
Rombongan kereta kuda yang berbaris rapi mengisi penuh jalanan di pintu keluar Kekaisaran Nasaroth. Tak satupun warga yang tahu kuda apa itu, dan siapa yang ada di dalamnya. Tapi jumlah sebanyak itu memang sungguh mengejutkan, bahkan rombongan turis pun tak mungkin sebanyak itu berkendara.
Kenyataannya, itu adalah rombongan yang dipimpin oleh Marquis Daralo. Orang-orang yang dibawa Daralo hanyalah orang-orang liar yang mengandalkan ototnya untuk hidup, itulah kenapa mereka dibawa dengan kereta kuda secara bersamaan dan bukannya kuda satu per satu. Karena orang yang dibawa Daralo tak memiliki harga diri yang cukup tinggi untuk menunggangi kuda.
Tiga jam sebelum Raja Loiros datang, Daralo sudah pergi meninggalkan Nasaroth.
Setidaknya itulah yang dipikirkannya.
“Hahaha, hari kemenangan, Killifer!”
“.. kau benar.”
Daralo tertawa terbahak-bahak ketika melihat ke belakang, yang dilihatnya adalah barisan pasukan yang tunduk padanya. Dan tawanya semakin besar ketika dia tahu bahwa dia akan membunuh pemimpin negara lawan sebentar lagi.
Rencananya, kereta kuda ini akan pergi setelah mereka sampai ke tempat penyergapan seperti yang sudah Killifer siapkan. Hutan Zeri, adalah tempat yang menurut Killifer paling cocok untuk melakukan serangan tak terduga.
Akhirnya perjalanan itu diteruskan dengan tanpa banyak bualan.
Beberapa menit berlalu, bahkan hanya sebentar saja, mereka sampai di tempat yang ditentukan. Di luar hutan Zuri yang mereka masuki dari arah Kekaisaran, rombongan satu per satu turun dari kereta. Setelah semuanya turun, kereta kuda kembali ke Kekaisaran dengan suara setenang mungkin.
Rombongan masuk ke dalam hutan. Menurut Killifer, mereka harus masuk cukup jauh ke arah selatan agar rute perjalanan Raja Loiros tidak menghilang. Daralo dengan senang hati menerima usulan itu. Mereka sesegera mungkin, tapi mencoba tak menarik perhatian, menembus masuk hutan dengan beramai-ramai.
Sampai mereka masuk di dalam hutan, Daralo sebenarnya sudah menyadari ada yang aneh dengan Killifer sejak mereka menginjakkan kaki di dalam hutan. Enggan bertanya adalah sebuah kesalahan bodoh, karena itu Daralo memutuskan untuk bertanya dengan ramah, “Killifer, kau terlihat pucat sejak tadi.. ada apa?”
Killifer sama sekali tak menjawab pertanyaan itu.
Jelas Daralo bingung, padahal ia tahu bahwa Killifer mendengar ucapannya, bisa dilihat dari mata Killifer yang sesaat melirik Daralo. Itu artinya Killifer memang sengaja untuk tak bisara.
“Killifer, ada apa?”
“.. kita sebentar lagi sampai.” Jawab Killifer dingin.
Ya sudah, Daralo juga tak memiliki alasan untuk marah hanya karena sahabatnya bersikap dingin. Memangnya Daralo anak kecil? Atau sekumpulan perempuan dengan lawakan yang tak lucu?
Mereka kembali berjalan. Daralo sama sekali tak merasakan ada yang aneh dengan hutan Zuri.
Sampai suatu hal yang tak terduga terjadi, yaitu Killifer yang tiba-tiba mengangkat tangannya, yang membuat seluruh pasukan yang dibawa Daralo berhenti melangkah, begitu juga dengan Daralo sendiri.
“Semuanya, berkumpullah!” teriak Killifer keras ke seluruh pasukan.
Tak peduli apa maksud dari perintah itu, mereka menurutinya.
