
Flashback ...
"Ka, Aska! ngapain sih? lama banget."
Aska berpaling untuk merespon panggilan sahabatnya yang muncul dengan seragam SMA.
"Cepetan, kita udah telat nih. Hari pertama kan ada upacara," buru Bima. Dia tidak mau terlambat di hari pertama menginjakkan kakinya di sekolah baru. Bima sangat menunggu-nunggu hari ini, hari dimana dia dan Aska memakai seragam putih abu-abu.
Aska menatap pemuda itu heran. Bima selalu antusias untuk hal-hal yang tidak perlu menurut Aska. Seperti hari ini, sedari jam empat pagi Bima terus menghubungi ponselnya dengan dalih alarm agar keduanya tidak terlambat bangun di hari pertama sekolah. Alhasil, Aska sama sekali tidak bisa tidur dan sekarang dia merasa sangat mengantuk.
"Aska, Bima, sarapan dulu nak," panggil Nirmala dari lantai satu. "Nyari apaan sih?"
"Tag name," sahut Aska sambil mengaduk-aduk isi laci meja belajarnya.
"Lah, kan sama aku. Nih," Bima mengeluarkan tag name Aska dari saku kemejanya.
Aska mengernyit heran. "Kok bisa?"
Bima yang sudah hafal dengan penyakit lupa Aska hanya bisa menggelengkan kepala. "Kan aku yang simpan karena takutnya kamu ngilangin tag name lagi kayak di SMP."
Aska mengangguk paham. Dia ingat sekarang, Bima mengambil alih semua atribut-atribut kecil perlengkapan seragam sekolah karena takut Aska menghilangkannya lagi seperti yang sudah-sudah.
"Ayo cepetan, kita udah terlambat," Bima menarik tangan Aska untuk mempercepat langkahnya.
"Sarapan dulu," seru Nirmala begitu melihat dua remaja berseragam abu-abu turun dari lantai dua.
"Terimakasih Tante. Maaf ya Bima jadi ngerepotin."
"Ngerepotin apaan sih Bima, kamu ini udah Tante anggap anak ketiga di rumah ini. Jadi Tante punya dua putra dan satu putri, " ungkap Nirmala senang. Dia membetulkan letak dasi Bima.
"Wah, jadi banyak dong anak mama," sindir Aldi yang masih sibuk berkutat dengan rubrik di tangannya.
Nirmala melirik putranya yang memasang wajah cemberut. Dia tahu, Aldi tidak bermaksud untuk marah ataupun cemburu. Aldi lebih pada menggoda Aska. Aldi sangat suka melihat Aska kesal padanya, alasannya 'itu satu-satunya cara membuat Aska bicara padanya '.
"Bagus dong, Kak Aldi jadi punya banyak saudara," celetuk Bima mengimbangi.
Aldi melirik Bima sewot. "Satu Aska aja udah ngebuat aku pusing, kamu mau nambahin lagi? Aku ngak mau."
"Loh? Napa?" Lirih Bima memasang wajah memelas.
"Kamu berisik, cerewet, cuma Aska aja yang tahan deket-deket kamu Bima."
"Udah dong, kalo kalian ribut terus kapan sarapannya. Tuh liat, udah jam tujuh," lerai Nirmala. Ia tersenyum puas melihat ketiga remaja berseragam abu-abu itu melahap nasi goreng buatannya. Nirmala mendesah lega, tidak terasa waktu berlalu cepat. Ketiganya tumbuh dan besar bersama layaknya saudara meski Aldi lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas di luar rumah tapi dia tetap nyaman berada diantara Aska dan Bima.
...***...
"Ka, Aska, Aska!"
"Apaan sih?" Sentak Aska kesal. Dari dua jam yang lalu Bima membuntuti langkahnya sambil terus mengulang nama Aska tanpa alasan.
Aska berbalik, meninggalkan kertas kalkir yang tengah dikerjakannya. Kini matanya menatap Bima tajam, meminta penjelasan. "Kenapa?"
"Aku bosan," keluh Bima. Dia memasang wajah cemberut untuk menggoda Aska.
Aska mendelik. Dia tidak memaksa Bima untuk mengikutinya ke perpustakaan, jadi bukan salahnya kalau sekarang laki-laki itu merasa bosan. "Kan udah aku bilang, kamu ngak usah ikutan. Lagian sejak kapan kamu betah di perpus?" Sindir Aska.
