
FlashbackÂ
"Aska, aku dengar dari Tante Nirmala kamu mau nikah sama Carly?"
Aska mendesah pelan. Sebenarnya dia tidak ingin Bima tahu masalah ini. Aska hanya butuh waktu dan momen yang tepat untuk lepas dari tekanan Carly tanpa harus terlibat dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.
"Kamu beneran cinta sama Carly?" Buru Bima karena tidak juga mendapatkan jawaban.
"Cinta? Apa itu cinta? Apakah cinta berarti harus menikah?" Batin Aska nelangsa.
Sampai saat ini dia belum bisa mendeskripsikan definisi cinta dalam hidupnya. Hubungan yang pernah terjalin dengan beberapa laki-laki hanya Aska anggap sebagai hiburan kala penat oleh pekerjaan. Bahkan ketika mereka pergi karena merasa terabaikan, Aska tidak sedikitpun terluka, sedih ataupun merasa kehilangan. Selama Bima tetap disisinya, Aska merasa lebih dari cukup.
"Trus, kamu beneran cinta sama Angel?" Balas Aska. Ia meneguk sisa cola di dalam gelas hingga tandas.
"Kenapa jadi ngebahas Angel?"
"Karena kamu membahas Carly."
Aska melayangkan pandangan ke area lounge dimana puluhan orang tengah menggerakkan tubuh mereka dengan lincah mengikuti irama dentuman musik yang di mainkan DJ.
"Kamu marah?" Tanya Bima tanpa berniat mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa harus marah?"
"Karena Carly?"
Aska mengenyit lalu menatap Bima. "Carly?"
Bima meluruskan pundak Aska untuk saling berhadapan dengannya.
"Aska, aku dan Aldi pernah memergoki Carly bersama wanita lain di hotel," ungkap Bima ragu-ragu.
Dia sudah mendiskusikan hal ini matang-matang bersama Aldi dan keduanya memutuskan bahwa Aska berhak tahu apa yang telah dilakukan Carly di belakangnya.
Aska tak bergeming. Apa yang di katakan Aldi sama sekali tidak mengusik emosinya. "Aku tahu,"ucapnya santai.
Kening Bima berkerut, "kamu tahu? Trus kenapa kamu tetap mau tunangan sama dia?"
"Karena Papa," Aska melepaskan pegangan Bima dari lengannya lalu meluruskan tubuhnya, mencari posisi yang cukup nyaman.
"Aku ngak tahu apa yang Carly katakan pada Papa tapi belakangan ini Papa bersikap aneh. Dari omongannya, aku menangkap nada takut dan cemas setiap kali menyebut nama Carly."
"Loh, trus kenapa kamu malah-" Bima bingung dengan pola pikir Aska. Mengapa dia harus masuk ke dalam masalah setiap kali mencari jawaban dari pertanyaan yang bersarang di otaknya.
"Kamu tahu, Papa ngak pernah sekalipun memaksa ku melakukan apa yang tidak ingin ku lakukan tapi kali ini dia secara langsung mendikte ku tentang Carly."
Aska menghela nafas panjang.
"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah. Kita tunggu saja. Kebenaran akan datang pada saat yang tepat," tutur Aska santai.
...***...
"Napa Bim," sapa Aska begitu mengangkat panggilan dari Bima di ponselnya.
__ADS_1
"Kamu pulang lebaran?"
"Pulang. Kenapa? Kangen yaaa," goda Aska. Ia menarik meja gambar agar lebih dekat ke arahnya lalu meneruskan kegiatannya, menarik garis panjang dengan Rapido diatas kertas kalkir.
"Hahaha," Bima terkekeh pelan. "Buat apa aku kangen sama orang yang udah melupakan aku."
Aska terhenyak. Meski diucapkan dengan nada bercanda, Aska bisa menangkap jejak kecewa di balik kalimat Bima.
"Aku nggak mungkin ngelupain kamu Bima," sesal Aska. "Aku cinta banget sama kamu Bima," sambungnya dengan penuh penekanan.
"Aku tahu, Aska."
"Aku tahu ..." Aska membatin untuk kesekian kalinya tiap kali mendengar jawaban Bima, menanggapi pernyataan cinta yang sengaja dilontarkan Aska sekedar memancing reaksi sahabatnya. Berharap Bima menyadari perasaan Aska, namun jawaban yang didapatkannya hanya kalimat mengantung yang kembali menusuk ulu hatinya.
"Oh ya Aska, aku nelpon mau minta kamu nemanin aku buat melamar Angel."
"Me-melamar?"
Aska tergagap, seketika lidahnya kelu tanpa sebab. Ada ruang di sisi hatinya yang mengembangkan rasa sakit yang tak terbendung.
"Iya, aku berencana menikah dengan Angel. Aku ngak mau keduluan sama kamu," canda Bima.
"Hmm, baik. Aku bakalan pulang lebaran ini," sahut Aska lirih.
Semangat yang awalnya membuncah begitu mendengar suara Bima tiba-tiba menguap bagai embun tertimpa cahaya matahari.
"Ok, kabarin kalo kamu pulang ya. Ntar aku jemput di bandara. Udah ya, bye," putus Bima tanpa menunggu jawaban dari Aska.
