Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Perasaan Hervi


__ADS_3

Aska berjalan turun menyusuri anak tangga rumahnya. Hari ini dia berencana pergi ke kantor polisi untuk mendiskusikan informasi yang di terimanya dari Areta.


Jujur saja, Aska benar-benar tidak mengenal orang-orang yang ada di balik dokumen yang diterimanya tapi Aska juga tidak bisa bertanya lebih lanjut pada Areta. Meski tidak dijelaskan, tapi Aska menangkap raut wajah dan nada suara Areta, bahwa dia enggan terlibat lebih jauh. Untuk hal ini, Aska harus memaklumi. Seperti hal-nya institusi resmi, dalam lingkaran dunia underground juga terdapat kode etik yaang harus diikuti.


"Mau kemana?" Tanya Aldi begitu melihat penampilan rapi adiknya.


"Oh, mau ketemu Hervi," sahut Aska sambil mengambil alih gelas susu dan roti dari tangan Aldi.


Aldi mengernyit bingung begitu sarapan yang disiapkannya berpindah tangan tapi dia mengabaikannya karena lebih penasaran dengan tujuan Aska. "Buat apa ketemu Hervi?"


"Mau nanya beberapa hal."


"Tapi," Aldi melirik arlojinya. "Aku harus nemenin Cherry siang ini," sesalnya.


Aska menautkan alisnya. "It's okay, aku bisa pergi sendirian."


"No, no ,no," tegas Aldi. "Kamu ngak boleh pergi sendirian."


Aska mendesah pelan. "Al, tenang aja. Aku ngak akan buat masalah kok."


"Ini bukan perkara kamu buat masalah atau enggak. Kami semua khawatir, Aska."


"Gimana kalo aku yang jagain Aska?" Cetus Ela yang tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk. Dia segera menghampiri Aldi, setengah memaksa menarik lengan laki-laki itu, bergelayut manja disana.


Aska tersenyum puas. "Ya, aku bisa pergi sama Ela," tunjuknya pada wanita yang tengah sibuk mengelus pipi Aldi.


"Sejak kapan Ela seganas ini?!" Batin Aska, tertawa geli melihat wajah pucat Aldi yang ketakutan dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan Ela.


"Gimana?"


"Tapi," Aldi masih berusaha protes tapi tangan Ela yang bergerak lincah, bermain diatas permukaan dadanya yang ditutupi kemeja.


Gerakan Ela sukses membuat mulut Aldi terkunci. Seluruh bulu di tubuh Aldi meremang takut. Baru kali ini dia menghadapi wanita seberani Ela.


"Ba-baiklah," putus Aldi. Ia menarik tubuhnya, menjauhi Ela. "Tapi hubungi aku kalo terjadi sesuatu," tegasnya.


Aska mengangguk pelan, bibirnya masih mengulum senyum geli. "Kamu tenang aja. Aku janji tidak akan membuat masalah hari ini."


"Ayo," Aska melambai pada Ela, mengajaknya pergi.


Ela mengangguk mengerti. Sebelum mengikuti langkah Aska, dia mendekati Aldi. Mendaratkan kecupan singkat di pipi laki-laki itu. "Don't miss me baby, I'll be back soon," desahnya membuat Aldi nyaris pingsan.


Aska menggeleng takjub melihat kelakuan Ela. Ini pertama kalinya dia melihat Ela secara terang-terangan menggoda laki-laki. Aska tidak memungkiri, gaya hidup keduanya selama di Singapura termasuk dalam kategori bebas meski masih dalam batasan wajar di konteks tertentu.


Dalam situasi tertentu, Aska dan Ela diharuskan mencecap manisnya wine yang disajikan di tengah pesta para kolega perusahaan. Sesekali, disaat stress melanda Aska dan Ela menyempatkan diri menghabiskan malam ditemani beberapa sloki tequila.


Bila ada laki-laki yang menarik perhatiannya, Ela akan menghilang beberapa jam dan kembali dengan senyum lebar dan wajah puas. Untuk ini Aska tidak ingin terlibat. Dia tidak terlalu tertarik dengan one night stand.


Walaupun hubungannya dengan Carly bukan atas nama cinta, namun Aska mencoba menghargai hubungan yang sudah terlanjur terjalin diantara keduanya.


Baiknya, Aska maupun Ela tahu sampai dimana batas toleransi mereka terhadap alkohol dan selalu mengutamakan keamanan. Jadi keduanya selalu pulang dalam keadaan sadar sehingga keesokan harinya tidak perlu mengutuk alkohol sebagai penyebab masalah yang bisa terjadi akibat kontrol diri yang buruk.