Bima memasang wajah polos, "bukannya kamu minta di temani?" Ucapnya.
Aska mencibir. "Itu alasan paling konyol yang pernah ku dengar. Kamu 'kan mau ngecengin Maba," sarkas-nya.
__ADS_1
"Keliatan ya?" Bima terkekeh pelan.
"Banget!"
"Tapi Aska, kenapa kamu rajin banget hari ini. Tumben?"
Aska kembali menatap kertas karkir yang terpasang di meja, masih berwarna putih bersih. Belum tampak garis ataupun coretan di sana. "Projek kali ini ribet dan otak ku ngak bekerja beberapa hari ini," jelas Aska resah.
Bima menarik kursinya lebih dekat, "tema-nya apa?"
"Family."
"Ah," Bima menatap Aska sedih. "Family, ngak harus orangtua kan? Bukannya aku juga keluarga mu?"
Aska balas menatap sahabatnya. "Kamu ngak perlu bertanya untuk itu," tegas Aska.
Bima tersenyum senang, mengangkat tangannya untuk mengelus pipi kanan Aska. "Oh ya, aku punya ide," sentak Bima bersemangat. "Gimana kalo kamu buat sketsa rumah untuk kita," usulnya.
"Rumah kita, berdua?" Alis Aska naik untuk memastikan kalimat Bima.
"Ah, maksudnya gini. Kamu bisa buat kompleks perumahan dimana kita tinggal nantinya. Seperti perumahan kita sekarang. Ada taman bermain bahkan sekolahan, semuanya harus terlihat lebih intens dan akrab."
"Menurut mu itu menarik?"
"Well, aku ngak ngerti makna menarik untuk kalian para arsitek yang jelas bagi ku itu penting."
Dahi Aska mengerut bingung.
Bima menarik tekuk Aska lebih dekat ke arahnya. "Jujur aja Aska, aku ngak pernah membayangkan tinggal jauh dari kamu. Jadi kemanapun kamu pergi, aku akan selalu ikut," tandasnya.
Aska terdiam. Apa yang dikatakan Bima benar, Aska juga tidak pernah bisa membayangkan harus tinggal berjauhan ataupun berpisah dengan Bima.
Getar suara ponsel membuat Bima menarik diri. Ia meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Raka," jelasnya sebelum Aska sempat bertanya. "Kayaknya aku harus balik ke jurusan. Siang ini ada pertandingan basket bareng senior."
Aska mengangguk mengerti.
"Kamu mau ikut?" Bima menunggu dengan harap. Begitu mendapati sebuah gelengan dia mendesah pasrah.
"Aku harus menyelesaikan ini. Kurasa ide mu cukup baik," tolak Aska.
"Baiklah. Hubungi aku kalo kamu butuh sesuatu. Aku jemput jam 4 sore," pamit Bima. Tidak lupa dia mengelus lembut pipi Aska sebelum benar-benar pergi.
Aska menatap kepergian Bima dengan perasaan berat. Selalu saja ada momen yang hilang setiap kali keduanya berpisah.
...***...
"Ka, aku dengar dari Tante Nirmala kamu mau nikah sama Carly?"
Aska mendesah pelan. Sebenarnya dia tidak ingin Bima tahu masalah ini. Aska hanya butuh waktu dan momen yang tepat untuk lepas dari tekanan Carly tanpa harus terlibat dalam pernikahan yang tidak dia inginkan.
"Kamu beneran cinta sama Carly?" Buru Bima karena tidak juga mendapatkan jawaban.
"Cinta? Apa itu cinta? Apakah cinta berarti harus menikah?" Batin Aska nelangsa.
Sampai saat ini dia belum bisa mendeskripsikan definisi cinta dalam hidupnya. Hubungan yang pernah terjalin dengan beberapa laki-laki hanya Aska anggap sebagai hiburan kala penat oleh pekerjaan. Bahkan ketika mereka pergi karena merasa terabaikan, Aska tidak sedikitpun terluka, sedih ataupun merasa kehilangan. Selama Bima tetap disisinya, Aska merasa lebih dari cukup.
"Trus, kamu beneran cinta sama Angel?" Balas Aska. Ia meneguk sisa cola di dalam gelas hingga tandas.
