
"Ran," sapa Nirmala begitu masuk ke dalam rumah dan melihat Rani tengah sibuk di dapur.
"Oh, kamu pasti nyari Aska 'kan?" Rani meletakkan mangkuk yang mengeluarkan aroma sedap dari nasi goreng yang baru saja selesai di masak. "Aska ada diatas, di kamar Bima," jelasnya pada Nirmala. "Yuk kita liat."
Nirmala dan Rani membuka lebih besar celah diantara pintu kamar Bima.
"Dia pasti kangen sama Bima." Ucap Nirmala begitu melihat Aska tidur diranjang sambil memeluk baju Bima. Bekas airmata tercetak di kedua belah pipinya.
"Iya," Rani mengangguk membenarkan. Keduanya cukup paham bagaimana hubungan Aska dan Bima.
Bisa di bilang, selama ini Nirmala-lah saksi yang benar-benar melihat dengan jelas bagaimana Aska dan Bima tumbuh besar bersama. Meski tidak bisa masuk dalam lingkaran mereka, Nirmala memperhatikan bagaimana keduanya bermain, belajar bahkan tidur bersama di masa kecil.
"Bim, Bima," suara Aska mengingat dalam tidurnya. "Bim, jangan pergi, BIMA!" Aska tersentak bangun dengan keringat membasahi keningnya.
"Aska," Nirmala menghampiri Aska untuk melihat kondisinya. Sepanjang tidurnya Aska terus memanggil nama Bima. Nirmala berulang kali memanggil untuk membangunkannya tapi Aska tidak bergeming. Nirmala dan Rani berniat memanggil bantuan bila semenit saja Aska terlambat bangun.
"Tante?"
"Oh, Mama datang buat menjenguk Tante Rani," jelas Nirmala karena menangkap raut bingung di wajah anak sambungnya.
Aska mengangguk mengerti. Dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan beralih ke posisi duduk.
"Ayuk kita makan siang," ajak Rani. "Tante masak nasi goreng buat sarapan tapi karena kamu tidur jadi kami berdua menghabiskannya."
"Ma, Tante Rani," suara teriakan terdengar dari arah lantai satu. "Makanan nya udah nyampe nih."
"Ayo kita turun Aska," Nirmala mengandeng tangan Aska, mencegahnya untuk menolak.
Di ruang makan, Aldi sudah duduk menunggu. Didepannya sudah ada empat kotak nasi Padang dari restoran favoritnya. "Cepetan dong, Aldi udah kelaparan dari tadi," desaknya.
Nirmala terkikik geli dengan kelakuan putranya. Aldi tidak pernah berubah meski usianya memasuki kepala tiga. Dia akan tetap menjadi putra kecilnya yang bawel dan jahil. "Lagian kamu kenapa ngak sarapan dirumah aja? Malah ngekor sampe kemari."
Aldi memasang wajah cemberut. "Salahin Aska tuh! Gara-gara dia kabur pagi-pagi trus mama ikutan ngilang buat nyariin Aska. Jadinya Aldi sendirian dirumah. Kan ngak enak sarapan sendirian," tudingnya.
"Kamu cuma cari alasan aja biar ngak semeja sama Agus 'kan?" Ledek Tante Rani.
Aldi terkekeh, dia ketahuan. "Yah Tante, 'kan tau sendiri Papa tuh kaku kayak putrinya tuh. Aldi ngak kuat makan sambil diam-diaman berasa kayak lagi perang gitu."
"Kalo makan emang ngak boleh ngomong," sanggah Aska. Dia menarik kursi yang berjarak dua kali dari orang lain tapi Aldi segera menarik Aska untuk duduk disampingnya. Aska berkelit dan tetap kekeh untuk duduk di kursi lain tapi Aldi tidak mau kalah. Keduanya terlibat aksi tatap-tatapan tanpa suara.
"Sudah, sudah. Cepetan makan, kalo kalian mau berantem dirumah aja jangan buat Tante Rani pusing," lerai Nirmala. Dua anak ini selalu ribut setiap kali bertemu tapi Nirmala tahu Aldi menyanyangi Aska seperti adik kandungnya.
Aska mendesah pasrah dan mendudukkan pantatnya di kursi.
Aldi bersenandung riang, segera dia membagikan kotak ke setiap orang. Begitu meletakkan kotak milik Aska dia bergumam pelan. "Makan yang banyak, kamu ngak akan menang melawan ku bersama tulang-tulang di badan mu itu," bisiknya yang dibalas tatapan sewot dari Aska.
__ADS_1
...***...
Carly duduk di dalam mobil. Matanya terpaku menatap pintu rumah Aska. Dua jam telah berlalu tapi Carly tidak melihat tanda-tanda orang yang keluar dari rumah itu. Hari ini Carly berencana mencegat Aska begitu wanita itu keluar dari rumah. Beberapa hari terakhir Aska terus menghindarinya dengan berbagai alasan.
"Kamu mau kemana?"
"Ke rumah Angel."
Carly memusatkan perhatiannya begitu mendengar suara Aska. Disampingnya, Aldi menempel seperti perangko. Belakangan ini Aska tidak pernah terlihat sendirian, Aldi selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
"Ngapain?" Tahan Aldi.
"Mau nanya sesuatu," sahut Aska cuek. Dia menarik pagar dan keluar dari sana.
"Nggak! Nggak boleh," Aldi menghalangi langkah Aska, memaksanya kembali masuk ke dalam perkarangan rumah.
"Kenapa sih Al?!"
Didalam mobil Carly menimbang, apakah sekarang waktu yang tepat untuk keluar dan menemui Aska.
