Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 6


__ADS_3

Aku dengan keberanian penuh menghadap Raja dan berbicara empat mata dengannya. Di ruangan khusus yang Raja sediakan, dimana jendelanya tertutup rapat tetapi cahaya matahari masuk dengan mudahnya. Seorang pelayan perempuan berdiri di dekatku, menunggu perintah dari kami.


“Pembicaraan penting apa yang menyangkut di kepalamu? Apa ini masalah Lennef yang memelukmu ketika tidur? Sudahlah, dia memang seperti itu sejak kecil.” Raja memulai pembicaraan dengan membahas hal yang nyatanya tak sebanding dengan apa yang ingin kubahas.


“Tidak, bukan begitu, ini adalah sesuatu yang lebih penting,” sambil mendengarkanku bicara, Raja memasukkan beberapa blok gula ke cangkir teh yang pelayan siapkan beberapa menit yang lalu. “Ini tentang gunung es abadi. Lennef tak cerita banyak, apa anda tahu sesuatu tentang gunung itu?”


“Oh, tentu. Kerajaan ini, Kerajaan Raverine, melakukan penambangan di gunung itu. Meskipun sekarang sudah tidak lagi..”


“Penambangan?”


“Ya, setahun yang lalu, sekelompok petualang menemukan bongkahan emas sebesar buah apel di longsoran gunung itu. Mereka melaporkannya ke kerajaan dan kami mengisolasinya.” Raja menggantung kalimatnya dengan meminum tehnya.


“Kenapa harus diisolasi?” tanyaku penasaran.


“Ini masalah kepentingan,.. dan hukum. Banyak orang yang tertarik dengan tambang emas itu dan menambang disana. Aku bukannya melarang mereka untuk menjadi kaya, tetapi daerah itu sangat berbahaya karena sering longsor. Bahkan sampai sekarang aku tak berani menyuruh orangku untuk mencari bongkahan disana, tetapi tetap saja ada orang bodoh yang menambang disana.”


“Begitu.. jadi gunung itu tambang emas?”


“Ya, tambang emas kematian.” Raja menatap tajam kepadaku, kemudian bertanya, “Kenapa kau tertarik dengan hal ini? Jangan bilang kau juga ingin menambang disana?”


“Tidak, tentu tidak! Hanya saja, aku bukan orang yang tahan dingin. Lennef bilang dahulu gunung itu tak membuat kota dingin kan? Lalu kenapa sekarang setiap malam aku merasa kedinginan?”


“Hmm.. memang benar udara dingin mulai terjadi sejak setahun yang lalu, bertepatan dengan ditemukannya emas itu.”


“Yang Mulia, disitulah masalahnya, aku ragu ini hanyalah sebuah kebetulan belaka. Bisakah saya menyelidiki gunung itu?”


Raja terkejut, begitu juga dengan pelayan yang dengan setia menunggu perintah dari kami. Tak mengerti apa yang kubicarakan, Raja menaikkan alisnya. “Untuk apa? Apa yang akan kau lakukan disana?”


“Kalau bisa aku ingin mengembalikan kondisi gunung itu.. kalau memang memungkinkan. Bagaimana?”


Raja berpikir sejenak. Apa yang akan kulakukan tentunya tak akan menguntungkan kerajaan, tapi merugikan juga tidak. Tapi jujur, aku tak sudi bila menghabiskan musim semiku dengan berdingin-dingin di dalam selimut.


Yang raja pikirkan saat ini adalah keselamatan tunangan anaknya, “Bagaimana caramu pergi kesana? Perbatasan Timur memang tak jauh, tapi lereng gunung itu sering longsor.”


“Apa anda lupa? Saya punya skill Dimension Teleport, berpindah ke atas gunung itu bukanlah hal yang sulit.” Kataku.


Raja menggaruk kepalanya karena menanggapi keras kepalanya diriku. “Ya sudah, kalau memang itu maumu.”


“Terima kasih, saya akan berangkat sekarang.”


“Tunggu, tunggu! Sebelum itu, sentuhlah aku terlebih dahulu!” tawar raja kepadaku.


Aku yang ingin langsung berpindah ke Perbatasan Timur jelas merasa terkejut dengan tawaran emas oleh raja. Quine menceritakan betapa kuatnya raja, dan dia menawarkan kekuatannya padaku? “Apa anda mengerti apa yang anda bicarakan?”


“Tentu. Aku punya sihir bernama Resurrection, gunakan itu untuk membangkitkan mayat yang kau temukan.” Raja mengatakan itu sambil menjulurkan tangannya.


Aku dengan sedikit keraguan pun menerima tangan itu.


Dan tentu saja, kekuatan raja mengalir di dalam darahku.


