Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 16


__ADS_3

Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman besar disini. Sebuah kenyataan pahit yang melenyapkan semangat perjalanan selama 3 hari penuh. Kesalahan yang sampai membuatku ingin membanting Florinas, dan Lennef yang bahkan jelas-jelas menunjukkan senyum palsu yang menyeramkan.


Sulit dipercaya.


Kami yang seperti orang bodoh mengikuti Christa di istana Putri Nerna yang luas. Entah mau kemana dia membawa kami. Hingga pada akhirnya Christa membawa kami ke ruang bawah tanah yang terletak sedikit tersembunyi. Yang ada di bawah tanah itu adalah perpustakaan raksasa dengan koleksi buku yang tidak longgar sedikitpun di setiap raknya.


Sebuah meja dengan beberapa kursi lentera minyak ditaruh di tengah ruangan, tumpukan buku yang berantakan ada di atas meja itu. Bersamaan dengan itu, seorang gadis cantik dengan rambut ungu pendek duduk di sebuah kursi dengan buku tebal di tangannya. Matanya bergeser ke kanan dan kiri di setiap halaman buku itu.


Dia adalah Putri Nerna, pemimpin tak resmi Kerajaan Le-Ugen. Bukan tampil dengan gaun cantik, Puri Nerna malah masih menggunakan baju tidurnya, lengkap dengan topi berbulu yang berhiaskan telinga kelinci.


Dan disinilah kesalahpahaman yang dimaksud.


“Aku tidak menyuruhmu untuk memanggil Meffery Walter kemari!”


Bagus, memang dari awal aku tidak perlu datang kesini.


Kesaksian dari Putri Nerna mengatakan bahwa dia sebenarnya tak menyuruh Christa untuk datang menemuinya. Tapi karena ada Putri Lennef juga disini, Putri Nerna harus bisa mempertahankan kesopanannya. Sudah tentu ia merasa tak enak karena membuat kami berjalan jauh selama 3 hari.


Tak ada yang menyalahkan Christa tentang kejadian itu, kecuali aku. Tetapi dengan hanya melihat wajah Christa yang terlihat biasa saja, seolah dia tahu bahwa Putri memang tak ingin aku datang, aku menolak untuk menyalahkannya.


“Putri Nerna, aku yakin ada yang ingin kau katakan pada kami.” Kataku.


Putri Nerna berkedip malu, ia menjadi salah tingkah karena ramai orang memperhatikan dirinya yang baru saja bangun dari tidur. “.. baiklah, baiklah, kalian yang memaksaku! Tunggulah dimana pun yang kalian mau, aku akan bersiap-siap dulu. P-Putri Lennef, aku mohon maaf membiarkan anda sendiri.” Putri Nerna menunjukkan kesopanannya sebelum beranjak.


Lennef menjawab dengan kesopanan yang sama, “Tak masalah. Lagipula aku sadar bahwa kau hanya memiliki urusan dengan orang ini, kan?” Lennef menunjuk kepadaku.


“Putri Nerna, kalau memang hanya berurusan denganku, kau tidak perlu bersiap-siap. Memangnya apa yang perlu disiapkan? Apa kau butuh riasan atau pakaian terlebih dahulu? Padahal kita kan hanya bicara.”


Putri Nerna seperti menahan amarahnya, kemudian dengan keras membentak kepadaku, “Tentu saja aku ingin mandi! Gadis macam apa yang tahan bila berbicara dengan badan menjijikan ini?!!” ketimbang marah, lebih tepat kalau dikatakan malu. Putri Nerna memang bersikap seperti itu ketika kami datang.


Setelah itu baru ia beranjak pergi, meninggalkan kami semua di ruang perpustakaan.


Saat Putri Nerna sudah sedikit menjauh, aku berkata pada diriku sendiri, “Menjijikan apanya? Bahkan bau badannya tetap wangi sebelum mandi.” Dan hasilnya adalah diriku yang dicubit dengan sangat keras oleh Lennef.


Dengan wajah jahat layaknya iblis, Lennef berkata, “Sayang, kau mengendus baunya?”


“Tidak, tidak, mana mungkin!” aku membantah hal itu dengan tegas. “Baunya memang sudah tercium sejak kita datang. Kalian juga menciumnya, kan?” aku bertanya pada 3 rekanku yang lain.


“Tidak, Master, aku tidak menciumnya.”


“Aku tidak mencium bau harum, Tuan Walter.”


“Aku.. juga tidak.”


Kenapa disaat seperti ini rekan-rekanku tak bisa dipercaya?


