
Rafael meraih gagang pintu, membuka pintu kaca itu dan mempersilahkan bos-nya masuk kemudian langkahnya beralih cepat mengikuti Areta. Begitu mendengar suara gemetar Hani, melaporkan kedatangan Grek, Areta dan Rafael segera kembali ke kantor. Seharusnya jadwal pertemuan yang diatur Rafael masih dua hari lagi lalu apa alasan Grek tiba-tiba mengubah rencananya dan datang tanpa pemberitahuan.
"Ta, kamu yakin?" Tanya Rafael khawatir.
"Well, kita sudah tidak bisa mundur," sahut Areta tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
"Halo, Miss Areta Hadi Johnson," sambut Grek begitu Areta muncul dari balik pintu. Grek melemparkan senyum menggoda begitu matanya beradu pandang dengan sosok Rafael yang berdiri di belakang bos-nya.
Hani setengah berlari menyongsong Areta, tangannya bergetar, menarik ujung jas yang dikenakan Areta. Areta tersenyum tipis, berusaha menenangkan asistennya.
"Apakah teh nya sesuai dengan selera mu?" Tanya Areta sebagai basa-basi. Dia memasang senyum formalitas untuk menyambut kehadiran Grek di ruangannya.
Areta melepaskan jas yang di kenakan lalu menyerahkannya pada Hani. "Keluarlah," pesannya yang di sambut tatapan protes dari Hani.
"Keluar," tegas Areta tidak ingin dibantah.
Setelah Hani meninggalkan ruangan, Areta menuju sofa single yang letaknya berhadapan dengan tempat Grek duduk. Areta bergerak teratur, membuka kancing di kedua pergelangan kemejanya, menggulung lengan itu naik hingga menggantung di siku, memberi kesan santai. Dia memberi waktu bagi Grek mengamati setiap gerakannya dengan tatapan muak membuatnya mengalihkan pandangan pada Rafael.
"El, mengapa kamu tidak duduk agar aku bisa melihat wajah tampan mu dengan lebih jelas," goda Grek. "Kamu tahu, aku merindukanmu," nada suaranya berubah halus dengan ******* manja. Matanya menatap Rafael penuh minat. Harus diakui, Rafael merupakan salah satu partner terbaik di ranjangnya.
"Hahaha," Areta terkekeh pelan. "Sepertinya tuan Grek punya kesan yang cukup baik pada mu Rafael," balas Areta. Menatap Grek tajam.
Meski nada bicara Areta terkesan santai tapi aura yang dipancarkannya seolah tengah mengancam lawan untuk menjauhkan tangan dari miliknya.
Rafael tak bergeming, dia tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi tertarik untuk ikut dalam permainan saling melempar sindiran antara Areta dan Grek.
"So, apa yang membuat orang sibuk seperti mu berkunjung ke kantor ku, Grek?" Areta bersandar di badan sofa, merilekskan punggungnya.
"Seperti biasa, kamu tidak sabaran Areta," cibir Grek.
Areta mengendikkan bahunya, membuka tangannya dengan gaya sombong, "aku tidak punya alasan untuk mengubahnya," ujarnya santai.
"Aku disini untuk menanyakan alasan mu memata-matai pabrik ku," tembak Grek langsung. Tidak ada gunanya berbasa-basi di depan Areta. Wanita membosankan itu tidak tertarik untuk mengibaskan ekornya di depan Grek.
"Aku mendapat beberapa kabar angin tentang aktivitas terbaru organisasi mu," imbuh Areta.
"Aktivitas seperti apa?" Grek menampilkan ekspresi lugu seakan tidak mengerti arah kalimat Areta.
Areta menarik senyum miring. "Apa aku perlu menyebutkannya?" Sindirnya.
__ADS_1
Rahang Grek mengeras. Dia yakin sekarang Areta sedang menekannya. "Kenapa tiba-tiba kamu tertarik dengan apa yang kami lakukan?" Cercanya kesal.
Areta mengangkat cangkir berisi lemon tea yang sebelumnya disiapkan Hani. Perlahan menyesap cairan berwarna keruh itu hingga melewati tenggorokan dan menghantarkan rasa asam yang segar.
"Apa kamu lupa peraturan di dunia ini? Tidak saling mencampuri urusan organisasi," sambung Grek tidak puas. Jelas Areta tengah memancing emosinya.
"Tentu, aku tidak pernah melupakannya. Tapi aku juga ingat, beberapa klausa yang menerangkan bahwa, menyentuh milik orang lain menandakan perang."
"Apa maksudmu?"
Areta menjentikkan jarinya. Memberi kode pada Rafael. Laki-laki itu dengan cepat menanggapi maksud Areta. Rafael meletakan dua lembar foto di hadapan Grek.
"Kamu menahan mereka berdua? Bawa mereka pada ku," tunjuk Areta pada dua foto di meja.
Grek memperhatikan dua lembar foto itu. Keduanya merupakan tahanan yang dipersiapkan untuk eksekusi Minggu ini. "Apa hubungan Areta dengan dua orang ini?" Batin Grek penasaran.
"Sepertinya mereka spesial?" Selidik Grek memancing reaksi di balik wajah dingin wanita yang menguasai pasar gelap senjata di negara ini.
