Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Kemunculan Carly


__ADS_3

Aska membuka matanya perlahan, terbangun karena deru suara mobil yag di gas berkali-kali. Pasti perbuatan Aldi! Desis Aska kesal dalam hati. Aska meraih ponselnya, melirik jam di layar depan, jam 11. Semalaman Aska tidak bisa memejamkan matanya, susah payah dia mencoba untuk tidur tapi tidak sedikitpun matanya terlelap padahal tubuh dan pikirannya sangat lelah dan membutuhkan istirahat panjang. Akhirnya Aska memutuskan menelan dua butir pil tidur yang berhasil membuatnya tidak sadarkan diri hingga hari beranjak siang.


“Aska,” suara Nirmala menyadarkan Aska dari lamunannya. Aska segera turun dari ranjang, berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


“Sudah siang, kalau kamu sudah bangun mau ibu buatkan makan siang?” tanya Nirmala ragu-ragu. Ia menatap Aska resah, biasanya jawaban yang dia dapatkan adalah kata TIDAK. Tapi kali ini berbeda, Aska mengangguk pelan.


Nirmala terkesiap, dalam hatinya muncul perasaan bahagia yang sulit untuk dijelaskan. Sekian lama dia mencoba mendekati Aska dengan berbagai cara, akhirnya hari ini membuahkan hasil.


Aska memutuskan untuk mulai membuka diri, belakangan ini dia merasa telah bersikap berlebihan yang membuat Nirmala kian tertekan setiap harinya. Lingkaran hitam di bawah mata Nirmala bertambah tebal tiap hari nya selama Aska di rumah, wanita itu kerap kali bergadang, menunggu Aska pulang. Padahal seharian Nirmala tampak sibuk di dapur menyiapkan berbagai makanan kesukaan Aska yang ujung-ujungnya tidak pernah tersentuh. Aska bukan sengaja melakukan itu, dia hanya tidak punya keinginan untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Bahkan air mineral terasa berat untuk melewati kerongkongannya.


“Tapi aku mau sarapan aja Tante, tidak usah membuat makanan berat.”


Nirmala mengangguk mengerti. Apapun yang ingin Aska makan pasti akan segera dia buatkan. “Ibu tunggu dibawah.”


Aska mengangguk lagi lalu menutup pintu kamarnya dan bergegas ke kamar mandi. Begitu turun dari lantai dua, Aska hanya mendapati Aldi duduk dengan semangkuk bubur ayam yang mengempul mengeluarkan bau harum. Rasa lapar mengusik indera penciuman Aska. Dia menarik kursi untuk duduk disamping Aldi, melirik kearah mangkuknya.


“Mau?” tanya Aldi sambil terkekeh geli. Ia sengaja mengoda Aska.


Aska menggeleng namun dalam hatinya mengangguk riang.


“Tuh,” tunjuk Aldi pada tudung saji ditengah meja.


Aska buru-buru membuka tudung saji dengan penuh semangat tapi yang di dapatinya hanya beberapa potongan roti dan selai yang tersimpan di sana. Sialan Aldi!


"Katanya mau yang ringan-ringan aja," ledek Aldi.


Aska tersenyum kecut, dengan berat hati dia mengambil dua iris roti dan mengolesinya dengan selai srikaya. Hatinya mengkerut hingga berbunyi gretek-gretek, saling bersahutan dengan bunyi didalam perutnya. Ternyata perutnya mulai tidak tahu adat, mencoba protes begitu melihat roti yang tidak akan mampu mengenyangkan.


Pasrah, Aska merapatkan kedua sisi roti bersiap menyantapnya tapi tidak lama ia bingung melihat roti raib dari tangannya, berpindah ke tangan Aldi.


“Kamu makan ini aja, roti nggak bikin kenyang untuk orang yang semalaman nggak makan apapun," cercanya sambil mendorong mangkuk bubur ke hadapan Aska.


Aska sadar, Aldi sedang menggodanya jadi Aska mengabaikannya dan beralih untuk menyantap isi mangkuk itu tanpa banyak bicara.


“Kapan balik ke Singapura?”


“Belom tahu," gumam Aska dengan mulut penuh.


“Tumben kamu betah lama-lama disini?”


