
"Aska, ada nak Carly diluar."
Nirmala mengetuk pintu kamar Aska. Tangannya membawa segelas susu, seharian ini Aska mengeluh perutnya tidak nyaman. Nirmala yakin asam lambungnya pasti kumat mengingat selera makan Aska yang terus menurun.
Pintu kamar Aska terbuka. "Maaf, bisakah Tante menyuruhnya pergi saja. Aska tidak ingin bertemu lagi dengannya."
Nirmala terdiam sebentar sebelum mengangguk setuju. "Nih," ucapnya sambil menyodorkan gelas yang dibawanya. "Kamu habisin susu nya ya. Mama turun dulu," pesan Nirmala sebelum kembali ke ruang tengah dimana Agus dan Carly duduk.
"Loh, mana Aska Ma?" seru Agus begitu melihat istrinya turun dari lantai dua sendirian.
Nirmala menarik seulas senyum kearah Carly sebelum duduk disamping suaminya. "Maaf ya nak Carly, Aska-nya kurang sehat," tutur Nirmala sebagai alasan.
"Aska sakit Tante?"
"Iya, asam lambungnya kumat jadi lebih baik kita biarkan dia istirahat dulu."
Carly seketika cemas. Dia tahu bagaimana riwayat kesehatan Aska. Beberapakali dia harus dirawat di rumah sakit karena asam lambungnya yang tinggi.
"Carly mau keatas deh, liat kondisi Aska."
"Eh, ngak usah nak Carly," tahan Nirmala cepat sebelum Carly bangkit dari sofa. "Aska udah tidur, sayang kalau dia terbangun," tambah Nirmala.
Carly tersenyum kecut. Dia yakin ini hanya alasan Aska untuk menghindarinya. Ini hari ketiga Aska menolak bertemu dengan berbagai alasan. Carly bertekad, besok dia harus bisa bertemu Aska bagaimanapun caranya.
__ADS_1
...***...
Carly mendesah panjang. Beberapa hari ia melalui hari dengan berpikir keras. Berapakalipun dia mencoba, Carly tidak bisa begitu saja menerima keputusan Aska yang membatalkan pernikahan bahkan memutuskan pertunangan.
Dua tahun merupakan waktu yang panjang bagi Carly, perjuangannya mendapatkan perhatian Aska tidak bisa dianggap mudah. Aska tipe wanita mandiri yang keras kepala. Dia tidak ingin di topang oleh siapapun, baik dari segi finansial maupun ideologis. Hal-hal romantis layaknya bunga ataupun coklat tidak akan menarik perhatian Aska.
Pertama kali Carly melihat Aska dalam sebuah seminar yang diadakan universitas. Mereka mengundang para alumni yang notabene dianggap sebagai arsitektur berbakat dan sukses. Sebagai profesor muda, Carly turut berpartisipasi dalam seminar. Memberikan motivasi bagi calon arsitektur muda yang masih menimba ilmu. Turun dari atas podium, Carly berpapasan dengan Aska yang naik untuk mengisi posisinya. Tatapan mata tajam dan tenang seolah membius Carly, tubuhnya mendadak kaku. Langkahnya kehilangan arah. Setengah tertatih dia kembali mencapai kursinya.
Dua puluh menit terasa sekejap mata. Carly tidak puas, dia ingin melihat lebih lama, wajah itu tiba-tiba menjadi poros dan berhasil menarik Carly dengan gaya medan magnet yang begitu kuat. Mengandalkan beberapa koneksi, akhirnya Carly bisa bertemu langsung dengan Aska. Dalam acara malam penjamuan para alumni, Carly berhasil berdiri di depan wajah yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Profesor Carly, perkenalkan. Askia Sahara, lulusan terbaik angkatan 2010," Profesor Darwin yang telah mengetahui maksud Carly hadir ditengah-tengah kelompoknya segera memperkenalkan Aska.
Carly dengan cepat mengulurkan tangannya. Menanti lama sebelum mendapat balasan berupa sapuan singkat di tangannya. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi singkat darinya. Semua berlangsung cepat dan datar.
"Maklumi saja Carly, sikap Aska memang seperti itu dari dulu," hibur Profesor Darwin membesarkan hati Carly.
Beberapa kali Carly mencoba cara klasik, seperti yang selalu dilakukannya saat mendekati wanita. Carly mengirimkan karangan bunga hingga cokelat ke kantor Aska, bahkan Carly dengan nekad mengirimkan pesan random ke nomor ponsel Aska yang didapatkannya dari Profesor Darwin. Namun Aska tak bergeming, nampaknya wanita itu dengan jelas bisa membaca arah dan tujuan Carly.
