Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Angela & Angelo


__ADS_3

Aska turun dari taksi didepan rumah berpagar putih. Rumah sederhana, tapi tidak dengan penghuninya. Aska pernah berkunjung ke rumah ini dan se-pengamatannya Angel dan keluarganya hidup layaknya orang berada. Terutama Angel dan ibunya. Ketika Aska datang pertama kali, ibu Angel dengan sengaja memamerkan koleksi tas dan sepatu branded miliknya dan Angel yang mengisi penuh lemari kaca setinggi tiga meter. Awalnya Aska takjub dengan monumen tas itu tapi selanjutnya dia bingung, dari mana Angel dan ibunya mendapatkan tas dengan range harga fantastis itu. Bukan bermaksud curiga, tapi dengan penghasilan Angel bekerja di bar, dia tidak akan mampu mengumpulkan berpuluh-puluh tas dan sepatu yang jika ditotalkan uangnya cukup untuk membeli mobil mewah keluaran terbaru.


Aska mengetuk pintu rumah itu beberapa kali, lama dia berdiri sampai pintu itu terbuka perlahan. Angel berdiri didepan pintu mengenakan baju tidur, masker berwarna hijau menempel di wajahnya dan rambut penuh rol. Aska baru sadar, dia bertamu di waktu yg salah. Arloji ditangannya menunjukkan pukul 12 malam, seharusnya ini waktu tidur bagi kebanyakan orang tapi rasa penasaran membuat Aska tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


“Hai,” sapa Aska canggung.


Angel melengos, tampak tidak senang menerima kedatangan tamunya. “Kenapa?” tanyanya ketus.


“Aku datang untuk menanyakan sesuatu.”


“Besok saja, aku mau tidur," Angel hendak menutup pintu tapi Aska dengan cepat menahannya.


“Sebentar saja.”


Angel mendesah malas lalu membuka pintu dengan kasar. Tanpa mempersilahkan, dia meninggalkan Aska didepan pintu. Aska masuk dan duduk di salah satu sofa ruang tamu.


“Cepat katakan.”


Aska mengeram pelan, menekan emosinya hingga ke level terendah. “Baiklah, aku langsung saja. Kenapa Bima mengantikan mu membayar hutang?” Ungkapnya sengit.


Angel kaget, seketika raut wajahnya mengerut, resah. “Ap, apa maksudmu? Hutang siapa?” Gumamnya gelagapan. "Aku tidak mengerti maksud mu," kilahnya cepat.


“Tidak usah pura-pura. Aku sudah tahu semuanya, lebih baik kamu jujur," desis Aska tajam.


Angel mengatur napasnya sejenak, bersiap untuk menghadapi wanita yang sangat dibencinya. Wanita yang selalu di puja Bima. Selama ini selalu ada nama Aska dalam hubungannya dengan Bima hingga membuat Angel muak dan ingin merobek wajah wanita itu, tapi Angel tahu, dia tidak akan bisa melakukannya. Selain karena Aska bukan tandingannya, Angel juga takut Bima akan segera memutuskannya bila sedikit saja Angel berani menyentuh sahabatnya itu.


"Memangnya kenapa kalau Bima membayar hutang ku? Aku calon istrinya, jadi aku berhak meminta pertolongannya. Apa hak mu menanyakan masalah kami, kamu cuma temannya," sentaknya marah. Dia tidak boleh gentar dihadapan Aska, wanita itu tidak boleh membuatnya takut.


Aska mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak menghajar wanita dihadapannya.


“Teman? Aku mengenal Bima lebih lama dari mu, dia lebih dari sekedar teman! Dan aku harus tahu apapun yang terjadi pada sahabatku.”


Angel meremas tangannya gugup. “Keluar, keluar dari rumahku. Kamu sudah membuatku sedih lagi, kamu membuatku teringat Bima lagi," pekiknya tiba-tiba.


Aska berdecak kesal. “Kamu tidak usah berpura-pura didepan ku," desis Aska meremehkan. Aska sudah hafal trik licik Angel untuk menarik perhatian orang lain agar bersimpati padanya. Wanita ini tahu kalau Aska tidak akan pernah terpengaruh, jadi untuk apa dia masih berakting dihadapannya.


