
"Ka-kalian,"
"BRAK!"
Angel berteriak histeris karena dua orang laki-laki menerobos secara paksa masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu mau kemana hah?!"
"Akh," jerit Angel tertahan. Rambutnya ditarik kasar begitu Angel menghindar dan mencoba lari masuk ke kamarnya.
"Kamu pikir bisa kabur?" Desis laki-laki bernama Dam. Dia menyapu lidahnya di pipi Angel. Mengecap kulit yang selama selalu bisa membuat hasratnya meninggi hanya dengan melihatnya saja.
"Lepas, kumohon," pinta Angel memelas ke arah laki-laki lainnya yang tengah duduk di sofa dengan kaki menyila. Matanya memandang ke sekeliling rumah. Mengabaikan apa yang dilakukan rekannya.
"Wuih, empuk sekali," seru Dam. Tangannya bermain di dada Angel, meremasnya berulangkali. "Kalo kamu tidak punya uang kenapa tidak menjual diri saja. Tubuh mu lumayan juga, banyak om-om yang mau," ujarnya sambil menghempas tubuh Angel ke lantai. Matanya bergerak liar menyusuri tubuh Angel. Mulut Dam mulai berliur membayangkan tubuhnya menindih wanita itu.
Angel beringsut mundur. Dia takut serta jijik dengan tatapan laki-laki bertato yang seolah ingin menelanjanginya.
"Angel, ini kesempatan terakhir mu. Grek tidak mau mendengar alasan mu lagi. Pilihan mu cuma dua, bayar hutang mu sekarang atau bawakan kami orang lagi."
Angel gemetar, dia berlutut di hadapan laki-laki bertubuh besar yang biasa dipanggil dengan sebutan Loki. Angel mengangkat tangannya, menggosok bersamaan - memohon ampun.
"Aku mohon Loki, beri aku kesempatan. Aku akan segera membayar. Ah, aku juga akan membawakan kalian orang yang baru." Wajah cantiknya dibanjiri airmata. Cetakan hitam dari eyeliner yang mengalir bersama air mata membuat wajahnya menjadi mengerikan.
"Kau tahu, dengan tubuh seksi mu ini kamu bisa mencetak banyak uang," Dam mencolek dagu Angel.
Hasratnya sudah di ubun-ubun ingin menerkam tubuh itu dan memasukinya berulang kali.
Loki mengeram berat, mencegah niat temannya. Hidup di dalam lingkaran hitam selama bertahun-tahun Loki melihat banyak kekerasan bahkan pembunuhan tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat langsung. Dia selalu menjauh saat teman-temannya mengadakan pesta yang di penuhi wanita dan narkoba. Loki masih punya keluarga, seorang nenek dan adik perempuan yang masih remaja. Melihat apa yang dilakukan Dam pada Angel membuatnya terganggu, nuraninya terusik. Loki tidak ingin ada laki-laki yang melecehkan adiknya seperti yang sedang di lakukan Dam pada Angel.
"Kamu terlalu banyak bermain-main Angel sampai tidak tahu kapan harus berhenti," kecam Loki yang mulai muak dengan tingkah Angel.
Angel menengadah, matanya menatap nyalang. Kata-kata Loki mengusik emosinya. "Ka, kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup miskin 'kan?!" Pekiknya marah dengan suara bergetar.
Mata Loki membesar dengan rahang mengeras. "Ka-kamu."
"Ahhh, terlalu banyak bicara!" Dam menarik rambut Angel kasar. Tangannya menampar bolak balik pipi putih Angel. Meninggalkan cetakan merah disana berdampingan dengan warna biru disudut bibirnya yang ranum.
"Cukup Dam! Dia bisa mati di tangan mu," cegah Loki.
Dam berdecak kasar, menghempas tubuh Angel ke lantai dengan kasar. "Biar saja. Lagipula organisasi sudah membuangnya."
Angel tersentak. Mendengar kalimat Dam membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. "Organisasi membuang ku?" Desisnya gemetar. "Setelah apa yang telah aku lakukan?"
