
"Hmm,"
Aska menggeliat pelan, membalik tubuhnya dari posisi telungkup. Perlahan dia membuka mata, berkas sinar matahari berlomba menerobos mata nya yang terasa perih.
"Dimana aku?" Tanyanya dalam hati. Aska membawa tubuhnya untuk duduk. Mata nya meneliti ruangan asing dimana dia membuka mata nya pagi ini.
"Ah, sial!" Desisnya kasar. Aska menggosok batang tenggorokan nya yang terasa kering. Suaranya terdengar berat dan serak.
"Akh," Aska merintih pelan. "Carly sialan, dia berencana membunuh ku." Makinya begitu sengatan ngilu di sekujur tubuhnya mencegah Aska untuk bergerak lebih jauh.
Semalaman Aska kewalahan menghadapi serangan Carly. Hampir di sepanjang pergumulan diiringi suara ******* dan rintihan. Berulangkali cumbuan panjang disertai kata-kata cinta penuh rayuan dilayangkan Carly demi mengajak Aska ikut hanyut dalam permainan panas yang mereka lakukan. Pukul tiga pagi, Carly melepaskan tembakan terakhir dan berbaring lelah. Sedangkan Aska tidak lagi bergeming semenjak ronde ketiga dimulai, tidak butuh waktu lama untuk keduanya terlelap menikmati sisa waktu menjelang fajar menyingsing.
"Udah bangun, sayang," sapa Carly. Dia berdiri di depan pintu, menatap lurus dengan senyum lebar menghias wajah Latin yang sangat dibanggakan nya. Ditangannya sebuah nampan berisi segelas susu dan sepotong sandwich bergerak bersama mendekati kekasihnya duduk dengan wajah pucat.
"Sepertinya aku terlalu berlebihan semalam," Carly meletakkan nampan di atas pangkuan Aska. Tangannya beralih mengelus mesra pipi bulat kekasihnya. "Are you ok?"
"Apa terlihat baik?" Sergah Aska sarkas. Suara serak yang keluar dari bibirnya menambah nyeri di pangkal tenggorokan membuat Aska mengurungkan niatnya untuk memaki Carly langsung.
"Semalam kamu ngak protes," goda Carly mengundang semburat merah di wajah Aska.
"Baju ku mana?" Aska meneliti piyama sutra berwarna biru muda di tubuhnya.
"Udah aku bawa ke laundry dibawah, bentar lagi diantar," sahut Carly.
"Kamu ada kegiatan siang ini?"
Aska menggeleng. "Kalaupun ada aku harus membatalkannya, seluruh badan ku pegal kayak orang abis nguli seharian penuh," batinnya.
"Gimana kalo kita nge-date?"
Aska menggeleng lagi, kali ini lebih cepat. "Aku mau pulang aja, capek," keluhnya.
Carly tersenyum maklum. "Baiklah, karena kamu kecapekan, kita istirahat di rumah aja. Aku bakal masakin Ratatouille favorit kamu."
Aska memilih diam, dia tidak punya cadangan energi untuk membantah Carly. Lagipula apapun yang Aska katakan, Carly akan tetap menahannya di sini.
"Ponsel ku mana?" Alih Aska. Sedari tadi dia mencari letak tas, tapi tidak menemukannya di manapun.
"Diruang tengah," sahut Carly. Nada suaranya berganti menjadi lebih rendah dengan raut wajah menggelap. "Kamu mau nelpon siapa? Hervi?"
Aska menautkan kedua alisnya, "kenapa dia tiba-tiba membahas Hervi?" Pikirnya.
"Ngak, aku mau nelpon ke rumah. Tante Nirmala pasti cemas karena aku nggak ngabarin semalam."
"Oh, kalo itu kamu nggak usah khawatir," sambut Carly riang. Senyum kembali merekah di wajahnya. "Aku udah ngabarin ke rumah."
Carly melirik arlojinya cepat. Pukul setengah dua belas siang. Dia harus segera ke supermarket di lantah bawah apartemen. Bila beruntung dia masih bisa mendapatkan tuna segar untuk melengkapi hidangan siang ini.
Hari ini Carly akan menahan Aska di apartemennya, dia harus memastikan Aska tidak bertemu dengan orang-orang yang berpotensi menjadi duri dalam hubungannya.
"Kamu sarapan dulu ya, aku mau siap-siap buat masak makan siang," kata Carly sembari mengecup singkat dahi Aska. "Love you," ucapnya sebelum keluar dari kamar.
