Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 1


__ADS_3

Aku terbangun dengan keadaan perut yang begitu kelaparan. Sekujur badanku lemas, mulutku kering, dan kepalaku seperti berputar-putar. Sederhana, aku hanya sedang sekarat. Rasa lapar yang menggila di perutku, ini seolah seperti aku tak pernah makan sejak lahir, begitu juga dengan rasa pasir di mulutku yang begitu kering.


Yang bisa kulakukan hanyalah menarik napas dalam-dalam dan menahan rasa sakit itu. Menggerakan kaki pun rasanya sangat sulit, aku tak bisa kemana-mana selain tetap bersandar di tepi gedung akesoris ini.


Hingga suara derap kaki kuda datang dari arah timur, suara yang begitu berisik dan ramai, tetapi lama-kelamaan berhenti tepat di depanku. “Ini untukmu!” terdengar suara perempuan dari dalam kereta kuda yang berhenti di depanku. Ia memberikan sebuah kantung air.


Tak banyak pikir, aku langsung membuka kantung itu dan menengguk habis semua airnya. Bahkan meskipun ini adalah air racun, maka ini akan menjadi pemuas dahaga terakhir bagiku.


Ternyata tidak, air itu sangat enak.


Hanya meminum sekantung saja rasanya sudah sangat memuaskan, tenggoronkanku tak pernah sesegar ini sebelumnya.


“Kau baik-baik saja?” ucap perempuan itu lagi. Setelah aku selesai minum, terlihat seorang gadis dengan gaun mewah turun dari kereta kuda. Ia sangat cantik, kulitnya yang putih mulus begitu sempurna dengan paduan rambut pirang panjang miliknya. Terlihat sebuah kantung yang lain di tangan sang gadis.


“.. s-s-siapa..?” tanyaku lirih, suaraku bahkan hampir tak keluar.


Pandangan mataku kabur karena saking laparnya perut, sulit untuk fokus. Tapi satu hal, sang gadis menunduk di depanku. Ia tak segan menaruh kedua lututnya di lantai, meskipun gaun mewah berwarna kuningnya itu akan kotor. “Aku terkejut kau tak mengenaliku, yah.. ini kesalahanku. Perkenalkan, aku Putri Lennef, putri dari Raja Loiros. Singkatnya, aku putri dari pemimpin kerajaaan ini.” Ia tersenyum.


Aku sadar, ia menjulurkan tangannya kepadaku, menunggu aku menyambutnya. Tapi dengan tanganku yang kotor dan gosong ini, aku tak tega menyentuh kulitnya.


Dan apa? Putri? Aku menelan ludahku ketika mendengar nama itu.


Tentu aku tak menyambar tangannya, meskipun ia menunggu sedikit lama. Keputusanku berbuah lain, tangan sang putri ditepis halus oleh seseorang dengan zirah di sekujur tubuhnya. “Nona putri, apa yang anda lakukan? Anda tak boleh sembarangan menyentuh gelandangan!” ia mengingatkan, tapi tak dengan kalimat yang kasar.


“Kau tak berhak mengatakan itu. Dia adalah rakyatku. Kau bertugas melindungiku, dan aku bertugas untuk melindunginya. Kenapa selalu ada saja yang menggangguku melakukan ini?” putri bersikeras bersalaman denganku. Bukanlah aku yang menyambar tangannya, melainkan ia yang menyambar tanganku. Kami bersalaman dengan putri menggerakan tanganku secara penuh.


“Sudah! Jangan terlalu lama!” pria berzirah mendorongku ke belakang, dorongan yang terlalu kuat baginya untuk mendorong gelandangan sampai jatuh. Aku merasakan sakit di tulang belakangku ketika tembok batu menghadangku.


Tidak. Tidak juga. Ini tak terasa begitu sakit.


“Hei, apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya!”


“Maaf, saya harus menghentikan sikap keras kepala anda! Ini perintah dari Raja, jadi ini adalah tugas saya juga!”


Tak peduli dengan apa yang terjadi padaku, penjaga menarik putrinya masuk ke dalam kereta kuda. Kemudian kendaraan yang menghasilkan suara ramai itu pergi menjauh.


Ada apa? Badanku tak lagi lemas. Jangankan lemas, sakit sedikitpun juga tidak. Aku tak ingat pernah punya punggung sekeras baja hingga mampu menahan hantaman dari sebuah tembok.