Semua orang mendekat ke arah Killifer.
Tapi, Killifer tak benar-benar menunggu sampai semua orang berada di jarak dekat dengannya.
Saat semua orang sudah berada di dalam lingkaran berdiameter 15 meter, jebakan pun diaktifkan.
Tanah tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang terang, semua orang terkejut dan heran. Selain itu tanah juga menjadi lengket, semua orang yang berada di lingkaran itu tak bisa menggerakan kakinya sama sekali. Daralo panik, karena mengira ini adalah serangan dari musuh yang tak sempat ia duga.
Hingga lama-lama tanah itu menelan mereka semua layaknya pasir penghisap. Perlahan tubuh Daralo dan pasukannya terkubur di tanah. Menggeliat pun percuma, yang bisa mereka lakukan hanyalah berteriak minta tolong, dan sekeras tenaga mencoba untuk keluar. Daralo yang panik hampir tak peduli dengan sekitarannya. Dia berkata, “Killifer, apa yang terjadi?” tanya Daralo panik.
Tapi pertanyaan itu malah mendapatkan jawaban lain. Ketika Daralo bertanya ke Killifer, ia sadar bahwa Killifer sama sekali tak tersedot. Jangankan terkubur, Killifer terlihat sangat baik dengan kakinya yang masih bisa ia gunakan untuk melangah. “Killifer, apa-apaan ini?!!” Daralo berteriak, Killifer hanya menjawabnya dengan senyuman jahat. Daralo menjadi sangat jengkel.
***
Kami semua melihat Daralo dengan tatapan yang begitu hina. Aku memutuskan untuk turun dari atas dahan dan bergabung dengan Killifer untuk menghina Daralo. Sekarang Daralo yang semakin lama tersedot ke dalam tanah sedang melihat aku dan timku secara lengkap.
Aku memberikan senyuman licik, sedangkan Killifer membuat wajah bangga karena berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, Florinas tetap dengan pandangan sombong yang biasanya ia pakai ketika melihat manusia, dan Varnella.. dia memakai ekspresi datar sejak aku menjadikannya bagian dari tim.
Daralo menjadi sangat marah, ia dengan segala kemampuannya dalam berbahasa bersusah payah merangkai jutaan kata agar bisa menghina aku dan Killifer. Kalimat seperti ‘kau curang’ atau ‘kau pengecut’, Daralo tak bosan mengucapkan kata itu. Bukannya merasa terhina, aku malah berterima kasih karena itu merupakan sebuah hiburan, terlebih dengan wajahnya yang semakin marah.
“Bagaimana rasanya, Daralo? Terjebak dalam skenario yang bahkan bisa dipirkan seorang bocah.. harusnya kau malu karena Killifer sempat mempertimbangkanmu.” Kataku dengan nada dan wajah yang begitu licik.
__ADS_1
“.. terkutuklah kau, Walter! Aku pasti akan membalasmu!!”
Kemudian aku membiarkan Daralo dengan amukannya.
Saat itulah, sebuah sihir Call datang dari Quine. Ia meminta dibukakan Gate agar dia bisa segera menuju ke lokasi.
Gate adalah sebuah sihir portal teleportasi yang kubuat dengan cara menggabungkan Dimension Teleport dengan Locating menggunakan Evolver. Cara kerjanya cukup mudah, yaitu seperti portal pada umumnya. Dimana akan terbuka sebuah gerbang antar ruang yang menghubungkans satu tempat dengan tempat lain.
Selesai portalnya terbuka, Quine muncul dari portal itu. Ternyata dia tak datang sendiri, melainkan berdua dengan orang yang ia geret di lantai. Terlihat seperti Quine baru saja menangkap seseorang, karena korbannya ditutupi oleh kain, tangan dan kakinya diikat, dan bergerak dengan cara digeret oleh tali yang terhubung ke lehernya.