Aska hanya menatap kosong tanpa niat membalas ataupun mengelak. Saat ini dia lebih tertarik untuk meneliti sandwich di piring, begitu melihat potongan selada bersama tomat dan basil, selera makan Aska seketika menghilang entah ke mana. Apapun jenisnya, sayuran adalah musuh terbesar di hidup Aska. Saat orang-orang mulai men-dikte tentang manfaat sayuran bagi tubuh, dengan gampang Aska berdalih, "jaman sudah canggih, ada ratusan suplemen dengan kandungan vitamin sayur dan buah di jual dimana-mana."
Aska mengangkat nampan, membawa bersamanya keluar kamar. Meninggalkan nampan berisi piring sandwich di pantry, lalu berjalan ke ruang tengah bersama gelas susu ditangan. Aska memutari ruangan untuk mencari ponselnya. Ia harus menghubungi Ela untuk membahas merger Infinity.
[Drrrttt ... Drrrttt ...]
Aska menemukan ponselnya di atas meja ruang tengah, ia memeriksa beberapa pesan yang masuk serta puluhan panggilan dari Aldi, Ela, Nirmala bahkan Papa.
[Drrrttt ... Drrrttt ...]
"Halo,"
"ASKA!"
Aska menjauhkan telinganya dari horn ponsel. Suara melengking milik Ela nyaris membuat gendang telinganya meledak.
"Kenapa teriak-teriak?"
"Ka, kamu kemana aja sih? Di cariin kemana-mana-"
"Bukannya Carly udah ngasih tau orang rumah?" Potong Aska. Baru beberapa menit yang lalu, Carly dengan yakin mengatakan dia sudah menghubungi Tante Nirmala.
"Hah? Apaan? Malah kami yang nelpon Carly terus dia bilang kamu cuma mampir lalu pergi lagi," heran Ela.
"Kemarin Carly malah bertemu papa mu untuk mempercepat jadwal pernikahan karena kamu hamil anaknya," lanjut Ela menggebu-gebu.
"Hah? Hamil?" Aska tersentak kaget. "Apa-apaan ini?!"
"Aska, kamu benar hamil nak?" Suara Nirmala mengintervensi di tengah pertanyaan Aska, suaranya terdengar lesu dan di iringi nada kecewa. Dia menghela nafas panjang begitu selesai melempar pertanyaan.
"Hamil? Hamil?!" Geram Aska penuh emosi. Tanpa sadar dia melempar gelas berisi susu di tangannya ke arah televisi layar datar yang menempel di dinding. Puing-puing dari panel TV dan gelas berhamburan tumpang tindih berserakan di lantai.
__ADS_1
"Ini gila," desisnya marah. Emosinya tak tertahankan lagi.
Aska memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Kamu beneran hamil?" Kali ini berganti suara Aldi yang bertanya.
"Nggak. Kita bicarakan masalah ini di rumah aja," sanggah Aska cepat. Memutus deretan pertanyaan yang siap meluncur dari bibir Aldi.
"Dimana kamu Aska?!" Alih Aldi. Suaranya kasar dan berat, suara yang khas saat marah.
"Aku di apartemen Carly,"
"Aku kesana sekarang, kali ini aku nggak akan ragu-ragu bikin tuh anak babak belur," sentak Aldi berang
"Jangan ke unit, tunggu aku di mobil aja Al."
"Kamu mau ngapain Ka? Jangan dengerin Carly lagi."
"Sepuluh menit lagi aku turun," putus Aska tanpa menunggu aksi protes Aldi lagi.
Aska membanting tubuhnya diatas sofa. Membungkuk dengan kedua tangan menyisir rambut depan, membawa dan menahannya disana.
"Ini terjadi lagi," desis Aska. "Apa sebenarnya mau Carly?!" Batinnya marah.
Aska merenung sejenak, mencerna apa yang sedang terjadi. Sekilas lalu Aska masih mencoba memahami posisi Carly sebagai tunangannya tapi untuk sekarang, terlalu banyak permainan yang diperankan Carly dibelakang Aska.
Bukan sekali dua kali kejadian seperti ini terulang. Dari awal hubungan keduanya berjalan secara resmi, Aska sudah bisa melihat sikap Carly yang terlalu posesif dan cemburuan. Bahkan di bulan pertama, Carly mulai mengabsen orang-orang di sekitar Aska. Menempeli Aska sepanjang waktu dan memperlihatkan kemesraan yang berlebihan dihadapan orang lain. Disaat Aska protes, Carly akan mulai memohon dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tapi tetap saja, meski untuk hal-hal kecil, Carly selalu mengendepankan rasa cemburu dan kecurigaan tak berdasar.
...***...
[Tit ... Tit ... Tit ...]