Dan juga.. kakiku. Aku bisa menggerakan kakiku. Sedikit demi sedikit aku mengangkat tubuh, hingga akhirnya aku bisa berdiri. Meski agak aneh rasanya, tapi badanku benar-benar kembali ke keadaan paling segar. Rasa lapar dan haus hasil dari makan dan minum selama seminggu penuh juga tak terasa.


Apa yang terjadi?


Terserah, aku tak mau berlama-lama disini. Malam ini terlalu dingin. Bulan purnama tampak begitu terang di atas kepalaku. Langit tak berawan, sudah tak hujan sejak beberapa minggu yang lalu. Mungkin sekitar sebulan lagi maka akan memasuki musim dingin, tapi udara dari bekunya es sudah kurasakan saat ini.


Aku berjalan dengan pakaian compang-camping, menyusuri kota, mencari sesuatu untuk bisa kulilitkan ke leherku. Meski orang-orang menatapku seperti mereka menatap serangga, tapi tak peduli, aku tetap saja mencari.


Sampai pada saat aku melalui sebuah gereja, dimana ada patung kayu di depan gerbang gereja. Beruntung, patung itu diikatkan sebuah kain putih yang tampak kotor tapi juga tebal. Aku dengan sedikit was-was mengambilnya, dan memakainya di leherku.


“Kau mencuri itu?"


Langsung badanku membeku.


Suara itu muncul begitu saja dari mulut seorang gadis perempuan kecil, aku bahkan tak merasakan ada dia di sebelahku. “Itu kain untuk patungnya, kau mau memakainya?” ia bertanya sekali lagi. Perempuan kecil itu membawa banyak kain di tangannya.Aku penasaran akan digunakan untuk apa itu.


“Maaf.. aku kedinginan.” Jelasku.


Mendengar itu, dia tersenyum lebar. “Kalau begitu, pakai ini! Aku berencana mendandani patung itu dengan pakaian yang ayahku punya, tapi kalau kau lebih membutuhkannya maka ambillah!” dia menjulurkan tangannya yang penuh dengan tumpukan kain.


Ada kaus lengan panjang, sarung tangan, dan celana hitam panjang dengan bahan tebal yang bagus. Aku tak yakin bisa menerima ini semua.

__ADS_1


Dan juga.. aku tak punya tempat untuk berganti pakaian.


“Ayo ke rumahku! Ibuku akan menghidangkan sup hangat! Ayolah!” dia berlari terlebih dahulu, mengesampingkan ajakannya yang terdengar terlalu polos, ia begitu bahagia.


Aku terpaksa atau tidak terpaksa mengikutinya ke rumah.


Jalanan yang dilapisi dengan batu berbentuk persegi panjang, tersusun rapi dari ujung ke ujung. Kota memang hebat, raja pasti memikirkan bagaimana para pengunjung menikmati kota ini. Tapi, jalanan batu seperti ini akan mematikan bila aku tak kunjung mendapat alas kaki sampai salju turun.


Langkah perempuan kecil begitu lambat, dia juga sering melompat antar ubinan batu untuk menghibur dirinya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum karena itu.


“Tadi kau bilang ini adalah pakaian ayahmu, apakah ayahmu akan setuju kalau aku memaikanya?” tanyaku berbasa-basi.


Perempuan kecil berpikir sebentar. Tingginya adalah seperutku, jadi dia harus mendongak begitu tinggi agar bisa menjawab obrolan dariku, “Ayah sudah meninggal.”


Eh?! Aku tak menduga jawaban itu.


Aku hanya bisa terdiam setelah mengetahui fakta bahwa pakaian yang kupakai adalah milik orang yang sudah meninggal. Tidak, aku harus berterima kasih.


“Maaf tentang itu.” ucapku, kemudian perempuan kecil tersenyum. “Bagaimana dengan ibumu? Saudaramu?”


“Ibu bekerja di kerajaan, ia hanya mampir ke rumah sebulan sekali, beruntung karena malam ini ibu sedang di rumah. Dan juga aku tak punya saudara, aku tinggal di rumah seorang diri."


“Begitukah? Di umur semuda kau, dan tak seorangpun mengurusmu di rumah?”


“Tak masalah, kok. Ibu mengirim banyak uang, dan keamananku juga terjamin. Aku hanya perlu berbelanja, memasak dan lain-lain.”


Dari cara ia menjawab, atau cara ia tersenyum terhadap situasinya, aku hanya bisa kagum terhadap si perempuan kecil.


Maksudku, dia adalah perempuan yang sangat membutuhkan orang tua. Ayahnya tak ada, ibunya hanya ada sebulan sekali. Hidup mandiri seperti itu dapat mendorong orang menjadi lebih kuat.


