Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Move On Ala Aldi


__ADS_3

Aska memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Begitu membuka mata, hal pertama yang di lihatnya adalah dua manusia absurd yang sedang sibuk berdebat. Dia menajamkan indra pendengarannya untuk dapat mendengar lebih jelas apa yang sedang diributkan kakak dan sahabatnya yang belakangan ini terlihat bak perangko, menempel erat di amplop hingga sulit dipisahkan.


“Apa yang kalian lakukan disini?”


Aldi dan Ela berpaling serentak begitu mendengar suara Aska.


“Udah bangun, Aska?” Ela segera menghambur ke pelukan Aska yang telah berhasil menegakkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Ela menyentuh kening Aska untuk mengecek suhu tubuhnya. “Syukurlah demam mu udah turun.”


“Apa yang terjadi?”


“Semalaman kamu demam tinggi,” jelas Aldi. Dia memilih duduk di ujung ranjang menanti respon Aska selanjutnya.


Aska berdeham pelan. Tenggorokannya terasa sakit, kering dan sulit baginya untuk mengeluarkan suara. Melihat hal itu, Ela segera mengambil teh hangat yang sebelumnya disiapkan Tante Nirmala. Ela menyerahkannya pada Aska.


“Minum dulu,” ucap Ela. “Setelah ini kita turun untuk sarapan. Tante Nirmala udah menyiapkan bubur ayam kesukaan kamu.”


Aska menggeleng lemah lalu mengalihkan perhatiannya pada Aldi. “Al, apa sudah ada kabar tentang Bima?” Tanya Aska lirih.


Aldi membalasnya dengan sebuah gelengan pasrah.


Aska mendesah dalam, dia berharap begitu membuka mata, ada kabar baik tentang Bima yang membuat hati nya lebih tenang. Sejak pertengkarannya dengan Hervi, pikiran Aska terus dibayangi kabut gelap hingga terus-menerus membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Bima.


“Aska, kamu harus kuat. Bima pasti tidak ingin melihat mu dalam kondisi seperti ini,” ujar Aldi mencoba untuk menghibur adiknya. Dia bisa melihat jelas kesedihan di wajah Aska serta genangan air di pelupuk matanya yang bersiap untuk tumpah.


Ela turut menepuk pelan pundak Aska, lalu mengambil alih gelas di tangan wanita itu. “Kita turun yuk, Tante pasti udah lama nunguin kita." Ajaknya.


Aska tidak mencoba mengelak, ia hanya pasrah saat Ela menariknya turun dari ranjang dan bergegas turun sedangkan Aldi mengikuti kedua wanita itu tanpa sepatah kata.


“Aska udah bangun? Ayo sayang, sarapan dulu,” Sambut Nirmala begitu melihat Aska berjalan di papah Aldi dan Ela.


Nirmala mengambil alih, ia menggiring Aska duduk dan segera meletakkan semangkuk bubur tertutup suwiran daging ayam ditambah taburan bawang goreng yang mengugah selera.


Aska mengendus pelan, aroma sedap mengusik rasa laparnya.


“Makan yang banyak ya." Imbuh Nirmala sambil tersenyum senang begitu melihat sedikit rona ceria di wajah putri sambungnya.


Aska mengangguk kecil.


“Hmm, hmm, jadi cuma Aska nih yang di kasih bubur spesial. Aku ma Ela, gimana dong?” Protes Aldi.


Aska mencelos sedangkan Ela terkekeh pelan. Terkadang laki-laki kedua di rumah ini bisa menjelma menjadi bocah pecemburu.


“Ini Sayang, sejak kapan kamu jadi cemburuan gini?” Ledek Nirmala menggoda putranya. “Makan yang banyak ya." Alihnya pada Ela sembari meletakkan mangkuk dihadapan wanita cantik itu.


“Iya, makan yang banyak. Semalam kamu tidak makan apapun." Tambah Aldi sambil mengalihkan suwiran daging ayam ke mangkuk Ela.


Ela tersenyum senang atas perhatian Aldi, ia merasa di sambut dan di terima di rumah ini. “Terima kasih.”


“Ibu ke taman belakang dulu ya." Pamit Nirmala. Dia ingin sarapan bersama Agus sambil menikmati bunga-bunga yang tengah bermekaran.


