Maaf Aku Mencintaimu, Teman!

Maaf Aku Mencintaimu, Teman!
Petunjuk Baru


__ADS_3

"Tante," panggil Aska.


Setelah muncul tiba-tiba dengan wajah panik. Rani jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Semua orang di rumah panik dan segera melarikan Rani ke rumah sakit. Dari diagnosis dokter, Rani mengalami depresi akibat stres yang berkepanjangan. Dokter Rayyan menyarankan Rani untuk dirawat sementara di rumah sakit agar dapat memantau kondisi psikologis-nya.


"Aska, maafin ya. Tante nggak percaya sama kamu. Tante udah membentak kamu," airmata kembali membasahi pipi Rani. "Harusnya Tante percaya, Bima masih hidup."


Aska mengusap jejak airmata di pipi Rani. Melihat kondisi Ibu Bima saat ini membuat hati Aska sakit. Bima sangat menyayangi Ibunya, itulah sebabnya meski Rani sibuk dengan pekerjaannya tidak sekalipun Aska melihat Bima mengeluh.


"Kenapa tiba-tiba Tante berubah pikiran?"


Rani bangkit dari posisi berbaring. Di bantu Aska dia duduk menyandarkan tubuhnya di bantal yang berdiri tegak.


"Tante mendengar suara Bima. Dia menelpon ke rumah, Aska," Rani mengambil nafas dalam sebelum kembali bicara. "Meski cuma sebentar, Tante yakin itu suara Bima."


"Tante yakin?" Aska terdiam. Ia menatap Rani dalam.


Rani mengangguk cepat.


...***...


"Aska, Mama sama Papa pulang duluan. Oh ya, nih ponsel mu. Tadi Mama nitipin." Aldi menyerahkan ponsel yang dititipkan Mama padanya karena Aska meninggalkan ponselnya di kamar. Aldi duduk di samping Aska, merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. Malam ini dia dan Aska akan menemani Tante Rani di rumah sakit.


Aska mengangguk paham, dia membuka kunci layar ponselnya untuk melihat deretan pesan dan panggilan tidak terjawab. Puluhan pesan yang masuk berasal dari Ela dan beberapa klien. Semuanya berisi seputar pekerjaan. Aska mengabaikannya dan beralih pada kontak, meneliti setiap deretan nomor disana. Ada satu nomor asing yang menarik perhatiannya. Aska segera men-dial, menunggu beberapa saat lalu mendengar nada putus dari sana, panggilannya di tolak.


"Kenapa?" tanya Aldi karena melihat Aska mengerutkan keningnya.


"Ada nomor asing yang nelpon sampai tiga kali. Aku coba telpon balik tapi di reject."


"Ntar juga nelpon lagi kalo memang urgent."


Aska masih terdiam. Otaknya bekerja keras untuk berfikir. "Di, kamu punya nomor ponsel Hervi?"


Dahi Aldi mengerut. Kenapa tiba-tiba Aska menyebut nama Hervi? "Aska, lebih baik kamu nggak dekat-dekat sama Hervi dulu sebelum masalah mu dengan Carly selesai."


Aska mendesah malas. "Aku sudah pernah bilang Al, jangan terlalu banyak berfikir dengan otak kompleks mu itu. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, bahkan hari itu pertemuan kami yang kedua."


"Lalu? Buat apa kamu nanya nomornya?"


Aska mengetuk layar ponselnya, memperlihatkan nomor telepon yang dihubunginya pada Aldi.


"Tante Rani bilang, Bima menghubunginya. Mungkin saja ini nomor yang sama."


Aldi duduk tegak. "Kamu yakin, Aska?" Tegasnya.

__ADS_1


Selama ini Aldi hanya mencoba untuk mengerti kondisi Aska sebagai efek dari rasa kehilangannya yang besar terhadap sahabatnya, tapi untuk percaya apa yang diyakini Aska, masih sulit bagi Aldi. Apalagi saat ini Tante Rani mulai menunjukkan sikap yang sama. Dari pengamatan Aldi, keduanya masih dipengaruhi keadaan depresi hingga menyebabkan halusinasi.


"Al, aku tahu kamu pasti ngira kalo aku gila. Tapi-" Aska menunduk, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku yakin Al, aku yakin Bima masih hidup," lirihnya diantara isak pelan.


Aldi terenyuh, sebegitu kuat-kah ikatan antara Aska dengan Bima hingga membuat wanita itu rapuh. Aldi menarik Aska ke dalam pelukannya. Menunggu beberapa saat, setelah yakin tidak ada penolakan Aldi menepuk-nepuk pundak itu pelan, menenangkannya.


"Lebih baik kamu istirahat dulu, Aska. Besok kita bicarakan lagi bersama Hervi."


Aska mengangguk pelan, menenggelamkan suara tangisannya di dada saudaranya.


...***...


Nirmala membuka pintu ruangan dimana Rani perlahan. Begitu pintu terbuka pemandangan di dalamnya membuat hatinya menangis haru. Aldi tidur dengan posisi tubuh menyandar ke sofa, disampingnya ada Aska yang berbaring dengan paha Aldi sebagai bantal.