“Benar juga.. siapa namamu?” tanyaku terlambat.


“Hile Strosford, itulah namaku. Kau sendiri, siapa namamu?” tanyanya balik.


***


Aku menghentikan kakiku yang tanpa alas di depan sebuah rumah pendek berlantai satu. Jendelanya tertutup rapat oleh bongkahan kayu, tetapi tanaman dan cat rumah itu sungguh rapih. Terletak tepat dipinggir jalan, rumah itu pasti dilalui banyak orang.


“Ini rumahku, masuklah!” ucap Strosford kecil mengajakku masuk, ia membuka pintunya dan mempersilahkanku.


Karena atapnya yang rendah, aku harus menunduk, tapi itu hanya ketika aku masuk saja. Begitu masuk, ada tangga turun yang memberi jarak lebih jauh antara langit dan lantai. Aku tak tahu ada rumah dengan model tertelan tanah.


“Disana! Duduklah disana!” pandu Strosford. Ia menunjuk ke meja makan yang tak jauh dari tempat aku berdiri.


Ketika aku menuju tempat duduk, dari dalam ruangan yang lain muncul seorang perempuan dewasa. Ia mengenakan selendang, rambutnya panjang berwarna hijau gelap, tatapannya baik tapi juga tegas.


“Hile.. ini..?” perempuan itu bertanya.


Strosford menjawab, “Ini Walter. Aku berencana memberikannya sedikit makan, Bu. Bisakah?” Meffery merujuk Ibunya dengan senyuman yang tulus.


Tak bereaksi kasar, Ibu Strosford beramah. Ia mengajakku ke salah satu kursi makannya. “Tunggulah, aku akan menghidangkan sup yang hangat.” Ibu itu keluar dari ruangan.


Kesanku padanya, tentunya saja Ibu Strosford adalah orang yang menakjubkan. Ia cantik, dan terlihat sangat ramah hanya dari tatapannya.


“Strosford.. apa ibumu-”


“Panggil aku ‘Hile’, nama belakangku terlalu panjang kan?” terdengar ucapan yang terlalu dewasa bagi orang sekecil Hile.


Hile mengambil posisi duduk di depanku.

__ADS_1


“Ini mungkin sedikit tak sopan, tapi apa ibumu tak berencana mencari pasangan lain? Menurutku orang sekecil dirimu membutuhkan figur seorang ayah.” Jelasku di balik pertanyaan yang menyinggung.


“Entahlah, Ibu tak pernah menanyaiku soal itu. Mungkin saja dia menyukai orang lain, tapi sedikit sulit untuk menghilangkan sosok ayahku di benaknya.”


Hile meratap. Dari matanya aku bisa tahu betapa penting ayahnya bagi hidupnya. Aku tak melanjutkan pertanyaanku.


Tak lama, Ibu Hile datang, di tangannya terdapat mangkuk besar dengan kepulan asap di atasnya yang terlihat sangat jelas. Ibu Hile menaruh mangkuk itu, memberikanku sendok, dan membiarkanku makan.


Sedikit canggung rasanya ketika dua orang menontonku makan, ini bahkan pertama kalinya aku diberikan makan oleh keluarga lain.


Hmm? Tunggu? Aku tak pernah merasakan sayuran ini? Apa ini lobak, atau wortel? Rasanya sedikit manis tetapi teksturnya mirip kentang, aku tak tahu apa yang kumakan.


Aku memakan sup itu dengan lahap, mungkin hanya sekitar 5 menit sampai mangkuk itu kosong tak tersisa. “Apa supnya enak?” tanya Ibu Hile. Aku mengangguk, sambil menenggak segelas air. “Kau terlihat tak biasa dengan rasa sup itu, apa ada masalah?”


“.. begitukah? Aku merasa baik-baik saja, sungguh.” Ucapku memperdaya.


Ibu Hile terlihat curiga. Aku yakin bahwa wajahku tak begitu penasaran ketika sayuran aneh itu terkunyah oleh gigiku. Atau mungkin Ibu Hile melihat sesuatu yang lain? Matanya tajam, dan dia memandang sesuatu yang sangat jauh di dalam mataku.


“Walter.., benar?” Ibu Hile memastikan namaku, aku mengangguk. “Apa kau tinggal di kota ini cukup lama?”


Aku ketahuan.


