
"Sakit?"
Aldi mengernyit ngeri sambil menempelkan kain kasa yang telah dibasahi cairan alkohol ke sudut bibir Aska.
"Sedikit," Aska meringis nyeri begitu rasa dingin disertai sengatan nyeri menyerang luka dan kulit disekitarnya.
Sepuluh menit lalu, Aldi memarkirkan mobilnya di depan apotik yang jaraknya hanya beberapa belokan dari rumah. Meski Aska tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan tapi melihat ruam biru yang mulai berwarna gelap di sudut bibir Aska membuat Aldi bergidik ngeri. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Mama begitu melihat putri kesayangannya memiliki bekas luka apalagi bekas itu tercetak jelas di wajahnya, di jamin Mama pasti murka.
"Lagian kamu ngapain ke rumah cowok brengsek itu," desis Aldi kesal. Tangannya terus bergerak merapikan obat-obatan dan membuang potongan kasa yang telah selesai digunakan.
Aska mengendikkan bahunya. "Entahlah," sahutnya pasrah.
Ada perasaan mengganjal di hatinya setiap kali sebuah pertanyaan terlontar dari orang-orang disekitarnya, mengapa Aska bertahan disamping Carly? Aska tampak jelas tidak mencintai laki-laki itu tapi dia juga tetap tidak menampik kehadiran Carly disisinya. Disudut hati Aska, ada rasa dalam kata yang sulit untuk diungkapkan. Setiap kali menatap Carly, Aska merasa tengah berdiri di depan cermin yang memantulkan bayangan dirinya dalam wujud Carly. Raut kesepian yang disembunyikan dibalik sikap tegar dan kuat ditambah senyum palsu.
Aldi mendesah panjang. "Apa rencana mu sekarang?"
"Entahlah," sahut Aska, kembali dengan nada pasrah dan tatapan kosong membelah pemandangan diluar kaca mobil.
Aldi mendesah lelah. "Tidurlah," putusnya sebelum kembali menyetir. Ia larut dalam penyesalan, seandainya saja dua tahun lalu dia mencegah Aska menerima pertunangan ini, Aldi yakin adiknya tidak akan pernah mengalami apa yang terjadi hari ini.
...***...
"Aska!" Nirmala segera menyongsong Aska yang baru saja turun dari mobil. Nafas Nirmala tertahan begitu melihat cetakan biru dan ruam merah membentuk jemari di pipi putrinya.
"Apa yang terjadi?" Serunya panik.
Aska hanya menggeleng lalu bergegas menjauh dari kerumunan yang menyambutnya.
"Loh Ka? Mau kemana?" Ela segera mengejar Aska. Ela butuh penjelasan akurat atau malam ini dia akan kembali bergadang karena penasaran.
"Aldi?" Nirmala beralih mendesak putranya karena Aska menolak untuk bicara.
"Papa mana Ma?" Alih Aldi.
Dia juga bingung harus memulai penjelasan dari mana. Aska tidak menceritakan apapun yang terjadi selama dia bersama Carly. Aldi hanya bisa menjelaskan adegan terakhir yang di lihatnya langsung tapi menurutnya Papa adalah orang pertama yang harus tahu apa yang telah dilakukan Carly pada putrinya.
"Di ruang kerja."
"Kita ketemu Papa dulu yuk Ma," ajak Aldi.
Nirmala mengangguk bingung. Dia mengikuti langkah putranya menaiki tangga menuju ruangan yang letaknya paling jauh dari tangga, ruang yang di desain khusus sebagai ruang kerja.
Aldi mengetuk pintu dua kali, menunggu beberapa detik sebelum mendengar jawaban dari dalam ruangan.
__ADS_1
"Kenapa Al?" Tanya Agus begitu melihat Aldi muncul dengan wajah tegang dan Nirmala di sampingnya mengiringi dengan raut cemas.
"Pa, kita harus bicara tentang Carly."