Keduanya tampak seperti kakak-adik yang saling menyayangi. Entah sejak kapan keduanya mulai akrab, yang pasti kehadiran Aldi sangat membantu. Nirmala bangga pada putranya yang bersikap layaknya seorang kakak yang menyayangi dan melindungi adiknya.


"Ma," panggil Aldi dengan suara serak. Dia terjaga saat mendengar jerit suara pintu yang perlahan terbuka. "Sendiri?"


Nirmala mengangguk lalu meletakkan rantang makanan yang di bawanya di atas meja. Ia mendekati Ask untuk merapikan letak selimut di tubuhnya.


"Al, adik mu udah gede ya? Waktu berlalu sangat cepat," ucap Nirmala setengah berbisik, mengusap lembut rambut putri sambungnya.


"Yah, selain badannya yang tambah tinggi kayaknya nggak ada yang berubah Ma. Dia tetap aja galak," timpal Aldi.


"Hmm, Bima ..." Igau Aska dalam tidurnya.


Nirmala menatapnya sedih, ia mengelus sayang pucuk kepala Aska. "Biar Mama gantiin Al, kamu ke kamar mandi aja dulu."


Aldi mengangguk setuju. Perlahan dia mengangkat kepala Aska lalu menahannya agar Mama bisa duduk untuk mengantikan posisinya.


Sayangnya gerakan halus itu mengusik Aska, dia perlahan membuka matanya dan mendapati Mama dan Aldi tengah menatapnya. "Kenapa?"


Aldi terkekeh. "Berhubung kamu udah bangun, transaksi ini dibatalkan," ujar Aldi yang tiba-tiba dan dengan sengaja melepaskan tangannya dari kepala Aska.


"Akh,"


"Aldi!" Nirmala mengusap kepala Aska yang jatuh membentur bantalan sofa. "Sakit nak?"


Aska menggeleng pelan dan bangkit dari posisi tidurnya. Dia memijit kepalanya yang sedikit pusing akibat bangun dalam kondisi tidak siap.


"Aldi, kamu ini usil banget deh," Nirmala memarahi putranya yang masih memasang senyum jahil. "Sana bebersih, nanti gantian sama adik mu."


Aldi berdecak pelan. "Mama udah nggak sayang Aldi," godanya dengan wajah di buat sejelek mungkin. Tak lama dia masuk ke kamar mandi sambil bersiul riang.

__ADS_1


Aska melihat kepergian Aldi dengan wajah bengong. Dia belum cukup sadar untuk menyadari betapa konyol tingkah saudara tirinya.


...***...


"Big boss, Vodka mendekat. Over, ssstttt ..."


"Jangan sampai lepas. Begitu Gin muncul langsung ganti posisi. Over, ssstttt ..."


Dengung dari suara talkie walkie sahut menyahut bergantian. Hervi meletakkan benda itu di atas meja dan kembali fokus ke layar CCTV. Dua regu polisi di turunkan untuk menangkap sindikat narkoba yang telah lama menjadi incaran kepolisian. Salah satu regu telah turun langsung ke lapangan untuk mengikuti orang-orang yang dicurigai sebagai kurir. Sedangkan Hervi dan dua rekan lainnya mengumpulkan rekaman CCTV sebagai bukti.


"Drrrttt ... Drrrttt ..."


Hervi melirik ponselnya yang bergetar, ada nomor asing disana.


"Bos, sepertinya penting," tunjuk Pie pada layar ponsel Hervi.


Seharian ini ponsel itu terus bergetar dengan nomor yang sama. Hervi tidak menggunakan ponsel pribadinya saat sedang bertugas karena rawan terjadi penyadapan. Lagipula hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor ponselnya jadi Hervi kerap mengabaikan panggilan dari nomor-nomor asing yang tidak terdaftar di ponselnya. Untuk situasi darurat, keluarganya pasti akan menghubungi kantor dan anak buahnya bisa meneruskan melalui perangkat radio.


"Fokus," perintah Hervi pada Pie yang terus menatap layar ponsel. Mengabaikan ponsel yang bergetar untuk kelima kalinya.


...***...


"Nggak di angkat juga, Aska?" Tanya Aldi begitu Aska meletakkan ponselnya di atas meja.


Aska memasang wajah cemberut. Puluhan kali dia menghubungi ponsel Hervi tapi tak sekalipun di angkat.


"Kamu yakin ini nomornya?" desis Aska kesal.


"Iya, aku bahkan ngubek-ngubek grup alumni untuk nanya nomornya," sahut Aldi cepat. Ia melihat gelagat emosi Aska yang siap untuk meledak.


"Sombong amat ini orang!" Gerutu Aska.


Aldi terkekeh geli. "Mungkin dia lagi sibuk."


Tiba-tiba terbersit ide di benaknya. "Gimana kalo kita langsung ke kantornya?"


"Jangan, kalo dia lagi sibuk kita bisa di usir."


"Tapi Al, aku pengen cepat-cepat nyari informasi. Aku takut kalo kita terlambat,"


Aldi mencengkram lengan adiknya. Menghentikan Aska untuk berpikir hal-hal buruk. "Kamu harus tenang, Aska. Kalo memang Bima masih hidup, kita akan segera menemukannya."


Aska mengangguk pelan. Berusaha tetap kuat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2