
Akhir dari pertemuanku dengan Quine adalah penyerahan diri secara damai. Quine memikirkan sesuatu atas ungkapan dariku, tapi ia menyembunyikannya.
Quine menyewa sebuah kereta kuda untuk membawaku ke hadapan Raja, apa yang terjadi setelahnya, Quine menjamin keselamataku apabila aku tidak memberontak. Bila aku melawan, maka kemungkinan besar Raja akan menganggapku sebagai ancaman kerajaan, begitu hipotesanya.
Tak hanya aku, Nona Rose dan Hile pun ikut. Aku yang mengajak mereka, karena bagaimanapun raja dan selainnya adalah orang asing bagiku.
Kami berangkat ke kerajaan tanpa ada pertengkaran lanjutan, pasukan yang Quine bawa ikut mengawal kami sampai tujuan.
***
Konon katanya, ada seorang Raja Penyihir yang mendiami pergunungan di daerah yang jauh disana. Tak diketahui nama dari Raja Penyihir itu, tapi gelar ‘Raja Penyihir’ sudah menjadi konotasi yang negatif bagi orang yang pernah mendengar legenda ini.
Ini bukan cerita sekarang, ataupun kemarin, tetapi mundur ratusan tahun sebelum hari ini.
Raja Penyihir itu memiliki pasukan yang banyaknya tak terhitung, masing-masing dari mereka siap mati bila disuruh oleh sang raja. Para pasukan itu sama sekali tak memiliki sifat kemanusiaan, mereka membunuh siapapun yang tak sama seperti jenisnya mereka.
Raja Penyihir sendiri adalah orang yang begitu kuat, dia gila akan sihir dan satu-satunya orang di dunia yang memiliki skill lebih dari 3. Tapi yang membuat seram adalah kekuatan dari Raja Penyihir itu sendiri.
Skill yang dimiliki raja itu adalah Evolver, dia bisa menciptakan sihir dengan cara menggabungkan dua sihir secara bersamaan.
Alasan kenapa skill ini menakutkan adalah karena ini termasuk skill yang curang. Bayangkan, ketika menggunakan skill, maka mana-mu akan berkurang cukup banyak. Tetapi ini tidak berlaku ketika seseorang menggunakan skill Evolver, karena kapasitas mana-mu justru akan menambah ketika mendapat sihir baru.
Selain itu, sihir yang bisa dibuat juga tak terbatas. Sihir dari kombinasi bisa dicampur dengan kombinasi yang lain, dan berlaku seterusnya.
Contoh, misalkan sebuah sihir disimbolkan dengan alphabet:
A+B=C, Raja Penyihir mampu membuat sihir C dari penggabungan itu. Tetapi ia juga bisa membuat, A+C=D, sehingga terciptalah jenis sihir D. Dari sini, bisa dipahami bahwa sihir A,B,C,D bisa dikombinasikan sesuka hati dengan kemungkinan yang tak terbatas.
“Dan sampai sekarang masih belum ada yang tahu dimana Raja Penyihir itu berada.” Ucap Quine di akhir penjelasan panjangnya mengenai Raja Penyihir yang menjadi ketakutan besar bagi dunia.
Quine menceritakani ini ketika kami sedang dalam perjalanan menuju istana kerajaan, sangat jelas di wajahnya ia sangat frustasi ketika mendengar ‘Evolver’ yang merupakan mimpi buruk. Di dalam kereta kuda, tampaknya hanya aku yang tak tahu cerita ini.
Tapi, nyatanya ini memang dimiliki oleh Neressy. Skill ini muncul ketika aku menyerap kekuatan Neressy, dan aku tak yakin bila skill ini kudapat dari orang lain.
Aku bahkan belum menyentuh Nona Rose ataupun Hile, dan aku ragu skill Evolver kudapat dari sentuhanku dengan para pelanggan di pasar. Kalau memang iya, kenapa mana-ku pada saat ini hanyalah kalkulasi dari Putri Lennef, penjaga putri, dan Ksatria Neressy saja?
“Kau mengatakan kakak memiliki skill Evolver, bagaimana kau bisa yakin?” tanya Quine.
“Sudah kubilang, aku akan menjelaskan semuanya di hadapan sang raja.”
“Aku tahu, kau bahkan tak menjawab kenapa kau bisa memiliki kekuatan kakak. Tapi ini pertanyaan yang bersifat pribadi.” Bujuk Quine.
