
Aska mengetuk-ngetuk meja sambil berfikir. Kepalanya di penuhi ratusan kemungkinan untuk membentuk alasan logis. Dokter Rayyan selalu berpesan agar Aska membuat alasan-alasan logis untuk teori yang berputar di dalam otaknya. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan yang muncul hanya karena terbawa emosi. Diantara semua hal yang berputar di otaknya. Ada satu nama yang muncul, nama orang yang dapat membantunya mencari siapa pemilik nomor yang menghubungi Tante Rani.
Aska tidak bisa langsung datang ke BIN untuk meminta informasi, dia tidak punya kekuasaan sebesar itu. Meminta pertolongan Hervi juga tidak memberikan banyak harapan. Aska harus memaklumi karena Hervi terikat dengan peraturan. Memberi informasi penyelidikan kepada orang diluar konstitusi merupakan kesalahan besar yang bisa membuat Hervi menerima teguran keras. Meminta bantuan Papa jelas bukan solusi, mengingat Papa salah satu orang yang menganggap apa yang dilakukan Aska sekarang adalah perbuatan sia-sia.
Satu-satunya orang yang bisa diandalkan Aska sekarang hanya orang itu. Aska berdiri di depan gedung perkantoran di kawasan elit pusat kota. Matanya menatap lepas lambang JH Group yang terpampang dengan warna emas menyilaukan. Kemegahan gedung ini mencerminkan karakteristik pemiliknya.
Areta Hadi Johnson, CEO serta pewaris tahta seluruh aset JH Group. Wanita yang terkenal karena tangan dinginnya dalam mengelola perusahaan ditambah karakternya yang keras dan tegas. Dari sekian banyak kesuksesan yang diraihnya, segelintir orang juga mengenal Areta sebagai pemimpin dunia underground, dunia dimana senjata menjadi mata uang yang lebih diakui.
"Apa kabar Hani?"
"Baik, baik."
Seorang wanita tinggi semampai dan paras cantik ala Eropa, datang untuk menyapa Aska yang menunggu di lobi. "Wah Aska, apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir kali lima tahun yang lalu," sambut Hani - asisten Areta.
"Areta pasti senang kalo tahu kamu datang berkunjung,"
Aska pura-pura melengos malas. "Aku yakin dia akan mengejek ku lagi."
"Hahaha, jangan masukkan ke dalam hati apapun yang dikatakan Areta. Hanya mulutnya yang pedas tapi hatinya baik," hibur Hani. "Oh ya, Kami dengar kamu membangun perusahaan arsitektur di Singapura?"
Aska mengangguk senang, dia merasa senang setiap kali bertemu dengan Hani. Wanita itu selalu terlihat riang, membuat orang-orang nyaman berada disekitarnya.
"Ayo, kita ketemu Areta. Aku yakin dia pasti senang melihat mu," seru Hani.
Aska yakin yang dikatakan Hani tidak akan terjadi. Seperti biasanya begitu Aska muncul di hadapan Areta, kalimat pertama yang di dengarnya adalah cemoohan kasar. Sudah bukan rahasia umum, wanita yang dijuluki setan Johnson itu bersikap tinggi hati dan menyebalkan.
"Jadi? Akhirnya kamu berhasil membuat masalah besar?" Sapa Areta begitu melihat Aska muncul diruang kerjanya.
Aska mendelik kesal pada wanita yang tengah memasang senyum puas seolah mengejeknya. "Aku menghubungi mu bukan untuk mendengar celaan," desis Aska.
"Duduk."
__ADS_1
Hani kembali masuk ke ruangan membawa segelas es kopi. "Maaf ya, Aska, aku masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Apakah kamu baik-baik saja kalo ku tinggal?"
Aska meringis. Ingin rasanya dia mengatakan TIDAK tapi Aska tidak mungkin melakukannya.
"Areta, jangan menggodanya," pesan Hani sebelum menghilang dari balik pintu.
Aska menghirup es kopinya cepat lalu memusatkan perhatian pada wajah arogan didepannya.
"Bisakah kamu membantuku menemukan siapa pemilik nomor ini?" Aska meletakkan selembar kertas berisi nomor ponsel dihadapan Areta. Wanita itu hanya menatapnya datar.
"Melihat kamu datang meminta bantuan ku, jelas kalo kamu tahu apa yang bisa aku lakukan."
