Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Syarat Areta


__ADS_3

"Ela,"


Aska melambai pada wanita berambut sebahu yang tengah menyeret kopernya keluar dari pintu kedatangan bandara.


"Aska!" Ela menghambur ke pelukan Aska, memeluknya erat. "I really miss you."


"Kamu kangen aku atau gaji mu?" Canda Aska.


Ela melepaskan pelukan, memukul pundak Aska gemas. "that is, too," ucapnya, memamerkan cengiran lucu di wajahnya.


"Tapi aku memang merindukan mu Aska," Ela kembali menarik Aska kedalam pelukannya.


"Aku tahu,"


"Oke ladies, bisakah kita pergi sekarang? Jujur, aku punya panggilan darurat saat ini," sela Aldi yang muncul bersama koper-koper tambahan milik Ela.


"Who's he? So sexy," bisik Ela. Dia melemparkan tatapan penasaran pada Aska.


"Are you serious?" Aska tergelak. "Sexy? Oh my Ela. This is Aldi. Kok kamu bisa lupa?"


"Seriously?! Aldi?" Mata Ela mendelik tak percaya. "Si kutu buku? Nerd?!" Tanyanya memastikan.


"Ladies, I'm here. Why are you guys talking about me when I'm still here?" Protes Aldi cemberut. Dia mendengar jelas dua wanita itu terang-terangan menggosipkan dirinya.


"Cepetan ah, ini nyonya besar udah ngomel dari tadi. Lagian Mama ada-ada aja pake nitip tahu, mana ini tahu Sumedang, jauh banget lagi tempatnya. Kenapa ngak beli di mang Ujang dekat rumah sih, tahu kan dimana-mana sama aja," gerutu Aldi sambil membaca pesan dari ibunya.


Ela terdiam. Matanya melebar demi melihat ekspresi Aldi yang terus berganti selama mengomel panjang lebar.


"Makan tuh seksi," ledek Aska.


"No, no, no Aska. He's very sexy." Seru Ela centil. Dia mengerling nakal. "Actually, my tipe."


Aska menggeleng, kepalanya mendadak pusing melihat kelakuan Aldi dan Ela.


"Buruan, aku lapar." Sergah Aska, pergi meninggalkan dua manusia yang tetap sibuk dengan urusan masing-masing.


...***...


"Aska, seperti yang pernah kita bahas di telepon. Perusahaan benar-benar ngak bisa bertahan lebih lama lagi. Kita collapse," ucap Ela hati-hati.


Kedatangan Ela ke Indonesia hari ini untuk menyampaikan apa yang terjadi di perusahaan selama Aska absen. Beberapa proyek di batalkan sepihak dan sebagian lainnya manset bahkan harus terhenti di tengah jalan. Absennya Aska sebagai pemilik perusahaan berdampak cukup besar bagi perusahaan terutama di kalangan partner kerja yang notabene menempatkan Aska sebagai jaminan dalam proyek yang mereka bangun.


Aska mendesah panjang. Inilah resiko yang harus di terimanya karena mengabaikan perusahaan dalam waktu yang cukup lama. "Gimana kondisi saham saat ini?"


Ela membuka lembaran kedua dari berkas di tangannya. "Turun 75% dari harga sebelumnya."


"75%? Berarti itu harga mati," batin Aska resah.


"Apa karyawan tau hal ini?"


"Untuk saat ini belum, aku dan Rian sebisa mungkin menutup semua jalur informasi bagi media."


Aska mengangguk pelan. "Bagus, terus lakukan itu sampai rapat direksi Minggu depan. Kita butuh waktu bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk," perintahnya.


"Kamu baik-baik saja?"


Ela yakin, Aska pasti sangat sedih. Infinity art and decor merupakan buah dari kerja kerasnya. Ela mulai menjabat sebagai sekretaris Aska dari jaman wanita itu masih bekerja sebagai direktur di perusahaan konstruksi terkemuka di Singapura. Dua tahun kebersamaannya, Aska secara khusus mengundang Ela untuk menjadi asistennya, bersama-sama membangun Infinity hingga bisa bersaing dengan perusahaan konstruksi besar.


Ela menjadi saksi kerasnya perjuangan Aska. Bahkan diawal karirnya sebagai CEO, Ela melihat bagaimana orang-orang meremehkan Aska, menganggapnya sebagai musuh dalam selimut karena berhenti dari perusahaan dengan membawa para klien loyal bersamanya.


Itu semua tidak benar, Ela jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri. Aska menolak semua tawaran kerjasama dari para klien terdahulu. Dia bersedia memulai dari nol. Berangkat dari satu pintu ke pintu lainnya menawarkan hasil kerjanya. Tidak sedikitpun terbersit niat di hatinya untuk memanfaatkan koneksi yang pernah dimilikinya saat masih menjadi karyawan.

