
"Angel," gumam Aska. Matanya menangkap sosok Angel yang tengah bicara dengan seorang laki-laki. Keduanya duduk di salah satu bangku taman yang letaknya berseberangan dengan pom bensin.
Aska menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Dari perawakannya, Aska merasa pernah melihat orang yang sama, yang paling menarik perhatiannya adalah mantel panjang berwarna cokelat gelap.
"Aska, liatin apa?" Ela yang baru saja keluar dari Distro segera mengikuti arah pandang Aska. "Itu kan Ergan Barcode?" Serunya pelan.
Aska berpaling menatapnya. "Kamu yakin?"
Ela mengangguk. "Jelas banget kok. Tuh, liat aja jaket sama sepatunya."
Aska harus mengakui, selama ini kemampuan Ela dalam mengingat wajah dan postur tubuh sangat baik bahkan Ela bisa mengingat nama para klien perusahaan hanya dengan sekali lihat.
"Kenapa Angel bicara sama dia?"
"Angel? Itu Angel, pacarnya Bima?"
Aska mengangguk pelan. "Iya," imbuhnya.
"Jangan-jangan dia juga tahu kalau Ergan menculik Bima?"
Aska terdiam. "Kamu antar bajunya ke Aldi, suruh dia cepetan."
"Trus kamu?" Ela menatap Aska curiga. Dia takut Aska nekad dan langsung melabrak Angel.
"Aku tunggu disini."
Ela menatap Aska tajam. Dia tidak semudah itu percaya kata-kata Aska. Pengalaman membuatnya paham dengan karakter Aska yang cenderung nekad dan meledak-ledak.
"Ngak, kamu ikut aku sekarang," Ela menarik tangan Aska.
"Kamu duluan aja La, aku harus memastikan apa hubungan Angel dengan orang yang menculik Bima," elak Aska.
"Nggak, nggak boleh Aska. Aku nggak akan ngelepasin kamu," tekad Ela. Dia mengeratkan genggamannya di lengan Aska. "Itu bahaya Aska, kamu nggak bisa gitu aja datang trus melabrak mereka tanpa bukti."
"Tapi La,"
"Ngak. Ikut aku," tegas Ela. Ia menarik Aska, bergerak cepat menuju pom bensin. Aldi sudah cukup lama menunggu keduanya di dalam toilet.
"Kamu masuk, aku jaga disini," perintah Ela begitu keduanya sampai di depan toilet.
"Kenapa ngak kamu aja sih," protes Aska.
Aska tidak mau masuk ke dalam toilet cowok. Gimana kalo tiba-tiba di dalamnya ada orang selain Aldi. Bisa diteriakin mesum - disiram air plus digiring ke pos satpam.
"Nggak bisa. Ntar kamu kabur, ngejar si Ergan," tukas Ela sengit.
Aska berdecak kesal. "Gimana kalo di dalam ada cowok?" Rengek Aska sebagai alasan.
"Nggak mungkin, Aldi udah melakukan pengecekan satu-persatu. Katanya didalam nggak ada siapapun selain dia."
Aska merenggut pasrah. Dia membawa paper bag belanjaan dari Distro dan masuk ke dalam toilet.
"Aldi, kamu di mana?" Panggilnya.
[Tok ... Tok ...]
"Disini Ka," sahut Aldi. Ia mengetuk pintu toilet dua kali sebagai kode.
"Nih bajunya," Aska mengangsurkan paper bag yang ia bawa melalui celah bawah pintu.
"Apaan nih?! Norak banget!" Protes Aldi begitu membongkar isi paper bag yang dibawa adiknya.
"Udah pake aja, daripada kamu keluar telanjang bulat atau kamu mau pake baju sama celana bau pesing itu lagi?" Goda Aska.
__ADS_1
"Kalian pasti mau ngerjain aku 'kan? Awas aja nanti," gerutu Aldi.
"Cepetan, aku tunggu di-"
"Aska tunggu, jangan tinggalin aku," sela Aldi. Suaranya terdengar memelas.
Aska mengerutkan keningnya. "Napa?"
"Aku takut, dari tadi banyak suara-suara aneh."
"Suara aneh apaan? Yang namanya tempat umum pastilah banyak suara, kan banyak orang," sanggah Aska.