“.. tidak.. ini.. rumit. Sejujurnya, aku bahkan tak tahu bagaimana aku bisa ada disini. Aku terbangun dengan tubuh gelandangan, perut yang kosong, dan tenggorokan yang kering. Apa yang terjadi kemarin, atau bahkan yang terjadi pagi ini.. aku sama sekali tak mengingatnya.” Jelasku.


Hile memperhatikan dengan seksama. Ia menggunakan tumpukan pakaian yang ia berikan padaku sebagai alas sandaran tangannya ketika ia berleha-leha di meja.


Mendengar penjelasanku, Ibu Hile pergi lagi. Ia mengatakan ingin mengambil sesuatu. Jelas aku tak tahu apa yang ia rencanakan, bahkan anaknya sendiri ikut bingung terbukti dengan kami yang saling menatap.


Kemudian Ibu Hile datang, dengan membawa benda putih transparan yang berbentuk bola. Bola itu diduduki di sebuah wadah kayu yang diukir dengan khas. Ibu Hile menaruh bola itu di meja. Aku dan Hile semakin bingung, Hile bahkan tak tahu benda apa itu.


“Ini kristal pendeteksi sihir. Aku melihat ada yang lain dengan dirimu, bisakah kau menyentuhnya? Aku bekerja sebagai guru di akademi sihir kerajaan, jadi kalau ini mengganggumu hanya karena aku penasaran, aku minta maaf.”


Sihir? Aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Satu hal yang pasti, kalimat itu tak asing ditelingaku.


Mengikuti perkataan Ibu Hile, aku dengan sedikit keraguan menyentuh bola kristal itu. Entah itu kristal asli atau terbuat dari apa, tapi itu tak terasa seperti mutiara atau kaca. Ketika tanganku menyentuh bola kristal, muncul cahaya di kristal itu.


Mirip seperti cahaya kunang-kunang, tetapi lebih kecil dan berwarna hitam. Ada dua cahaya yang muncul, dan keduanya terbang di dalam bola seolah cahaya itu terkurung. Hile takjub, tak sepertiku yang malah heran dengan apa yang terjadi.


“Ini..” Ibu Hile sama penasarannya denganku. Ia memperhatikan bola kristal itu seperti menemukan sebuah benda yang muncul sekali dalam hidupnya. “Ini.. Skill apa ini?” kemudian Ibu Hile menaruh pandangan kepadaku, “Walter, kau sebenarnya siapa?”


Wah, jangan tanya aku. Justru aku yang ingin tahu siapa aku sebenarnya.


“Ibu, apa yang kau lihat?” Hile bertanya kepada ibunya.


Ibu Hile menjawab dengan rasa tertekan. “Tak ada.. tak ada apa-apa. Hanya saja, Walter, Skill milikmu menakjubkan! Ini mustahil untuk seorang manusia biasa!”


Astaga, aku bahkan tak tahu apa itu Skill, kuyakin artinya lebih luas dari sekedar kemampuan. “Ap-Apa.. apa yang kau simpulkan dari Skill-ku?” tanyaku.


“.. namanya Touch Drive, ini Skill yang membuatmu bisa menyalin jumlah ‘mana’, skill, dan sihir dari orang lain. Eh.. tidak, tunggu, bukan hanya itu. Bahkan kekuatan fisiknya juga. Hebat, skill ini bahkan aktif otomatis setiap saatnya.” Jelas Ibu Hile dengan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.


Aku terkejut, entah itu gembira atau merepotkan.


“Apa kau menyentuh seseorang tadi?”


“Kau? Atau Hile? Sepertinya tidak sama sekali.” Aku mencoba mengingat beberapa kejadian sebelum aku bertemu Hile, sebelum aku berkeliling. “Oh, aku menyentuh Putri Lennef dan penjaganya.” Aku menyentuh mereka berdua tepat setelah aku bangun.


Mata mereka terbelalak ketika aku mengatakan putri, namun aku menjelaskan bahwa putri datang menemuiku hanya sekedar untuk memberiku makanan.


Ibu Hile kembali menjelaskan, “Pantas saja. Kau punya satu sihir yang bisa kau keluarkan, Sleeper, sihir untuk menidurkan orang. Itu pasti sihir yang dimiliki oleh putri. Sedangkan fisikmu, sangat-sangat kuat, ini pasti berkat si penjaga yang dilatih untuk berada di sebelah putri.”

__ADS_1


Oh, ini akan merepotkan.


Aku tak tahu dimana aku sekarang, dan kini aku mendapat skill yang bisa membuat pembimbing sihir merasa kebingungan. Siapapun yang memberikanku skill ini, ketahuilah bahwa aku tak menyukainya.


__ADS_2