Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Patah Hati


__ADS_3

"Kalian ngapain?" Heran Aska.


Begitu turun dari lantai dua, dia mendapati Ela dan Aldi tengah duduk berdempetan di sofa dengan lengan Ela merangkul Aldi dan sesekali menepuk pundak itu pelan.


"Udah kayak Mak gorila lagi nge-mong bayinya," batin Aska geli.


Keduanya menatap lurus televisi yang tengah menayangkan The Witch part 2 di channel Netflix. Melihat dari sinopsis yang bertebaran di berbagai kanal internet, meski dihiasi banyak adegan action berdarah tapi tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa film satu ini masuk dalam jajaran film horor yang mengharuskan penontonnya memasang wajah tegang dan saling merangkul erat.


"Napa?"


"Ssstttt..." desis Ela pelan. "Sini," lambainya meminta Aska mendekat.


Aska mengerutkan keningnya lalu mencari posisi yang cukup nyaman untuk mendengar penjelasan Ela tentang situasi yang sedang terjadi. Dia memilih duduk disamping Ela, ketiganya berhimpitan di sofa panjang.


"Napa?" Bisik Aska dengan pertanyaan yang sama.


"Dia diputusin," balas Ela.


Alis Aska bertaut. "Putus? Bukannya Aldi udah mantap untuk menikah?! Napa pada batal nikah berjamaah gini?" Batinnya bingung.


Menangkap ekspresi bingung di wajah Aska, Ela kembali berbisik. "Cherry," imbuhnya.


"Kenapa dengan Cherry?"


"Wanita itu selingkuh sama supirnya. Semalam Aldi memergoki keduanya masuk hotel," jelas Ela. Dia berbalik menatap Aska dengan ekspresi yang dibuat se-dramatis mungkin untuk menambah efek ironi.


Aska membulatkan matanya lalu mengangguk beberapa kali, antara paham atau bingung.


"Dan kamu tahu? Wanita itu sudah melakukan -"


"Bisakah kalian berhenti bercocok tanam di depan hidung ku?" Sindir Aldi hiperbola, sedari tadi dia hanya duduk diam meratapi pilu yang menggelayuti hatinya. Aldi berniat mengabaikan dua wanita disampingnya tapi hatinya bergejolak emosi mendengar Aska dan Ela asyik bergosip tanpa empati terhadap kesedihan yang menimpanya.


Ela berdeham singkat, memperbaiki letak duduknya. Ia memasang cengiran canggung, mengedip pada Aska sebagai pertanda agar Aska mencoba menghibur saudaranya yang tengah patah hati. Tapi, Aska yang pada dasarnya tidak peka hanya menatapnya polos.


"Katakan sesuatu," desis Ela pelan.


Aska berpikir keras, "apa yang harus aku katakan?" Tanyanya pada Ela melalui tatapan penuh arti.


Ela mengendikkan dagunya pada Aldi lalu berbalik menatap Aska kosong, dia menyerahkan semuanya pada wanita itu.


"Sudahlah, wanita banyak diluar sana," ujar Aska.


Ela melotot, kata-kata Aska sama sekali tidak membantu. Dia malah membuat Aldi kembali terisak.


"Tapi aku udah terlanjur sayang Ka," lirih Aldi. Ia menyapu dua bulir airmata yang meluncur turun dari kedua matanya.


"Cinta bisa tumbuh dan mekar di wadah lain Al. Kamu cuma perlu memupuk dan menyiramnya dengan baik," celetuk Ela. Wajahnya berseri-seri menatap Aldi.


"Lo kata cinta kayak bunga?!" Cibir Aska jijik. "Hentikan, aku mau muntah," sergahnya sembari memasang wajah mual.


Aldi mengerjapkan matanya, bingung untuk menentukan respon yang sesuai untuk menanggapi kalimat Ela. Aldi tidak bisa membedakan kapan Ela dalam mode serius dan kapan wanita itu bercanda.


"Namanya juga usaha Aska," kilah Ela sambil menggerutu. "Kali aja dapat."


"Kalian berdua bisa ngak sih ngak bercanda. Aku lagi sedih nih," keluh Aldi.


Aska menggaruk tekuknya yang tiba-tiba gatal tanpa sebab. "Udahlah Al. Ada sisi baik yang bisa kamu ambil karena pernikahannya batal, paling ngak kamu bisa mengajukan pengembalian dana 'kan?" Cetusnya asal.


[PLETAK ...]


"Ishhh ..." Desis Aska kesakitan. Kepalanya berdenyut nyeri akibat jitakan Ela yang mendarat tepat di ubun-ubun nya.