"Sampai kapan kamu mau menggoda Aldi?" Tanya Aska begitu keduanya duduk di dalam mobil.


Aska memilih menyetir sendiri mengingat Ela belum terbiasa dengan arus lalu lintas negara ini.


"Kamu tahu 'kan? Aku cuma bercanda," balas Ela. Ia merapikan riasannya, memoles ulang lipstik di bibirnya. Membuat warna merah disana menjadi lebih pekat.


"Aku tahu, makanya aku nanya. Sampai kapan kamu mau menggodanya."


Ela berpikir sejenak, "mungkin sampai dia menikah," serunya asal.


Aska terkekeh, "asal kamu tahu. Aku ngak mau kamu jadi kakak ipar ku," ingatnya.


"Loh? Emang kenapa?" Protes Ela. "Bukannya ini malah ngasih kamu keuntungan, punya kakak ipar sekaligus asisten."


"Kalo kamu ngak minta gaji baru aku senang. Gimana? Kamu mau kerja ngak di gaji?" Canda Aska yang mengundang raut protes di wajah Ela.


"So, berhenti menggoda Aldi kalo kamu cuma mau main-main. Aldi polos, jangan sampai dia baperan," pesan Aska lalu menekan pedal gas lebih dalam hingga suara mesin mobil menderu lebih keras.


...***...


"Halo," sahut Hervi.


Hervi mengangkat panggilan di ponselnya tanpa melihat nama yang muncul di layar. Perhatiannya tertuju pada tumpukan kertas yang berjejer acak di atas mejanya.


"Kamu sibuk?"


Begitu mendengar suara, Hervi segera menjauhkan ponsel, melihat nama yang tertulis di sana. Perlahan senyum merekah di bibirnya disertai rona cerah, menghalau aura gelap yang sedari tadi menggelayuti wajahnya.


Perubahan suasana hati Hervi memberi dampak yang cukup signifikan di sekelilingnya. Ruangan rapat yang tadinya tegang seketika mengendur bersama dengan kerutan di wajah pemimpin rapat.


Pie dan Dion saling berpandangan, keduanya beralih menatap Hervi dengan tatapan menyelidik. Jarang-jarang kapten tim reserse kriminal dan NAZA tersenyum begitu lebar hingga menarik kedua sudut bibirnya cukup jauh meninggalkan garis tengah wajah.


"Kamu diluar?"


"Kamu sibuk?" Balas suara di balik ponsel, kembali menanyakan hal yang sama.


Hervi menggeleng, dua detik kemudian dia sadar orang di balik ponsel tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Tidak. Kenapa?" Ucapnya.


"Bisa kita bertemu sebentar, ada yang mau aku diskusikan."


"Siang ini?"


"Ya, aku diluar kantor mu."


Hervi melirik arloji ditangannya, mengetuk jari telunjuknya ke permukaan meja untuk berfikir.


"Baiklah, aku keluar sekarang," putusnya dan segera bangkit dari kursinya.


"Mau ke mana?" Tahan Pie.


"Aku keluar sebentar, ada tamu," jelasnya singkat.


Melihat kegembiraan tanpa alasan di wajah Hervi mengundang rasa penasaran serta kecurigaan teman-temannya.


Pie dan Dion segera bergerak, mengikuti Hervi dari jarak yang wajar. Keduanya mengikuti Hervi dengan gaya bak dua detektif yang tengah menguntit target operasinya.


"Aska,"


Hervi setengah berlari menghampiri Aska. Begitu berdiri tepat dihadapannya, Hervi melirik kiri kanan mencari sosok Aldi yang selalu menemani kemanapun Aska pergi.


"Aldi mana?"


"Oh, dia hanya titip salam. Hari ini Aldi harus fitting baju pengantin," ucap Aska menjelaskan.


"Lalu? Kenapa kamu diluar sendirian?" Alis Hervi berkedut cemas.


Setahunya, Aska tidak diizinkan berkeliaran di luar rumah sendirian. Aldi tidak memberitahukan alasan jelasnya, yang pasti Aldi sangat menekankan apapun yang terjadi Aska harus selalu berada dibawah pengawasan keluarganya.


"Oh, come on. Aku bukan lagi bocah jadi kamu jangan ikut-ikutan menjadi kembaran Aldi," ujar Aska cemberut.