"Angel 'kan ngak suka sama kamu, Aska. Ntar yang ada kamu di usir lagi," debat Aldi.
"Aska,"
Aska menghela nafas malas begitu melihat Carly menghampirinya.
"Siang Al, aku cuma mau bicara sama Aska," Carly melirik Aska yang bersembunyi di balik punggung saudaranya.
"Ngak ada yang perlu dibicarakan, lagipula Papa udah setuju membatalkan pertunangan kalian," potong Aldi sengit.
Ada alasan mengapa Aldi tidak menyukai Carly. Sebelum acara pertunangan Aska, Aldi terlebih dulu mencari tahu siapa yang akan menjadi calon adik iparnya dan Aldi menemukan beberapa fakta yang mengejutkan tentang Carly. Sampai saat ini dia masih menyimpan semua yang diketahuinya, mengingat Papa sangat mendukung hubungan Aska dan Carly.
"Aska, beri aku satu kesempatan. Aku mohon," pinta Carly.
Aska menatapnya lama sebelum menepuk pundak Aldi, memintanya mundur.
"Kamu masuk aja dulu. Aku mau bicara sama dia," ucap Aska.
"Bagaimanapun ini harus segera diselesaikan, ia lelah setiap hari menerima teror dari Carly melalui puluhan pesan singkat," pikir Aska.
"Kamu yakin?"
Aska mengangguk pasti.
"Ya udah, kalo dia macam-macam teriak aja. Aku di ruang tamu."
__ADS_1
Aska mengangguk lagi.
Sebelum pergi Aldi sempat melemparkan tatapan mengancam ke arah Carly. Kalau sampai laki-laki itu berani menyentuh adiknya, Aldi berjanji akan mengirimnya pulang ke Singapura dengan ambulans.
"Aska,"
Aska mengalihkan perhatiannya menatap Carly.
"I am so sorry honey. I love you, i am really love you. You know that?" Carly meraih kedua tangan Aska, menggenggamnya erat.
Aska tak bergeming. Dia akan mendengar apapun yang dikatakan Carly sampai selesai. Lagipula ini untuk yang terakhir kalinya, setelah ini Aska akan menarik garis lurus dimana hubungan keduanya akan berakhir dan Carly harus mengerti itu dengan sangat jelas.
"Hubungan kita terlalu berharga, Aska, kita ngak bisa putus begitu saja karena salah paham."
Carly memilin deretan kata untuk merangkai kalimat yang bisa membuat Aska tergugah. Kali ini Carly tidak akan membiarkan emosi menguasainya hingga menguapkan kalimat yang bisa membuat Aska semakin jauh darinya.
Melihat Aska hanya diam tanpa ekspresi, Carly merasa posisinya semakin terancam. Ini kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan Aska kembali dan dia tidak boleh gagal.
"Ka, pernikahan kita tinggal dua bulan lagi. Kita tidak boleh kalah, kumohon jangan menyerah Ka. Aku mencintaimu," lirih Carly dengan nada memelas. Berharap kalimatnya mampu menyentuh hati Aska.
Carly menangkup gengaman tangannya di tangan Aska. Menariknya lebih dekat. Mengecupnya pelan penuh kasih.
Aska terenyuh. Dia bisa merasakan tangannya basah. "Carly menangis? Sebesar itu kah cinta Carly padanya?" Batin Aska.
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan? Aku tidak mungkin bisa menyakiti Carly lebih dari ini," pikir Aska. Hatinya meringis serba salah.
"Aska, aku mohon," Carly menurunkan tubuhnya. Berlutut di depan Aska, berharap hati wanitanya terketuk untuk kembali bersama menjalin cinta mereka.
"Carly bangun, jangan gini!" Aska segera menarik Carly untuk berdiri.
"Carly!"
"Ngak Ka. Aku ngak akan bangun sampe kamu mau maafin aku," mohon Carly. Ia bersikeras berlutut sampai Aska benar-benar mau memaafkan dan menerimanya kembali.
Aska benar-benar bingung. Di satu sisi dia tidak ingin punya hubungan apapun lagi dengan Carly, di sisi lain hatinya tersentuh dan mulai mencoba untuk memahami apa yang dilakukan Carly selama ini.
"Baik, baiklah-" Gumam Aska pelan. Meski Aska hanya bergumam ragu, sayangnya suaranya cukup jelas untuk di dengar Carly yang segera bangkit dan memeluk Aska erat.
"Terima kasih, terima kasih sayang," ucap Carly senang. Ia mengelus rambut Aska lembut dan tersenyum puas.
Carly melepas pelukannya, matanya menatap sayu kekasih hatinya. Perlahan lengan kanan Carly menarik pinggang Aska mendekat kearahnya. Menahannya disana meski mendapatkan penolakan. Dengan tangan lainnya Carly merengkuh wajah Aska, mendaratkan bibirnya menyentuh lembut bibir Aska. Berulangkali Carly mengecup singkat hingga di kesempatan ketiga ia ******* bibir itu. Menyatukannya hingga tidak ada jarak diantara mereka.
Aska menepuk dada Carly, memintanya berhenti. Aska nyaris kehabisan nafas. Tapi Carly tidak melepaskannya se-inchi-pun. Lelah melawan membuat Aska memilih pasrah, menutup matanya dan mencoba menikmati ciuman Carly.
Tak jauh dari sana, Aldi menatap pias. Bagaimana bisa Aska jatuh ke dalam lubang yang sama?! Aldi harus segera bertindak, dia tidak ingin menyesal di kemudian hari saat melihat Aska terluka.
__ADS_1
...****************...