
"No one knows how to be strong. One could be strong only after crying so many times. We are forced to grow up by life." Le Coup De Foudre - 2019.
~
Pagi ini Aska bangun dengan mata sembab. Sepanjang malam perasaannya tak karuan, kerinduan pada sahabatnya membuat Aska tidak bisa memejamkan mata sekejapun. Jadi Aska memutuskan untuk ke rumah Bima untuk sekedar mengobati rasa rindunya sekaligus menjenguk Tante Rina, memastikan kondisi Ibu Bima.
"Tante,"
Aska mendekati Rani yang duduk di kursi taman belakang.
Setelah pulang dari rumah sakit, Rani lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Dia mengajukan cuti panjang bahkan berencana untuk resign dari pekerjaannya. Alasan utamanya, Rani ingin beristirahat, tapi penyebab yang sebenarnya Rani tidak ingin jauh dari telepon. Dia selalu berharap telepon itu kembali berbunyi dan mendengar suara Bima dari baliknya.
"Aska?"
Aska mengangguk pelan. "Apa kabar Tante?"
"Baik," Rani menyambut tangan Aska yang terulur untuk menyalaminya. "Kamu kurusan."
Aska tersenyum kecil. "Emang dari dulu segini-gini aja Tan."
Rani tidak sekedar basa-basi. Bobot tubuh Aska jauh lebih berkurang dibandingkan saat pertama kali dia menginjakkan kaki di Indonesia. Tulang selangkanya tercetak, menjorok ke dalam, terlihat dari balik kemeja putih oversize yang di kenakan.
"Tan, Aska boleh ke kamar Bima?"
Rani menatap gadis itu pilu. "Kamu kangen Bima ya?"
Aska mengangguk pasti. Matanya berkaca-kaca demi melihat foto-foto Bima bersama Ibunya, Aska, Angel bahkan Raka, tertata rapi didalam lemari kaca di ruang tengah.
"Bima rutin bersihin foto di dalam lemari seminggu sekali," tutur Rani.
"Itu anak emang kerajinan," gerutu Aska. "Tante ingat ngak? Tiba-tiba Bima datang buat inspeksi kamar Aska trus membuang semua koleksi komik Conan yang udah susah payah Aska kumpulin," buru Aska dengan nada gemas.
Rani terkekeh geli. Bagaimana dia bisa lupa, hari itu Aska dan Bima bertengkar hebat. Pertama kalinya Rani dan Nirmala melihat sepasang sahabat itu tidak bicara tiga hari berturut-turut. Keduanya melancarkan perang dingin hingga tidak seorangpun berani mendekat.
"Bima cemas karena kamu ngak mau keluar kamar sibuk baca komik," Rani mengelus sayang rambut hitam sebahu milik Aska.
Aska tersenyum. Ingatannya kembali mengunggah ekspresi Bima yang menerobos masuk ke kamarnya dan melemparkan satu persatu koleksi komiknya ke luar jendela balkon lantai dua.
"Kamu pasti belum sarapan 'kan? Kebetulan Tante mau buat nasi goreng," Rani mengelus punggung Aska lembut. "Aska ke kamar aja, nanti Tante panggil kalo nasi gorengnya udah selesai."
Aska mengangguk setuju dan segera naik ke lantai dua dimana kamar Bima berada. Ragu-ragu Aska memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, aroma Bergamot khas dari parfum Bima menyeruak menyambut Aska. Seketika hatinya berdenyut nyeri, tidak bisa mengelak dari rasa sakit akibat menahan kerinduan atas kehilangan sahabatnya.
Langkah Aska tertuju pada kotak yang dibungkus kertas berwarna biru langit. Ia mengangkat kotak itu, membaca catatan yang ditempelkan di permukaan kotak.
"For My Sun,
We will always be TOGETHER, today, tomorrow and FOREVER."
Aska menatap haru kotak yang ditujukan untuknya. Matanya memanas sebelum bulir air mata mengalir jatuh membasahi pipinya. Matahari, sebutan yang diberikan Bima untuk menggambarkan betapa berharganya Aska dalam hidupnya.
"Bim, kamu dimana? Aku kangen," rintih Aska sembari memejamkan matanya.
...***...
Flashback ...
"Ayo masuk,"
Aska menarik tangan Bima memasuki rumahnya.
"Rumah kamu gede banget," seru Bima takjub.
"Aska udah pulang?" Nirmala muncul dari arah dapur begitu mendengar sayup-sayup suara dari ruang tamu. "Wah, siapa ini?" Tanya Nirmala begitu sadar anak sambungnya bersama anak laki-laki berseragam sekolah dasar.
"Halo Tante, nama saya Bima Ramadhan. Saya teman Aska disekolah," salam Bima dengan sopan memperkenalkan dirinya.
"Teman?! Syukurlah akhirnya Aska berhasil berbaur dengan anak-anak lain," batin Nirmala senang.
"Tante pasti ibunya Aska?"
"Bukan. Dia Tante Nirmala," potong Aska cepat dengan nada tinggi.
