Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Trio Detektif


__ADS_3

"Kamu yakin ini kantornya, Aska?" Tanya Ela. Ia melonggokkan wajahnya ke luar jendela mobil. Meneliti bangunan tinggi nan mewah dimana Barcode Corp beraktivitas.


Aska meneliti foto dokumen yang di berikan Areta, di ponselnya. "Iya."


"Trus apa rencana mu?" Tanya Aldi penasaran.


"Yang jelas Al, pertama-tama kita harus parkir mobil ini. Sebentar lagi kita bakalan di kejar sekuriti karena parkir di lobi," ujar Aska dengan nada serius.


Aldi dan Ela tercengang, meski terdengar lucu tapi mereka tidak yakin apa yang baru saja dikatakan Aska termasuk dalam candaan model baru.


"Kamu lagi bercanda?"


"Apa aku keliatan lagi bercanda? Tuh," tunjuk Aska ke arah pintu masuk dimana dua sekuriti berwajah sangar keluar dari sana.


"Oh,"


Aldi akhirnya sadar, mereka berhenti terlalu lama di depan lobi sehingga mobil yang dikendarainya mulai mengundang perhatian petugas keamanan dan mobil-mobil lain yang mengantri untuk menurunkan penumpang di pintu lobi utama.


"Bilang dong dari tadi," desis Aldi panik.


Aska melemparkan tatapan maut. "Bukannya aku udah bilang," omelnya.


"Yang jelas dong bilang nya," balas Aldi tidak mau kalah. Ia segera memutar kemudi mobil, beranjak memasuki area basement.


"Kurang jelas apaan!"


"Heh kalian! Emangnya penting berdebat masalah kayak gini?" Sela Ela.


"PENTING!" Sahut Aska dan Aldi bersamaan, keduanya ngotot merasa paling benar.


Ela ternganga. "Kenapa mereka harus segitu ngotot-nya?" Melihat tingkah keduanya, Ela mulai merasa menyesal mengikuti jejak kakak beradik ini.


"Harusnya tuh kamu bilang, 'Aldi kita parkir dulu di basement'."


"Emangnya kamu anak TK yang harus dijelasin dari A ke Z," sergah Aska kesal.


"Emang anak TK bisa nyetir?" Dalih Aldi yang ingin terus berdebat.


Ela memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut pusing. Dia menarik diri, memilih duduk tenang di bangku belakang, tidak sanggup ikut andil dalam perdebatan konyol dua saudara itu.


Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Aldi berbalik menghadap Aska. "So?"


"Kamu ngak berniat berdiri di depan orang bernama Ergan itu trus nanya langsung 'kamu yang menculik Bima kan?'," tebak Ela.


Aska terdiam. "Emang ngak boleh?" Ucapnya polos.


Ela menarik rambutnya geram sedangkan Aldi tersenyum maklum. Dia sudah bisa menebak jalan pikiran Aska. Meskipun terbilang jenius, terkadang jalan pikiran Aska terlalu mudah ditebak.


"Ya enggaklah! Kalo bener dia yang menculik Bima, coba kamu bayangin gimana ekspresi nya? Menurut mu dia bakalan gitu aja dengan gampang ngelepasin Bima? Apalagi kita ngak tahu apa alasan dia menculik Bima," cerocos Ela panjang lebar. Kali ini dia benar-benar frustasi dengan kepolosan Aska.


"Trus gimana dong?"


"Hahaha," gelak Aldi tiba-tiba. Dia tidak lagi bisa menahan dirinya untuk tertawa.

__ADS_1


"Kamu jangan ketawa aja, benerin tuh otak adik mu," cela Ela.


Aldi mengibaskan tangannya sambil memegangi perutnya yang keram.


"Ngak bisa La, itu emang udah jadi penyakitnya. Ngak ada obat."


Aska mencelos kesal melihat kelakuan saudara dan temannya. Mereka menertawakannya tanpa mencoba memberikan solusi. Dia melemparkan pandangannya keluar, mengetuk-ngetuk jidatnya pelan ke kaca untuk mencari ide.


Jujur saja, Aska tidak memikirkan apapun, begitu mendengar kemungkinan Bima masih hidup saja sudah membuatnya senang dan ingin segera mengobrak-abrik kantor Ergan Barcode untuk menemukan Bima.


"Eh,"


Aska terpaku. Matanya menangkap sosok yang menjadi inti permasalahan, tengah membuka pintu SUV putih yang parkir tepat disamping mobil Aldi.


"Napa lagi? Kamu ngeliat si Ergan lagi beli cendol," ejek Ela.


Aska mengangguk berkali-kali sambil menunjuk ke luar jendela.


"Apaan sih Aska, mana ada orang jualan cendol disini?"


Aska mengepak kepala Aldi yang meneruskan candaan Ela. Dia kembali mengibaskan tangannya, menunjuk ke luar jendela.