"Pokoknya jangan kemana-mana, tungguin disitu."
Aska mendesah pasrah. Dia lelah dengan semua kejadian aneh bin ajaib yang menimpanya hari ini. Mulai dari hampir ketahuan membuntuti Ergan, Aldi ngompol dan sekarang Aska untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya harus masuk ke toilet laki-laki.
"Gimana kalau sampai aku di tangkap sekuriti trus di bawa ke pos satpam. Belum lagi kalo sampe koran lokal meliput dan nge-buat tajuk dengan headline 'Seorang wanita membobol toilet cowok' atau 'Sepasang sejoli melepas hasrat di toilet pom bensin'. Mau ditaruh di mana muka ini?!" Batin Aska hiperbola.
"Udah?" Serbu Aska begitu Aldi membuka pintu.
Aldi mengangguk kecil sambil tersenyum malu-malu.
"Aska," tahan Aldi sebelum keduanya mencapai pintu keluar.
"Napa lagi?"
"Aku punya permintaan," ungkap Aldi ragu. "Jangan bilang sama siapa-siapa ya tentang kejadian hari ini, termasuk Mama dan Papa," pintanya.
"Aku malu," sambung Aldi. Ia hampir saja menitikkan airmata seandainya Aska menolak permintaannya.
Aska mengangguk maklum. "Lebih baik kamu khawatirkan Ela, mulutnya lebih bocor daripada genteng di musim hujan," ujar Aska.
"Kalian ngapain aja sih di dalam?!" Sentak Ela yang tiba-tiba masuk. "Antrian di luar udah rame. Kalian mau aku di timpuk massa?!"
"Sumpah Ka, ini hari paling memalukan dalam hidup ku." Keluh Ela begitu ketiganya berada di mobil.
Aska terkekeh pelan sedangkan Aldi meringis serba salah.
"Liat deh, itu bukannya Angel? Kok dia bareng Ergan Barcode?!" Tunjuk Aldi pada dua orang yang tengah bertengkar di depan mobil yang dikenali Aldi sebagai mobil Ergan. "Mereka kenal?" Gumamnya.
"La, kita ikutin Ergan lagi?" Tanya Aska bingung, dia memilih meminta pendapat Ela.
...***...
"Hervi, liat deh," tunjuk Pie kearah utara dimana sebuah mobil berwarna hitam yang sedari tadi terus mengikuti mobil Ergan yang tengah menjadi target operasi pengintaian oleh pihak kepolisian.
"8888 AA, pasti Aska dan Aldi," tebak Hervi begitu melihat ke arah plat mobil. "Ngapain mereka disini!" Pikirnya.
"Apa yang harus kita lakukan? Mereka bisa membuat pengintaian kita terbongkar," papar Dion.
Hervi mengerutkan keningnya. "Awasi target. Segera kirimkan sinyal kalo ada pergerakan," perintahnya pada Dion dan Pie.
Hervi bergegas turun dari mobil menuju tempat dimana mobil Aldi terparkir. Ia mengetuk pelan kaca jendela mobil dari arah kursi penumpang. "Apa yang kalian lakukan disini?!" Sentaknya langsung begitu kaca jendela turun perlahan-lahan. Dari dalam mobil, Aska bersama Aldi dan seorang wanita dari bangku belakang keluar dari mobil.
"Ah, ituuu-"
Aldi menggaruk tekuknya yang tidak gatal, dia melirik Aska untuk bertanya jawaban apa yang harus dia berikan untuk merespon pertanyaan Hervi.
"Kami ngikutin Barcode," sela Aska untuk menutupi kegugupan Aldi.
Hervi mengernyit. "Kamu tahu 'kan siapa yang kalian ikuti. Dia itu gerbong narkoba," desisnya marah.
"Apa?!" Ela membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Beneran, Aska?" Timpal Aldi kaget. Ia berpaling, menuntut jawaban valid.
Aska mengendikkan bahunya.
"Kamu kok ngak ngasih tahu sih Aska!" Amuk Aldi.
"Cukup!" Sela Hervi. "Nanti aja penjelasannya, sekarang lebih baik kalian pulang. Jangan lagi mengikuti mereka, ini berbahaya," perintahnya.