Semua timku tahu siapa orang di balik kain itu.
Quine mendirikan orang itu, kemudian dia tuntun perlahan menuju ke arahku.
“Sesuai perintahmu, Tuan Walter,.. ini adalah mata-mata Nasaroth.” Kata Quine dengan antusias.
Aku membuka kain yang menutupi wajahnya.
Semua orang terkejut dengan siapa yang ditangkap oleh Quine. Tidak, kami tidak terkejut dengan siapanya, melainkan karena apa yang terjadi dengannya.
Yang Quine bawa adalah perempuan dewasa dengan rambutnya yang panjang, cantik, tetapi terlihat menyebalkan dengan wajahnya yang tak bersahabat. Mukanya pucat, dan tubuhnya gemetaran. Lebih mengerikan lagi karena semua orang terfokus pada darah kental yang mengucur deras dari mata si perempuan itu. Wajahnya sangat mengerikan, Killifer bahkan sampai takut dan jijik melihatnya.
“.. Cardella..” kata Daralo terbata-bata.
“.. sayang? Kaukah itu? Daralo, apa kau ada disini? Dimana kau?” Cardella bertanya-tanya seperti orang bodoh, sedangkan Daralo yang ia maksud sekarang berada tepat di depannya. Tentu saja itu karena dia buta.
Padahal aku menyuruh Quine agar menebas organ yang perlu saja, tapi tak kusangka dia akan menebas mata. Jujur aku sendiri lebih baik kalau kaki atau tanganku terpotong pedang daripada mataku harus tergesek bilah tajam. Walaupun memang pilihan tepat untuk membutakannya, karena dengan begini ia menjadi tidak berguna.
Tapi berbeda denganku yang sedang bergembira, Daralo malah menjadi sangat murka ketika melihat istrinya buta. “Walter, sialan, aku pasti akan membunuhmu!! Aku akan membunuhmu, dengan cara apapun, kau akan menyesal hidup di dunia ini!! Kau akan—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kepala Daralo terbakar oleh api merah yang menyala besar.
“Beraninya kau mengancam Tuan Walter. Selain hinaan yang sudah diizinkan oleh Tuan Walter, kau tak berhak bicara begitu, manusia rendahan!” Kata Varnella. Yang membuat Daralo terbakar tak lain adalah spesialis sihir api kami, yaitu Roh Api Varnella.
“Sudah, sudah, Varnella, hentikan! Aku membutuhkannya.”
Sihirnya dihentikan, apinya pun padam.
Tapi sihir itu sudah cukup untuk membuat wajah Daralo menjadi jelek karena melepuh. Kulitnya hampir meleleh dan gosong, sebagian dagingnya juga sudah terlihat. Itu pasti karena Varnella tak tangungg-tanggung dalam mengatur panas apinya.
“Hah.. sudahlah, tak usah banyak bicara lagi.” Kataku mengeluh. Aku mendorong Cardella agar dia juga masuk dalam lingkaran Space Prison, dengan begitu dia juga terhisap ke dalam dan tak bisa bergerak.
Dengan ini, semua orang yang Killifer bawa sudah berada di dalam piring bahan-bahan, saatnya kita membuat hidangan sempurna dengan bahan berkualitas tinggi ini.
“Varnella, lakukan!” kuberikan aba-aba pada Varnella.
Varnella mengangguk siap.
Sekarang kita akan mempersembahkan jiwa orang-orang sialan ini pada sihir milik Varnella yaitu Recreation of Intensity, sihir yang namanya rumit ini adalah satu-satunya sihir di dunia yang kegunaanya bisa menciptakan skill. Aku pun baru tahu ada sihir seperti ini ketika Varnella menyinggungnya. Secara teori, sihir adalah sesuatu yang lebih lemah dari skill, tapi Recreation of Intensity mampu menciptakan skill baru.