Aska memutar bola matanya, jengah. Ia dan Areta memang bukan pasangan yang cocok. Keduanya mempunyai temperamen dan arogansi yang sama dan akan selalu bersinggungan di setiap kali pertemuan. Bedanya adalah, Aska masih di taraf bisa di toleransi sedangkan Areta berada pada tingkat dimana tidak ada seorangpun yang bisa membantahnya.
Aska dikenal sebagai wanita yang keras kepala tapi sifatnya itu tidak sebanding dengan arogansi sang tuan putri Johnson. Areta berjuta kali lebih menyebalkan. Aska dan Areta bertemu dalam sebuah grup rehabilitasi anak-anak penderita PTSD. Bersama anak-anak lainnya, Aska menjalani rehabilitasi selama enam bulan lamanya. Selama itu pula Aska belajar bahwa diatas langit ada langit yang lebih tinggi, Areta adalah contohnya.
"Kenapa?"
Areta mengernyit. "Hilang? Setahu ku dia sudah mati."
Aska menggeleng cepat. "Tidak. Aku yakin Bima masih hidup."
"Apa yang membuat mu yakin?"
Aska mendesah pelan. "Firasat," lirihnya. Aska tahu, siapapun yang mendengar alasannya tetap bersikeras bahwa Bima - sahabatnya, masih hidup akan tertawa dan menyebutnya konyol dan mulai gila tapi Aska tetap tidak bisa mengingkari hatinya. Hatinya tetap menjerit histeris, Bima masih hidup dan dia dalam bahaya jadi Aska harus segera menemukannya.
Areta menatap Aska tajam sebelum meraih ponselnya menghubungi seseorang. Tidak lama bicara, Areta kembali menatap Aska. "Nanti Rafael akan menghubungi mu. Pergilah," putus Areta lalu kembali ke meja kerjanya.
Aska menghela nafas panjang. Entah karena lega atau nelangsa.
...***...
__ADS_1
Rafael mengetuk pintu ruang CEO tiga kali, begitu mendengar sahutan dari balik pintu, dia bergegas masuk. "Bos, aku punya kabar buruk," ujar Rafael memulai laporannya.
Areta melirik sejenak orang yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya. "Ada apa?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan map di atas meja.
Rafael meletakkan satu map lainnya diatas meja, membuat Areta mengangkat wajahnya.
"Apa ini?"
"Bos, nomor yang diselidiki Aska ada hubungannya dengan Ergan Barcode," jelas Rafael.
Areta mengernyit, "Ergan Barcode?"
Rafael mengangguk, "pemilik Barcode Corp. Tapi," Rafael berhenti sejenak untuk memastikan ekspresi majikannya. "Barcode hanya boneka Grek Foston."
Areta berdecak pelan. Mendengar nama Grek Foston membuat hatinya mencelos kesal. Nama itu menjadi bumerang bagi pelaku bisnis di dunia underground. Menjalin kerjasama dengan Grek dapat meningkatkan pundi-pundi kekayaan tapi itu bisa hancur dalam sekejap bila bersingungan dengannya.
Grek termasuk bandar besar yang memasok hampir seluruh narkoba yang beredar di negara ini. Beberapakali Areta juga pernah berbisnis dengan organisasi yang dipimpin Grek tapi keduanya tidak sampai menjalin hubungan lebih jauh karena Areta tidak tertarik mengotori tangannya dalam dunia narkoba.
"Bagaimana kondisinya?" Areta menyandarkan tubuhnya di badan kursi. Melipat kakinya, bersiap mendengar penjelasan Rafael.
"Target kita masih aman tapi aku belum bisa menemukan informasi tentang Bima. Setelah pengerebekan polisi, mereka memperketat penjagaan."
"Pantau terus, pastikan target kita aman sampai proses inagurasi selesai."
Rafael mengangguk mengerti. "Tapi Ta, ini terlalu beresiko. Bila kita ikut campur terlalu jauh, Grek akan berusaha untuk menjatuhkan mu."
"Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk Rafael," ucap Areta sebagai peringatan.
Areta jelas tahu apa yang akan terjadi bila dia dan Grek bersinggungan. Dia harap ini sepadan dengan apa yang akan didapatkannya. Areta sudah memikirkan skenario terbaik untuk mendapatkan keuntungan dari kedua belah pihak.
...****************...
__ADS_1