
Aska menyusuri jalan setapak sambil sesekali berhenti untuk menikmati gemerlab-nya lampu berwarna-warni yang dipajang di dinding gedung pusat hiburan. Game center, mall, dan karaoke? Aku mau kemana ya?
Aska mendesah lega setelah berhasil menghirup udara kebebasan, akhirnya dia berhasil lepas dari pengawalan keluarganya. Belakangan ini, Papa, Tante Nirmala bahkan Aldi bergantian mengikuti setiap gerak geriknya. Mereka seperti ulat yang menempel di daun, sedetikpun tidak membiarkan Aska terlepas dari pandangan.
Hal itu dilakukan untuk memastikan Aska tidak bosan sendirian di rumah, mereka menjadi teman ngobrol baginya. Namun itu malah membuat Aska lelah. Aska merasa seperti selebriti kurang populer yang terus-terusan di ikuti kemanapun kakinya melangkah.
Aska sempat mengutarakan keberatannya tapi keluarga berdalih ini dilakukan demi kebaikan Aska. Meski tetap ingin melancarkan aksi protes tapi tidak ada yang bisa membantah permintaan ketiga orang yang selalu menatap Aska seolah-olah gadis itu akan segera mati bila sedikit saja lepas dari pandangan.
Hari ini Aska berhasil kabur karena Papa harus hadir dalam rapat pemegang saham. Tante Nirmala mengunjungi Ibunya yang sakit di kampung sedangkan Aldi - sebagai harapan terakhir harus meladeni tunangannya yang tiba-tiba datang untuk membahas persiapan pernikahan mereka.
Disinilah Aska sekarang, berdiri didepan sebuar bar terbesar di kota ini. Dia pernah beberapa kali masuk ke tempat ini, rata-rata hanya untuk menemani Bima menemui Angel - pacarnya.
Ah, betapa aku merindukan Bima, desis Aska dalam hati.
Aska melangkahkan kakinya masuk dan duduk di meja didepan bartender. Tak lama Surya – sang bartender datang menyapa, laki-laki ini mengenal Aska sebagai sahabat Bima.
“Udah lama ngak kesini, Aska," sapanya sembari menunjukkan raut belasungkawa atas kecelakaan yang menimpa Bima.
Aska hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
“Mau minum apa?”
“Tequila," ucap Aska, ia mengeraskan suaranya agar dapat didengar lebih jelas oleh Surya. Dentuman suara musik menutupi setiap suara dengan volume desibel dibawahnya.
Surya mengernyit bingung,, sejauh ingatannya Aska tidak pernah memesan minuman beralkohol. Bima melarang keras wanita itu menyentuh minuman dengan kadar alkohol tinggi, jadi Aska hanya memesan coktail ataupun soda. Mendengar Aska memesan Tequila dengan tingkat alkohol 40%, Surya agak khawatir tapi dia tidak bisa membantah, selain karena Aska seorang pelanggan yang harus dilayaninya, Surya juga mengerti bagaimana perasaan wanita itu sekarang.
Kedekatan Aska dan Bima dapat dilihat jelas oleh siapapun, kepergian Bima secara tiba-tiba tentu saja menjadi mempengaruhi pikiran Aska saat ini.
Surya meletakkan minuman pesanan Aska. Wanita itu hanya memandangi gelas itu dengan tatapan kosong. Surya beranjak ke belakang dan kembali dengan sebotol air mineral. Dia meletakkannya disamping gelas Tequila.
“Minumlah ini, aku traktir," ucapnya, menunjuk botol air mineral.
Aska hanya melayangkan tatapan kosong tanpa berniat menanggapinya.
Surya berbalik untuk melayani pelanggan lain, meninggalkan Aska dengan lamunannya.
__ADS_1
Seorang wanita datang menghampiri Aska, menepuk pundaknya pelan. Aska berpaling, menatap Cindy teman kerja Angel.
“Kamu masih disini? Aku kira udah balik ke Singapura.”
Aska membalikkan tubuhnya menghadap wanita berpakaian minim itu, lalu mendesah berat sambil melayangkan pandangannya ke tengah ruangan. Melihat sekumpulan orang yang sedang meliukkan tubuhnya kekanan dan kekiri mengikuti irama musik yag dimainkan DJ.
“Aku ingin sedikit lebih lama disini, mungkin sekalian liburan.”
Cindy memperhatikan raut wajah wanita yang dikaguminya. Wajah itu sendu dengan lingkar hitam mengelilingi matanya. Berapa hari yang dilalui wanita itu dengan menangis?
Pertama kali Bima memperkenalkan Aska, Cindy merasa wanita itu sangat mempesona. Aska memiliki karakter androgini, dia terlihat maskulin dalam balutan pakaian kasual namun terlihat feminim dan elegan saat memakai gaun.