Aska mengendikkan bahunya. Satu-satunya alasan bagi Aska tetap di Indonesia untuk mencari tahu keberadaan Bima, tapi tidak ada gunanya menceritakan alasannya pada Aldi. Tidak seorangpun akan mengerti apa yang Aska pikirkan.


...***...


Aska keluar dari bathtub, melilitkan handuk ke tubuhnya. Matanya melirik sekilas ponsel yang sepanjang hari terus menjerit nyaring. Dia mendesah malas karena tahu siapa di balik keributan ini, Ela - sekretarisnya. Aska lelah setiap hari mendengar rentetan keluhan dari Ela, jadi kali ini dia bertekad untuk mengabaikan suara ponsel yang disertai getaran hebat itu. Aska meraih handuk kecil, membuat gulungan yang membalut rambut basahnya. Selesai dengan rambut dia beralih untuk menyeka titik-titik air di pundaknya yang terbuka, setelah berendam air hangat perasaannya menjadi lebih baik.

__ADS_1


Merasa cukup kering, Aska meraih ponselnya di atas nakas duduk santai di pinggir ranjang, jarinya bergerak cepat membuka kotak pesan. Biasanya Ela meninggalkan pesan bila Aska tidak mengangkat ponselnya di panggilan ketiga. Begitu terbuka, deretan pesan berisi pertanyaan seputar pekerjaan hingga jadwal kepulangannya ke Singapura memenuhi kolom. Aska membaca pesan terakhir yang berisi kejengkelan Ela karena Aska terus mengabaikannya. Deretan makian yang tertulis di sana membuat Aska tersenyum geli, ia dapat membayangkan Ela mengetikkan setiap kata dengan wajah merah menahan kesal. Aska yakin, saat ini wanita cerewet itu telah berubah menjadi medusa berkepala ular sangking kesalnya. Satu pesan kembali masuk, kalimat pendek yang tertulis di layar membuat kening Aska berkerut. Dia segera men-dial nama Ela, tidak sampai sedetik suara Ela langsung menggema dari ponselnya.


"Gawat Aska! Carly mencari mu!" Ela kembali mengulang kalimat yang ditulisnya dalam pesan.


Aska mengernyit. Carly?


"Kurasa sekarang dia sudah di Indonesia," tambah Ela.


"Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?"


Hubungan baik antara Papa Aska dengan Papa Charly sebagai rekan kerja menarik Aska ke dalam ikatan pertunangan. Dua tahun berlalu begitu cepat meski Carly lebih bersikap dominan dalam hubungan keduanya tapi Aska tidak keberatan lebih tepatnya dia tidak terlalu ambil pusing karena hampir seluruh sistem hidupnya sudah di-plot-kan Papa layaknya drama berkepanjangan.


"Aska!"


"Biarkan saja," sahut Aska datar. "Dia memang selalu mengikuti kemanapun aku pergi 'kan?"


Ela mengangguk, membenarkan kata-kata Aska. "Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi. Jadi kapan kamu kembali?"


"Aku belum bisa menjawab pertanyaan mu. Reschedule jadwal untuk bulan ini dan kirimkan file yang harus ku periksa."


"Kamu yakin? Singapore park proyek yang cukup besar untuk dilepaskan Aska. Kita bisa rugi besar."


Aska menarik lepas handuk di kepalanya. Tubuhnya terbanting ke ranjang menyisakan kakinya yang masih menjejak lantai.


"Entahlah La, aku tidak bisa berfikir sekarang," lirihnya dengan mata tertutup.


Bima, aku benar-benar bisa gila kalau kamu tidak segera kembali!


...***...


Aska kembali mendatangi bar, dimana Angel bekerja. Begitu menginjak tangga pertama untuk naik, langkah Aska terhenti. Telinganya menangkap suara tangis disertai rintihan minta ampun yang mengusik rasa ingin tahunya. Aska menuju tembok samping bangunan, dimana celah kecil yang hanya bisa dilewati satu tubuh orang dewasa. Jalan khusus yang digunakan pegawai untuk masuk melalui pintu samping bar. Aska beberapa kali melewati celah ini saat Bima membawanya untuk bertemu Angel.


"Ampun bang, ampunnn,"


"BRAK!"


"Kamu pikir dengan nangis bisa membayar hutang mu?"