Berbeda dengan Crafter yang menggunakan nyawa pengguna sebagai pasokan, sihir ini menggunakan jiwa dari orang yang dipersembahkan.
Ketika Varnella mengaktifkan sihir itu, sebuah gumpalan mirip matahari muncul di atas kepala para pasukan Daralo yang tengah terkubur di tanah. Bola itu terang, tapi tak tak panas, karena itu memang bukan matahari, melainkan wujud dari sihir Varnella.
Perlahan-lahan, semua pasukan Daralo terhisap ke dalam bola cahaya itu. Mereka berteriak, menjerit, marah, dan bahkan menangis, ketika tubuh mereka berubah menjadi gumpalan asap dan terhisap masuk ke dalam bola. Seisi hutan dipenuhi oleh suara teriakan mereka. Dan dari semua teriakan, yang paling keras teriakannya adalah Daralo.
Beberapa menit kemudian, semua pasukan sudah habis terlahap, tak ada lagi yang bisa disedot. Ketika aku menoleh ke samping, barulah kusadari bahwa Cardella masih berdiri sekarang. Dia berlutut di lantai, sambil terus menyebut nama suaminya yang sejak tadi kudengar karena suara bising teriakan. Cardella pasti sedih karena mendengar suara terakhir dari suaminya, yang justru menjerit karena kematian.
Bola cahaya tadi kemudian mengecil, berubah menjadi cahaya indah layaknya kunang-kunang yang begitu terang diantara hutan. Kemudian cahayanya bergerak ke arah Varnella dan memasuki tubuhnya. Varnella terlihat seperti menyerap sesuatu, dan kuyakin itu adalah skill baru yang didapatkannya, “Sihir berhasil, Tuan Walter.”
“.. bagus. Omong-omong, kenapa Cardella tidak ikut dikorbankan?”
“Sihirku sepertinya tak mau menerima orang yang cacat luka parah sepertinya.”
“Begitu.. betapa tidak bergunanya perempuan ini.”
__ADS_1
Tiba-tiba Florinas terbang ke arahku dan memelukku dari belakang, ia dengan kasar bersandar dan hampir saja membuatku terjatuh. “Master, kenapa kau membiarkan Varnella ini mendapatkan skill baru? Bukankah dia sudah cukup kuat?”
“.. memangnya kenapa? Aku kan tidak perlu persembahan untuk membuat skill baru.”
“Tapi tetap saja..” Florinas mendekatkan mulutnya ke telingaku dan melanjutkan, “Dia itu Roh, kita tidak akan tahu apa yang dipikirkannya.”
Aku mendengarkan ucapan itu baik-baik dan mencoba memikirkan benar dan salahnya. Saat aku berpikir, Florinas tetap dalam posisi berbisik meskipun sudah tak ada yang diucapkannya lagi. Bukannya menambahkan kalimat, Florinas malah menjilat telingaku dengan lidahnya. Kaget sekaligus kesal, aku mendorong Florinas, “Apa yang kau lakukan?!” liurnya menempel di daun telingaku, aku segera membersihkannya.
Florina terdorong, karena dirinya sejak awal memang tak pernah berjalan melainkan terbang, dorongan pelan bisa membuat Florinas terbawa angin dengan mudah apabila dia mau. Menyerah dengan doronganku, Florinas malah membuat wajah gembira ketika aku tak sengaja mendorongnya di antara perutnya. Ia terbang ke belakang, dan tak sengaja menabrak Cardella yang sedang menunduk lemas di tanah.
Itu membuat Cardella semakin terjatuh, dan sulit untuknya bisa berdiri.
Momen yang sedikit mengenaskan ketika orang yang baru saja kami jahati kerepotan bangkit, sedang kami hanya memperhatikan.
“.. kalian.. sampai kapan kalian akan menghinaku?” ucap Cardella, ketika dia sudah sepenuhnya berdiri.