"Dan kamu, Aska! Kamu harus menjauh dari masalah ini," sambung Hervi telak.
"Menjauh? Maksudnya?" Aska menautkan keningnya bingung.
Hervi meremat jarinya, menarik keduanya masuk ke dalam saku celana jeans untuk menutupi kegugupannya. "Ya, berhenti mencari Bima," ucapnya hati-hati.
"Kenapa tiba-tiba?" Aska semakin bingung. Kenapa tiba-tiba Hervi menyuruhnya berhenti mencari Bima?
Aldi diam. Tidak ingin ikut dalam pembicaraan ini. Dia tahu apapun yang berhubungan dengan Bima akan membuat Aska sensitif.
"Karena Bima sudah meninggal dan-"
Aska keluar dari mobil lalu membanting pintu kasar hingga menghasilkan suara keras. Ia merengsek maju, menggapai kerah baju Hervi.
"Aku sudah bilang berkali-kali, Bima belum meninggal? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan menyuruh ku berhenti mencari Bima? A-aku," burunya.
Air mata Aska merembes keluar tanpa tertahankan. Beberapa hari terakhir, dia merasa hatinya semakin rapuh. Seolah keyakinannya selama ini perlahan-lahan pupus seiring dengan harapannya.
"Aska, tenang!" Aldi segera ikut keluar dari mobil dan menyongsong adiknya. Menarik Aska ke dalam pelukannya, "tenanglah," bisiknya lembut.
"Bima, Bima," rintih Aska putus asa.
"Vi, apa maksud mu?"
Hervi menatap Aldi lalu mendesah pelan.
"Ergan Barcode merupakan salah satu sindikat narkoba yang sedang kami selidiki. Sayangnya, orang ini berlindung di balik hukum sehingga riwayat hukumnya bersih jadi kami tidak bisa bertindak gegabah," sesal Hervi.
Aska berbalik, "dan Bima, bersama mereka!" Suaranya bergetar karena dipengaruhi rasa marah dan takut.
Aska tidak pernah bisa membayangkan Bima terlibat dengan orang-orang berbahaya seperti sindikat narkoba. Selama ini Bima hidup dengan menjauhi drugs bahkan minuman keras dan Aska yakin akan hal itu.
"Bima dalam bahaya Al, kita harus segera menyelamatkannya," Aska meremat kemeja Aldi hingga tidak berbentuk.
Ela yang berdiri disamping keduanya hanya bisa menatap Aska kasihan. Perjuangan Aska untuk mencari Bima tidak bisa di bilang mudah. Dia mengalami banyak hal termasuk kehilangan perusahaan yang di bangun nya dengan susah payah.
Aldi merespon reaksi panik adiknya, ia menepuk pelan pundak Aska sembari meminta pengertian Hervi.
"Sejuah ini kami belum bisa memastikan apa hubungan Bima dengan sindikat narkoba ini, yang pasti keduanya terkait."
"Bima tidak ada hubungannya dengan mereka. Dia hanya korban!" Sentak Aska marah. Dia tidak ingin ada orang yang menjelek-jelekkan sahabatnya.
"Aska, aku tahu kamu khawatir pada Bima tapi kamu harus berpikir realistis dan menjauh dari masalah ini," Hervi menaikkan nada suaranya. Berharap Aska bisa mengerti.
"Cukup Vi," tahan Aldi.
"Aldi, aku tidak ingin Aska terluka dan menjauh dari kasus ini adalah yang terbaik baginya," tegas Hervi.
"Nggak! Aku akan tetap mencari Bima apapun yang kamu katakan tidak akan membuat ku mundur," desis Aska yakin. Tidak ada seorangpun yang lebih mengerti Bima melebihi dirinya. Aska memilih masuk ke dalam mobil dan Ela segera menyusulnya.
"Aldi, organisasi ini sangat berbahaya."
Aldi mengerti apa maksud Hervi. Sama seperti Hervi, Aldi juga merasakan hal yang sama. Tapi keduanya tidak bisa berbuat banyak. Aska orang yang bertekad kuat. Sekali terlibat, Aska akan terus maju hingga mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Apalagi ini berhubungan dengan Bima.
"Kita tidak akan bisa menahannya, lebih baik kita berjaga disampingnya," ucap Aldi.
__ADS_1
...****************...