__ADS_1
"Kenapa jadi ngebahas Angel?"
"Karena kamu membahas Carly."
Aska melayangkan pandangan ke area lounge dimana puluhan orang tengah menggerakkan tubuh mereka dengan lincah mengikuti irama dentuman musik yang di mainkan DJ.
"Kamu marah?" Tanya Bima tanpa berniat mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa harus marah?"
"Karena Carly?"
Aska mengenyit lalu menatap Bima. "Carly?"
Bima meluruskan pundak Aska untuk saling berhadapan dengannya. "Aska, aku dan Aldi pernah mergokin Carly sama wanita lain di hotel," ungkap Bima ragu-ragu. Dia sudah mendiskusikan hal ini matang-matang bersama Aldi dan keduanya memutuskan bahwa Aska berhak tahu apa yang telah dilakukan Carly di belakangnya.
Aska tak bergeming. Apa yang di katakan Aldi sama sekali tidak mengusik emosinya. "Aku tahu,"ucapnya santai.
Kening Bima berkerut, "kamu tahu? Trus kenapa kamu tetap mau tunangan sama dia?"
"Karena Papa," Aska melepaskan pegangan Bima dari lengannya lalu meluruskan tubuhnya, mencari posisi yang cukup nyaman. "Aku nggak tahu apa yang Carly katakan pada Papa tapi belakangan ini Papa bersikap aneh. Dari omongannya, aku menangkap nada takut dan cemas setiap kali menyebut nama Carly."
"Loh, trus kenapa kamu malah-" Bima bingung dengan pola pikir Aska. Mengapa dia harus masuk ke dalam masalah setiap kali mencari jawaban dari pertanyaan yang bersarang di otaknya.
"Kamu tahu, Papa nggak pernah sekalipun memaksa ku melakukan apa yang tidak ingin ku lakukan tapi kali ini dia secara langsung mendikte ku tentang Carly." Aska menghela nafas panjang.
"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah. Kita tunggu saja. Kebenaran akan datang pada saat yang tepat," tutur Aska tenang.
...***...
"Napa Bim," sapa Aska begitu mengangkat panggilan dari Bima di ponselnya.
"Kapan kamu pulang?"
"Kenapa? Kangen yaaa," goda Aska. Ia menarik meja gambar agar lebih dekat ke arahnya. Menarik garis panjang dengan Rapido diatas kertas kalkir.
"Hahaha," Bima terkekeh pelan. "Buat apa aku kangen sama orang yang udah ngelupain aku."
Aska terhenyak. Meski diucapkan dengan nada bercanda, Aska bisa menangkap nada kecewa di balik kalimat Bima.
"Nggak mungkin ngelupain kamu Bim," sesal Aska. "Aku cinta banget sama kamu Bima."
"Aku tahu ..." Bima membatin untuk kesekian kalinya tiap kali mendengar kalimat cinta dari bibir Aska. Meski terdengar indah, kata itu seakan menjadi belati yang siap menusuk ulu hatinya.
"Oh ya, Aska. Aku nelpon mau minta kamu nemanin aku buat melamar Angel."
"Me-melamar?" Aska tergagap, seketika lidahnya kelu tanpa sebab. Ada ruang di sisi hatinya yang mengembangkan rasa nyeri yang amat sakit.
"Iya Aska, aku berencana menikahi Angel. Aku ngak mau keduluan sama kamu," canda Bima.
"Hmm," ucap Aska lirih. Semangat yang awalnya membuncah begitu mendengar suara Bima tiba-tiba menguap bagai embun kala menjelang siang.
"Ok, kabarin kalo kamu pulang ya. Ntar aku jemput di bandara. Udah ya, bye" putus Bima tanpa menunggu jawaban dari Aska.
Beberapa menit berlalu, Aska masih terpaku dengan ponsel mengantung di telingganya meski suara Bima telah lama menghilang. Mendengar kata lamaran dari mulut Bima seperti mendengar lonceng besar yang digaungkan kala perhelatan acara besar. Nyaring suaranya menyebabkan degung berkepanjangan di bergema di dalam hati dan telinga.
"Apakah ini akhir dari cinta sepihak?" Lirih Aska pilu.
__ADS_1
...****************...