Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Penawaran Angel


__ADS_3

"Kamu tahu ukuran Aldi?"


Aska menatap Ela sebentar sebelum menggeleng ragu. "Pilihin aja yang menurut mu cocok," sahutnya.


Ela membolak-balik puluhan kaus yang tergantung di rak display. Distro ini merupakan satu-satunya toko pakaian yang letaknya paling dekat dengan pom bensin.


"Aska, ini aja ya?"


Aska langsung ngakak begitu melihat baju yang dipilihkan Ela untuk Aldi. Ripped jeans berwarna biru terang dengan robekan di paha dan lutut di padu kaus pink dengan sablon hati berwarna kuning cerah pada posisi tengah dan satu hal lagi yang membuat Aska mengeraskan tawanya adalah tulisan di belakang baju 'The Real Player'.


"Ngak ada yang lebih normal?" Sindir Aska di sela tawa.


"Ini lucu loh," Ela mengedipkan sebelah matanya, mengajak Aska untuk mendukung aksi usilnya dalam mengerjai Aldi.


"Terserah kamu aja deh. Toh, Aldi ngak akan bisa nolak di saat seperti ini."


"Hehehe," kekeh Ela senang. Dia segera mengambil CC yang diberikan Aska dan menuju ke kasir.


...***...


"Apa yang kamu lakukan disini?" Selidik Loki. Dia menatap Angel tajam.


"Aku mau bertemu Grek," tegas Angel


"Kamu gila Angel," cemooh Loki. "Kamu pikir punya nyawa sembilan sampe berani datang ke sini dan bertemu Grek?" Sambungnya sinis.


Angel menelan ludah. Apa yang dikatakan Loki benar, dia terlalu berani bahkan terkesan bodoh. Menemui Grek langsung sama saja seperti menantang maut.


Grek - perwakilan organisasi wilayah Asia - yang selama ini di kenal semua anggota, tidak akan sungkan untuk menghunuskan samurai kesayangannya ke leher siapapun yang berani menentang perintahnya.


"Aku harus bertemu Grek," tegas Angel lagi, mengeraskan hatinya. Dia telah berulangkali menimbang rencana ini, kalau rencananya kali ini gagal maka pupus sudah kesempatannya untuk hidup lebih lama.


"Kamu masih hidup?"


Angel berpaling cepat begitu mendengar suara bernada sinis perlahan merayap menusuk tekuknya, membuat seluruh tubuhnya gemetar karena takut.


"Aku ingin bertemu dengan mu Grek."

__ADS_1


"Harus kuakui Angel, nyali mu besar," sindir Grek. Dia duduk di kursi besi yang disediakan Loki lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Loki, aku sudah menyuruh mu untuk melenyapkan nya?" Tegas Grek, meminta penjelasan dari Loki.


Loki menelan ludah. Seketika wajahnya pias bersamaan dengan bulir keringat yang timbul dari balik pori-pori kulit.


"Maaf Bos. A-aku," Loki bersimpuh di depan Grek, memohon ampun.


"Setelah ini aku akan membuat perhitungan dengan mu Angel!" Desis Loki dalam hati.


Grek melepaskan botol yang tergeletak bebas di atas meja ke arah Loki.


[Prank ...]


Angel menutup mulutnya, menahan teriakan kaget sekaligus takut. Matanya terpaku pada Loki yang tak bergeming dari posisinya meski darah merembes turun dari keningnya, perlahan jatuh ke lantai beralaskan debu ditambah puing-puing kaca dari botol yang pecah setelah menghantam kepala Loki.


Grek menatap lurus dan dingin. Sama sekali tidak terpengaruh dengan perubahan atmosfir yang seketika berubah dingin dan mencekam. "Apa kamu menunggu peluru bersarang di kepala mu Angel?" Tanyanya.


Menyadarkan Angel dari ketakutannya.


"A - aku," Angel diam sejenak untuk mengatur nafasnya. "Aku mau mem-beri penawaran."


Angel mengangguk cepat. "Ya, aku akan membawakan satu orang lagi asalkan kalian memberiku pil dan membebaskan ku."


"Hahaha, Angel ... Angel ..." Grek bertepuk tangan lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Angel lalu berhenti saat jarak diantara keduanya hanya tersisa dua ayunan langkah.


