Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 8


__ADS_3

“Hah? Putri Lennef bertunangan?!” Kaisar Valarish melontarkan pertanyaan kesal ketika kabar itu sampai ke telinganya. Saking kesalnya ia meremas gelas anggur yang ia pegang, sampai-sampai gelas yang terbuat dari emas itu berubah bentuknya menjadi seperti sampah.


“Ya, nama tunangannya adalah Meffery Walter. Sepertinya Raja Loiros menjodohkan mereka karena sebuah ramalan.” Tambah Marquis Daralo yang juga merupakan kenalan dekat Kaisar Valarish.


Wajah Kaisar Valarish berubah menjadi sangat menyeramkan, giginya dirapatkan dan tangannya dikepal hingga ototnya terlihat jelas. Daralo yang biasanya menganggap Valarish sebagai teman justru merasa ketakutan dan mengerti betul bahwa Valarish adalah kaisar yang sesungguhnya.


“Meffery Walter, aku tak pernah mendengar namanya selama ini. Memangnya siapa dia?” tanya Valarish sekali lagi.


“Saya pun tak tahu, tak ada informasi lebih jauh mengenai dirinya. Tetapi.. ada salah satu informan kita yang mengatakan bahwa Meffery Walter adalah gelandangan.” Ungkap Daralo jujur.


Kaisar Valarish kemudian tertawa mendengar hal itu. Tawanya sungguh keras, menggema dan sampai membuat ruangan pribadinya penuh dengan hanya suara yang menggelitik. Tapi setelah itu, Valarish menendang meja yang ada di depannya. Meja itu melayang, menabrak dinding dan tentu saja hancur lebur beserta dengan sajian anggur yang ada di atasnya.


“Jangan bercanda! Apanya yang bertunangan dengan gelandangan, Loiros sialan itu apa otaknya sudah tak waras?!!” Valarish mendendam.


Kaisar Valarish adalah pemimpin dari Kekaisaran Nasaroth yang terkenal dengan kekuatan militernya yang gila. Valarish sendiri terkenal sebagai orang yang kejam, tetapi juga dianggap sebagai seorang revolusioner. Itu terjadi ketika dia mulai menetapkan regulasi yang mengharuskan para pria memiliki daya tempur tinggi, tak peduli apakah mereka prajurit ataupun rakyat biasa.


Bisa dibilang, itu bukanlah kekaisaran yang menarik untuk ditinggali. Warganya terkenal kuat, berotot, dan menentukan semuanya dengan fisik. Valarish-lah yang semata-mata membuat warganya menjadi seperti ini. Ia menganggap itu sebagai suatu kejayaan.


Namun di balik itu, Kaisar Valarish yang merupakan seorang yatim piatu mulai tertarik kepada gadis keturunan Raja Loiros dan Ratu Andervine, yaitu Putri Lennef Juliester. Berkebalikan dengan sifat Valarish, Lennef justru dikenal sebagai perempuan yang cinta damai, dan menentang segala bentuk perselisihan.


Yang pasti ada hal selain sifat Lennef yang membuat Kaisar Valarish jatuh cinta padanya.


Di tengah kekesalannya terhadap pertunangan Lennef, Kaisar Valarish melimpahkan kekesalan itu kepada Daralo. Valarish mencekik Daralo dan mengangkatnya hingga Marquis berambut licin itu tak lagi menapak tanah.  “Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Aku seharusnya bisa menggagalkan pertunangan itu kalau kau memberitahukannya lebih awal.”


Sambil menahan rasa ingin muntah karena dicekik, Daralo mengungkapkan, “Mereka tak mengumumkan perencanaan pertunangan, mereka langsung melaksanakan pertunangan 4 jam setelah rencananya dibuat.”


Valarish tak bisa membantah itu. 4 jam bukanlah durasi yang membuatnya bisa mengetahui informasi dari kerajaan seberang dengan mudah. Kesal, Valarish melempar Daralo ke lantai.


“Tapi, Yang Mulia, kalau kau ingin melakukan sedikit perlawanan.. festival mungkin jawabannya.”


“Festival?”


“Ya, ini adalah informasi yang masih sangat segar. Kerajaan itu berencana melakukan festival pertunangan di ibukota. Bagaimana kalau kita—”


“Kita kacaukan, tentu saja! Ayo, segera bantu aku mengumpulkan pasukan. Prajurit, ksatria, atau petualang sekalipun aku tak peduli, aku ingin pasukan dalam jumlah besar.” Valarish berjalan keluar dari ruangannya diikuti dengan Daralo yang mengusap bokongnya karena kesakitan.


“Tetapi itu sama saja dengan menyatakan perang kepada Kerajaan Raverine, anda yakin?”


Valarish menghentikkan langkahnya kemudian menatap kepada Daralo. Daralo pikir ia telah menyinggung tuannya, yang bisa ia lakukan hanyalah diam merinding sambil menelan ludah. Kemudian Valarish dengan tatapan jahatnya mengatakan, “Benar apa yang kau bilang, ini perang. Tapi perangnya baru akan dimulai setelah aku membunuh Ratu.” Valarish tersenyum.


Untuk yang kedua kalinya, Marquis Daralo merasa ketakutan.


Ada sesuatu yang harus diingat disini, bahwa Daralo tak mungkin mengumpulkan pasukan seperti yang Valarish katakan. Daralo tahu betul apa-apa saja yang kemungkinan dirusak oleh pemimpinnya, karena itu Daralo memilih untuk tidak menyebabkan perang dengan Raverine.