__ADS_1


"Kamu tenang aja La, aku akan mencarikan mu pekerjaan yang jauh lebih baik daripada saat bersama ku," ujar Aska.


Ela menggeleng cepat. "Bukan itu yang ingin aku dengar Aska. Aku tahu ini semua sulit bagi mu. Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik La, sangat baik," sahut Aska yakin meski hatinya berkata tidak. "Ini sulit, sangat sulit hingga hatinya terasa sesak, tercekik pilu," lirihnya dalam hati.


...***...


Pie menghampiri meja Hervi, menyerahkan laporan yang dimintanya beberapa hari lalu.


"Ah, udh keluar ya?" Hervi menutup berkas yang sedang diperiksanya dan beralih pada map yang dibawa Pie.


Ergan Barcode, warga negara Jerman. Dari informasi rekap paspor, laki-laki berumur 35 tahun itu telah tiga tahun menetap di Indonesia.


"Kamu sudah periksa alamat rumahnya?"


Pie mengangguk. "Itu alamat fiktif."


Hervi mendesah panjang. Perasaannya mengatakan masalah ini akan menjadi panjang.


"Pie, kamu ingat kasus korban yang tewas terbakar di dalam mobil?"


"Maksud mu kasusnya sahabat Ibu Aska?" Tebak Pie dengan raut lucu.


Hervi terkekeh geli. "Jangan coba-coba mengodanya langsung."


"Ya, ya, aku tahu. Jujur aja waktu itu aku agak ngeri liat mukanya. Ngak nyangka dia bakal segitu marahnya."


"Aska memang gampang emosi."


Hervi tersenyum mengingat wajah marah Aska. Di beberapa pertemuannya, Hervi selalu tertarik untuk melihat ekspresi apa saja yang bisa di tampilkan wajah dingin itu.


"Sepertinya kamu tertarik sama wanita itu?"


"Ya. Jarang-jarang aku ngeliat kamu senyum-senyum gini. Apalagi pas kemaren dia datang, kamu keliatan seneng banget," celetuk Pie.


"Masa sih?"


Hervi mengerjap bingung. Dia tidak menyangka tingkah lakunya sejelas itu di mata teman-temannya.


"Iya, kayak anjing ketemu majikan."


Hervi melempari Pie dengan tumpukan kertas di hadapannya. "Sialan!"


"Hah, Kalo ngak percaya kamu tanya aja si Dion. Dia sampe pasang taruhan ma anak-anak lain," kilah Pie berusaha mencari sokongan.


"Kurang kerjaan kalian," Apakah sejelas itu? Hervi tidak terlalu mengerti perasaan apa yang dialaminya saat ini. Dia serasa kembali ke masa-masa SMA dimana hormon mempengaruhi masa pubertas hingga membuat tingkahnya menggebu-gebu layaknya remaja yang tengah di mabuk asmara. Aska tidak semenarik wanita yang pernah hadir di hidupnya, tapi kehadiran Aska seolah magnet yang menarik Hervi untuk selalu berada di sisinya.


...***...


"Aku tidak pernah memberikan bantuan secara gratis. Kamu tahu itu kan?"


Aska menatap ngeri wajah Areta yang dihiasi seringai licik. Keduanya duduk saling berhadapan. Pagi ini, Rafael menghubungi dan berpesan untuk menemui Areta di cafe yang letaknya berseberangan dengan kantor JH Group. Cafe ini merupakan salah satu properti milik JH Group, mengingat betapa mudahnya Areta mengosongkan cafe yang biasanya dipadati pengunjung karena lokasinya yang strategis berada di tengah-tengah pusat gedung perkantoran.


"Aku tahu. Katakan," Aska menegakkan tubuhnya untuk mendengar apa yang diinginkan Areta sebagai imbalan dari permintaannya.


Aska jelas sadar, berhubungan dengan Areta Johnson seperti bermain dengan pisau bermata dua, kapan saja bisa menusuknya. Namun saat ini orang yang paling bisa diandalkan hanya wanita itu.


Areta tersenyum puas. "Aku dengar perusahaan mu nyaris collapse. Bukankah ini waktu yang tepat bagi mu untuk kembali ke Indonesia?"


"Darimana kamu tahu?"

__ADS_1


Aska yakin, informasi tentang perusahaannya yang mengalami kerugian besar hingga nyaris bangkrut masih menjadi rahasia di dalam perusahaan. Aska secara khusus meminta Ela untuk menutup berita ini rapat-rapat hingga rapat direksi Minggu depan.


"Aska, Aska, kamu masih saja naif," Areta terkekeh melihat ekspresi bingung di wajah Aska. "Kamu harus tahu, tidak ada yang namanya rahasia di dunia bisnis. Informasi apapun bisa aku dapatkan dengan melemparkan sedikit umpan."


Wajah Aska memerah mendengar apa yang dikatakan wanita di hadapannya.