Bima melirik Aska bingung. "Kenapa anak ini tiba-tiba marah?" Pikirnya.
__ADS_1
Nirmala mendesah pasrah. "Bima mau minum apa? Cola atau jus?" Alih Nirmala untuk mengurangi ketegangan diantara mereka.
"Jus aja Tante."
"Kami ke kamar," sela Aska sambil menarik Bima untuk mengikutinya.
"Kamu kenapa marah sama Tante Nirmala?" Tanya Bima begitu keduanya berada di kamar.
"Aku ngak marah," sahut Aska ketus.
"Nggak, kamu marah."
Aska menghela nafasnya, "Tante Nirmala adalah Ibu tiri ku."
"Trus, Tante jahat sama kamu?" Bima membanting dirinya diatas kasur Aska. Matanya mengarah keatas dimana lukisan langit bertabur bintang memenuhi langit-langit rumah.
"Nggak, Tante Nirmala ngak jahat."
"Jadi kenapa kamu kayak ngak suka gitu sama Tante?" Bima mengerjap pelan, matanya mendadak sayu. Suasana kamar Aska yang nyaman membuatnya mengantuk.
"Aku ngak tahu."
Bima bangkit dari tidurnya, ia duduk dengan tatapan lurus tertuju pada Aska. "Kalo gitu kamu ngak boleh memasang wajah seperti itu didepan Tante Nirmala," ujar Bima. "Meskipun ibu tiri, karena dia baik kamu harus menghormatinya tapi kalo Tante jahat sama jahat sama kamu, aku sendiri yang bakal marahin Tante Nirmala," sambungnya dengan gaya sok bijak.
Aska terharu, baru kali ini ada orang yang mau pasang badan untuk membelanya. Meski persahabatan mereka baru berlangsung beberapa hari tapi Aska yakin Bima akan selalu ada untuknya.
...***...
"Tante Rani, Bima mana?"
Aska memutuskan untuk ke rumah Bima karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh, kalau mereka berangkat melewati jam tujuh bisa dipastikan keduanya akan terlambat sampai di sekolah. Tahun lalu Bima berhasil membuat ibunya pindah ke kompleks perumahan yang sama dengan Aska, jadi keduanya mulai berangkat dan pulang bersama ke sekolah.
"Loh, Aska belum berangkat?"
Aska menggeleng, "Aska nungguin Bima."
"Bima-nya sakit sayang, tadi pagi Tante cek badannya panas. Makanya Tante suruh Bima istirahat dulu hari ini."
Aska manggut-manggut, "Aska ke kamarnya ya tan," pamitnya menuju kamar Bima.
"Nggak papa Tante, Aska cuma mau liat Bima aja."
"Aska, kalo Tante titip Bima bisa? Tante ada rapat penting pagi ini."
Aska mengangguk, "ngak papa. Tante ke kantor aja biar Aska yang jagain Bima."
"Makasih ya sayang," Rina menggenggam tangan remaja berseragam SMP itu. "Oh ya, nanti siang Tante kirimin makanan dari restoran dekat kantor. Kalo kamu lapar atau mau sarapan di dapur ada sereal, roti sama susu."
Aska kembali mengangguk mengerti.
"Tante berangkat dulu ya, kalo ada apa-apa kabarin ya," pamit Rani.
Aska melambaikan tangannya mengantar kepergian Ibu Bima. Setelahnya ia naik ke lantai atas menuju kamar Bima. Aska melonggokkan kepalanya begitu pintu terbuka.
"Bima masih tidur," batin Aska. "Kasihan, mukanya sampai merah gitu." Aska menaikkan selimut yang tersibak hingga menutupi dada Bima.
"Aska ngak ke sekolah?" Gumam Bima pelan. Ia terjaga begitu mendengar derit suara pintu yang terbuka. Sebenarnya dia tidak tidur, nyeri di seluruh tubuh dan kepala yang berputar-putar membuatnya memilih menutup mata rapat-rapat.
"Dimana yang sakit?" Tanya Aska prihatin.
Bima tersenyum pelan. "Kepala," lirihnya.
Aska memijit kening Bima. Mulai dari tepi pelipis hingga atas dimana anak rambut tumbuh. "Sakit banget?"
"Udah lumayan enakan," Bima memaksakan suara keluar dari tenggorokan nya hingga terdengar serak dan berat.
"Aska ngak ke sekolah?" Tanyanya lagi karena Aska masih mengenakan seragam. "Atau udah pulang?"
Bima melirik jam weker di atas nakas, jarum pendek masih bertengger di angka tujuh. Cahaya matahari pun masih tampak masuk melalui celah gorden, itu artinya diluar sana masih terang.
"Aska ngak mau sekolah," ungkap Aska sambil terus memijit kepala Bima.
Bima mengernyit heran. "Kenapa?"
__ADS_1
"Kalo ngak ada Bima, Aska ngak mau ke sekolah."
"Tapi hari ini kan ada ulangan, Aska."
Aska menggeleng cepat. "Pokoknya Aska ngak mau ke sekolah kalo ngak bareng Bima," rengek Aska manja.
