
Agus menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat. Begitu Nirmala menghubunginya, Agus segera meninggalkan ruang rapat dengan langkah setengah berlari, menyebabkan puluhan mata menatapnya dengan sorotan penuh tanya. Agus meninggalkan anggota rapat yang setengahnya adalah para eksekutif. Julukan sebagai workaholic yang selama ini di sandangnya tidak mampu membuat Agus terlihat tenang, sebagai seorang Ayah jantungnya berdebar kencang disertai tubuh yang bergetar takut begitu mendengar kabar putrinya terbaring dirumah sakit.
Agus berusaha keras menghasilkan uang untuk membahagiakan keluarganya, terutama Aska. Dia berjanji pada Diana - istrinya yang telah meninggal, untuk selalu membahagiakan Aska. Agus tidak mengerti arti kata bahagia yang sebenarnya, yang bisa dilakukannya hanya memastikan semua kebutuhan Aska terpenuhi. Agus melimpahi putri kecilnya dengan materi, memastikan Aska tidak pernah merasakan kekurangan apapun.
Namun perlahan Agus sadar, Aska tidak bahagia. Bukan uang yang dibutuhkan Aska. Putri semata wayangnya membutuhkan perhatian khusus dari orangtuanya. Dia butuh kehadiran seorang Ayah yang mampu menguatkannya, menutupi rasa kehilangan yang dirasakannya akan sosok seorang ibu.
Begitu mendengar berita Aska mencoba bunuh diri membuat ingatan Agus kembali pada detik-detik kepergian Diana, wanita yang sangat dicintainya itu dijemput sang ajal dalam proses persalinan Aska. Saat itu Agus sangat takut, sama seperti yang sekarang dirasakannya. Agus tidak siap untuk kembali kehilangan orang yang dikasihinya.
Nirmala menepuk pundak suaminya. Dia tahu Agus cemas menunggu kepastian kondisi Aska. Dua jam berlalu tapi dokter belum juga keluar dari ruangan UGD, Aldi yang ikut masuk bersama dokter juga belum keluar.
"Kenapa Aska melakukan ini?” tanya Agus dengan suara bergetar.
Nirmala menggeleng lemah.
Agus menekuk wajahnya menatap lantai berubin putih sembari merapal deretan doa di dalam hatinya.
...***...
Aska duduk di kursi taman, matanya memandang ke sekelilingnya. Taman kecil berbetuk persegi yang ditanami berbagai macam bunga, terlihat seperti taman belakang Nirmala dalam versi yang lebih besar. Aska tersenyum, perasaanya benar-benar tenang. Hembusan angin semilir menyentuh kulitnya, terasa menyejukkan. Aska senang berada disini, dia merasakan kedamaian, tapi dimana tempat ini? Jelas bukan neraka, apakah ini surga?
Apakah aku sudah meninggal? Berarti aku bisa bertemu Bima. Ah, aku lupa. Bukankah aku yakin Bima belum meninggal jadi tidak mungkin aku bertemu dengannya.
“Aska,”
Aska berpaling mencari asal suara yang memanggilnya.
Mama?
Aska tertegun begitu melihat wanita yang diyakini sebagai ibu kandungnya. Wanita yang hanya bisa di lihat dalam foto, wanita yang meninggal saat melahirkannya. Mama jauh lebih cantik dibandingkan yang terlihat difotonya.
“Ma,” entah sejak kapan, keduanya berdiri saling berhadapan satu sama lain. “Ma,” panggil Aska lagi.
Kegembiraan yang membuncah dalam hati menghentikan rentetan kata-kata yang pernah disusunnya. Aska selalu menunggu saat seperti ini dimasa kecilnya, maka dia menyusun deretan pertanyaan yang akan ditanyakannya bila bertemu ibu suatu saat nanti, tapi sekarang semuanya hilang seakan menguap.
Aska menutup matanya saat merasakan tangan ibu merengkuh wajahnya. Hangat dan nyaman, dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya belaian seorang ibu. Walau tidak lagi menolak kehadiran Nirmala sebagai istri Papa, Aska tetap tidak bisa menerima wanita itu sebagai ibu yang mengantikan keberadaan ibu kandung dalam hidupnya.
Mama tidak mengatakan apapun, namun Aska bisa merasakan kehangatan kasih sayang hanya dari sentuhannya. Perlahan airmata keluar dari sudut mata Aska, kebahagian dan kerinduan berpadu mengisi relung hatinya. Mendorong airmata untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya saat ini.
“Aska,”
__ADS_1
Aska membuka matanya, dia mendengar suara Papa memanggilnya. Mama mengangguk, melepaskan tangannya dari wajah Aska. Dia tersenyum lalu mundur perlahan. Aska segera melangkah maju mendekat tapi mama menahannya, dia meminta Aska berbalik meninggalkannya.
“Ma, Aska mau sama mama aja," rengek Aska. Kakinya melangkah maju hendak mendekati mama lagi. Mama menggeleng cepat lalu melambai, menyuruh Aska pergi.
“ASKA.” Panggilan panjang menghempaskan tubuh Aska hingga tidak sadarkan diri.
...***...
Aska membuka matanya perlahan dan ia langsung mendapati Papa dan Nirmala menatapnya dengan wajah diliputi raut cemas. Disamping mereka ada Aldi yang juga menatapnya. Apa yang dilakukan ilmuan gila itu disini? Bukankah dia tengah sibuk dengan riset-nya?
“Syukurlah Aska,” desah Nirmala lega. Dia mengengam erat jemari Aska.
Aska mengerjab pelan. Nasal Kanul yang menggantung di hidungnya terasa menganggu pandangan.