Setelah kepergian Nirmala, perhatian Aska teralih pada Aldi dan Ela, keningnya berkerut begitu melihat interaksi yang menurutnya terlalu intim diantara keduanya, bahkan Aska menangkap raut malu-malu manja di wajah Ela yang nyaris membuat Aska tersedak bubur.


“Kalian jadian?” Pancing Aska.


Ela menyemburkan bubur yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya sedangkan Aldi mendelik kesal menanggapi pertanyaan Aska yang menurutnya terdengar konyol.


“Apaan sih, Ka!” Sergah Ela malu. Dia terbatuk pelan lalu menyapu bibirnya yang belepotan.

__ADS_1


“Kalian terlihat,” Aska mengantung kalimatnya untuk mencari kata yang tepat untuk menginterpretasi apa yang dilihatnya. “Terlalu dekat.”


“Jangan menyimpulkan apapun dengan otak kecil mu itu.”


Aska tersenyum miring. Menyindir ekspresi Aldi yang terbaca dengan sangat jelas. Laki-laki itu terlihat sedang mencoba berkelit dari pertanyaan Aska.


“Cepat selesaikan makan, kalian harus menemani ku.” Perintah Aldi.


“Kemana?” Tanya Aska cepat. Dia tidak ingin bergerak se-inci-pun dari ranjangnya.


“Aku harus hadir di acara pernikahan Cherry,” sahut Aldi miris. “Kalian harus ikut dan membantu ku memilih hadiah.”


“Hah?! Kamu mau ke acara nikahan mantan tunangan mu? Gila!” Desis Aska takjub.


Aldi hanya menghela nafas singkat lalu mengangguk pelan. “Aku harus datang dan memperlihatkan pada Cherry kalau aku sudah move on.”


Ela menatapnya kasihan. “Kamu harus kuat Al." Hiburnya dan beralih menatap Aska. “Kita harus membantunya, Aska.”


“Ogah!” Sanggah Aska cepat. Dia tidak ingin di ikut sertakan dalam tingkah konyol saudaranya. “Mendingan aku tidur. Kepala ku masih puyeng.”


Aska beranjak dari duduknya tapi Aldi bergerak lebih cepat dengan menariknya untuk kembali ke posisi semula. “Kamu harus ikut." Paksa Aldi penuh penekanan.


“Nggak.”


“Kalau kamu nggak mau ikut, aku bakalan minta Ibu dan Ayah nemanin kamu seharian di rumah." Ancam Aldi.


Aska mendesis kesal. “Apaan sih?”


“Silahkan pilih, ikut dengan kami atau seharian dengar siraman rohani dari Ayah?”


Aldi memainkan gantungan kunci mobilnya. Mencoba memberi tekanan agar Aska bimbang.


Aska mengacak rambutnya gemas, “Terserahlah." Putusnya pasrah.


“Sip.xccg” Ela bertepuk tangan senang dan segera menggiring Aska kembali ke kamar untuk bersiap. Meninggalkan Aldi yang masih mengembangkan senyum kemenangan.


***


“Kalian masuk duluan," kata Aldi begitu mobil berhenti di depan lobi hotel. “Aku parkir dulu.”


Aska menggeleng cepat. “Bareng aja." Dia tidak ingin muncul di acara dengan mayoritas orang-orang yang tidak di kenalinya.


“Duluan aja."


Alis Ela bertaut curiga. "Jangan bilang kamu mau nangis di pojokan?” Godanya. Sedari tadi dia memperhatikan gelagat Aldi yang terus mengulur waktu.


“Enak aja, ngapain nangis. Aku 'kan udah move on,” sanggah Aldi dengan nada sendu. “Aku mau parkir di basemant.”


“Ya udah. Aku sama Aska masuk duluan, tapi kamu harus cepetan.”


Aska menggeleng protes. “Ngapain kita masuk duluan? Kita nggak kenal sama orang-orang di dalam sana.”


“Bodo amat ah, mending kita masuk dan makan. Udah jam makan siang juga nih." Ela menarik Aska turun dari mobil dan menyeretnya masuk menuju ballroom hotel.


“Kamu pernah bertemu Cherry?” Bisik Ela. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok pengantin.