"Kamu tahu, hanya ikan murahan yang ada di dalam aquarium mu," ejek Areta. Ia menjentikkan jarinya menandakan apa yang dilakukannya hanyalah hal sepele. Areta senang bermain-main dengan emosi Aska.


"Langsung saja Areta, apa yang kamu mau?" Desis Aska dengan nada rendah.


"Lebur perusahaan mu dengan Giant Konstruksi dan jadi direktur utama disana. Aku membutuhkan orang seperti mu untuk mendukung perusahaan itu."


Aska mengernyit. Baru-baru ini dia mendengar JH Group mengambil alih sebuah perusahaan konstruksi yang nyaris bangkrut. "Kenapa bukan kamu yang melakukannya? Aku yakin kamu bisa membuat perusahaan itu sesukses JH Group," papar Aska.


Areta tersenyum, "kamu tahu? Kelas kita berbeda," sindirnya. "Kenapa? Kamu takut?" Imbuh Areta karena Aska hanya diam, menatapnya kosong.


Aska mengenal Areta untuk waktu yang lama, jadi dia sudah terbiasa dengan cara Areta menyanjung ataupun menghancurkan orang lain. Areta seorang pengusaha yang terbiasa mengontrol keadaan serta orang-orang yang berada dalam lingkungannya. Dia tidak terbiasa menghibur dengan kata-kata manis penuh semangat namun berselimut kepalsuan, Areta akan langsung menyerang titik lemah lawannya, memaksa orang lain untuk bangun dan menghadapi kenyataan.


"Gimana nasib karyawan ku disana?"


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, aku sudah mengatur semuanya."


Aska merenung sejenak, memikirkan solusi terbaik untuk perusahaan yang dibangunnya dengan kerja keras.


"Kamu yakin?" Tanya Aska, lebih kepada dirinya sendiri.


Bukannya Aska tidak yakin akan kemampuannya tapi untuk saat ini ada efek negatif dari kegagalan yang tengah menggerogoti hatinya dan Aska butuh waktu untuk membangun kepercayaan dirinya lagi.


"Kamu tidak akan menemukan solusi yang lebih baik dari ini Aska," cetus Areta tenang. Dia tahu Aska tidak akan bisa menolak penawarannya.


"Ah, daripada penawaran ini lebih tepat disebut perintah," desis hati Areta.


"Baiklah. Lakukan apapun yang kamu inginkan, tapi aku harus berjanji tidak akan memecat satupun karyawan ku," pesan Aska. Untuk beberapa alasan, apa yang dikatakan Areta merupakan jalan terbaik daripada membekukan seluruh aset perusahaan dan memecat seluruh karyawan.


"Aku tahu kamu cukup pintar Aska," sarkas Areta. Dia menyerahkan map yang sedari tadi diletakkan di atas meja kepada Aska.


"Bima ada disana," tunjuknya ke arah map.


Wajah Aska mendadak berubah cerah. "Tapi aku tidak yakin apa itu Bima atau hanya mayatnya," sambung Areta.


"Apa maksud mu?" Aska mengenyit bingung. Tangannya yang baru membuka sampul map, mengantung di udara begitu mendengar kalimat Areta selanjutnya.


"Aku tidak melibatkan diri lebih jauh. Ada kode etik yang tidak bisa kami langar satu sama lain," jelas Areta. "Jadi aku tidak bisa memastikan Bima masih hidup atau mati."


"Menurut mu?" Aska sangat mengharapkan presensi Areta, sekedar untuk menghiburnya.


"Kalo Bima punya apa yang mereka butuhkan, dia akan tetap hidup tapi kemungkinan itu hanya 10%," papar Areta. Dia menyimpulkan berdasarkan cara kerja organisasi underground yang selama ini di lihatnya.


"Cukup, bagi ku itu cukup," desah Aska lega. Walaupun Areta mengatakan kemungkinannya hanya 5%, Aska akan tetap mempertahankan keyakinannya selama masih ada kesempatan meskipun itu kecil.


"Aku pergi," pamit Aska.


Areta menatap Aska nanar. Dia mengangumi tekad dan kesetiaan wanita itu. "Aska, hati-hati."


Aska mengangguk mantap. "Oh ya, katakan pada Hani untuk datang membawa berkas yang harus aku tandatangani. Jujur saja, aku tidak ingin terlalu sering melihat wajah mu," candanya sembari beranjak pergi meninggalkan Areta.


Aska berpapasan dengan Rafael di depan pintu masuk cafe.


"Kamu tahu cara menghubungi ku," pesan Rafael sembari menepuk pundak Aska dua kali.


Aska mengangguk mengerti pesan dibalik kalimat Rafael.

__ADS_1


"Bima, kuharap apa yang kulakukan sekarang sepadan. Bertahanlah Bim, aku akan segera menjemput mu. Kita akan kembali bersama," batinnya.


__ADS_2