“Lihat, kau mengendusnya kan?” Lennef kembali menuduh.


“Sabar dulu, Lennef, aku memang memiliki penciuman yang tajam.”


“Oh, kalau begitu berarti kau tahu bahwa aku menggunakan magic item yang bisa membuatku tetap wangi dan bersih setiap saatnya.”


“.. eh? Serius?”

__ADS_1


“Padahal aku membeli itu untukmu.” Lennef mengerutkan alisnya. Dan dengan wajah memerah yang imut, dia marah kepadaku, “Kau sama sekali tak sadar, bukan?!!”


***


Pada akhirnya, diambil jalan tengah dimana Putri Nerna memang membahas sesuatu kepadaku. Satu hal yang ia katakan tentang Christa bahwa perempuan itu memang sering bertindak seenaknya. Padahal Putri Nerna tak pernah membuat perintah resmi untuk membawaku. Namun bukan berarti itu salah. Kenyataan bahwa Putri Nerna membahas sesuatu denganku adalah bukti bahwa Christa peka terhadap keinginan Putri.


Dengan penampilan sempurna, pakaian yang indah dan emosi yang sedikit lebih tenang, Putri Nerna kembali menemuiku di ruang perpustakaan.


Ruang perpustakaan itu adalah tempat menakjubkan yang memanjakan mata. Berbentuk silinder, mengebor ke dalam tanah, dengan diameter yang setara dengan lapangan olahraga, perpustakaan ini adalah bangunan raksasa yang terkubur di dalam istana.


Karena di dalam tanah, semuanya hampir gelap. Tapi bukan berarti membutakan, cahaya tetap datang dari lampu gantung dan yang menempel di setiap rak yang melingkari perpustakaan. Bagian yang paling kusuka adalah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan yang lain, dimana tangga itu dibuat mengambang di atas permukaan. Jadi untuk berpindah lantai, kau akan merasakan bagaimana rasanya berada di atas ruangan setinggi puluhan meter ini.


Aku disini bersama dengan Florinas saja, sedangkan yang lain bersama dengan Christa untuk berkeliling istana. Lama menunggu, Putri Nerna pun datang.


Florinas sibuk memilih-milih buku dan mengomentari sampul dari buku yang ia pegang.


“Maaf menunggu, Tuan Meffery Walter.” Kata Putri Nerna. Dia menunjukkan wibawa seorang putri sekarang. Sejekap kupikir bahwa wibawa itu hanyalah topeng, tapi aku salah. Memang dari awal perempuan adalah sosok yang baru bisa jujur dengan orang lain ketika dia dipermalukan.


“Panggil aku Walter saja.”


“Walter.. kalau begitu kau boleh memanggilku Nerna. Untuk tunangan Putri Lennef sepertimu, tingkatan kita tak jauh berbeda.”


“.. tidak. Aku akan tetap memanggilmu Putri Nerna. Tak sopan rasanya kalau aku memanggilmu Nerna sedangkan aku sendiri lebih sering memanggil Lennef dengan ‘Putri Lennef’ daripada ‘sayang’ atau nama depannya.”


“Baiklah kalau itu maumu. Bagaimana kalau kita langsung ke inti pembicaraan?”


Putri Nerna mengajakku ke salah satu meja, dia menarik bangku dan mempersilahkanku untuk duduk disana. Sebuah lentera yang diaktifkan dengan sihir berada di tengah kami, menerangi meja diantara redupnya sudut ruangan yang lain.


“Ini tentang dua tahun yang lalu, saat Le-Ugen masih dipimpin oleh pasangan raja dan ratu, kerajaan yang penuh kebebasan tapi juga damai. Kakakku yang bernama Holiana, di tahun itu sudah menginjak umur 18 tahun, aku masih cukup kecil untuk terus mengekorinya pada saat itu. Tapi di tahun yang sama juga.. kau tahu, ada sedikit kekejaman terjadi. Orang-orang mengenalinya dengan tragedi pengkhianatan.” Putri mulai bercerita.


Putri Nerna mengambil sebuah buku yang terletak di atas meja, sambil menerangkan beberapa hal, ia membolak-balik halaman buku itu dengan lembut. Sampai di sebuah halaman, ia berhenti. Terdapat banyak gambar orang di halaman itu, berbaris, layaknya sebuah gambar pameran.


