Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Plan B


__ADS_3

"Masuk!"


Dua tubuh ringkih langsung jatuh terjerembab di lantai begitu dua orang yang menyeret mereka mendorong kasar dan bergegas menutup pintu. Tidak lupa dua gerendel gembok besar di kaitkan di pintu besi yang menjadi penghalang antara satu ruangan dengan ruangan lainnya.


"Sakit," rintih laki-laki kecil yang dipanggil dengan nama Rey.


"Hey Bima, kamu baik-baik saja?" Rey meneliti orang yang diseret bersamanya.


"Ya," sahut Bima.


Ya, Bima - Bima Ramadhan yang selama ini di cari Aska. Orang yang sebulan lalu di goreskan namanya di permukaan batu nisan dengan ukiran lafal tuhan di sekitarnya. Orang yang telah berhasil membuat airmata, menangisi kepergiannya. Orang yang juga membuat Aska nyaris gila.


Tiga puluh hari yang lalu, Bima diseret oleh orang-orang yang tidak dikenal. Mereka membawa Bima ke sebuah pabrik tua. Begitu tiba disana, Bima melihat dua wajah yang selama ini kerap muncul di sekitar Angel - pacarnya. Salah satu dari mereka menatap Bima kasihan. Meski tidak mengatakan apapun, matanya melukiskan kata maaf dalam diam. Laki-laki lainnya tertawa mengejek, seakan mengatakan Bima adalah laki-laki bernasib sial.


Bima tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hingga beberapa orang yang tidak di kenali menyeretnya kembali dan melemparkannya ke dalam ruangan berteralis besi. Berisi puluhan wanita dan pria yang telah lebih dahulu menghuni tempat itu. Mereka menatapnya dengan raut cemas dan takut seolah kehadiran Bima merupakan ancaman baru bagi mereka. Hanya satu orang yang memandang Bima secara berbeda, Reyhan menyambutnya seakan Bima adalah teman baru yang berbagi nasib yang sama.


"Kamu kenal sama orang yang mereka sebutkan?" Tanya Bima penasaran.


Bima merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan Grek. Rasanya dia pernah mendengar nama yang sama di suatu tempat tapi Bima tidak mampu mengingatnya.


Sepertinya puluhan pukulan yang dilayangkan di kepala Bima selama ini membuat sel otaknya error hingga tidak dapat di fungsikan untuk me-rewind berjuta nama yang pernah hadir di hidupnya.


"Siapa? Areta?" Ucap Rey tertahan.


Bima mengangguk cepat. "Ya, Areta."


"Kamu kenal?" Tanya Rey.


Bima menggeleng ragu. "Rasanya tidak," gumamnya.


"Lalu, kenapa Areta meminta mereka membawa mu juga," desah Rey bingung.


"Kamu kenal?" Bima berbalik untuk bertanya hal yang sama.


Rey mendesah dalam. "Lebih dari kata kenal. Aku bahkan menanam nama itu di ingatan ku," ujarnya dengan nada gelap.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu membencinya? Dia jahat?"


"Hah, kurasa sebaliknya. Dia yang membenci ku," lirih Rey.


"Kenapa?"


Rey melengos pelan. "Berhenti bertanya. Aku tidak ingin membahasnya."


Bima menatap kosong ke arah punggung Rey yang berbalik, menenggelamkan tubuh dan pikirannya menyusuri keheningan malam.


Bima yakin laki-laki kecil itu punya alasan yang cukup untuk membuat seseorang bernama Areta berusaha mengeluarkannya dari tempat ini. Namun puluhan pertanyaan berputar di benak Bima, kenapa Areta membawa namanya? Apakah Areta mengenalnya? Dan mengapa nama itu terdengar tidak asing di telinga Bima?


...***...


Areta - mendengar nama itu memberi tekanan yang kuat di hati Rey, seolah palu besar Thor di layangkan untuk menghantam hatinya hingga hancur tidak berbentuk.


