Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Sebait Doa


__ADS_3

Hervi membolak-balik kertas dari laporan nomor yang berhasil di lacak dari ponsel yang tertinggal saat di lakukan pengerebekan maskas sindikat narkoba. Beberapa di antara nomor ini sudah tidak lagi aktif sejak satu jam yang lalu. Saat melakukan pengintaian, terjadi pergerakan yang mencurigakan dari balik markas. Beberapa orang lalu lalang dengan mobil box yang mengangkut barang. Melihat kondisi ini, Hervi memutuskan untuk langsung melakukan pengerebekan karena ditakutkan sindikat narkoba ini berusaha pindah dan menghilangkan barang bukti.


Setelah pengerebekan, ditemukan puluhan kilogram narkoba golongan Isotonitazena yang sudah dikemas dan siap dipasarkan. Sayangnya informasi pengerebekan ini bocor di menit-menit terakhir sehingga hanya beberapa pekerja yang masih tersisa di lapangan. Selebihnya lari kocar- hingga sulit untuk di bekuk.


"Vi, ada yang nyariin," Dion meletakkan minuman isotonik di atas meja lalu menunjuk pintu masuk.


Hervi mengenyit begitu melihat Aska dan Aldi berdiri disana, menunggunya. "Ada apa?" Tanya Hervi heran begitu melihat wajah Aska yang kusut.


"Aku menghubungi mu pilihan kali," sembur Aska langsung. "Apa kamu segitu sibuknya sampe nggak bisa ngangkat telpon?"


"Aska," Aldi menggeser Aska ke samping lalu tersenyum canggung pada Hervi yang masih bingung. "Sorry Vi, ni anak abis makan mercon makanya ngamuk mulu," canda Aldi.


Rasanya dia ingin mencubit Aska sampai adiknya itu sadar bahwa tidak semua orang bisa mentoleransi emosinya. "Ini anak emang kagak ada rem-nya," batinnya.


"Ada apa?" Tanya Hervi lagi, kali ini pada Aldi.


Aska membuang pandangannya jauh, menatap ke jalan dari balik dinding kaca yang langsung menghadap jalan raya.


"Kami butuh bantuan mu. Bisa kita ngobrol sebentar?" Pinta Aldi menengahi.


Hervi melirik jam ditangannya. "Kita ngobrol di kantin aja bisa? Aku masih ada beberapa pekerjaan jadi aku ngak yakin bisa keluar sekarang."


Aldi mengangguk setuju.


Hervi melangkah terlebih dahulu. Sudut bibirnya menarik senyum geli saat melihat Aldi menyeret Aska yang masih memasang wajah kesal. Aldi tidak berhenti komat-kamit memperingatkan adiknya untuk menjaga sikap.


"Kalian udah makan malam?"


Aldi mengangguk sedangkan Aska tetap membuang wajahnya ke samping. Tidak ingin beradu pandang dengan Hervi.


Hervi tersenyum, hatinya mendesah gemas melihat wajah cemberut Aska. Tangannya gatal ingin mencubit pipi putih itu. "Ok, aku minta maaf. Seharian ini aku sibuk di lapangan jadi ngak bisa angkat telepon," ucap Hervi mengalah.

__ADS_1


"Abaikan dia. Jadi kami datang karena butuh bantuan mu Vi," sergah Aldi, mengabaikan sikap menyebalkan adiknya.


Hervi mendesah pasrah. "Bantuan?"


"Iya. Mana nomornya, Aska?"


Aska melunak, dia berpaling untuk menatap Hervi. Lalu mengulurkan kertas berisi nomor ponsel.


"Nomor itu menghubungi aku dan Ibu Bima dua hari yang lalu. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak ada jawaban dan hari ini nomor ponsel itu tidak lagi aktif," jelas Aska.


Hervi mengambil kertas itu dan melihat dua belas deret angka didalamnya. Dahi Hervi mengerut, rasanya dia pernah melihat deret angka yang sama. "Kamu penasaran milik siapa nomor ini?" Tebak Hervi.


Aska mengangguk cepat. "Ibu Bima sempat mengangkat dan dia mendengar suara Bima. Panggilan itu tidak berlangsung lama, cuma beberapa detik."


Hervi kembali memperhatikan kertas di tangannya. Semakin lama ia merapal deretan nomor itu, dia semakin yakin pernah melihat deretan angka ini di suatu tempat.


"Kamu bisa 'kan?" Tanya Aska memastikan.