"Hari ini kesempatan terakhir mu. Kalo tidak kamu akan mati seperti pacar mu. Aku akan mengorok leher lalu menjual semua organ mu!"


"Ja-jangan Bang! Saya janji segera bayar Bang, tapi jangan-"


"Angel?"


Angel tersentak kaget begitu melihat Aska muncul dari balik celah. "A-ap,"

__ADS_1


"Ini siapa lagi! Kenapa selalu ada gangguan tiap kali kami nagih hutang mu!" Sentak salah satu pria berbadan besar dengan wajah sangar.


"Siapa kalian?"


"Bukan urusan mu! Pergi sana!" Sentak laki-laki lainnya.


Laki-laki bertato itu datang untuk menghalau Aska mendekat. Dia menyeret Aska menjauh tapi Aska dengan cepat berkelit lepas dari cengkraman tangan besar itu dan kembali mendekati Angel yang terduduk di tanah dengan wajah sembab. Sudut bibirnya membiru dengan bercak darah yang mengering.


"Sialan! Kamu benar-benar sialan," laki-laki itu menghempas tubuh Angel hingga membentur dinding.


Tidak terlalu keras, tapi Aska yakin, saat ini Angel pasti merasa pusing karena dorongan dari tangan besar itu tidak terlihat seperti sedang bercanda.


"Hentikan atau aku akan memanggil polisi," ancam Aska. Dia tidak yakin bisa mengatasi dua laki-laki menyeramkan itu sendirian.


Laki-laki bertato berdecak kesal. Matanya melotot ke arah Aska namun tidak bisa membuat Aska bergeming dari tempatnya saat ini. Meski Aska tidak bisa berdamai dengan Angel tapi dia tetap punya nurani untuk tidak meninggalkan wanita itu sendirian diantara dua algojo yang siap menghakiminya.


"Ingat! Dua hari lagi aku akan datang untuk mengambil semua uang yang kamu pinjam. Bersiaplah!" desis laki-laki bertubuh besar. Keduanya bergerak pergi, begitu melewati Aska, laki-laki bertato mendengus kasar.


"Belajarlah untuk tidak ikut campur yang bukan urusan mu," pesannya menohok.


Aska mengabaikan mereka dan segera menghampiri Angel, membantunya berdiri.


"Lepas," bentaknya menghempas tangan Aska yang mencoba membantunya berdiri. "Nggak usah sok baik. Aku tahu kamu pasti puas banget melihat keadaan ku sekarang."


Aska menghela nafas pasrah. Tidak berusaha mengelak. Apapun yang Aska katakan sekarang tidak akan membuat mood Angel menjadi lebih baik. "Aku hanya datang untuk menanyakan sesuatu pada mu."


Angel mendelik marah, "berhenti mencerca ku dengan pertanyaan konyol mu itu, Bima sudah mati!" Pekiknya histeris. Angel mendorong Aska menjauh darinya lalu pergi dengan langkah tertatih.


"Tunggu,"


Aska menarik tubuh Angel untuk menghadapnya.


"Aku yakin Bima masih hidup, Angel," Aska menurunkan nada suaranya menjadi terdengar setengah membujuk. "Jadi aku mohon pada mu, ceritakan pada ku semuanya. Aku yakin kamu pasti tahu apa yang terjadi pada Bima hari itu, hmm."


Angel terisak pelan, "berhenti Aska. BERHENTI!" Jeritnya bersamaan dengan dorongan kuat di tubuh Aska.


"Berapakali pun kamu bertanya, jawaban ku tetap sama. Aku tidak tahu apa-apa dan Bima itu sudah mati. Jadi berhenti bertingkah seperti orang gila."


"Berhenti mengatakan kata mati!" Raung Aska kehabisan kesabaran. "Bi-ma be-lum ma-ti," eja-nya bersama dengan bunyi gemeretak dari gigi yang saling bergesekan.


"Berhenti menemui ku dengan omong kosong ini Aska atau aku melaporkan mu ke polisi," ancam Angel. Kali ini Angel mengambil langkah cepat meninggalkan Aska. Menulikan telinganya dari suara Aska yang terus memanggil namanya.


"Angel,"


"Aska!" Sebuah tangan menarik lengan Aska, memaksanya untuk berbalik untuk menghadap orang yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Carly?"


...****************...


__ADS_2