Menjelaskan kepada Quine mungkin bukan hal yang buruk. Tapi dilihat bagaimanapun, skill yang kumiliki juga tak kalah menakutkan dari Evolver, mengatakan bahwa aku memiliki Skill Touh Drive pasti akan berakibat buruk.
Untuk antisipasi, aku mengatakan, “Bisakah kita bersalaman?” tanyaku.
Nona Rose yang duduk di sebelahku sambil memangku Hile yang sedang tertidur mencubit pahaku, dia marah karena tahu tujuanku adalah untuk menyerap kekuatan Quine sebagai jaminan. “Kau bercanda?” tanya Nona Rose.
Aku mendekatkan mulutku ke telinga Nona Rose dan membisikkan, “Ketika kau duduk di sebelahku, tangan kita tak sengaja bersentuhan. 14.000 mana yang kau punya, tak sengaja kusalin.”
Mendengar itu, Nona Rose tak bisa berkata apa-apa. Omong-omong, ini memang benar terjadi. Entah bagaimana, tapi kekuatan Nona Rose yang merupakan seorang pembimbing berhasil kusalin.
“Untuk apa kita bersalaman?” tanya Quine ragu.
“Di negaraku, kedua orang yang saling percaya akan berjabat tangan untuk menunjukkan rasa percaya itu.” ucapku mengimprovisasi, negara yang mana pun aku tak tahu.
“Kenapa aku harus mempercayaimu?”
“Karena yang kukatan selanjutnya akan terdengar seperti lelucon.”
Quine tak bisa membantah lagi, dia mengangkat tangannya perlahan. Aku juga tidak sedang memaksanya. Kuterima jabat tangan darinya. Tangan Quine ternyata begitu mulus, mungil dan penuh kelengahan. Meskipun begitu, aku bisa merasakan bekas lepuhan di tangannya akibat memegang pedang.
“Jelaskan!” Quine menagihku ketika salamannya berakhir.
__ADS_1
Aku menghela napas, berpikir dua kali untuk memulai penjelasan ini. Tapi Quine tidak tahu bahwa dia sudah membayar untuk penjelasan ini, dan tentunya aku merasa berhutang. “Aku.. memiliki skill bernama Touch Drive.”
“Skill macam apa itu?”
Aku celingak-celinguk seperti orang bodoh ketika ingin menjawabnya. Orang lain yang kemungkinan besar bisa mendengarku adalah supir yang mengendarai kereta kuda ini, Quine bilang kusir kami adalah ahli sihir yang ia bawa bersamanya. Aku tak ingin dia mendengarnya, jadi aku menyuruh Quine untuk mendekat.
Kami berbisik setelahnya, “Itu adalah skill untuk menyalin kekuatan penuh dari target kepada penggunanya. Mana, sihir, Skill, Teknik, kemampuan fisik, semuanya. Itulah kenapa aku bisa bertarung seimbang melawanmu.”
Quine menelan ludah karena penjelasan itu. Yang mengejutkan adalah dia tak menganggap ini sebagai lelucon. Terlihat kepanikan yang nyata di wajah Quine.
“.. kau.. serius?” tanya Quine dengan mata tak percaya.
“Aku serius.”
Quine menyandarkan kepalanya dan mengadah ke atas, tubuhnya lemas dan ia hampir roboh ketika memikirkan kembali perkataanku. Aku bisa melihat tangan dan kaki Quine yang gemetar dan matanya yang seolah menatap kematian. “Itu berarti kau juga menyalin kekuatanku?”
“Sayangnya iya, skill-ku tak bisa dinonaktifkan.”
Quine semakin frustasi, ia menutup matanya dengan telapak tangan yang ia pakai untuk berjabat tangan denganku. “Kenapa orang sepertimu baru muncul sekarang? Umumnya skill didapat sejak lahir, kemana saja kau selama ini?”
“Pertanyaan bagus. Aku sendiri tak tahu.”
“Hah?” Quine heran.
“Ingatanku di dunia ini dimulai ketika aku hidup sebagai gelandangan yang sekarat, sampai putri Lennef menyelematkanku. Siapa aku, apa yang terjadi denganku sebelumnya, aku sama sekali tak tahu. Hanya nama saja yang kuingat.. dan beberapa ingatan kabur lainnya.”
“Ingatan kabur macam apa?”