Bunyi alarm dari panel kunci pintu menandakan pemilik apartemen membuka pintu.
Aska menghela nafas berat, menekan emosinya jauh untuk tidak menyerang Carly, merobek topeng palsunya.
"Sayang, kamu-,"
"Duduk," potong Aska dingin.
Carly mengernyit, dia yakin meninggalkan Aska dalam suasana yang kondusif tapi kenapa sekarang jauh berbeda. Carly meletakkan barang yang di bawanya diatas meja.
"Kamu kenapa sayang?" Carly berusaha meraih tangan Aska tapi segera di tepis.
"Kamu bohong soal menghubungi keluarga ku?" Pukas Aska. Matanya menatap Carly tajam, tidak memberikan kesempatan bagi laki-laki itu untuk merancang kebohongan lainnya.
Carly melirik ponsel Aska yang tergeletak di atas meja. Pertanda pemiliknya baru saja mengecek apapun pesan yang masuk ke ponsel itu.
"Seharusnya aku menghancurkan ponsel itu," batinnya geram.
"Kenapa kamu bohong?"
Suara dingin Aska memaksa Carly untuk berpikir keras. Mencari alasan yang tepat untuk menenangkan amarah kekasihnya.
"Aska, kamu tenang dulu. Kamu salah paham," bujuk Carly. Dia maju untuk meraih lengan Aska.
"Berhenti menipu ku Carly, aku muak dengan ini semua," bentak Aska, memaksa Carly mundur.
"A-aku cuma mau lebih lama sama kamu Ka."
"Carly, itu alasan paling konyol yang pernah aku dengar." Aska tertawa jengah menangapi alasan Carly. "As long as I know, kamu selalu mengikuti kemanapun aku pergi."
"Bukan itu maksud ku Ka, aku mau kamu-"
"Kamu mau mengurung aku disini kan?" Tebak Aska.
Carly tersentak. Niatnya terbaca jelas oleh Aska.
"Kamu mau membuat orang-orang disekitar ku menjauh seperti yang kamu lakukan pada klien perusahaan ku."
"Tidak, tidak, Aska dengarkan aku dulu," Carly menarik Aska, menahannya dalam jarak yang cukup bagi Carly untuk bicara dengan nada tenang.
"Sayang, aku cuma mau kamu disini, bersama ku. Kita butuh waktu untuk membicarakan banyak hal tentang hubungan ini," dalih Carly sebagai alasan.
Aska melengos malas. "Lalu, apa maksud mu menemui Papa dan mengatakan aku hamil?"
Carly mengosok pelan kedua lengan Aska, menghantarkan perasaan hangat berharap mampu mencairkan batu es di hati kekasihnya.
"Aku yakin apa yang kita lakukan semalam akan membuahkan hasil, sayang. Aku hanya ingin bersiap menyambut buah cinta kita," bisik Carly, membawa Aska ke dalam pelukannya.
Aska menautkan alisnya heran. "Jadi ini rencana mu dari awal?" Ucapnya sengit. Aska menarik tubuhnya lepas, menatap Carly nanar. Dia tidak pernah menyangka Carly bisa berbuat selicik ini padanya.
Carly mendesis pelan. Kehabisan alasan untuk membuat Aska kembali melunak. "Kenapa susah sekali bagi kamu untuk percaya Ka? Aku hanya ingin kita selalu bersama. Aku mencintaimu dan kamu harus mencintaiku," bentak Carly. Wajahnya memerah menahan amarah yang membuncah di hatinya.
__ADS_1
Aska tersentak kaget. Ini pertama kalinya dia mendengar Carly meninggikan suara saat bersamanya.
"Kurasa kita harus menghentikan ini Carly. Dari awal hubungan ini dimulai karena keinginan mu. Kamu yang merancang semuanya seakan aku ini hanya boneka," tutur Aska.
Dia menghembuskan napas panjang untuk mengurangi tekanan di otak dan hatinya yang siap untuk meledak.
"Aku tidak pernah protes karena Papa tapi sekarang aku muak dan capek," lanjut Aska. Meraih tasnya dan plastik laundry yang baru saja dikirimkan lima menit sebelum Carly pulang.
"Kamu mau kemana?"
"Tentu saja pulang."
Carly menarik kasar tangan Aska untuk berbalik menghadapnya. "Ini rumah mu, kemana kamu mau pergi Aska?" Desisnya marah.
Aska membelalakkan matanya, "kamu gila!" Menggeliat berusaha lepas dari cengkraman Carly.