Bima memijit kepalanya yang bertambah pusing. Tidak ada gunanya memaksa Aska, gadis itu tipikal orang yang keras kepala. Sekali bilang tidak maka tidak akan ada yang bisa memaksanya. "Ya udah terserah Aska aja. Mendingan kamu sarapan dulu. Pasti belum sarapan 'kan?"
"Aska ngak lapar."
Bima mendesah pelan. "Kalo gitu Aska istirahat aja."
Aska mengangguk dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk merebahkan diri di samping Bima.
"Eh, mau ngapain?" Tahan Bima.
Aska membulatkan matanya, bingung. "Istirahat, bobok?"
"Jangan deket-deket, ntar kamu ketularan."
Aska mengibaskan tangan tidak perduli. Dia segera merebahkan diri di samping Bima. "Biarin aja, jadi kita bisa sakit barengan trus absen barengan."
"Hah, kamu selalu cari alasan biar ngak sekolah."
"Hehehe," kekeh Aska.
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya terlelap dalam buaian hingga tak terasa matahari pun mulai merunduk bersembunyi dibalik senja.
"Ka, Aska," panggil Rani. Ia menepuk pelan pundak Aska. "Gimana nih Mala, dua-duanya demam tinggi," serunya panik. Rani menatap Nirmala, meminta pendapatnya.
"Kita bawa ke rumah sakit aja ya? Bentar aku panggilan Agus dan Aldi." Nirmala setengah berlari kembali ke rumahnya yang tepat berada di samping rumah Rani.
"Haduh sayang, kenapa kamu jadi ikutan sakit sih," ujar Rani kasihan melihat wajah Aska dan Bima yang memerah efek dari demam yang tinggi.
Nirmala kembali bersama Agus dan Aldi. Mereka segera membawa Aska dan Bima ke rumah sakit terdekat.
Aska membuka matanya perlahan, mengenyit silau saat cahaya lampu menyerang tajam iris matanya. "Dimana ini?" Batin Aska. Ia berusaha keras untuk mengangkat tangannya, namun energi yang tersisa seakan tidak cukup kuat walau hanya untuk mengangkat kelingking terkecil.
"Aska bangun Ma," seru Aldi begitu melihat Aska mengerakkan tangannya.
"Syukurlah," ucap Nirmala lega. Ia segera menghampiri tepi ranjang. "Aska."
"Dimana?"
"Ah, kita di rumah sakit sayang," jelas Nirmala. "Kamu dan Bima demam tinggi, jadi Papa dan Mama sama Tante Rani memutuskan untuk membawa kalian ke rumah sakit."
Aska mendesah pelan. "Sepertinya aku ketularan Bima, pantesan sakit banget ini kepala," batin Aska.
"Bima?" Tanyanya pendek.
Aska hanya mampu memaksakan sepatah dua kata keluar dari balik mulutnya.
"Bima masih tidur, tuh," tunjuk Nirmala ke arah kiri ranjang Aska.
Aska berbalik untuk melihat kondisi sahabatnya. "Apa Bima sakit keras?"
"Nggak kok, kalian cuma terserang radang dan kekurangan cairan makanya demam sama pusing. Kata dokter makan dan istirahat yang cukup, pasti kalian segera sehat lagi."
"Aska udah bangun?" Sapa Rani. Dia datang dengan membawa sekeranjang buah-buahan. "Kalian ini lucu deh, selalu sakit barengan. Kamu ingat Mala, dua tahun yang lalu. Waktu Aska kena tipes, ngak lama berselang Bima juga sakit sampai keduanya harus dirawat di rumah sakit."
"Iya benar, bahkan mereka lengket banget sampai ngak mau tidur di ranjang masing-masing. Maunya bareng terus kayak anak kembar," timpal Nirmala menambahkan.
"Ma, jangan ngegosip di depan anaknya dong," protes Bima yang tiba-tiba bangkit dari ranjangnya.
"Kamu sih, pake nularin Aska. Liat tuh, Aska-nya jadi sakit 'kan."
Bima melirik Aska lalu mencibirnya. "Salah sendiri. Udah dibilangin jangan dekat-dekat, masih juga ngeyel."
Setelah berhasil menularkan penyakitnya pada Aska, ajaibnya Bima merasa tubuhnya berangsur membaik. Bahkan pusing yang membuat kepala nya nyaris meledak serasa hilang tak berbekas. Namun itu tidak membuat Bima senang ataupun lega. Melihat Aska lemah membuat hatinya lebih jauh sakit daripada tubuhnya. Bima bersedia menerima puluhan kali lipat rasa sakit dibandingkan harus melihat Aska yang meringis kesakitan.
Bima berjalan mendekat ke sisi ranjang. Ia mengelus rambut hitam sebahu milik Aska. Matanya menatap sendu wajah pucat dengan mata sayu menahan kantuk akibat reaksi obat-obatan yang diberikan dokter.
"Cepat sembuh ya, biar kita bisa ke sekolah bareng-bareng lagi," ucapnya sayang.
__ADS_1
...****************...