Ela mendelik. Kali ini dia benar-benar kehabisan kata-kata. Kemana kepintaran seorang Askia Sahara yang selama ini dikaguminya, yang dilihatnya sekarang hanya seorang adik yang menghibur saudaranya dengan melontarkan kata-kata bodoh dan konyol.


Aldi menghentikan isakan-nya, buru-buru dia menyapu sisa Airmata dengan tisu gulung lalu berpaling, tatapannya melewati jarak dan tertuju pada Aska.


"Emang bisa Aska?"


Aska dan Ela saling pandang, bingung.


"Kalo pernikahannya batal, aku bisa mengajukan pengembalian dana?" Buru Aldi.

__ADS_1


Aska dan Ela kembali bertukar pandang, bertambah bingung. Tanpa sadar Aska menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan Aldi.


"Bisa, tujuh puluh persen," terang Aska polos.


Aldi menghela nafas lega. "Syukurlah," desahnya. Ekspresi kecewa diwajahnya seketika sirna berganti dengan ekspresi lega.


"Loh? Kamu kok tiba-tiba senang gini?" Tanya Ela.


Aska mengangguk setuju atas pertanyaan Ela. Meski dia tidak terlalu ambil pusing dengan masalah Aldi tapi melihat wajah yang sedari tadi sendu tiba-tiba berubah cerah, mengusik rasa penasarannya.


"Aku tuh dari tadi cemas, semua persiapan udah hampir rampung. Katering sama WO udah dibayar full. Ngebayangin semua uang itu tiba-tiba hilang ngebuat aku sedih banget," jelas Aldi. "Sayang kan? Jaman sekarang cari duit susah."


Aska melongo sedangkan Ela menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendadak seluruh sel otaknya berontak ingin mengamuk.


"Jadi kamu nangis sampe dua kotak tisu plus selusin tisu gulung bertebaran dimana-mana cuma karena uang?" Cerca Ela.


Aldi mengangguk polos membuat Ela menepuk jidatnya frustasi.


"Aku ngak heran kalian jadi kakak adik," ungkap Ela sarkas.


"Apaan sih?!" Protes Aska.


Ela merentangkan tangannya mengelus dua kepala kakak beradik yang duduk di kedua sisinya.


"Cuma otak kiri kalian yang bekerja sedangkan yang kanan kayaknya udah eksodus ke planet Mars," ejeknya.


Aldi dan Aska melayangkan bantalan sofa bersamaan dari arah yang berbeda hingga menghimpit kepala Ela di tengah.


"Sial," umpat Ela memegangi hidung mancung kebanggaan nya yang di rasa masuk setengah centimeter.


"Kamu mau kemana Ka? Udah rapi aja jam segini," selidik Aldi begitu sadar dengan rambut Aska yang di smoothing rapi.


"Jarang-jarang itu ekor kuda di gerai," pikir Aldi


"Keluar," sahut Aska singkat.


Dia hendak beranjak dari sofa tapi dua tangan segera menghentikan langkahnya.


"Iya Aska, dari semalam aku penasaran. Kamu mau kemana?" Tambah Ela mendukung pertanyaan orang disampingnya.


"Keluar," Aska menarik kedua tangannya tapi Aldi dan Ela memeganginya sangat erat. Aska yakin, di pergelangan tangannya sudah tercetak gambar jari-jemari dua makhluk absurd ini.


"Kalo kamu ngak mau bilang, aku bakal lapor Papa," ancam Aldi.


"Dan aku bakalan lapor Tante Nirmala."


Aska menatap Ela tajam. Sejak kapan wanita itu bersekutu dengan orang di rumah ini untuk mengekangnya.


"Kamu sendiri, ngapain jam segini masih nge-jokrok disini? Bukannya ke kejaksaan?" Teror Aska mengalihkan perhatian Ela.


"Oh, tadi Hani nelpon, katanya proses legalitas di tunda dulu sampe Areta punya waktu," terang Ela.


"Trus kamu mau kemana?" Tuntutnya lagi. Sama sekali tidak terpengaruh dengan teror Aska.


"Aku mau ke kantor Ergan Barcode," desah Aska pasrah.


"Siapa Ergan Barcode?" Tanya Aldi dan Ela berbarengan.


"Sejak kapan kalian jadi kompakan gini?" Aska mengernyit curiga.


"Aku ngak pernah dengar nama Ergan Barcode sebelumnya. Siapa Ka? Rekan bisnis baru?" Buru Ela, mengabaikan nada curiga dibalik nada suara Aska.


Aska berdecak kesal. "Areta ngasih aku informasi, katanya Bima bersama orang ini."


"Kok bisa?" Seru Aldi.


"Aku juga ngak ngerti. Areta ngak menjelaskan apapun."


"Ngak bisa Ka, kamu ngak boleh kesana," cegah Aldi. Ia langsung cemas begitu mendengar penjelasan Aska.