Beberapa menit berlalu, Aska masih terpaku dengan ponsel mengantung di tangannya, meski suara Bima telah lama menghilang. Mendengar kata lamaran dari mulut Bima seperti mendengar lonceng besar yang digaungkan kala perhelatan acara besar. Suara yang nyaring menyebabkan degung berkepanjangan hingga bergema ke dasar hati.
...***...
"Mau kemana?" Tahan Aska begitu mendapati Bima keluar dari rumah dengan terburu-buru.
"Ke tempat Angel, katanya rumahnya kemalingan."
"Eh, tapi - aku,"
"Kamu masuk aja dulu, istirahat. Masih jeglag 'kan? Begitu masalah Angel selesai, aku akan menemui mu di rumah," ujar Bima sambil mengelus surai hitam Aska.
"Aku pergi dulu ya," pamitnya cepat dan segera menghilang bersama SUV hitam kesayangannya.
Aska terdiam. Hatinya meronta-ronta, meneriakkan kata 'tidak', meminta Bima untuk tetap tinggal di sisinya namun tubuh Aska seakan membatu tak bergerak se-inci-pun untuk menahan kepergian sahabatnya.
...***...
"Ngak Bim, ngak! Jangan tinggalin aku, jangan pergi Bima,"
"Aska, Aska," Nirmala menguncang pelan lengan putri sambungnya. Mencoba membangunkannya dari mimpi buruk. Aska terus mengingau, menyebut hingga meneriakkan nama Bima. Nirmala kembali mengusap airmata yang bergulir dari sudut mata Aska.
Semenjak kepulangannya bersama Aldi dan Ela, Aska bersikap aneh. Wajahnya murung dan langsung naik menuju kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan Aska mengabaikan keberadaan Papa nya yang dengan sengaja menunggu kedatangan anak-anaknya untuk membicarakan masalah Carly. Nirmala bergegas menyusul putrinya untuk memastikan keadaannya sedangkan Agus menghalau Aldi dan Ela, memaksa keduanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
"Ma,"
Nirmala berpaling dan mendapati Aldi, dia membawa baskom berisi air hangat yang masih sayup-sayup mengepulkan uap.
__ADS_1
"Lebih baik Mama istirahat dulu, biar Aldi yang jagain Aska," saran Aldi. Dia kasihan melihat wajah Mama yang lelah.
Nirmala menggeleng pelan. "Mama nggak papa, Al. Mama nggak akan bisa tidur kalau panas Aska nggak turun."
Aldi memeras handuk yang telah direndamnya dalam air hangat lalu menempelkannya pada jidat adiknya. Aldi menahan tangannya beberapa detik untuk memastikan handuk itu menempel dengan baik.
"Apa yang terjadi Al? Kenapa pulang-pulang adik mu demam kayak gini?" Lirih Nirmala.
Aldi mendesah pelan. "Ini tentang Bima, Ma. Semakin lama, petunjuk tentang Bima semakin kabur. Aku takut, Aska nggak akan bisa menerima kenyataan bahwa Bima benar-benar sudah meninggal."
Aldi dan Mamanya menatap Aska kasihan. Mereka takut, pada akhirnya perjuangan Aska akan sia-sia dan berakhir dengan keterpurukan yang akan membuat wanita itu berbuat nekat.
...***...
"Hai,"
Angel tersenyum bahagia begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Hai, ayo masuk sayang."
Raka, laki-laki yang beberapa bulan terakhir menarik perhatiannya. Bahkan hubungan mereka semakin dekat semenjak Raka membantunya saat Loki dan Clay menyerangnya di depan bar.
"Kamu sendirian dirumah? Bapak dan Ibu mana?"
Angel menarik tangan Raka menuju kamarnya. "Orangtua ku lagi di kampung menjenguk kakek-nenek yang sakit dan Elo cuma pulang pas weekend," sahut Angel dengan nada manja.
"Kamu mau minum apa?" Angel naik untuk duduk di pangkuan Raka, menggesek badannya di tubuh kekar berdada bidang.
Raka tersenyum, menyambut undangan wanita itu. Tangannya meremas dua bongkahan kenyal yang tengah mengadu diri di depan dadanya. Dia meremasnya hingga menghasilkan lolongan panjang.
"Ayo sayang, aku udah ngak tahan," desah Angel menggoda di telinga Raka.
...***...
Drrttt ... Drrrttt ...
"Hmm,"
"Siapa sih malam-malam gini nelpon?" Batin Angel jengkel. Angel mengendurkan tangan yang tengah memeluk pinggangnya lalu meraba permukaan nakas disamping ranjang untuk meraih ponsel yang ada di sana.
"Halo, halo,"
Angel mengerutkan keningnya karena tidak mendapatkan jawaban dari orang yang dibalik ponsel.
"Siapa sih? Iseng banget, ganggu aja,"
Ting ... Tong ...
"Ini siapa lagi?"
Angel bangkit dari ranjang. Sebelumnya ia melirik jam yang menempel di dinding, 11.30. Gila! Siapa yang namu tengah malam gini?! Apa bapak dan Ibu pulang lebih cepat? Kok ngak ngabarin dulu.
Angel keluar dari kamarnya menuju pintu depan. "Sabar dong, lagi jalan nih," serunya sambil membuka pintu.
"Ka-kamu,"
__ADS_1
...****************...