***


Ekspedisi penyelidikan gunung es abadi pun dimulai. Misi utamaku adalah untuk mencari sumber hawa dingin yang membuat kota menjadi sejuk, tapi itu menjadi misi sampingan ketika raja memerintahkanku untuk mencari orang yang hilang.


Menurut data, ada lebih dari seratus orang yang mati tertimbun longsoran salju dan mayatnya tak bisa ditemukan. Tetapi karena salju, seharusnya mayat mereka awet, itulah mengapa raja memerintahkanku untuk mencarinya. Sihir Resurrection tidak bisa digunakan untuk mayat yang sudah membusuk.


Dengan Dimension Teleport, aku berpindah dari ruangan pribadi raja langsung ke sebuah gua yang terletak di gunung es. Skill ini memungkinkanku untuk pergi ke tempat yang ingin kutuju, bukan hanya ke tempat yang pernah kulihat. Jadi meskipun aku pergi ke dimensi nol sekalipun, skill ini akan tetap menyanggupinya.


Tanpa persiapan apapun, syal ataupun sarung tangan tebal, aku dengan bodohnya menapakkan kaki di dalam gua. Udara dingin langsung terasa menusuk ke setiap sel tubuhku. Tanganku yang menggigil langsung kurapatkan ke dadaku. Cahaya matahari yang menghangatkan muka gua tampaknya tak cukup hangat untuk membuat suhu tubuh orang menjadi normal.


Pemandangan diluar gua, aku bisa melihat jurang yang kemiringannya minus. Tinggi gua ke permukaan tanah juga tak main-main. Mungkin kalau aku memanjat gunung ini 10 meter ke atas, aku sudah bisa menggapai awan.

__ADS_1


“.. d-d-di-dingin..” aku mengutuk kebodohanku sendiri, untuk orang yang sangat membenci dingin sepertiku, es ini bahkan lebih buruk daripada api. “Zero Distance.” Aku menggunakan sihir barusan untuk mengambil gelondong kayu. Zero Distance memungkinkanku untuk menarik sebuah benda secara instan langsung ke tanganku. “Fire Ball.” Dan dengan Fire Ball, aku menembak ujung kayu itu dengan api yang menggumpal. Kayu itu pun berubah menjadi obor.


Berharap dengan sebatang obor itu, aku bisa sedikit lebih tenang.


“Tapi.. harus dimulai darimana pencariannya?”


Aku kehabisan akal. Udara dingin, bentuk gunung yang curam, dan salju yang menumpuk di permukaannya. Bagaimanapun mencari orang diantara tumpukan salju adalah hal yang mustahil.


Aku memutuskan untuk masuk lebih jauh ke dalam gua, daripada berlama-lama diluar kupikir akan lebih hangat jika masuk ke dalam.


Sesuai dugaan, gua benar-benar gelap. Matahari tepat berada di atas, jadi cahayanya menukik ke bawah dan tak masuk ke dalam gua. Memang benar, beberapa langkah ke dalam lama-lama menjadi semakin hangat. Meskipun terkadang aku masih menendang salju diantara tanah yang kupijak.


Aku beruntung karena gua ini tak semakin menyempit di dalam, kepalaku tak membentur langit, dan juga tak ada batuan menonjol. Daripada disebut gua, ini lebih tepat jika disebut pintu masuk.


Tak sadar aku sudah berbelok beberapa kali, ujung gua yang terang pun sudah tak terlihat. Aku tak peduli dan tetap melanjutkan perjalanan, karena di tempat aku berdiri sekarang tanahnya benar-benar kering dan suhunya sangat hangat.


Hingga lama-kelamaan, aku bertemu dengan sebuah spot yang memiliki sedikit cahaya. Tepat setelah aku berbelok yang kesekian kalinya, ada tempat di dalam gua yang tampak seperti ruangan namun memiliki cahaya yang cukup terang.


Aku menuju ke ruangan itu dan mencari tahu darimana cahaya itu berasal.


Ternyata, cahaya itu berasal dari dinding gua yang membekaskan sebuah pantulan. Tidak. Sepertinya itu berasal dari benda bercahaya yang dilapisi oleh dinding salju, cahayanya menembus dan  membuat ruangan menjadi terang.


Aku yang penasaran dengan cahaya itu spontan menancapkan oborku dan mulai menggali ke dalam dinding. Tak dalam, benda itu hanya dilapisi beberapa salju lembut saja.


Sampai aku menyentuh permukaan benda itu, yang ternyata kerasa seperti kaca. Bentuknya lebih besar dari dugaanku, mungkin kira-kira dua meter untuk panjangnya. Aku menarik benda bercahaya itu keluar dari dalam dinding.


“Apa-apaan ini?” tanyaku heran.