Cardella jelas tersiksa dengan kondisinya saat ini, bisa dilihat dari gemetar tubuhnya yang menahan perih karena ia menangis ketika matanya bahkan sudah tak bisa lagi terbuka. Air matanya bercampur dengan darah, bukan hanya kesedihan, Cardella juga merasakan perih yang semakin menjadi-jadi.
“Cardella.. katakan padaku, dengan kondisimu sekarang apakah lebih baik mati atau dibiarkan terlantar sebagai gelandangan di Raverine?” tanyaku.
“Aku akan bertemu dengan putriku untuk yang terakhir kalinya.” Cardella menjawab dengan jawaban yang tak terduga.
“Kau punya seorang putri?”
“.. memangnya kenapa?”
“Berapa umurnya?”
“Genap 7 tahun,.. dua bulan yang lalu.”
“Kau meninggalkannya sendirian di Kekaisaran? Di negara sebesar itu?” tanyaku.
Kemudian Cardella sadar akan sesuatu.
Tentu saja, dia baru sadar bahwa anaknya ditinggal sendirian karena Daralo ada disini saat ini. Aku yakin ketika Cardella memutuskan untuk pergi ke Raverine demi membantu suaminya, dia pasti mengira bahwa sang suami akan merawat putrinya dengan baik.
Karena kebodohannya, Cardella hanya bisa menunduk dengan terus berpikir bagaimana cara mengutuk kebodohan itu.
“.. kau ibu yang cukup mengerikan menurutku.”
“Apa pedulimu? Dia adalah anakku, apapun yang terjadi padanya tidak ada hubungannya—”
“Ah, kau mencoba menutupi kesalahanmu dengan mempertegas bahwa aku adalah orang luar?”
Cardella terdiam.
Aku melanjutkan, “.. kau pikir putrimu akan peduli dengan apa yang kau lakukan? Kecuali kau orang bodoh, seharusnya manusia normal tahu bahwa anak umur 7 tahun hanya peduli dengan apa yang mereka suka. Misalnya.. bunga..?”
Mendengar kalimat terakhir itu, Cardella menahan tangisnya. Ia mengeratkan giginya, napasnya berantakan sebagaimana orang yang bersedih. Dia dengan mata butanya berusaha untuk mencariku, tangannya ia ayunkan secara acak ke segala arah tak peduli dimana aku berada. Cardella sangat membenciku sekarang. “Sekali kau menyentuh putriku, aku tak akan memaafkanmu, Walter.”
“Kalau begitu apa kau percaya bahwa aku bisa membahagiakannya tanpa menyentuhnya?”
“.. omong kosong, meskipun kau menjadi dewa sekalipun.. putriku tetap akan kulindungi.”
“.. begitu.”
Aku sudah tak peduli dengan Cardella. Aku dan seluruh timku memutar badan, kemudian masuk ke dalam portal yang menghubungkan Hutan Zeri dengan istana kerajaan Raverine. Tapi sebelum pergi, aku menginstruksikan kepada Killifer agar membunuh Cardella.
Dengan tanpa keraguan sedikitpun, Killifer mengeluarkan pedang dan menebas leher Cardella dengan tanpa Teknik. Pedang yang merupakan hadiah dariku itu kini berlumuran darah di sepanjang bilahnya, Killifer mengibaskan pedang itu keluar agar darahnya bersih.
Mungkin itu akan menjadi momen yang paling kuingat dalam hidupku.
Yaitu seorang dengan kepalanya yang putus, darah segar berwarna merah mengucur deras dari dalam lehernya, kepalanya menggelinding ke bawah dan memperlihatkan matanya yang sudah mati. Perlahan, tubuh orang mati itu terjatuh lemas. Kemudian pria yang menebasnya membersihkan darah dari korbannya, dan menyimpan pedangnya kembali seperti semuanya bukan apa-apa.
__ADS_1
.. kenapa aku merasa familiar dengan acara memenggal kepala ini?