“Tragedi pengkhianatan adalah kejadian keras yang mendorongku pada tahap ini. Ayah dan ibuku meninggal, dibunuh oleh para bangsawan yang berencana ingin menikahi kakakku secara politik. Karena penerus tahta akan diberikan kepada kakakku, dan menikahinya untuk menciptakan figur raja adalah hal yang sederhana.” Putri Nerna menyerahkan buku itu kepadaku, dia menyuruhku melihat semua gambarnya.


“Mereka bangsawan?”


“Benar. 28 orang bangsawan kelas atas, yang lekat dengan kerajaan. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tuaku.” Jawab Putri Nerna. Aku menaikkan kepalaku sebagai tanda ingin mendengarkan lebih jauh. “Pembunuhan berencana. Peperangan palsu, sebuah drama yang dibuat para bangsawan untuk menjebak ayahku dan membunuhnya selagi lengah.”


“Maaf bertanya, ayahmu yang seorang raja,.. apa dia tidak sadar dengan sebuah jebakan? Aura.. atau gerak-gerik aneh misalnya.” Tanyaku dengan nada sopan.


Putri Nerna sedikit berpikir, dia bimbang akan suatu hal. Ia baru berterus terang setelah percaya akan tatapanku, “Banyak orang yang berkata begitu. Kau benar, ayahku memang bukan orang yang hebat. Memiliki energi sihir yang sangat sedikit, tak bisa merasakan aura, bahkan fisiknya juga tak begitu kuat.”


Putri Nerna membalik halaman dari buku yang kubaca, di halaman itu terlihat gambar seseorang berbadan sedang yang menggunakan mahkota, dan pedang di tangannya. Wajahnya biasa, badannya biasa, perawakannya biasa. Tetapi tertulis disitu bahwa ia adalah raja Le-Ugen. Sungguh berbeda dengan Raja Loiros atau Valarish yang menunjukkan ototnya.


“Aku tahu, ayahku pasti terlihat sangat lemah di matamu. Memang begitu kenyataannya. Tapi yang membuat ia menjadi raja adalah.. kecerdasaannya, keahliannya membangun negara, dan kepeduliannya terhadap orang banyak. Dia sosok yang hebat, Walter.”


“Kulihat dari tanggapanmu sudah pasti beliau adalah raja yang hebat. Lalu, bagaimana dengan ibumu? Ia tak bisa menggunakan sihir juga?”


“Ibuku bisa menggunakan sihir, tapi penggunaanya sangat tidak efektif. Intinya, zaman kepemimpinan kedua orang tuaku adalah zaman paling lemah bagi kerajaan ini. Dan dia juga mati dibunuh, tapi dengan cara yang lebih spesial.. yaitu di depan mata kedua anaknya sendiri. Eksekusi.” Pandangan mata Putri Nerna jatuh dalam.


Pasti berat memiliki kejadian seperti itu. Aku tak menyalahkan raja sebelumnya karena kelemahannya, malahan orang cerdas bisa mengalahkan orang yang kuat dengan mudah. Yang tak kusuka adalah pengkhianatan ini. Parameter kepercayaan yang meledak dan menjadi pengkhianatan, lebih dari apapun itu sangat menjijikan.


“Jadi intinya kau ingin aku tahu bahwa kedua orang tuamu adalah sosok hebat, tapi juga lemah, dan terbunuh atas nama penghkhianatan.”

__ADS_1


Putri Nerna mengangguk.


Aku melanjutkan, “Ini sudah terlalu jauh dari bahasan awal. Aku kesini karena kupikir kau memiliki masalah dengan gunung Caffarel yang kulenyapkan. Apa.. kau memiliki alasan untuk menjelaskannya dari sejauh itu?”


Putri Nerna lagi-lagi berpikir dalam, ia menerawang sesuatu yang jauh. Tatapannya menunjukkan kesedihan, tapi itu tak masalah baginya. Apa yang akan Putri ucapkan setelah ini, adalah apa yang membuat hati seorang perempuan tergerak, dan mengubah kepribadiannya secara permanen.


“28 orang bangsawan tewas, kakakku yang membunuhnya.”


“.. eh?!”


“True Death, skill yang memungkinkan orang untuk dengan instan membunuh orang lain dengan hanya sekali sentuh, itu adalah skill aktif yang mustahil dipatahkan. Kakakku.. dia menderita karena perbuatan buruknya. Selama dua tahun ini kakak tak pernah keluar kamar. Dan satu-satunya pemandangan—”


“Satu-satunya pemandangan yang bisa ia nikmati adalah puncak gunung es Caffarel yang diselimuti salju meskipun musim semi,.. begitu?” tanyaku memotong pembicaraan Nerna. Nerna mengangguk memberi jawaban. “Jadi, kau menyuruhku kemari hanya untuk menyalahkanku?”