"Grek, aku bukan orang yang suka bertele-tele. Toleransi ku selama ini sudah lebih dari cukup. Begitu kamu mencapai batasnya, aku takut tangan ku tergelincir. Kamu tidak perlu membayangkan apa yang akan terjadi," desis Areta dengan nada mengancam.
Grek terhenyak. Meski di ucapkan dengan nada tenang, Grek yakin mendengar ancaman di balik setiap kata yang dilontarkan Areta. "Apa yang aku dapatkan sebagai imbalan?" Meski harus mengakui ancaman Areta memberikan pengaruh terhadapnya namun Grek tidak ingin menunjukkannya secara jelas.
Grek melirik Rafael, "Ra-"
"A - a," potong Areta, menggoyangkan telunjuknya menggambar kata tidak. Menghalau Grek menyuarakan keinginannya. "Jangan coba mendaki terlalu tinggi Grek. Kamu tidak akan bisa melakukannya tanpa usaha," tegasnya sebagai perumpamaan agar Grek sadar, dia tidak bisa menyentuh orang-orang disekitar Areta.
"Ck," decak Grek kesal. "Tapi ini tidak gratis Areta, kamu harus membayar untuk mendapatkan mereka," desisnya.
Areta mengangguk mengerti. "Aku tahu itu," ucapnya sambil mengulas senyum pendek.
Grek memandang Areta geram sebelum beranjak dari posisinya, bersiap pergi.
"Ah, Grek," tahan Areta. "Pastikan aku mendapatkan keduanya utuh tanpa kekurangan apapun," pesannya sebelum Grek menghentakkan kakinya keluar ruangan.
"Jangan lepaskan pandangan mu dari Grek dan Ergan," perintah Areta, Rafael mengangguk patuh. "Kali ini kita harus berhasil mendapatkan Rey kembali."
"Tentang Bima?" Rafael bertanya ragu-ragu. "Melibatkannya ke dalam masalah ini bisa memberi Grek kesempatan yang lebih besar untuk menekan mu."
Areta terdiam, benaknya membayangkan beberapa kemungkinan.
__ADS_1
"Membawa Bima ke dalam negosiasi ini akan menjadi bumerang bagi rencana yang telah disusunnya dengan rapi. Grek pasti akan mencari keterkaitan Bima terhadapnya. Begitu dia mendapatkannya, akan sulit bagi Areta untuk bergerak," pikirnya.
Areta menatap tangan kanannya, menimbang langkah selanjutnya. "Kalau begitu aku harus punya plan B," cetusnya.
Rafael menautkan kedua alisnya, bingung. "Plan B?"
"Yah, plan B. Terkadang kita harus mengundang pawang untuk menjinakkan anjing liar," ucap Areta dengan senyum gelap.
...***...
Di sebuah ruangan 4x4 berlantai dingin dengan dinding kasar. Puluhan laki-laki dan wanita berkumpul, duduk dengan posisi menekuk saling berhimpitan. Tidak ada yang bersuara bahkan hanya untuk saling menyapa. Masing-masing larut dalam pikiran, merapal doa dalam hati semoga penderitaan ini segera berakhir. Mereka tidak lagi perduli ke arah mana takdir akan mengiring, bahkan neraka terdengar lebih baik daripada di tempat ini.
Mereka diperlakukan layaknya ternak yang dipelihara hingga mencapai masa sembelih. Dikurung dalam kandang berpintu jeruji besi. Tidak ada matahari hanya berteman udara lembab menjijikkan. Anehnya, seburuk apapun perlakuan mereka, asupan nutrisi para tahanan sangat diperhatikan.
Makanan diantarkan setiap kali jam makan, pagi - siang - sore. Menu yang disiapkan beragam tapi hampir selalu memenuhi kaidah empat sehat lima sempurna. Setiap kali ada yang mengeluh sakit, mereka akan segera di keluarkan dari kumpulan. Di bawa ke ruangan terpisah. Beberapa kembali dalam keadaan utuh tapi tak jarang dari yang berhasil keluar tidak pernah kembali.
Disudut ruangan, dua laki-laki saling bertukar pandangan. Keduanya telah berkenalan diawal pertemuan. Mereka bertukar informasi, bercerita tentang kehidupan sehari-hari bahkan membahas alasan keduanya bisa berada di balik kurungan ini.
"Kamu ngak tidur?" Tanya laki-laki kecil berwajah cantik.
Laki-laki jangkung menggeleng pelan. "Aku merindukan seseorang."
"Pacar mu?" Tebak laki-laki kecil.
Lawannya kembali menggeleng.
"Lalu?"
"Aska," gumam laki-laki jangkung yang tengah mengurai kerinduan di hatinya.
"Siapa?" Laki-laki kecil bercicit penasaran.
"Sahabat ku," desah jangkung.
Laki-laki kecil mendengus pelan. "Jangan membuang energi mu untuk memikirkan orang yang bahkan tidak perduli kamu masih hidup atau mati," celanya. Menarik selimut lebih tinggi, membenamkan diri untuk menjemput malam, seperti puluhan malam yang telah di lewati nya serial hari.
Laki-laki jangkung menempelkan dahinya ke lipatan tangan. "Aska, aku merindukanmu," lirihnya.
...****************...
__ADS_1