Aska mulai kesal dengan sikap semua orang yang memperlakukannya layaknya bocah Lima tahun yang harus berada di bawah pengawasan selama 24 jam.


Bahkan belakangan ini keluarganya mulai bersikap berlebihan, memborong semua cemilan kesukaan Aska, menyetel musik atau film untuk di tonton bersama di ruang keluarga.


Sebisa mungkin Papa, Mama dan Aldi bahkan Carly bergantian muncul di rumah. Mengurung langkah Aska agar tidak keluar dari rumah.


"Baiklah," angguk Hervi mencoba berkompromi. Mungkin Aska butuh sedikit kebebasan, menghirup udara segar di luar lingkaran keluarganya.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?"


"Disini?" Aska mengetuk telunjuknya di udara, menunjuk aspal.


"Kantin?" Tanya Aska ragu-ragu.


"Kenapa?"


Aska melirik ke belakang tubuh Hervi, jauh dibalik pintu kaca otomatis, dua orang laki-laki berjaket hitam memperhatikan ke arah Aska dan Hervi dengan wajah aneh.


Melihat ekspresi Aska membuat Hervi mengernyit curiga, dia berpaling - mencari asal muasal masalah dan benar seperti yang dipikirkannya. Pie dan Dion tengah menyeringai konyol ke arahnya.


"Apa yang dilakukan duo kepo itu?!" Batin Hervi.


Hervi menggeleng malu melihat tingkah dua temannya. "Lebih baik kita ngobrol di cafe," ajaknya, tanpa sadar Hervi mengandeng tangan Aska.


Aska berusaha menarik diri tapi cengkraman Hervi di pergelangan tangannya cukup kuat hingga tidak menyisakan ruang bagi Aska mengelak.


"Latte?" Tawar Hervi. "Cake?" Lanjutnya begitu melihat display kaca dimana puluhan potongan cake berwarna mengemaskan, terlihat lezat mengundang selera.


"Apapun," sambut Aska tidak tertarik. Ia masih terlalu sibuk mengatur ritme jantungnya yang berdegup sangat cepat beberapa menit yang lalu.


"Kamu sakit?" Hervi menempelkan tangannya ke dahi Aska, memeriksa suhu tubuhnya karena wajah Aska berwarna kemerahan dengan titik-titik embun membasahi dahinya.


"Ah, tidak," elak Aska. Menurunkan tangan Hervi dari wajahnya. "Hanya kepanasan," ucapnya sebagai alasan.


Hervi mengangguk pelan, meski tidak yakin dengan jawaban Aska. Hervi mendekati konter untuk memesan vanilla latte, Americano dan dua slice strawberry shortcake. Dia kembali dengan nampan berisi pesanannya. Meletakkannya di tengah meja.


"Kamu ngak suka stroberi?" Tanya Hervi karena Aska hanya menunduk dan tidak terlihat tertarik pada cake di hadapannya.


Aska mengangkat wajahnya. "Manis, tapi aku bisa mengatasinya," balas Aska. Mengangkat garpu untuk memotong ujung cake. Memasukkan potongan itu ke mulutnya dan membiarkannya lumer didalam sana.


"Manis," pekiknya dalam hati. Aska meraih gelas berisi cairan berwarna coklat muda, "manis!" Teriaknya lagi dalam hati. Mata kirinya menyipit demi menghalau sengatan ngilu di antara gigi nya.


Aska tidak suka makanan dengan cita rasa yang berlebihan seperti terlalu manis, asin, asam maupun pedas. Lebih tepatnya, indera pengecap nya sensitif untuk menerima rasa yang terlalu dominan.


"Kamu ngak suka manis?" Tebak Hervi begitu melihat reaksi Aska.


Aska tersenyum kecil, serba salah. Dia menyampingkan piring dan gelas lalu meletakkan map yang di bawanya.


Hervi mengambil alih gelas Aska, menukar dengan miliknya. "Tidak suka makanan manis," ingat Hervi.


"Cheesecake?" Tawar Hervi.


Aska menggeleng, "it's okay, lihatlah," tunjuknya ke map di atas meja.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Lihatlah," ulang Aska.


Hervi membuka sampul map, meneliti isi di dalamnya.


"Dari mana kamu dapat informasi ini?" Tanya Hervi. Ia membolak-balik lembaran kertas di tangannya.


Darimana Aska mendapat informasi identitas Ergan Barcode. Bahkan Hervi baru menerima laporan pagi ini.