Ketika dikeluarkan, benda itu nampak seperti sebuah kapsul. Kapsul yang sepertinya melindungi sesuatu di dalamnya. Seluruh permukaannya bercahaya, tapi aku harus memastikan apa yang ada di dalamnya.


Aku melihat lebih dekat ke dalam kapsul itu, yang ternyata transparan.


Panik, aku langsung memukul kapsulnya sampai hancur. Butuh beberapa waktu untuk melakukannya, tapi syukurlah karena kapsul itu bukanlah baja yang mustahil kuhancurkan


“Bagaimana bisa dia ada di dalam sini?” aku mengangkat gadis itu keluar dari dalam kapsul.


Dan tak sadar, aku sudah menyentuhnya.


Tanganku merinding dan jantungku seolah berhenti berdetak ketika kekuatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya tersalin dari tubuh sang gadis. Kekuatan ini bahkan tak selevel dengan Raja ataupun Ksatria, ini jauh di atas mereka.


Tidak, bukan saatnya memikirkan kekuatan.


Ketika kukeluarkan, si gadis ini rupanya telanjang. Itu membuatku sulit untuk menyentuhnya, terlebih perwujudannya mirip seperti Lenenf yang masih remaja. Rambutnya putih bersih persis seperti salju, dan wajahnya sangat imut. Aku melepas jaketku untuk menutupinya dan menaruhnya dalam posisi terduduk.


“Oh, iya, aku harus membangkitkannya.” Aku mengatakan itu meskipun sadar bahwa orang ini jelas tak mati karena tertimbun. “Resurrection.”


Aku mengaktifkan sihir yang kusalin dari Raja Loiros. Tampaknya, konsumsi mana untuk sihir ini sangatlah besar. Aku harus mengikis mana lebih dari sejuta untuk skill ini.


Eh? Tunggu? Darimana aku mendapatkan mana sebanyak ini? Seingatku jumlahnya tak sebesar ini sebelumnya, bahkan ketika aku menyentuh Raja Loiros, kalkulasi mana-ku berada di sekitaran 300.000.


Dan kini sudah mencapai sejuta lebih?


Apa ini kekuatan si gadis?


Tidak, bukan hanya mana. Ada terlalu banyak sihir dan skill yang kudapatkan. Gadis ini, dia bukan orang biasa.


Ketika aku memikirkan itu, tak sadar si gadis sudah menerima efek Resurrection. Dia perlahan-lahan membuka matanya dan mulai merintih ngilu.


Aku mengamatinya dari dekat, gadis itu mula-mulai melihat ke sekitar ruangan, barulah dia menaruh perhatian padaku yang duduk di depannya. “.. kau.. siapa?” tanya si gadis. Aku heran, meskipun tubuhnya kecil ia memiliki nada bicara layaknya orang dewasa.


“Aku Meffery Walter. Kau tadi terbungkus di kapsul ini, dan mati. Aku baru saja membangkitkanmu dengan sihirku. Apa kau baik-baik saja, nak?” tanyaku ramah, kemudian aku menunjuk ke kapsul yang baru saja kuhancurkan dengan tangan kosong.

__ADS_1


“Oh.. segelnya hancur, begitu, berarti orang itu sudah mati.” Kemudian, gadis itu berdiri dan membiarkan jaketku terjatuh. Aku segera memutar badan ketika ia memperlihatkan seluruh tubuh telanjangnya, “Dan juga, siapa yang kau panggil ‘nak’? Apa kau—” ia menghentikkan kalimatnya.


“Ada apa?”


“Apa kau barusan membangkitkanku dengan sihirmu?” tanyanya dengan nada yang sadis..


“.. begitulah.”


“Oh..” Aku mendengar suara dentingan halus dari es yang membeku, suara itu muncul dari tempat dimana si gadis berdiri. Karena penasaran, aku menoleh. Rupanya suara itu berasal dari dia yang sedang membuat gaun dari es, yang kemudian berubah menjadi kain berwarna biru muda. Gaun yang ia buat, mau dilihat bagaimanapun itu terlalu minim, kainnya hanya menutupi area terlarangnya saja sedangkan selebihnya terbuka lebar.  “Untuk seorang manusia, boleh juga kapasitas sihirmu.”


“Ya.. ada beberapa kesalahan. Aku memiliki skill yang bisa menyalin kemampuan seseorang dengan hanya menyentuhnya. Dan.. sepertinya aku membangkitkanmu dengan mana-mu yang kusalin.” Ucapku canggung sambil menggaruk kepala.


Si gadis membuang mukanya, dia terus saja memperhatikan ruangan sekitar yang sebenarnya kosong tanpa ada apapun. Aku bingung kenapa dia begitu serius mengamati ruangan yang hanya dikelilingi oleh es ini.