“.. bohong kalau aku menyangkalnya,” Putri Nerna jujur. Itu wajar, aku sendiri juga pasti akan sedih kalau seseorang menghilangkan hal berharga dari orang yang berharga. “Tapi setelah bicara denganmu, aku bahkan tak tahu cara menyalahkanmu.”


Ini membuang-buang waktu.


Putri Nerna mungkin terlalu kecil untuk mengerti. Maksudku dia tak setara dengan Hile, tapi dia juga lebih muda dari Lennef. Kakaknya berarti kini berusia 20 tahun, usia yang sudah cukup matang untuk membangun keluarga. Apa drama kerajaan ini hanyalah lelucon anak-anak?


Aku dan Putri Nerna termenung, memikirkan hal masing-masing. Tiba-tiba, Florinas berseru. Dia datang kepadaku dengan wajah yang penuh semangat, yang ada di tangannya adalah sebuah buku besar dengan sampul coklat yang sedikit usang. Florinas menaruh buku itu di depanku, dan membuatku membacanya bersamanya.


Florinas membuka halaman-halamannya dengan kasar, beberapa kali buku yang terlihat tua itu seperti ingin rusak di tangan Florinas. Sampai ia berhenti di sebuah halaman, yang isinya sama sekali tidak bisa kubaca.


“Tulisan apa ini?” tanyaku.


“Buku itu menggunakan bahasa kuno, ditulis ketika Perang Besar terjadi. Kalau tidak salah.. namamu, Nona Florinas? Hebat juga kau bisa menemukan buku itu.” Putri Nerna yang menjawabnya.


Florinas menunjuk ke sebuah halaman tersebut, telunjuknya berkeliling di setiap kalimat yang ada pada pandangannnya. Kemudian dia berhenti pada satu paragraf, dan menunjukkan itu padaku.


Karena aku tak bisa membacanya, Florinas yang akan bacakan. “.. yaitu pasangannya, Roh Api Varnella, yang mengusai sebagian besar dari gunung panas di seluruh dunia. Wajahnya cantik, rambutnya bergelombang berwarna menyala marah layaknya fajar, aku melihatnya menggunakan gaun yang gelap. Orang-orang berbondong datang kepadanya.. dia menerima semua perjamuan, dia menerima semua yang—”


“Tunggu dulu! Kalau kau membacanya di tengah kalimat begitu, aku tidak akan paham!” kataku, memotong bacaan Florinas.


Florinas menutup bukunya, “Master, ini adalah buku yang ditulis oleh manusia ketika Perang Besar terjadi, semua tentang Perang Besar diceritakan disini. Dan yang ingin kuberitahu adalah.. letak dari kerajaan abadi Varnella.” Florinas mengambil satu kertas yang menyelip di buku itu, ketika direntangkan ternyata itu adalah sebuah peta wilayah yang gambarnya hampir pudar.


“Disitukah kerajaan Varnella berada? Jadi.. dimana itu?” tanyaku.


“Ini tak lain adalah sebuah takdir, Master. Jangan terkejut, ini adalah peta Kerajaan Le-Ugen, kerajaan ini. Itu artinya, kerajaan Varnella ada disini.” Florina memasang wajah yang tampak bahagia. Wajah yang sedikit membingungkan bila dia sebenarnya membenci Varnella.


Dengan sedikit kecewa Putri Nerna menjawab, “Sayang sekali, meskipun hal itu tertulis di buku kuno, aku tak pernah melihat adanya tanda-tanda kerajaan Roh disini.”


Florinas menjawab, “Manusia, kau tak berhak bicara begitu. Aku lebih tahu tentang Varnella ketimbang dirimu.” Dengan wajah sombong, jawaban itu dilontarkan.


Putri Nerna seketika menjadi pecundang. Memang benar Florinas memiliki aura layaknya seorang Dewi, dihina olehnya adalah suatu tekanan besar. Aku yang tak terima dengan kelakukan Florinas segera mengatakan, “Itu tidak sopan, tahu. Cepat minta maaf pada Putri Nerna.”


“H-Heh? Aku harus minta maaf pada manusia ini?”


“Tentu saja, kau sudah berbuat salah.”


Florinas ragu-ragu, wajahnya kesal karena perintah bukan karena diriku. “.. kalau begitu.. maaf.”


Putri Nerna yang mendengarnya menjadi tertawa, “Ya, kumaafkan. Walter, kau memiliki rekan-rekan yang unik, ya.”

__ADS_1


__ADS_2