahi pertunangan ini, Agus dengan lapang dada menerima keputusannya tetapi Agus tidak ingin ada keributan yang akan membuat hubungan baik yang selama ini mereka jalin putus begitu saja. Agus mengerti, anaknya tipikal orang yang berwatak keras. Sulit untuk bertahan disampingnya bila tidak menurunkan ego hingga ke batas minimal. Dan selama ini Agus melihat Carly telah berusaha keras untuk bertahan.

__ADS_1


"Sebentar lagi kalian menikah. Kenapa harus ada pertengkaran seperti ini?" Tanya Agus.


Carly tersenyum puas. Satu-satunya cara untuk berada diatas argumentasi Aska hanya berlindung di balik nama Papa-nya dan Carly selalu berhasil melakukan itu. Meski dari luar Aska terlihat cuek bahkan terkesan tidak peduli dengan keluarganya, pada kenyataannya Aska selalu berusaha untuk menjauhkan masalah yang terjadi dari pengamatan Papa-nya. Wanita itu selalu ingin terlihat sebagai anak yang membanggakan di depan orang lain.


"Papa, Carly hanya ingin Aska kembali ke Singapura. Dia harus belajar merelakan Bima."


"Carly," Aska mengeram marah.


"Apa yang di katakan Carly benar Aska," potong Agus cepat begitu melihat Aska akan memulai argumennya lagi.


"Pa, aku nggak akan pernah kembali sampai Bima ditemukan."


"Bima sudah mati Aska. Kenapa kamu bersikap konyol seperti ini?"


Carly merengsek maju, mencengkram kuat lengan Aska. Emosinya selalu melonjak naik setiap kali Aska menyebut nama Bima. Keduanya menamai hubungan mereka dengan label sahabat tapi Carly selalu melihat kedekatan di antara mereka lebih dari itu.


"Hentikan," tepis Aldi yang baru datang. "Jangan bertindak kasar padanya."


Carly mundur, dia tahu saudara tiri Aska tidak terlalu menerima pertunangan adiknya.


Aska menepuk pelan tangan Aldi, mencoba meyakinkan kalau dia masih bisa mengatasinya.


"Carly, kalo kamu terus bersikap seperti ini lebih baik pertunangan kita di batalkan," putus Aska. Dia sudah muak dengan sikap Carly. Selama ini dia sudah cukup bertoleransi terhadap sikap Carly yang kekanakan-kanakan.


"Aska!"


Agus bangkit namun Nirmala segera menahannya. Sejak Aska datang, Nirmala memilih masuk. Hubungannya dengan Aska baru saja membaik, Nirmala tidak ingin kehadirannya memberikan kesan buruk.


Sepanjang percakapan Agus dengan Carly, Nirmala hanya duduk menyimak tapi dia kurang setuju dengan sikap Carly yang terus menjelek-jelekkan Aska di depan Papa-nya.


"Pa, Aska pasti capek karena baru pulang," Nirmala menarik Agus untuk kembali duduk. "Aska, masuk sayang. Kamu belum makan malam 'kan?"


"Tapi-"


"Nak Carly, lebih baik kita bicara lagi saat semua orang sudah tenang."


"Ayo, Aska," ajak Aldi. Dia menggiring Aska melewati ruang tengah.


"ASKA! ASKA!"


Semua orang yang ada di dalam rumah berbalik untuk melihat siapa yang datang dengan langkah tergesa-gesa dan berteriak histeris.


"Aska," Rani langsung menghampiri Aska dengan wajah pucat dan nafas memburu.


"Tante, kenapa?"


"Aska, Bima-"


Lutut Rani bergetar hingga tidak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya. Tubuhnya seolah kehilangan tenaga hingga nyaris rubuh.


Nirmala segera menyambut Rani, menyangga tubuhnya. "Ran, tarik nafas dulu."


Rani menarik nafas dalam-dalam. "Aska, Bima menghubungi kita. Bima masih hidup."


Mata Aska membesar. "Dimana Bima, Tante?"


"Aska tenang!" Sela Agus. "Apa-apaan ini Rani? Kenapa kamu ikut-ikutan."


"Agus, aku mendengar suara Bima. Anak ku masih hidup," rintih Rani pilu. "Anak ku masih hidup ..."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2