"Ya Aska, kamu membuat ku seperti ini. Kamu tahu? Setiap hari kamu membuat hati ku tidak tenang. Aku selalu ketakutan kamu pergi dengan laki-laki lain. Aku muak mendengar nama Bima karena aku tahu kamu mencintai laki-laki itu," sentak Carly. Tangannya semakin kuat mencengkram lengan Aska membuat wanita itu merintih kesakitan.
"Lepas Carly, sakit."
"Aska! CARLY BUKA PINTU!"
Suara teriakan Aldi dan gedoran kasar berkali-kali di pintu mengusik perhatian Carly hingga mengendorkan pertahanannya. Aska memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tangannya dan mendorong kuat tubuh Carly hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah.
Aska berlari untuk meraih kenop pintu, belum sepenuhnya tangannya berhasil memutar, kepala Aska tertarik ke belakang karena Carly menarik kasar rambutnya.
"Akh, lepas!" Jerit Aska kesakitan. "ALDI!" Teriaknya berharap Aldi mendengar suaranya.
Aska meronta-ronta berusaha lepas tapi kuatnya tarikan tangan Carly di rambut bagian belakang membuat Aska sulit bergerak. Carly membekap mulut Aska agar berhenti berteriak dan menyeretnya masuk ke kamar.
"Diam!" Bentak Carly. Menghempas kasar tubuh Aska ke ranjang. "Jangan memancing Aska. Aku bisa menyakiti mu lebih dari ini."
"Sialan Carly, kamu pengecut gila."
"Aku sudah berusaha memperlakukan mu dengan baik karena aku mencintaimu Aska."
Aska bangkit dari ranjang, berdiri menantang Carly. "Ini yang kamu sebut cinta? Kamu cuma terobsesi Carly! Bahkan kamu nggak tahu apa arti cinta," desis Aska memancing emosi lawannya.
[PLAK ...]
Carly melayangkan tangannya di udara hingga mendarat keras di pipi Aska membuat pipi itu berpaling dan meninggalkan cetakan merah disana dengan darah segar di sudut bibirnya.
"Kamu memukul ku?"
Carly terdiam, terkejut atas apa yang dilakukannya. Tangannya bergerak jauh lebih cepat daripada sel-sel yang bertugas mengirim perintah di otaknya.
"Ka-" Carly mendekat untuk melihat wajah Aska lebih cepat tapi tangannya segera di tepis untuk menjauh.
"Aska maafkan aku, maaf," Carly berjongkok di depan Aska yang duduk di ranjang dengan wajah marah.
"Kamu gila Carly! Ini yang kamu maksud cinta?!"
"Sayang, kumohon jangan marah. Aku khilaf, aku mencintaimu Aska, kamu harus percaya itu. Kamu tidak boleh-"
"Hentikan ocehan mu. Aku tidak mau mendengar apapun lagi," potong Aska dingin.
"Tidak, maafkan aku sayang," mohon Carly. Tangannya menggenggam kedua tangan Aska erat mencegah Wanita itu menjauh darinya.
"ASKA!"
"Aku disini," sahut Aska begitu mendengar suara Aldi berada cukup jelas.
Pintu kamar terbuka, Aldi dan dua orang berseragam satpam menyerbu masuk. Carly ditarik paksa menjauhi Aska.
"Kamu ngak papa?" Buru Aldi. Meneliti kiri dan kanan tubuh adiknya. Matanya menangkap cetakan tangan berwarna kemerahan di wajah Aska.
Aldi mengeram marah. Dia menghambur ke arah Carly dengan kepalan tangan mengepal kuat.
[Buk ... Buk ...]
Para satpam berusaha keras menarik Aldi untuk melepaskan Carly yang diam menerima setiap pukulan yang diarahkan padanya.
"Al, pulang," gumam Aska lelah.
Suara Aska menghentikan tinju ketiga Aldi bersarang di wajah Carly yang sudah terlihat menyedihkan.
"Ayo pulang,"
Aldi beralih pada adiknya. Melepas jaket yang dikenakannya untuk membalut tubuh Aska yang cuma tertutup piyama sutra. Aldi merengkuh Aska dalam pelukannya, membawanya keluar ruangan.
"Sebentar," Aska berpaling pada Carly. "Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apapun. Jangan pernah hubungi atau muncul di hadapan ku lagi kalo kamu tidak mau masuk penjara," ujar Aska tegas.
"Aska, a - aku,"
__ADS_1
"Ayo kita pulang, Aska. Mama sama papa udah nungguin di rumah," potong Aldi. Membawa adiknya menjauh dari Carly. Dia tidak ingin Aska kembali luluh melihat airmata palsu yang selalu di jadikan Carly sebagai senjata.
...****************...