Aldi duduk di sofa terdekat, menunggu reaksi Papa. Sedangkan Agus melirik istrinya, meminta dukungan.
Nirmala mendekati suaminya, menepuk pelan pundak laki-laki yang semalaman tidak tidur memikirkan kondisi putrinya. Nirmala mengajak Agus untuk ikut duduk bersamanya.
"Papa harus membatalkan pertunangan Aska," tembak Aldi langsung. Kali ini dia tidak akan ragu-ragu untuk menghalangi pertunangan Aska dengan Carly.
Agus menghela nafas berat. "Al, hal ini harus kita bicarakan dulu dengan Aska dan Carly."
"Bicarakan?!" Aldi menegenyit marah. "Papa tau nggak apa yang dilakukan Carly? Aldi liat sendiri Pa, Carly kasar sama Aska bahkan dia mukulin Aska sampe berdarah," tuntut Aldi emosi. Dia bahkan menggambarkan kejadian yang dilihatnya dengan lebih dramatis untuk menambah efek hiperbola.
"Papa ngerti maksud kamu Al, tapi-"
"Kenapa sih? Papa kok takut banget Aska putus sama Carly?"
Agus menggosok tengkuknya yang kaku. "Bukan itu maksud Papa Al, awalnya Papa juga udah mutusin untuk mengakhiri pertunangan ini tapi hubungan Aska sama Carly udah terlalu jauh. Papa cuma takut, kondisi Aska semakin buruk nantinya."
"Buruk gimana sih Pa?" Sergah Aldi bingung. "Papa kan bisa lihat sendiri. Aska sama sekali ngak tertarik sama hubungan ini. Dia cuma maksain diri karena ngak mau buat Papa kecewa."
"Al," Nirmala memanggil putranya, meminta Aldi menurunkan intensitas suaranya. Bagaimana Agus adalah ayah Aska dan suaminya pasti ingin yang terbaik bagi putrinya.
Aldi mengusap wajahnya gusar. "Pa, belum terlambat bagi kita untuk menjauhkan Aska dari bahaya. Aldi yakin, Carly akan mencelakai Aska kalo kita ngak segera bertindak," lirihnya.
Satu-satunya masalah yang masih menjadi pertimbangannya mempertahankan Carly hanyalah janji pria itu untuk menerima Aska apa adanya. Sebelum hari pertunangan, Carly datang menemuinya dan memberikan catatan rekam medis Aska ke hadapannya. Tidak banyak orang yang mengetahui riwayat kesehatan mental Aska, Agus menutupnya dalam-dalam termasuk meminta rumah sakit dimana Aska menjalani rehabilitasi agar merahasiakan kondisi Aska dari siapapun. Hanya Nirmala, satu-satunya orang terdekat yang tahu.
Carly tidak mengancamnya secara langsung hanya saja setiap kalimat yang dilontarkannya membawa mimpi buruk bagi Agus. Dia tidak sanggup membayangkan kondisi Aska yang telah berangsur-angsur normal harus kembali pada titik terendah kembali.
Pada awal Agus mendengar kabar tentang kematian Bima, hal pertama yang disinggah di benaknya adalah kondisi kejiwaan Aska. Apakah putrinya sanggup bertahan begitu mendengar kabar kepergian sahabat terbaik dalam hidupnya? Akankah jiwa Aska kembali labil.
Ajaibnya, apa yang ditakutkan Agus tidak terjadi. Entah kekuatan apa yang membuat Aska berhasil bangkit dari keterpurukannya. Meski alasan Aska terdengar konyol baginya, namun Agus berusaha bertoleransi demi melihat putrinya tetap kuat menjalani hidup.
Melihat kondisi putrinya, Agus mulai meragukan setiap kata-kata Carly. Aska anak yang kuat, Agus yakin kondisi jiwa Aska kuat untuk bertahan atas kondisi apapun yang menimpanya sehingga Agus memutuskan untuk mendukung apapun keputusan Aska bila putrinya berniat mengakhiri hubungannya dengan Carly.