"Aku tidak janji. Lagipula ini berhubungan dengan protokol," sahut Hervi profesional. Dia menangkap raut kecewa di wajah Aska namun tidak ada yang bisa dilakukannya. Sebagai aparat kepolisian dia tetap harus bersikap profesional dan taat pada aturan.


...***...


Hervi menuju meja kerjanya. Dia sangat yakin pernah melihat nomor yang sama dan benar saja, begitu membuka laporan yang tadi dibacanya. Hervi menemukan nomor ponsel yang sama.


"Kenapa?" Pie menghampiri Hervi. Begitu masuk ke ruangan Hervi buru-buru membuka file dengan wajah tegang. Mengundang rasa penasaran rekannya yang lain.


"Pie, kamu sudah mendapatkan laporan profil pemilik dari nomor di kertas ini?" Tanya Hervi.


"Belum. Anak cybercrime masih menyelidiki."


Hervi mengangguk mengerti. "Begitu kamu mendapatkannya segera laporkan pada ku."

__ADS_1


"Ada apa Vi? Kok tiba-tiba kamu tegang gini?"


"Nanti aku ceritakan." Ucap Hervi. Bila pemilik nomor ponsel ini berhubungan bahkan salah satu anggota sindikat narkoba, maka bisa dipastikan, bila Bima masih hidup seperti yang dipikirkan Aska maka laki-laki itu berada dalam bahaya.


...***...


Grek masuk dengan langkah tergesa-gesa. Begitu menerima laporan dari anak buahnya, dia segera kembali ke pabrik utama. Dua orang penjaga yang bertugas di depan sel lalai, menyebabkan satu tahanan berhasil membuka pintu dan mencoba kabur. Tahanan itu lari membawa ponsel penjaga bersamanya.


Beruntung penjaga diluar gedung menyadari dan segera mengejar. Tahanan itu berhasil di bekuk dan di bawa kembali tapi rupanya tahanan itu berhasil menghubungi dua nomor dari ponsel yang dibawanya. PSebagai tindak pencegahan, Grek segera meng-komando seluruh anggota untuk bersiap. Mereka harus segera meninggalkan markas. Grek tidak ingin mengambil resiko, bisa saja yang dihubungi tahanan itu adalah polisi.


Kurung waktu dua jam mereka berhasil meninggalkan keluar meninggalkan markas lama menuju pabrik utama. Tak lama berselang, benar saja, belasan polisi mendobrak masuk dan menggeledah markas.


Beberapa diantara para pekerja lepas masih disana dan kotak barang siap edar belum berhasil dipindahkan. Meski kalkulasi dari kerugian yang ditanggung cukup besar namun itu lebih baik dibandingkan kehilangan para tahanan karena mereka adalah sumber penghasilan terbesar dalam bisnis ini.


"Akh! Sialan. Gara-gara kamu semuanya jadi kacau," teriak Grek, laki-laki bertato naga yang tercetak di punggung telanjangnya. Kemarahannya memuncak karena peristiwa yang terjadi pagi ini. Dia melampiaskan kemarahannya pada laki-laki bertubuh kurus yang menyebabkan masalah ini.


"Kamu beruntung karena bos menunda eksekusi mu. Kalo tidak, sekarang pasti kamu cuma seonggok daging dan tulang," sentaknya sambil melayangkan tendangan ke arah perut laki-laki bertubuh kurus.


Rintihan lirih terdengar bagai nyanyian putus asa dari laki-laki kurus yang terbaring tidak berdaya dilantai.


"Bos, informan kita bilang pengerebekan hari ini sudah di rencanakan beberapa hari lalu tidak ada hubungannya dengan kejadian hari ini," lapor Ergan.


"Ponsel mu?"


"Sudah diamankan," kode Ergan. Ponsel itu telah di lemparkannya ke laut untuk menghilangkan jejak dari pantauan polisi.


"Bagus," Grek mengangguk puas. "Cari tahu nomor yang dia hubungi. Pantau dan pastikan tidak ada gerakan yang mengancam," perintahnya. Grek harus tetap waspada. Meski kemungkinannya kecil, dia tidak ingin ada masalah di kemudian hari.


...***...


Tuhan, jauhkan Mama dan Aska dari bahaya. Seharusnya aku tidak melibatkan orang-orang yang ku cintai ke dalam masalah ini. Bagaimana bila mereka mencelakai Mama dan Aska?

__ADS_1


Aku tidak bisa, tidak bisa, tuhan kumohon ...


...****************...


__ADS_2