Beberapa saat kemudian, si gadis mulai terdiam, badannya gemetar dan kepalanya menunduk tajam ke bawah, “Kau baik-baik saja?” aku menanyakan itu.


Tubuh si gadis roboh ke arahku, dia kehilangan keseimbangan dan hampir saja menabrak dinding. “Hei, kau tak apa-apa?” dia seperti hampir pingsan, wajahnya pucat dan napasnya berat. Aku menopang tubuhnya dengan tanganku. “.. astaga, kau kenapa?”


“.. aku.. aku kekurangan mana. Aku butuh.. energi..”


“Celaka, aku tak punya sihir untuk mentransfer mana. Sebentar, biar kusembuhkan kau dengan Cure Heal.”


Dan, kecelakaan terjadi pada saat itu.


Aku yang awalnya panik berubah menjadi orang bodoh, ketika bibir yang mungil mendadak menempel di bibirku. Entah apa yang terjadi, si gadis menarik kerah bajuku dan menciumku begitu saja. Tubuhku melemas seketika.


Tapi ciuman ini memang sedikit mengganggu. Dia menggerakan lidahnya dengan sangat handal, tangannya memeluk kepalaku sampai aku tak bisa bergerak. Dia menikmati setiap detik dari ciuman ini seperti sedang menyantap hidangan lezat.


Sampai beberapa menit berlalu, tak ada lagi suara erotis yang muncul dari bercakan lidah kami. Ia menarik bibirnya yang penuh akan liur, dan dia membersihkan liur itu dengan menjilat melingkar di bibirnya.


“.. apa yang barusan kau lakukan?” tanyaku gugup setengah mati.


“Kita sudah 5 menit melakukannya, dan kau masih bertanya?”


“I-Itu karena aku tak bisa bergerak! Mana mungkin aku menikmati ciuman segila itu.” Bantahku dengan wajah yang memerah. Tidak, itu hanya kebohongan, sejujunya ia sangat ahli dalam mencium.


“Terserah kau saja. Tapi karena sudah menyelamatkan hidupku, kuucapkan terima kasih.” Gadis itu tersenyum padaku dengan tulus. “Benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Florinas, Peri Es sekaligus ratu dari para peri.” Dia mengucapkannya dengan nada dewasanya yang khas, seolah ciuman barusan tak berarti apa-apa baginya.


“Peri Es?”


“Ya, aku tersegel disini selama ribuan tahun kuyakin. Orang yang menyegelku, dia pasti sudah mati, karena itulah kau bisa menghancurkan segelnya dengan mudah.”


“.. aku lebih penasaran dengan ciuman tadi.”


“Oh, itu tadi adalah caraku untuk mengambil sedikit mana-mu. Selama ribuan tahun tersegel, sepertinya energi sihirku menjadi tidak terkontrol dan kasusnya seperti tadi, mana-ku bocor untuk sementara.” Jelasnya.


“Jadi.. bisa dibilang kau terluka?”


“Tidak, lupakan saja. Aku sudah baik sekarang. Tapi..” dia kembali memandangku, matanya seperti orang mesum dengan mulutnya yang tersenyum licik. Aku merinding ketika dia menjilat bibirnya sambil menyentuh pipiku, “Mana yang kau punya.. rasanya sungguh enak. Ah.. ah.. aku mau lagi. Aku tak puas dengan 5 menit.” Dia membisikkan kalimat itu, kemudian menjilat telingaku.


“Hentikan!” aku mendorong wajahnya hingga menjauh. “Yang lebih penting, kenapa ras peri bisa tersegel disini? Apa jangan-jangan kau yang membuat kotaku kedinginan?”


“Kenapa aku bisa tersegel? Tentu saja karena Perang Besar. Apa kau tak tahu tentang Perang Besar? Seharusnya sejarah itu tak terlupakan di dunia ini.”


“Perang Besar? Maaf.. bisakah kau menjelaskannya?” tanyaku memastikan, mana mungkin aku tahu sejarah dunia ini kalau ingatan tentang masa kecilku saja tidak ada.


“Sesuai namanya, itu perang yang sangat kacau. Makhluk sepertiku dan para utusan langit, semuanya berperang melawan ras iblis.. bersama kalian para manusia. Kalau tak salah, Ksatria yang dikendalikan oleh saudariku berhasil membuatku tersegel disini. Aku lupa nama saudariku..”


“Tunggu, tunggu! Kalian melawan kami para manusia? Manusia.. manusia macam apa yang dijadikan lawan itu?” aku bertanya lagi.


Peri menjawab, “Seseorang dengan sebutan Raja Penyihir, makhluk terkuat sepanjang sejarah.”

__ADS_1


__ADS_2