Namun, beberapa hari yang lalu Carly datang dan dengan tegas mengatakan Aska mengandung anaknya dan dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini termasuk membawa Aska jauh serta melupakan keluarganya. Seketika Agus terguncang, dia tidak sanggup kehilangan putri tercintanya. Agus kembali ragu akan keputusannya dan memilih menarik diri untuk melihat kemana arah hubungan ini.
Bila Aska benar-benar hamil anak Carly maka Agus harus segera menikahkan keduanya. Kalaupun tidak, Agus tidak akan ikut campur terlalu jauh. Aska harus mengakhiri hubungannya dengan Carly atau keinginannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.
...***...
"Ka, kamu beneran hamil?"
__ADS_1
Aska melirik Ela tajam. Sejak masuk ke kamar, Ela terus mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali hingga membuat Aska bosan mendengarnya.
"Beneran ngak sih?" Desak Ela. Mengabaikan aksi diam Aska.
"Hah," Aska menghela nafas panjang. "Berhentilah bertanya hal yang sama," tukasnya.
Ela mencebikkan bibirnya beberapa senti. "Aku 'kan penasaran Aska," rengeknya.
"Kamu penasaran menjurus kepo."
"Please Ka, jawab dong. Beneran apa enggak?"
"Ngak," sahut Aska tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari kontrak yang tengah di baca sebelum menanda tanganinya. "Ini udah semuanya?"
Ela terdiam bingung, "apanya?"
Aska mengibaskan salah satu lembaran kertas dari dalam map.
"Oh, udah," tanggap Ela, ia kembali ke mode profesional. Meraih bolpoin diatas nakas dan menyerahkannya pada Aska.
Ela meneliti setiap lembar yang telah di tandatangani Aska agar tidak ada kesalahan sebelum besok diserahkan ke kantor kejaksaan.
"Lalu?" Ela kembali lagi ke mode kepo begitu memastikan semua pekerjaan selesai. Dia duduk sambil melipat kakinya. Memasang pose genit.
"Semalam ngapain aja sampe bonyok gitu. Kayaknya Carly tipe masokis ya?"
Ela menarikan jemarinya di paha atas Aska, mengoda wanita itu. Sangat susah untuk membuat Aska terbuka, bahkan sampai saat ini Aska tidak pernah sekalipun menceritakan kondisi keluarga bahkan hubungan seksualitas nya dengan pria manapun. Hanya nama Bima yang kerap muncul dari bibirnya.
Aska melengos malas, "berhenti melakukan itu. Ntar aja kita bahas kalo nih kerjaan udah kelar," tegurnya.
Ela merenggut pasrah. Dia menarik turun kakinya dari atas ranjang.
"Oh ya, kamu ketemu Areta waktu ke kantornya?" Ingat Aska. "Dia mengatakan sesuatu?"
Ela menggeleng cepat. "Aku cuma ketemu Hani, katanya Areta lagi dinas luar kota."
Aska mengangguk-anggukkan kepala, rasanya dia menaruh ekspetasi yang terlalu tinggi pada Areta. Mana mungkin wanita sibuk itu akan membantunya lebih jauh untuk menemukan Bima.
"Besok aku mau keluar. Kamu ke kantor kejaksaan dan notaris untuk mengurus legalitas sekalian cek kantor baru ya," ujar Aska. Dia merapikan tumpukan kertas diatas ranjang dan menyerahkannya pada Ela.
"Loh? Kamu ngak jadi cerita nih?" Protes Ela begitu melihat Aska menarik selimut tinggi hingga menutupi wajahnya.
"Ngantuk, entar aja kalo masih ingat," sanggah Aska.
__ADS_1
Dia memutar tubuhnya hingga membelakangi Ela. Meninggalkan wanita itu dengan rasa penasaran yang masih membumbung setinggi langit.
...****************...