Tidak ingin menyerah, Carly mencari informasi tentang Aska dari berbagai sumber hingga satu kenyataan membuat hatinya bersorak bahagia. Aska merupakan putri satu-satunya Agus Brawijaya - rekan bisnis Papa.
Hubungan diantara keduanya terbilang cukup dekat hingga beberapa kali Carly mendapati Papa dan Agus menghabiskan waktu mereka di lapangan golf untuk membicarakan bisnis atau sekedar bercengkrama.
Melihat peluang baik, Carly dengan berani meminta Papa-nya untuk menjadi penghubung baginya untuk masuk ke dalam keluarga Aska. Bila sulit masuk dari satu pintu maka Carly akan mencari pintu lainnya yaitu keluarga Aska.
__ADS_1
Carly berangkat kembali ke Indonesia, Papa-nya sengaja mengatur pertemuan dengan Papa Aska, memperkenalkan Carly dan menyanjung putranya setinggi langit untuk menarik minat Papa Aska. Darisanalah muncul gagasan untuk menjodohkan putra putri dari kedua teman dengan hobi yang sama.
Awalnya Aska menolak tegas, begitu Papa-nya berkeras, Aska mengendurkan perlawanannya dan membiarkan Carly berkeliaran disekitarnya. Meski kerap bersikap dingin, akhirnya Aska tidak lagi menghindari Carly, dia mulai menerima Carly sebagai sosok tunangan.
Ketika hubungan keduanya mulai berjalan baik, Carly baru mengenal sosok Bima yang diakui Aska sebagai sahabat. Dalam hubungan Carly dan Aska selalu ada nama Bima yang menjadi duri. Menusuk hati Carly hingga berdarah-darah. Apapun yang berhubungan dengan Bima menjadi prioritas bagi Aska.
Saat Carly melancarkan aksi protes, bukan permintaan maaf ataupun sekedar meminta pengertian yang didapatinya, Aska lebih memilih mengabaikannya seolah-olah posisi Carly tidak penting dan bisa digantikan siapapun, kapanpun.
Melihat tanda bahwa Aska belum seutuhnya mencintainya, Carly mulai dihantui perasaan takut bila tiba-tiba Aska berpaling meninggalkannya. Maka itu, Carly mencoba bertahan, menurunkan tensi sampai suasana menjadi lebih kondusif. Namun tidak serta merta Carly duduk diam saja menerima perlakuan Aska.
Seperti sebelumnya, Carly bermain dengan cara yang lebih halus. Dia langsung menemui Bima, meminta pengertian laki-laki itu untuk menjauhi Aska agar hubungan pertunangan mereka bisa kembali membaik.
Meski menangkap raut enggan tapi Carly tahu, Bima akan melakukan apapun atas nama kebahagiaan Aska. Dan Carly kembali berhasil untuk memonopoli Aska untuk dirinya sendiri.
Mendengar kabar Bima meninggal menjadi kebahagiaan tertentu bagi Carly. Meski sisi manusiawi-nya ikut berbela sungkawa tapi tidak bisa dipungkiri Carly merasa lega. Menurutnya dengan kepergian Bima, tidak akan ada lagi perasaan was-was yang selama ini menghantuinya setiap hari. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aska kembali ke Indonesia tanpa sepatah kata bahkan kabar hingga berhari-hari. Carly merasa terabaikan namun mencoba bersabar mengingat suasana duka yang masih dirasakan Aska.
Namun begitu mendengar kabar burung yang berhembus kencang di kalangan alumni, darah Carly seketika mendidih. Alasan Aska tidak kembali ke Singapura karena dirinya menolak kenyataan bahwa Bima sudah meninggal.
Hari itu juga Carly terbang kembali ke Indonesia untuk menyeret Aska pulang. Tapi kenyataan kembali menamparnya. Carly harus melihat Aska bersama laki-laki lain. Carly lepas kendali dan membiarkan emosi yang berbicara hingga mengeluarkan kalimat yang disesalinya hingga kini.
Begitu sadar akan kesalahannya, Carly merasa posisinya terancam jadi dia segera ke rumah Aska untuk berlindung di balik Papa Aska. Cara yang selama ini diandalkannya untuk mengendalikan Aska.
Namun, entah mengapa kali ini terasa berbeda. Aska tidak lagi mendengar apapun yang keluarganya katakan. Hatinya mengeras, satu-satunya yang menjadi perhatiannya hanya Bima. Carly takut, kali ini Aska benar-benar akan lepas dari tangannya.
__ADS_1
...****************...