“Kamu terlihat jauh lebih kehilangan dibandingkan Angel," gumam Cindy pelan.
Aska berpaling, samar-samar dia menangkap suara cindy menyebut nama Angel. Aska menaikkan alisnya, meminta Cindy mengulang ucapannya.
Cindy terkekeh pelan, dia tidak menyangka Aska mendengarnya. “Ah, aku hanya bilang. Kamu lebih terlihat menderita karena kehilangan Bima dibandingkan Angel. Padahal selama ini Bima sudah berkorban banyak untuk Angel," jelasnya.
Berkorban? Yah, Bima memang tipe laki-laki yang mampu melakukan apapun untuk orang-orang yang dicintainya, terlebih bagi Angel.
Benaknya kembali menginggat apa saja hal konyol yang pernah dilakukan sahabatnya itu. Aska tidak akan heran andaikan Cindy mengatakan bila Bima mengantikan Angel bekerja sebagai pelayan, Bima pernah melakukan hal yang lebih gila dari itu.
Cindy terdiam sesaat, menimbang perlukah dia menceritakan kejadian yang di lihatnya beberapa hari sebelum Bima meninggal. Tapi tidak ada salahnya saling berbagi kenangan tentang laki-laki yang di kenang sebagai orang yang menyenangkan bagi mereka berdua.
“Bima itu malaikat. Dia selalu baik pada semua orang, bahkan dia juga mengantikan Angel membayar hutang. Aku sangat kagum padanya," cerita Cindy dengan nada riang.
Aska mengernyit, hutang?
Wajah Aska mengeras dan berubah serius, “Bima membayar hutang Angel?”
“Kamu belum tahu?” Cindy kaget, wajahnya mengerut resah. Rasanya dia baru saja menyampaikan sesuatu yang salah, tanpa sadar Cindy telah memicu emosi Aska.
“Hmmm, kurasa itu hanya bentuk kepedulian Bima pada kekasihnya," alih Cindy mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja berubah dingin.
Aska merasa ada sesuatu yang coba ditutupi Cindy. "Tolong ceritakan yang sebenarnya. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Bima selama aku tidak bersamanya.”
__ADS_1
Cindy bergerak tidak nyaman, dia merasa serba salah. Disatu sisi Cindy mengerti posisi Aska sebagai sahabat tapi disisi lain dia juga tidak ingin berada diantara di tengah-tengah pertikaian Aska dengan Angel.
Riwayat pertemuan Aska dan Angel tidak pernah berakhir baik. Keduanya kerap kali terlibat adu mulut, bahkan Bima sering harus turun tangan untuk mendamaikan keduanya. Bila Aska mendengar berita buruk tentang Angel lagi, Cindy tidak yakin pertekaran diantara mereka bisa berakhir damai kali ini.
“Sebenarnya ini bukan hal penting, hanya kesalahpahaman," ucap Cindy ragu-ragu.
“Minggu lalu rentenir datang mencari Angel, memintanya segera membayar hutang. Kamu tahu, saat itu kami panik karena yang datang laki-laki besar dengan tubuh penuh tato, mereka mengacak-acak tempat ini," Cindy berhenti untuk menelan ludah. Tubuhnya bergidik ngeri melihat wajah Aska.
"Lanjutkan,"
"Bima datang dan mengiring mereka keluar. Aku menyusul mereka, membawa handuk untuk Angel. Saat itulah aku mendengar Bima mengatakan akan menggantikan Angel membayar hutangnya.”
Aska mengeram kesal. "Berapa banyak hutangnya?”
“Cukup besar. Aku bahkan belum pernah menyentuh uang sebanyak itu, 1 M.”
Aska mendelik. 1M? Miliar?
“Dimana wanita itu sekarang?”
"Angel? Dia tidak masuk kerja selama beberapa hari, katanya ngak enak badan.”
Aska mengeram lebih dalam, dia menarik kasar botol air mineral lalu meneguk seluruh isinya dengan cepat.
Cindy cemas begitu menangkap raut kesal di wajah Aska. “Aku tidak tahu lebih detail. Mungkin saja aku salah dengar," ralatnya cepat begitu melihat wajah Aska berubah kelam dengan rona merah yang masih terlihat samar-samar meski dibalik cahaya temaram.
Aska mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari saku celananya, meletakkannya diatas meja lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Aska!” panggil Cindy panik, dia seakan tahu pasti kemana tujuan Aska.
“Ada apa?” tanya Surya yang keheranan melihat Aska buru-buru pergi sedangkan Cindy berteriak panik memanggilnya.
“Bagaimana ini, aku menceritakan kejadian malam itu pada Aska.”
Surya berdecak, dia tidak habis pikir. Mengapa Cindy menceritakan hal yag jelas akan membuat Aska mengamuk.
__ADS_1
...****************...