"Aska?" Tuntut Hervi. Darimanapun informasi ini berasal, Hervi yakin orang ini mempunyai koneksi yang sangat luas.


"Kamu ngak perlu tahu darimana aku dapat info ini. Yang jelas, sekarang aku tahu dimana Bima," jelas Aska. Matanya berbinar cerah saat menyebut nama sahabatnya.


"Kamu tahu siapa orang ini?" Selidik Hervi.


"Itulah masalahnya, aku tidak tahu apapun. Tapi orang yang memberi ku informasi ini mengingatkan ku betapa berbahayanya Ergan."


"Ya, Ergan Barcode dan organisasi nya sangat berbahaya." Batin Hervi.


Hervi menatap Aska cemas. "Apa rencana mu?"


"Aku akan menemui orang itu, aku akan memberikan apapun yang mereka inginkan asal mereka melepaskan Bima," tegas Aska. Sinar matanya melambangkan betapa besar tekadnya untuk menyelamatkan Bima.


"Tidak, kamu tidak bisa bertemu dengan orang ini," larang Hervi cepat.


Aska mengernyit heran. "Kenapa? Kamu kenal orang ini?"


Hervi mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Aska.


"Untuk sekarang, belum," Hervi menghela nafas berat. "Tapi aku akan mencari lebih banyak tentang orang ini," bohong Hervi. Dia tidak akan membiarkan Aska terlibat dalam bahaya.


Hervi menarik tangan Aska, menggenggamnya erat. "Sampai aku mendapat informasi, pastikan kamu tidak menemui laki-laki ini," pintanya.


"Kenapa?"


"Aska, kumohon dengarkan aku."


[Drrttt ... drrrtt ...]


Aska menarik lepas tangannya dari genggaman Hervi lalu meraih ponselnya yang bergetar untuk kedua kalinya.


[Carly]


"Sial!" Umpat Aska begitu melihat nama Carly di layar ponsel.


Aska melirik Hervi, "maaf. Aku harus mengangkat panggilan ini," pamitnya. Aska berjalan keluar dari cafe. Dia mencari posisi yang cukup aman untuk mengangkat teleponnya.


"Sayang, kamu dimana?" Buru Carly begitu panggilan tersambung.


"A-aku di luar," sahut Aska gugup begitu mendengar suara Carly di balik ponsel.


"Sama siapa?"


"Ah," Aska bingung, apa yang akan terjadi bila dia menyebut nama Hervi. "Kenapa nelpon?" Alihnya selagi otak dan mulutnya bekerja untuk menemukan alasan yang masuk akal.


"Kenapa aku harus gelisah gini? Ini tidak seperti aku menemui Hervi diam-diam untuk kencan," batin Aska. Mengutuk suaranya yang bergetar serta rahangnya yang kaku akibat bekerja bersamaan dengan otak.


"I miss you. Jadi aku datang ke rumah tapi kata mama kamu ngak di rumah-"


"Carly, dua puluh menit lagi aku ke tempat mu," potong Aska.


Carly terdiam sebentar. "Sayang, I am really love you," ucapnya lirih.


Aska mendesah pelan. "I know." Gumamnya.


"Ok, aku menunggu mu di apartemen. See you soon."


Aska mendesah lelah. Setelah menutup panggilan Carly, dia beralih menekan nama Ela di ponselnya.


Saat dalam perjalanan ke kantor Hervi, tiba-tiba Hani menghubungi Aska untuk membicarakan persyaratan merger perusahaan, karena itu Aska mengutus Ela ke JH Group untuk bertemu Hani.


"La, dimana?" Tanya Aska begitu mendengar suara Ela.


"Oh, aku dalam perjalanan nih. Kenapa? Urusan mu udah selesai?"


"Udah. Jemput aku di cafe depan Polda ya," putus Aska tanpa menunggu jawaban.


"Ada apa Ta?" Tanya Hervi begitu Aska masuk dengan wajah gelisah. "Ada masalah?"


Aska menggeleng lalu menghirup pelan Americano di gelas Hervi.


"Maaf, aku harus segera pergi," pamit Aska. "Segera hubungi aku kalo kamu punya petunjuk."


Aska merapikan barang-barang nya begitu melihat mobil Ela menepi di samping cafe.


"Sampai nanti."


Aska segera pergi meninggalkan Hervi yang masih penasaran dengan orang yang menghubungi Aska karena wanita itu begitu terburu-buru pergi setelah menerima panggilan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2