Mata Aska menangkap bayangan seorang pemuda tengah berdiri di depan pintu masuk. Elo?! Pemuda itu menatap Angel nanar.


“Apa yang kamu lakukan pada anakku?!” Teriak ibu Angel yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Wanita itu segera mendekati Angel, memeluknya sambil melotot marah pada Aska. "Keluar!” Usirnya kasar.

__ADS_1


Elo mendekati Aska, menarik tangannya keluar dari rumah. Dia tidak ingin ibunya bertindak kasar pada wanita yang sangat dicintainya. “Aku antar kamu pulang," ucapnya tidak memperdulikan teriakan ibunya yang meminta untuk kembali ke dalam rumah.


Aska tidak bergeming, dia memilih diam dan mengikuti langkah Elo.


"Aska, kenapa kamu ke rumah?” tanya Elo setelah berada cukup jauh dari rumahnya.


Aska terusik dari lamunannya, sepanjang perjalanan Elo hanya diam, tiba-tiba mendengar suaranya membuat Aska sedikit canggung.


“Hanya ingin memastikan sesuatu," gumam Aska sebagai jawaban.


“Apa karena hutang?”


Aska menatap saudara kembar Angel. Meski keduanya merupakan kembar identik, Angel dalam versi laki-laki ini tidak pernah membuatnya kesal. Bahkan Aska selalu merasa nyaman berada disampingnya. “Kamu tau sesuatu tentang itu?”


Elo mengangguk pelan. "Apa yang harus kulakukan?” tanyanya lirih.


Aska mendesah, merasa bersalah. Dia tidak pernah berniat membuat Elo bersedih. Aska menghentikan langkahnya membuat Elo ikut berhenti dan berbalik menatapnya. Elo tidak pernah melepaskan tangannya dari pergelangan Aska.


“Maaf,” desah Aska sambil menarik Elo ke pelukannya. "Maaf.”


Elo terisak dipundak Aska, dia meluapkan semua beban yg ditanggungnya selama ini. Mempunyai Ibu dan Kakak yang tergila-gila akan harta membuatnya lelah. Berapapun yang dia berikan tidak pernah cukup bagi mereka.


***


POV Elo


"Elo, sini,"


Elo tersenyum kecil begitu melihat Angel - saudara kembarnya, melambai kearahnya. Dia segera mendekati tiga orang yang mengelilingi meja bundar di sudut ruangan. Malam ini bar dimana Angel bekerja paruh waktu tampak lebih ramai daripada biasanya sehingga Angel bisa leluasa bersama pacarnya, Bima.


"Sayang, kenalin ini adik aku. Namanya Angelo, kami kembar," jelas Angel memperkenalkan Elo pada pacarnya dan rekannya yang lain.


"Hai Elo, senang melihat mu. Ini teman ku Raka dan-" Bima sibuk melihat ke sekitar mencari sosok lain yang harusnya duduk di sampingnya. "Ah itu dia. Aska, namanya Aska," tunjuknya ke arah wanita berambut sebahu yang mengenakan jeans serta kemeja oversize. Wanita itu mendekat begitu melihat Bima melambai kearahnya.


"Kenapa lama banget?" tanya Bima. Laki-laki itu membuka botol soda dan menuangkannya ke dalam gelas lalu memberikannya pada wanita yang dipanggil Aska.


Elo terdiam, matanya menatap lekat wajah Aska. Wanita itu seolah magnet yang menarik Elo untuk terus mengikuti setiap gerakannya.


"Elo, kamu kenapa?" panggil Angel mengusik kesadaran Elo.

__ADS_1


Elo menggeleng pelan lalu kembali melirik Aska yang tampak tidak tertarik akan kehadirannya.


"Oh ya Aska, kamu kapan balik ke Singapura?" usik Angel. Ia menarik tangan Bima yang sedari tadi sibuk merapikan kerah kemeja Aska yang menekuk ke dalam.


Elo dapat melihat jelas kecemburuan di mata Angel setiap kali Bima lebih memperhatikan Aska dibandingkan dirinya.


"Aska nggak boleh balik sampai tahun baru. Dia udah janji bakal ngerayain ulang tahun bareng," jelas Bima mengabaikan aura protes yang dilancarkan Angel.