Aska menggangguk ragu. “Rasanya aku pernah bertemu saat acara pertunangannya dengan Aldi.”

__ADS_1


“Cuma sekali?”


Aska kembali mengangguk. “Aku dan Aldi jarang membicarakan masalah pribadi.”


“Ah, itu dia." Tunjuk Aska ke arah wanita dengan gaun putih. Wanita itu tersenyum malu-malu begitu mendapati Aska menatapnya.


Aska bingung apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus mendekati Cherry dan pasangan untuk menyapa? Atau dia pura-pura tidak mengenal Cherry.


Disaat Aska berkutat dengan pikirannya, Ela telah berhasil menyeret Aska ke depan altar mempelai.


“Selamat atas pernikahannya," ujar Ela. Dia mengulurkan tangannya berniat menyalami sang penganti wanita tapi sebuah tangan menyambar dengan cepat.


Suasana berubah senyap dan semua mata tertuju pada sepasang insan manusia yang saling menatap dengan mata sendu. Airmata perlahan mengalir di pipi Cherry bersama rasa bersalah yang selama ini bergelung di hatinya.


“Selamat, Cher. Aku mendoakan kebahagian mu,” ucap Aldi dengan intonasi suara yang berat dan dalam. Dia mengengam erat tangan wanita yang pernah mengisi hatinya.


“Maafkan aku, Al." Lirih Cherry.


Aldi mengeleng pelan. “Aku yang harusnya minta maaf, Cher. Selama ini kamu pasti kesepian karena aku.”


Aska terpukau dengan sikap ketulusan Aldi. Ia menatap saudaranya kagum.


Mata Aldi beralih pada laki-laki yang mendampingi Cherry. “Bahagiakan, Cherry. Dia sudah banyak menderita karena ku." Pintanya tulus yang disambut anggukan kecil dari mempelai laki-laki.


“Terima kasih, Al,” ucap Cherry sebelum Aldi melepaskan tangannya dan berjalan menjauh.


“Aska, maju.” Ela menepuk pundak Aska untuk menyadarkannya dari lamunan.


Aska yang sempat terpaku hanya mengangguk kecil pada kedua mempelai dan bergegas menyusul langkah Aldi. Meski terlihat tegar di depan semua orang namun Aska tahu, Aldi menyembunyikan kekecewaan dan kesedihan hatinya.


"Al, kamu baik-baik saja?" Tanya Aska begitu menemukan Aldi di balik mobil. Laki-laki itu menekuk tubuhnya, bersandar di badan mobil.


Aldi mengangkat wajahnya. "Aska." Rintihnya sedih. "Hati ku sakit."


"Hhh." Aska mendesah pelan. Ia ikut berjongkok disamping Aldi. Menepuk pelan pundak laki-laki malang itu. "Kalo jodoh nggak kemana, Al." Hiburnya.


"Huwaaaa."


"Eh, jangan nangis dong." Seru Aska panik karena tangisan Aldi terdengar semakin kuat. "Kamu harus kuat, Al."


"Aku cinta sama Cherry."


"Ya ya. Aku tahu."


Aska terus menepuk pundak Aldi. Keduanya larut dalam pikiran masingmasing. Bagaimana, sulit untuk melepaskan rasa cinta yang telah terpupuk selama bertahun-tahun. Butuh proses dan waktu. Tapi Aska yakin, Aldi pasti bisa melewati ini semua.


***


“Mana Aldi?” Tanya Ela karena tidak melihat Aldi di sekitar Aska.


“Kayaknya balik ke mobil. Kamu mau makan dulu atau langsung balik?”


“Makan lah, gile aja. Aku masukin amplop yang lumayan tebal." Sambut Ela yang langsung menyeret Aska ke meja prasmanan.


Aska terkekeh pelan. Keduanya sempat berdebat dimeja resepsionis tentang jumlah uang yang harus dimasukkan ke dalam amplop dan Ela berkeras untuk memasukkan nominal yang cukup fantastis dan berakhir dengan ******* pasrah dari Aska.


"Ogah rugi banget." Sindir Aska sambil tetap tertawa geli.

__ADS_1


"Bacot! Cepetan."


...****************...


__ADS_2