Bertahun-tahun hidup di jalanan, terjebak dalam pergaulan bebas ala para penghuni dunia malam, Rey telah menjalani berbagai peran untuk memenuhi permintaan dari orang-orang kaya yang memiliki kekuasaan. Hingga suatu hari dia berhadapan dengan Areta. Tawaran yang dilemparkan nya membuat kening Rey berkerut.


Areta tidak meminta Rey untuk menjadi boneka pemuas nafsu yang bisa dipakai kapan saja dan sesuka hati seperti yang dilakukan orang-orang kaya lainnya.


Pertama kali dalam hidupnya, Rey merasakan kasih sayang seorang kakak. Hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak pernah dimiliki Rey selama ini.


Kebahagiaan itu berlangsung lama hingga satu rahasia yang selama ini disimpan Rey rapat-rapat tercium oleh Areta. Rey mengenal Channel - adik Shaun, cukup baik hingga Channel berada di pangkuan Rey saat maut menjemputnya. Rey yakin, alasan Areta menebus nyawanya dari tangan Grek hanya untuk menyeret Rey kehadapan Shaun dan memohon ampun di kaki orang yang sangat disayanginya.


...***...


Rafael mempercepat langkahnya menuju mobil yang telah menunggu di lobi, sesampainya Rafael membuka pintu belakang mempersilahkan Areta masuk.


"Ta,"


Areta berbalik untuk menghadap Hani yang tergopoh-gopoh mengejar. "Kenapa kamu turun?"


"Kamu mau kemana?" Buru Hani. Mengabaikan pertanyaan Areta. "Mau kemana?" Alihnya pada Rafael. Hani menatap curiga ke arah keduanya, setiap kali Areta pergi bersama tangan kanannya, dua manusia ini pasti akan melakukan hal-hal berbahaya.


Rafael mengalihkan pandangannya kearah lain. Menyerahkan Hani pada Areta. Dia tidak sanggup berurusan dengan ibu-ibu cerewet itu.

__ADS_1


Areta berdeham pelan. "Aku ada urusan di luar hari ini," jelas Areta singkat.


"Urusan apa?"


"Ta, kita bisa terlambat," sela Rafael mengingatkan bos-nya.


Areta mendesah pelan. "Han, aku serahkan urusan kantor pada mu hari ini. Hubungi aku kalo ada masalah serius," pesannya tanpa berniat menjelaskan panjang lebar.


"Aku ikut," sanggah Hani.


"Tidak."


Satu kata tegas yang keluar dari bibir Areta mematahkan argumen yang siap meluncur dari bibir Hani.


Wajah Hani berubah keruh. "Ta,"


"Aku akan menghubungi mu nanti malam," ucap Areta. Mengelus pelan pipi kanan Hani sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.


Rafael menutup pintu mobil setelah Areta masuk lalu beralih ke sisi yang bersebrangan. Mobil bergerak perlahan meninggalkan pelataran lobi dan Hani yang masih berdiri dengan wajah cemas.


...***...


"Bos, kita tiba di bandara Moskow jam sembilan pagi. Pertemuan akan di mulai pukul sepuluh," jelas Rafael melaporkan jadwal Areta begitu pesawat lepas landas.


Pagi ini jet pribadi milik JH Group bergerak menuju Moskow, tempat di mana pertemuan antar pemimpin underground tiap negara berkumpul. Pertemuan yang telah lama dicanangkan untuk perayaan sekaligus inagurasi posisi ketua baru. Areta telah cukup lama menunda pertemuan ini karena jadwal pekerjaan yang cukup padat dan kali ini merupakan saat yang tepat. Selain untuk mengambil alih tongkat ketua, Areta membutuhkan banyak dukungan sebagai back up dari plan B yang telah dipersiapkannya.


"Kamu sudah persiapkan semuanya?" Tanya Areta tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.


"Sudah. Tapi-"


Areta menenggadah begitu mendengar nada ragu di antara kalimat Rafael.


"Kamu yakin Ta? Begitu kamu memegang jabatan ini, akan sulit bagi mu untuk lepas," sambung Rafael.


Areta mengangguk mengerti. "Kalo kita tidak bisa melepas kenapa kita tidak menghancurkannya saja?" Ulas Areta santai, mengacuhkan raut cemas di wajah Rafael.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2