Berapa lama dia tidak sadarkan diri? Mengapa semua orang menatapnya seolah ia baru saja bangun dari kematian. Aska kembali menutup matanya yang terasa berat. Kantuk kembali membawanya menuju alam bawah sadar.
...***...
"Nak, boleh Ibu bicara?"
Aska yang tengah menatap tablet untuk mengecek email pekerjaan yang dikirimkan Ela, mengalihkan perhatiannya pada Nirmala yang baru saja datang.
"Apakah kamu masih merasa keberatan dengan keberadaan Ibu?" Lanjutnya karena tidak juga mendengar jawaban dari Aska.
Aska mendesah pelan lalu menggeleng. "Tidak."
Nirmala menarik tangan Aska, menahannya kuat dalam gengaman saat Aska berusaha mengelak. "Lalu? Boleh Ibu tahu apa alasan mu nak?"
Aska diam, dia tidak tahu apa yang harus di katakan pada Ibu tirinya itu. Secara garis besar, Aska sudah lama menerima kehadiran Nirmala dan Aldi sebagai keluarga baru dalam hidupnya. Namun tubuh Aska secara spontan menghindar setiap kali Nirmala berusaha mendekatinya. Aska tahu ini bukan rasa benci namun lebih pada kecemasan Aska akan penolakan Nirmala dan Aldi terhadapnya. Aska selalu merasa tidak nyaman berada dalam lingkungan yang asing baginya. Satu-satunya orang yang bisa membuat Aska nyaman hanya Bima.
"Tante," Aska terdiam sesaat untuk menyusun kalimat selanjutnya. "Aku tidak lagi menentang pernikahan Papa dengan Tante tapi,"
Nirmala menyimak dengan tenang. Dia telah mengumpulkan keberanian untuk bicara secara terbuka dengan Aska. Saat hari dimana Aska dilarikan ke rumah sakit, perasaan Nirmala dirasuki rasa takut, dia takut kalau alasan Aska mencoba bunuh diri karena pernikahannya dengan Agus. Nirmala tidak sanggup menanggung rasa bersalah sebesar ini. Dia lebih memilih mundur bila Aska masih berat menerima pernikahan ini.
"Tidak apa nak, Tante sudah cukup senang kalau kamu mau menerima Tante dan Aldi," ujar Nirmala. Suaranya serak menahan tangis. Hatinya mendesah lega karena terlepas dari perasaan bersalah.
Aska menangkap raut sedih di wajah Nirmala. Semenjak membuka matanya, Aska mendapati beragam ekspresi dari orang-orang di sekelilingnya, mulai dari sedih, takut bahkan kecewa di mata Papa, Nirmala bahkan Aldi.
"Tante," Ragu-ragu Aska membalas gengaman tangan Nirmala di jarinya. "Maaf, tapi Aska masih butuh waktu untuk bisa memanggil Tante, Ibu. Maaf," desah Aska.
__ADS_1
Nirmala menggeleng cepat, "tidak Aska. Kamu tidak perlu minta maaf. Tante akan menunggu sampai kamu siap." Ucap Nirmala lega. Dia menarik Aska ke pelukannya. Mengusap sayang punggung dari anak sambungnya.
...***...
“Aska, jangan pernah lupa minum obat mu. Sampai keadaan mu stabil, obat ini akan menjadi pendamping mu. Kamu mengerti kan?”
Aska mengangguk. Dia mengerti perigatan Dokter Rayyan, sahabat Papa ini telah menjadi Dokter pribadi yang merawat Aska sejak umurnya delapan tahun.
“Dokter, penyakitku kondisi psikologis ku saat ini bisa mempengaruhi pikiran ku?” Tanya Aska tiba-tiba. Entah mengapa mulutnya tergerak untuk menanyakan kemungkinan dari gangguan mentalnya terhadap apa yang dia rasakan saat ini.
“Maksudmu tentang Bima?”
Aska mengangguk pelan.
Rayyan menghela napasnya sejenak lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Aska.
“Sebagai dokter, aku akan mengatakan, ya! Kondisi mu saat ini 80% akan mempegaruhi pola pikir mu. Tapi,” Rayyan terdiam sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya. "Sebagai seorang sahabat tidak ada salahnya kamu mencoba memahami 20% yang tersisa," lanjutnya.
Aska mencoba mencerna maksud kalimat dokter Rayyan. Jadi yang mana yang harus dianggapnya sebagai kenyataan? 80% atau 20%?
...***...
Rani duduk di halaman depan rumahnya, matanya memandang lepas tanpa arah. Rasa kehilangan masih mempengaruhi hari-harinya. Bahkan pekerjaan yang selama ini menjadi prioritas utama tidak mampu membuatnya melupakan rasa kehilangan putra terbaiknya.
"Tante,"
Rani menengadah, begitu mendapati Aska berdiri di hadapannya. "Kamu sudah pulang, Aska?"
Aska mengangguk pelan. "Tante sehat?"
Rani hanya mengulas sebuah senyum dingin. Dia tidak dapat menemukan alasan yang tepat untuk membenci sahabat putranya. Di satu sisi Rani tidak ingin Aska muncul lagi dihadapannya dengan segala omong kosong yang mengatakan bahwa Bima masih hidup, itu hanya membuat hati Rani semakin sakit dan sulit untuk menerima kepergian putranya. Namun di sudut hatinya, Rani berharap firasat Aska benar, meski hanya harapan semu Rani ingin mempercayai kata-kata Aska.
"Tante, meski hanya 20 % tapi aku yakin Bima masih hidup. Aku tidak minta Tante percaya pada ku, tapi aku mohon Tante jangan membenci ku. Aska janji,"
Aska berjongkok di hadapan Rani, mengenyam tangannya dan menatap mata wanita itu dengan tatapan tegas.
"Aska janji akan membawa Bima pulang," ucapnya yakin.
...****************...
__ADS_1