"Apaan sih?"

__ADS_1


Aldi berdiri, menghadang Aska untuk pergi namun Aska mendorongnya hingga kembali terbanting duduk di sofa.


"Jangan ribet."


"Ngak bisa dong Ka, Tante dan Om pasti bakalan marah sama kita kalo tau kamu keluar nyariin Bima lagi," sela Ela.


Aldi mengangguk setuju. "Bener Aska, mama bakalan sedih lagi."


"Oh, gini aja. Gimana kalo kami ikut."


"Ngak, ngak," Aska menggeleng cepat begitu mendengar ide gila Ela. "Kalian berdua ngak usah pada sok jadi bodyguard."


"Tapi Aska," Ela memasang tampang memelas.


Melihat aksi Ela, Aldi segera memasang wajah yang sama. "Bila satu tak berhasil, berdua pasti bisa," cetusnya dalam hati.


Melihat kelakuan keduanya membuat Aska stres. Dia mengacak rambutnya frustasi. "Terserahlah," putusnya pasrah dan segera meninggalkan duo kepo yang baru saja terbentuk itu.


...***...


"Vi," panggil Dion begitu melihat kapten itu melewati pintu masuk.


"Kenapa?"


"Ini," Dion meletakkan tiga lembar foto diatas meja kerja Hervi. "Pagi ini informan kita ngirimin tiga foto ini. Dia cuma nulis tanggal dan waktu," jelasnya pada Hervi.


"13 Juni, lusa?"


Dion mengangguk, "oh ya, dia bilang kita harus hati-hati. Transaksi kali ini melibatkan orang yang berpengaruh besar."


"Berpengaruh besar? Siapa?" Pikir Hervi.


"Siagakan interpol di lokasi. Satu jam lagi kita turun," perintah Hervi.


Dion mengangguk cepat lalu berlalu meninggalkan Hervi yang masih menerka siapa orang yang begitu berpengaruh sehingga mampu menarik keluar Grek Foston yang belakangan ini bersembunyi di balik bisnis bersih Ergan Barcode.


...***...


Sebuah SUV berwarna metalik memasuki pelataran rumah menuju carport. Agus memarkirkan mobilnya lalu menghela nafas panjang. Nirmala yang duduk disampingnya mengusap lembut lengan suaminya.


"Apa ini keputusan terbaik?"


Nirmala menatap pilu sang suami. Meskipun orang lain melihat Agus sebagai sosok yang tegas dan keras, namun bagi Nirmala dua puluh lima tahun yang dilaluinya bersama Agus cukup untuknya mengenal kepribadian Agus yang sebenarnya. Laki-laki itu rapuh, satu-satunya alasan bagi Agus bertahan hanyalah Aska - putrinya.


"Sayang, apapun keputusan mu, aku akan selalu mendukung," ucap Nirmala menguatkan.


Agus beralih menatap istrinya. "Kamu yakin Aska setuju?"


"Kita harus membuatnya setuju karena akan lebih mudah bagi kita menjaga Aska kalau dia bersama kita disini."


Agus menatap Nirmala haru. Meski tak pernah punya kesempatan, Agus selalu ingin mengucapkan ribuan kata 'terima kasih' pada Nirmala. Wanita itu bersedia mendampinginya dan merawat Aska seperti anaknya sendiri meskipun respon yang didapatinya tidak sebaik usaha yang telah diberikan.


Meski tak terucap, Agus dapat melihat jelas penolakan Aska akan kehadiran Nirmala dan Aldi dalam kehidupan mereka. Seperti dirinya yang masih kerap merindukan sosok istri pertamanya, Aska juga tak pernah bisa melepaskan bayang-bayang ibu kandung yang selama ini dirindukannya.


"Ayo, kita masuk. Kita bicara sama anak-anak," ajak Nirmala.


Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Al," Nirmala menyebut nama putranya begitu membuka pintu kamar Aldi.


"Gimana sayang, Aska ada di kamar?" Tanyanya begitu melihat Agus turun dari lantai dua sendirian.


"Aska ngak ada di kamarnya. Padahal ponselnya ada," Agus mengangkat ponsel Aska yang dibawanya. Ponsel itu ditinggalkan dalam kondisi tengah mengisi daya.


"Biar aku hubungi Aldi, mungkin dia bersama Aska,"


Nirmala meraih clutch yang diletakkannya diatas sofa, mengaduk-aduk isi didalamnya untuk mendapatkan ponsel. Nirmala menekan angka tiga diatas layar, lama dia menunggu tapi ponsel itu hanya mendengung kan nada tunggu yang panjang pertanda pemilik ponsel tidak menyadari panggilan di ponselnya.


"Ngak diangkat."


"Kemana mereka?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2