Entah bagaimana aku menjawab pertanyaan itu, aku sendiri tak yakin dengan ingatan itu. Layaknya sebuah mata rabun yang melihat sosok orang di kejauhan 1 kilometer, kemudian ditanya siapakah sosok itu? Dan aku diminta menjawabnya.
“Aku melihat.. bangunan berbentuk balok yang sangat tinggi. Ada banyak, dan ukurannya bermacam-macam. Tapi, ada juga benda yang terbang di langit dan meninggalkan bekas garis tebal.”
Tak satupun orang berkomentar atas ceritaku.
“Nona Quine, kita sudah sampai.”
Ahli sihir yang menjadi supir kami meminta kami turun. Aku membangunkan Hile yang tertidur nyenyak, dia pangling ketika menyadari dirinya sudah berada di depan istana raja.
Kedatanganku disambut oleh beberapa orang dengan pakaian mewah layaknya bangsawan. Tidak, mereka memang benar bangsawan. Para bangsawan itu mulai mempertanyakan banyak hal kepada Quine, tapi dialog mereka tak terdengar di telingaku.
Kemudian satu dari banyaknya prajurit yang mengawalku, kembali memanduku untuk masuk ke dalam istana. Quine yang selesai berdialog dengan para bangsawan juga ikut denganku. Bukan hanya aku yang merasa merinding masuk di istana sebesar ini, Nona Rose juga sama merindingnya.
Terkecuali Hile yang masih menguap. Dia itu benar-benar tak tahu diri.
“Ikut aku!” Quine memanduku masuk ke dalam istana.
Halaman istana luar biasa besar, kami membutuhkan waktu sepuluh menit lebih berjalan kaki untuk sampai dari gerbang ke gedung istana. Dan di depan gedung istana, sudah tak ada lagi prajurit yang menemaniku. Karena hanya kami berempat lah yang diizinkan masuk.
Begitu pintu istana dibukakan untuk kami, sungguh menakjubkan apa yang ada di dalamnya.
Kami disambut oleh aula dengan sebuah tangga yang membelah di tengahnya, seluruh sudut ruangan dipenuhi dengan ornamen kristal yang indah. Lantai satu dari istana ini bahkan memiliki atap yang tak terjangkau oleh tangga manapun.
“Lewat sini.” Quine memandu lagi.
Entah dia membawa kami kemana, selama ini aku mengira istana raja lebih sederhana, yaitu begitu pintu dibuka maka akan langsung terlihat raja dan singgasananya. Tapi ternyata tidak, kami berbelok sana dan sini sampai akhirnya Quine menghentikkan langkahnya.
Di depan pintu besar yang entah berada di lorong mana, Quine berhenti dan memasang wajah yang serius. Ia melihat ke arahku kemudian bertanya, “Kau yakin ingin memberitahukan raja atas skill yang kau punya?”
“Ini keputusanku.”
Pasrah, Quine kemudian membuka pintu itu.
Apa yang ada di dalam ruangan itu sesuai dengan dugaanku, yaitu raja dan singgasana. Karpet merah di tengah ruangan seolah menjembatani antara aku dan raja yang duduk di atas kursi agungnya. Di pinggir karpet itu, berdirilah prajurit yang memegang tombak yang menaruh perhatian kepada kami.
__ADS_1
Quine berjalan di depan menuju sang raja, aku mengikutinya bersama dengan Nona Rose dan anaknya. Karpet sepanjang 10 meter yang digelar di dalam ruangan seperti jembatan neraka bagiku, karena disekitarku adalah prajuit yang seolah bisa memenggalku kapan saja.
Ketika sampai di hadapan sang raja, Quine berlutut. Aku mengikuti gerakan Quine yang menundukkan kepala, begitu juga dengan Nona Rose dan Hile.
“Kau? Pria yang waktu itu berjumpa denganku, bukan?”
Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari arah depan dimana aku berlutut kepadanya. Suara itu tak asing,yaitu suara putri Lennef. Karena merasa aku yang dimaksud, aku menaikkan kepalaku.
Tapi ketika aku melakukannya, prajurit langsung bersiap di tempat dengan pedangnya yang bisa dicabut kapan saja. Kulihat raja juga memasang wajah yang kesal kepadaku, kemudian mengatakan, “Beran-beraninya kau mengangkat kepala sebelum kuperintah!”
Astaga aku sangat takut. Raja terlihat seperti raksasa dengan otot kekar dan kumis panjangnya.