Melihat aksi heboh Aska, Ela menjadi penasaran. Dia berpaling untuk mencari penyebabnya.


"Beneran Al," gumam Ela begitu melihat orang yang tengah mereka ributkan tengah memutar kemudi untuk mengeluarkan mobil dari parkiran.


Untungnya kaca mobil Ergan tidak tertutup sempurna sehingga Aska dan Ela bisa melihat jelas wajah Ergan dari dalam mobil dan untungnya lagi kaca mobil Aldi delapan puluh persen gelap sehingga Ergan tidak bisa melihat tiga manusia yang tengah sibuk berdebat.


"Cepat!"


...***...


"Jaga jarak," ucap Ela mengingatkan.


"Trus kita ngapain lagi? Apa aku hadang aja mobilnya?" Tanya Aldi.


"Iya Al, pepet aja," dukung Aska.


[ PLETAK ... ]


Jitakan legendaris Ela mendarat bersamaan di kepala Aska dan Aldi.


"Kalian bisa ngak sih mikir dulu, jangan main asal bacot," sergahnya. "Ikutin aja dulu tuh mobil."


Aska dan Aldi mengosok kepalanya yang ngilu.


"Tapi sampe kapan La? Ini udh dua jam loh," keluh Aldi. "Lagian, dia mau kemana sih? Kita udah jauh banget dari pusat kota," sambungnya.


"Al, dia belok!" Seru Aska tiba-tiba.


Aldi yang masih asyik melancarkan protes nya tiba-tiba langsung banting setir. Dua penumpang di dalam mobil otomatis terpelanting hingga ke sudut pintu. Bahkan Ela yang duduk di bangku belakang terperosok hingga ke lantai mobil.


"Gila kamu Al!" Hardik Aska. Ia menggosok jidatnya yang terpentok jendela.

__ADS_1


"Woi!"


"Ssstttt ..."


Aldi segera meminta kedua wanita itu untuk diam begitu mobil yang di kendarai Ergan Barcode yang berjarak satu meter didepan, terlihat bersiap untuk berhenti.


"Kita ketahuan?"


Wajah ketiganya langsung berubah tegang. Tubuh mereka kaku di tempat dengan bulir keringat sebesar biji jagung mengenang di kening masing-masing.


"Jalan Al, jangan berhenti," bisik Ela.


Aldi menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha keras mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat se-normal mungkin. Aldi merasa seluruh tubuhnya basah oleh keringat dan yang lebih parah lagi, saat ini ia merasa panggilan alam melalui jalur bawah di tubuhnya menggedor keras ingin keluar alias kebelet.


Perlahan, mobil yang dikemudikan Aldi bergerak melewati mobil Ergan yang di parkir di pinggir bantalan jalan. Tak ada satupun yang memalingkan wajahnya untuk sekedar melirik aktivitas didalam mobil yang telah diikuti hampir dua jam lebih. Aldi, Aska bahkan Ela terlalu sibuk menata ekspresi serta detak jantung masing-masing bahkan ketiganya tidak sadar telah menahan nafas selama beberapa menit.


"Kita ketahuan?" Tanya Aska untuk kali kedua.


Ia menarik nafas panjang, menyuplai oksigen ke dalam paru-parunya yang ikut berhenti bekerja beberapa saat.


Ela menggeleng kaku, tubuhnya masih sulit di gerakan efek dari hormon adrenalin yang dilepaskan terlalu tinggi.


"Guys," panggil Aldi gemetar.


"Kenapa? Kita di ikuti?" Buru Aska panik.


Ia berbalik cepat untuk melihat melalui kaca belakang, apakah ada mobil yang membuntuti tapi Aska tidak melihat satupun mobil yang muncul di sana.


"Ngak ada, aman," lapornya.


Aldi menggeleng pelan. " Bukan itu."


Aska dan Ela yang baru saja bisa menstabilkan nafasnya menatap Aldi bingung.


"Trus Napa?" Buru Ela penasaran.


"Aku kebelet, udah keluar nih," cicit Aldi malu-malu.


Aska dan Ela kompak melongo.


"Anjrit si Aldi," batin Aska yang nyaris mengeluarkan makian tapi ia segera menutup mulutnya rapat-rapat begitu melihat mata Aldi yang berkaca-kaca.


"Hah? Kamu ngompol?!"


Ela tidak lagi menahan suaranya. Tawanya pecah. Dia terbungkuk di bangku belakang memegang perutnya.


"Aska," rengek Aldi malu. Rasanya dia ingin segera keluar dari mobil lalu pulang jalan kaki.


Aska mengulum bibirnya menahan tawa. Dia masih berusaha keras menahan diri karena tidak ingin membuat saudara tirinya itu semakin malu. "Buruan jalan, cari pom bensin," ujarnya.


Aldi meringis pilu sembari menginjak pedal gas dalam-dalam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2