"Kenapa kamu tidak memberikan nyawa mu saja?" Sindir Grek. "Oh, aku lupa. Semua yang ada di dalam tubuh mu tidak lagi berguna," ejeknya.


Angel bergetar oleh amarah. Dia tahu Grek tengah menyindir semua organ di dalam tubuhnya. Tak satupun dari mereka dapat di jual karena pengaruh barang haram yang di konsumsinya selama bertahun-tahun.


"A-aku bisa membawakan mu orang yang bersih. Bahkan dia tidak menyentuh alkohol," cicit Angel ragu. Ia meremat kedua tangannya yang terkepal untuk mengurangi rasa takut yang berhasil membayangi hatinya.


Grek mengernyit, tertarik dengan tawaran Angel. Akibat ancaman Areta, dia harus kehilangan dua stok yang dipersiapkannya untuk di segera dikirimkan ke Moskow.


"Siapa yang akan kamu bawa kali ini? Ayah, Ibu, adik atau pacar baru mu?"


"Tidak, jangan ganggu mereka," sentak Angel tiba-tiba. Meskipun ia kerap menghalalkan segala acara hanya untuk mendapatkan kokain tapi Angel masih cukup waras untuk tidak melibatkan keluarganya dan Raka. Laki-laki yang dicintainya.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aska," gumam Angel ragu-ragu.


"Aska?!" Loki terkejut begitu mendengar nama itu.


"Aska? Siapa dia?"


"Aska, sahabat Bima," ucap Angel yakin karena ia melihat kilatan semangat di mata Grek, pertanda laki-laki itu tertarik dengan tawarannya.


"Bima? Kenapa beberapa hari ini, nama itu terus saja disebut oleh orang-orang?" desis Grek.


"Baiklah. Besok bawakan dia ke hadapan ku. Kalo dia sesuai ekspektasi, kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau," putus Grek lalu berlalu meninggalkan Angel bersama Loki.


Loki menatap Angel nanar. "Wanita gila ini sudah keterlaluan," batinnya.


"Kamu orang terburuk yang pernah ku temui Angel. Aku yakin, Bima akan mengutuk mu kalo tahu semua yang telah kamu lakukan padanya dan bahkan sekarang kamu memanfaatkan sahabatnya."


Angel tertohok kala membenarkan kata-kata Loki tapi sisi hatinya yang lain menolak untuk mengakuinya. "Aku akan melakukan apapun untuk bertahan hidup," gumamnya yakin.


"Kamu bukan berusaha untuk bertahan hidup tapi terus mengendepankan ego mu yang tidak ada habisnya. Aku yakin suatu hari kamu akan menyesali semua yang telah kamu lakukan," sergah Loki. Ia pergi meninggalkan ruangan, di papah dua rekannya.


Angel hanya diam, menatap kepergian Loki dengan pandangan kosong. "Aku sudah berusaha sejauh ini dan aku tidak akan mundur hanya karena penyesalan," desah hatinya.


...***...


Setelah menyerahkan kartu kreditnya pada Ela, Aska memilih keluar dari Distro. Ia ingin menghirup udara segar sejenak sembari menjernihkan pikirannya. Beberapa pertanyaan masih berkutat di otaknya dan menimbulkan banyak kontroversi yang sulit untuk diuraikan. Untuk saat-saat seperti ini, Aska butuh Bima. Hanya Bima yang bisa mengimbanginya dan membuat pikiran Aska lebih tenang untuk berpikir secara sistematis dan logis tanpa dipengaruhi emosinya.


Aska menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya. Matanya melalang buana tanpa arah mengikuti setiap pergerakan yang melewati pandangannya.


"Angel," gumam Aska tanpa sadar.


Matanya menangkap sosok cantik dengan rambut sebahu tergerai indah. Angel tengah bicara dengan seorang laki-laki. Keduanya duduk di salah satu bangku taman yang letaknya berseberangan dengan pom bensin.


Aska menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Dari perawakannya, Aska merasa pernah melihat orang yang sama, yang paling menarik perhatiannya adalah mantel panjang berwarna cokelat gelap.


"Aska, liatin apa?" Ela yang baru saja keluar dari Distro segera mengikuti arah pandang Aska.

__ADS_1


"Itu kan Ergan Barcode?" Serunya pelan.


...****************...


__ADS_2