“Tak apa ayah, aku mengenalnya. Semua prajurit, jangan mengancamnya. Aku mengizinkan orang ini untuk mengangkat kepala.” Putri Lennef kemudian membelaku dengan mengatakan hal itu.
Masih dengan berlutut, hanya aku dari kami berempat yang mengangkat kepala.
Ada tiga singgasana di depanku, yang tengah adalah kursi raja, kiri adalah putrinya yaitu putri Lennef, dan kursi kanan adalah milik ratu yang terlihat masih sangat muda. Putri Lennef turun dari singgasana dan mendekat kepadaku.
Tepat di depanku, putri Lennef mengangkat wajahku dengan kedua tangannya. Dalam jarak yang sedekat ini, aku mencium aroma putri yang sangat harum, wajah cantiknya bahkan terlihat jelas dengan rambut pirang kuningnya itu.
“Kau sungguh baik-baik saja kan? Aku ingat kau dilempar oleh salah satu prajuritku, apa kau terluka?” Putri Lennef sungguh sangat khawatir denganku, terlihat dari wajahnya.
“Y-Ya.. aku baik-baik saja. Anda tak perlu khawatir.”
“Sudah, sudah! Lennef, kembalilah ke kursimu! Kita akan mendengarkan laporan dari Ksatria Quine mengenai ancaman baru ini. Apa jangan-jangan dia orangnya?”
Quine menjawab, “Yang Mulia, ini sedikit sulit untuk-”
“Oh, kalian semua boleh mengangkat kepala!” izin dari raja.
Quine, Hile, dan Nona Rose mengangkat kepala mereka. Barulah Quine melanjutkan, “Yang Mulia, aktivitas sihir yang terjadi di kota pagi tadi hanyalah sebuah kesalahpahaman. Sepertinya itu hanyalah kesalahan deteksi dari pasukan kerajaan, dan tak pernah ada orang yang menggunakan sihir kakak.”
Laporan itu adalah kebohongan.
Aku, dan Nona Rose saling bertatap heran ketika mendengar laporan palsu dari Quine. Aku tak mengerti kenapa ksatria terhormat sepertinya berani berbohong kepada sang raja. Semua perkatan Quine diucapkan rapih seperti bukan sebuah kebohongan.
“Bagaimana dengan 3 orang yang kau bawa itu?” tanya raja.
“Mereka adalah saksi, Yang Mulia.” Lagi-lagi kebohongan yang diucapkan oleh Quine.
Mendengar jawaban itu, Raja turun dari singgsananya. Ia berjalan menghampiri Quine dengan langkah gagah dan penuh aura yang menekan. Di depan Quine yang berlutut, Raja mengatakan, “Kalau memang tak ada apa-apa, kenapa bisa ada saksi?”
Oh, tidak. Masuk akal kalau tak ada kejadian, maka tak ada saksi. Keberadaan kami disini seperti sebuah kesalahan bagi kebohongan Quine. Bagaimana nasib Quine sekarang ini, aku sangat khawatir. Apalagi Raja begitu marah ketika menyadari kebohongan ini.
“Ksatria Quine von Harold, apakah kau berbohong kepadaku?” raja bertanya kepada Quine.
Quine tak menjawabnya, badannya gemetar dan keringatnya bercucuran. Pikirannya pasti kosong karena saking takutnya.
“T-Tidak.. saya tidak sedang berbohong.”
“Kau meledekku, Ksatria Quine? Apa kau mencoba melawan kerajaan?” raja semakin menekan.
“Tidak, anda salah! Sungguh, atas nama Ksatria, saya jujur atas perkataan saya!” Quine kemudian dengan beraninya berdiri, dia menatap mata raja dan mengumumkan hal itu.
Padahal itu hanya sebuah kebohongan, dan dia mempertaruhkan harga dirinya sebagai ksatria? Sebenarnya apa yang Quine pikirkan?
“Begitu.. kalau begitu aku mengaku salah karena menuduhmu. Tapi sepertinya kau lupa dengan skill yang kumiliki, yaitu skill yang bisa memerintah orang secara mutlak.”
Dan Quine kembali membatu untuk yang kedua kalinya.
“Ksatria Kerajaan Quine von Harold, dengan ini kuperintahkan kau untuk mengakui kebohonganmu!” raja mengaktifkan skill miliknya.
Astaga, selesai sudah hidup Quine.
__ADS_1
“A-Aku mengakui.. kebohonganku.”