Elo terkekeh pelan, ia menikmati pemandangan ini. Jarang sekali ia bisa melihat Miss Populer diabaikan. Elo mengalihkan pandangannya dan terkejut begitu mendapati sepasang bola mata kecoklatan sedang menatapnya tajam. Aska menaikkan sebelah alisnya sebagai bentuk tanda tanya tapi tak lama dia melengos dan kembali mengedarkan pandangannya ke lantai bawah dimana puluhan orang tengah menghentakkan tubuh mereka mengikuti dentuman musik.


Dalam sepersekian detik matanya bertemu dengan bola mata ber-iris tajam itu membuat nafas Elo berhenti hingga nyaris ia lupa untuk bernafas. Detak jantungnya memburu hingga dua kali lebih cepat dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Elo tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.


...***...


"Sialan! Sudah kubilang berulangkali, kamu harus hati-hati ! Liat perbuatan mu, siapa yang akan mengganti semua semen yang rusak ini?"


Elo mengeram pelan. Emosinya selalu terpancing setiap kali melihat kelakuan para mandor yang semena-mena pada para buruh. Setahun yang lalu ia juga pernah mengalami hal yang sama, sebelum akhirnya dipindahkan ke bagian lain karena mereka melihat kegigihan dan keuletannya dalam bekerja.


"Kenapa tidak kamu yang menganti semua kerugian ini?"


Sebuah suara mengalihkan perhatian semua orang yang menyaksikan keributan yang tengah terjadi. Mereka berpaling untuk melihat pemilik suara yang berani berteriak pada mandor senior yang disegani semua orang di komplek pembangunan hotel ini.


"Siapa?! Siapa kamu berani ikut campur?" Hardik sang mandor.


Elo terkesima, jantungnya kembali berdetak kencang. Aska! Apa yang dia lakukan disini? Wanita itu berdiri dengan tegak memandang ke arah mandor dengan sorot matanya yang tajam dan terkesan sombong. Elo berusaha menggali ingatan pada malam pertemuannya dengan Aska. Apakah ada informasi yang terlewat dari sosok wanita dingin itu. Seingatnya, Aska bekerja di Singapura tapi Elo tidak bertanya lebih jauh tentang bidang pekerjaannya. Dia terlalu sibuk mengagumi wanita itu dari jauh tanpa berani mendekat.


"Hei, Fariz! Diam kau!" Manajer proyek tergopoh-gopoh berlari menghampiri Aska. "Maafkan dia Bu Aska, dia belum berpengalaman jadi mudah terpancing emosi," jelasnya sembari berusaha menenangkan situasi.


Aska meliriknya malas. "Lalu, kenapa kamu tidak menggantinya dengan orang yang lebih berpengalaman? Aku nggak mau proyek ini gagal hanya karena masalah sepele seperti ini," sergah Aska dingin. Nada suaranya terdengar berat ketika menekankan kata gagal dalam penggalan kalimatnya.


"Ma-maaf Bu," Fariz menundukkan kepalanya takut.


"Bu Aska, bagaimana kalau kita ke ruangan saja, disini panas dan bau. Lebih baik anda menunggu di tempat yang teduh," ajak manajer. Laki-laki itu nampak jelas sedang berusaha menjilat untuk menarik perhatian Aska.


Elo bisa melihat Aska tidak tertarik dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan sang manajer, ia lebih memilih menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana. Elo tercekat begitu mata itu menatapnya lagi. Sama seperti malam itu, tidak ada ekspresi hanya tatapan dingin. Elo yakin kali ini ia akan kembali diabaikan tapi ternyata salah, Elo melihat seulas senyum singkat yang dengan cepat berlalu bersama langkah Aska yang bergerak pergi diiringi manajer proyek. Elo masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri, apakah yang dilihatnya itu nyata? Aska tersenyum padanya?


"Oi, Elo! Cepetan kerja," panggil temannya. "Nggak usah ngelamun kepanjangan, baru di kasih senyum segitu aja udah kelepek-kelepek ini bocah," lanjutnya dengan nada mengejek.


Elo melongo, senyum? Berarti beneran Aska tersenyum padanya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2