"Yah, kami tidak membutuhkan pecandu seperti mu."
"Tidak, TIDAK! Kalian ngak boleh membuang ku. Aku telah melakukan banyak hal untuk organisasi. Loki, aku mohon kamu harus membantu ku,"
"Apa yang kalian lakukan?" Sentak Raka yang muncul dari balik pintu masuk rumah Angel.
__ADS_1
Begitu mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah, Raka segera masuk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Siapa kalian?!" Bentak Raka begitu melihat Angel menangis, terduduk di lantai dengan wajah memar. "Angel!"
"Selalu saja ada pahlawan kesiangan," Dam mendesis kesal. "Ah, apa ini calon pacar baru mu?" Tanyanya untuk menyindir Angel.
Angel menggeleng cepat. Dia bangkit, menahan Raka di belakang tubuhnya. Menjauhkan Raka dari jangkauan Dam.
"Jangan! Dia-"
"Angel, kamu tahu apa yang akan terjadi kalo kamu tidak melunasi hutang mu hari ini," desis Loki. Dia mulai bosan mengurusi masalah Angel.
Grek telah menurunkan perintah untuk menghabisi Angel yang kerap menimbulkan masalah. Bukan sekali dua kali Loki menenangkan hati bos-nya untuk mengurungkan niatnya melenyapkan wanita ini. Namun, Angel seolah tidak sadar diri. Dia terus saja memancing emosi bos. Berulangkali dia mencoba mengancam organisasi bahkan dengan berani mengajukan negosiasi hanya untuk mendapatkan uang dan narkoba.
"Kumohon Loki, aku akan membawa apa yang kalian mau, hanya beri aku waktu beberapa hari lagi," pinta Angel.
Angel melirik Raka, cemas. Tidak ingin laki-laki itu tahu rahasia yang selama ini di sembunyikan nya dari semua orang.
Loki mendesah malas, "Lebih baik kamu bergegas Angel. Bos tidak akan mendengar alasan mu kali ini," ancamnya. Dia menarik Dam pergi bersamanya.
Setelah Loki dan Dam menghilang dari balik pintu, Angel terduduk di lantai. Dia menangkup kedua tangannya menutupi wajah. Menangis sekeras mungkin dibaliknya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Mereka tidak akan melepaskan ku kali ini," batin Angel.
"Siapa mereka Angel?" Buru Raka karena Angel tidak mengatakan apapun.
Angel segera sadar, Raka masih disampingnya. Dia berhenti menangis dan buru-buru memikirkan alasan yang tepat untuk mengusir rasa penasaran Raka. "Mereka debcolector dari pinjaman online," kilahnya.
Hari ini Raka ke rumah Angel untuk mengantarkan hadiah anniversary yang pernah di titipkan Bima padanya. Entah apa yang dipikirkan Bima saat meminta Raka memenuhi permintaannya. Mungkin sahabatnya itu sudah memiliki firasat tidak akan bisa merayakan hari anniversary bersama pacarnya lagi.
"Ke-kenapa kamu kesini?" Tanya Angel menyadarkan Raka dari lamunannya.
"Oh, aku datang untuk menyerahkan ini," ucap Raka. Dia menyerahkan kotak kecil yang di bungkus kertas berwarna merah muda. "Dari Bima."
Angel terkesiap. Hatinya berdenyut nyeri.
"Dua hari sebelum meninggal Bima menitipkannya pada ku. Dia memintaku untuk menyerahkan pada mu di hari anniversary kalian."
Dua bulir airmata mengalir di pipi Angel. Penyesalan yang dirasakannya perlahan merayap hingga meremas erat hatinya. Menghantarkan perasaan sakit dan pilu bersamaan.
"Bima,"
...***...
Ergan memasuki ruangan luas dipenuhi puluhan mesin yang tengah bekerja bersamaan hingga menghasilkan bunyi keras yang saling bersahutan. Matanya memandang ke sekeliling, mencari sosok Grek.
"Hen, dimana bos?" Teriak Ergan pada salah satu penjaga yang bertugas di pintu masuk.
Hendri menunjuk ke arah ruangan packing. Ergan mengangguk lalu berjalan cepat menuju ruangan yang di maksud.
__ADS_1
"Bos," panggilnya pelan.
Grek menarik alisnya naik lalu melambai, meminta Ergan mendekat.
"Ada apa?'
"Ada sedikit masalah bos," bisik Ergan pelan. Mereka tengah berada di tengah-tengah kerumunan para investor baru yang datang untuk melakukan survei.
Ekspresi Grek mengeras. Melihat dari kebiasaan Ergan, tangan kanannya tidak akan tiba-tiba datang hanya untuk melaporkan masalah yang sedang terjadi. Selama masih bisa diatasi, Ergan akan menyelesaikan masalah tanpa merepotkan Grek.
"Silahkan tuan-tuan, pastikan kalian puas dengan barang ini," seru Grek pada orang-orang yang menunggu reaksinya. "Cho, bawa tuan-tuan ini untuk mencicipi barang kita," perintahnya pada Cho yang selalu siap sedia disampingnya. Cho mengangguk mengerti. Dia segera mengiring para investor ke ruangan lainnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Grek begitu ruangan sepi dan hanya menyisakan dia dan Ergan disana.
"Ada seseorang yang berusaha menyelidiki kita," lapor Ergan.
"Siapa yang begitu bernyali?"
"Areta Johnson,"
Great mengenyit. "Johnson?"
"Ya," Ergan menyerahkan selembar foto pada Grek. "Beberapa hari yang lalu Rafael terlihat di sekitar pabrik utama."
Grek menatap foto ditangannya. Tentu dia sangat mengenal Laki-laki di dalam foto itu. Rafael Klein, laki-laki yang pernah menjadi pasangan one night stand - nya. Laki-laki yang berhasil menarik perhatiannya. Sayangnya, baik dia maupun Rafael, sama-sama berasal dari dunia hitam di mana cinta hanya sebatas kebutuhan akan hasrat satu malam.
"Apa yang mereka cari?"
Ergan menggeleng, dia tidak bisa menemukan motif di balik kemunculan tangan kanan wanita bernama Johnson.
"Apa lagi yang diinginkan ****** Johnson itu," guman Grek.
Sepanjang sejarah pertemuannya dengan Areta, tidak sekalipun Grek berhasil tersenyum dengan wajah puas di depan wanita itu. Areta menolak mentah-mentah tawarannya bahkan menarik garis merah dimana Grek dan organisasi tidak diijinkan melangkah melewatinya.
Diawal pertemuan, Grek hanya menganggap Areta sebagai wanita dari keluarga kaya raya yang mengidap sindrom princess, mudah bagi Grek untuk mempengaruhi orang-orang seperti Areta. Namun begitu wanita itu mengepakkan sayapnya, Grek sadar, Areta bukan lawan yang bisa diabaikan begitu saja. Semenjak itu, Grek menjadi orang yang paranoid. Dia mulai mengawasi pergerakan Areta di dunia underground.
"Atur pertemuan, aku harus tahu apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu," perintah Grek. Dia harus segera mengetahui maksud dan tujuan Areta, sebelum wanita itu berhasil mendobrak pintu pertahanannya.
...***...
Areta tengah menikmati Cabernet Sauvignon dari balik wine glass. Menyesap pelan paduan rasa dari black cherry, blackcurrant, baking spices serta cedar dari barell oak. Tangannya meraih sepotong keju Gouda yang disiapkan untuk menemani malam santainya.
"Ting,"
Denting suara dari ponsel mengusik ketenangan, Areta meraih ponselnya diatas meja. Begitu membaca isi pesan, tangannya bergerak memencet angka lima di layar di ponselnya.
"Semua berjalan lancar?" Tanyanya.
"Ya, kita hanya perlu menunggu Grek keluar dari sarangnya," sahut Rafael dari balik ponsel.
__ADS_1
"Jangan gegabah, Grek pasti sudah bersiap, begitu dia mengendus niat kita dia pasti segera menyerang," pesan Areta sebelum melemparkan ponselnya di sofa.
...****************...