Dirinya memang tidak menyiapkan pasukan yang banyak, tapi ia menyiapkan sesuatu yang lain.


***


“Omong-omong Master, berapa jumlah mana yang kau punya?” tanya Florinas tiba-tiba.


Saat itu aku berjalan-jalan di tengah kota untuk melihat persiapan festival yang akan diadakan. Dari reaksi penduduk, aku rasa mereka masih belum tahu bahwa aku adalah tokoh utama dalam festival ini. Tapi ya sudah, justru lebih baik begitu.


“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Dan juga, jangan memanggilku Master.”


“Bukankah bagus? Sekarang kau memiliki pelayan berupa peri legendaris yang sangat cantik.” Hile menengahi.


Setelah tinggal di istana, Hile mulai mengenakan pakaian berenda yang cocok dengan badan mungilnya. Ia seperti boneka yang berjalan, terlebih dengan ekspresi datarnya itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Florinas. Aku memarahinya habis-habisan karena tak mau merubah gaya penampilannya yang tak senonoh. Mulai sekarang dia akan menggunakan pakaian yang lebih sopan. Gaun dengan rok pendek yang sederhana dipilih oleh Florinas ketika melihat isi lemari kerajaan.


Tapi perhatianku tidak tertuju pada pakaian itu, melainkan kepada sikap menyebalkannya yaitu keangkuhannya untuk tidak berjalan di tanah. Dengan alasan berjalan itu melelahkan, ia tak peduli kalau kita bertiga menjadi pusat perhatian hanya karena ada satu diantara kami yang terbang.


“Master, kau tak menjawab pertanyaanku?”


Ya, dan satu lagi, ia selalu membantah ketika kusuruh untuk tak memanggilku Master.


“Ketika menyentuh Raja Loiros, mana-ku sekitar 340.000-an, dan darimu aku mendapatkan kurang lebih sekitar 1.227.000. Pokoknya jumlah bersih keseluruhannya adalah 1.573.228. Memangnya kenapa?” tanyaku.


“Tidak, aku hanya penasaran kenapa Master bisa mengeluarkan sihir sehebat saat melawan Ice Dragon meskipun mana itu baru digunakan untuk membangkitkanku, dan apalagi mana itu sudah kuhisap dalam jumlah banyak.” Tutur Florinas.


“Apakah semembingungkan itu?”


“Ya. Untuk membangkitkanku kau memerlukan mana 1.500.000. Dan saat kita ciuman, aku menyerap mana-mu sebesar 100.000 setiap menitnya. Hanya dari data itu seharusnya mana Master sudah terkuras habis, tapi nyatanya tidak. Seolah-olah mana Master menolak untuk berkurang.”


Menolak untuk berkurang? Dalam artian lain itu sama saja tak terbatas, kan?


Aku tak memiliki skill atau sihir yang membuat mana-ku menjadi tidak terbatas. Malahan awalnya aku mengira bahwa memang seperti itulah kerja mana. Kupikir dengan hanya beristirahat sebentar maka mana akan terisi kembali secara penuh.


Kesampingkan masalah kekuatanku atau apalah, aku lebih senang jika berfokus ke festival ini.


Hile yang berjalan berdampingan denganku mulai memperlambat langkahnya ketika ia melihat sebuah gerai perhiasan yang terletak di pinggir jalan. Gerai itu menjual macam-macam aksesoris, seperti kalung dan bros.


“Kau mau itu?” tanyaku pada Hile.


Sadar bahwa aku memperhatikannya, Hile menjadi malu. “M-Mana mungkin! Aku tak menginginkan benda itu, lagipula untuk apa? Lebih baik kita lanjutkan saja!” berbohong pun percuma, nada bicara Hile justru mengungkapkan bahwa dia tertarik membelinya.


“Kalau begitu aku akan membelikannya untuk Florinas saja.” Ledekku pada Hile. Sesuai dugaanku, Hile merasa cemburu ketika keinginannya justru dikabulkan untuk orang lain. Meskipu begitu, Hile tetap bersikeras dan tak mau jujur.


Kami bertiga mendatangi gerai tersebut, yang ternyata dijaga oleh nenek tua yang tampak ramah. Ia menyambut kami dan mempersilahkan kami melihat-lihat. Florinas dengan gembira memilih, sedangkan Hile yang tak mau ketahuan hanya bisa melirik.


“Sebaiknya kalung saja.”


“Hah? Masa aku tidak boleh memilih? Ayolah! Master, kumohon!” Florinas merengek seperti anak kecil, ia menarik-narik lengan bajuku dan itu membuat kami ditertawakan oleh nenek penjaga gerai.


Aku membiarkan Florinas tetap dalam rengekannya, hingga kulihat Hile memaku pandangannya pada satu jepit rambut berbentuk bunga. Jelas terlihat bahwa itulah yang Hile inginkan, padahal kukira dia menginginkan sesuatu yang lebih istimewa seperti kalung atau gelang.


Aku mengambil jepit rambut itu, “Kau menginginkan ini, kan? Biar aku yang membelinya.” Hile panik, dan malu disaat bersamaan. “Berapa harga yang ini?” tanyaku pada si nenek. Untuk jepit rambut ini, aku mengeluarkan empat koin perunggu, sungguh harga yang sangat murah.


“T-Terima kasih..” Hile menerima pemberian dariku dengan wajah yang memerah.


“Master, bagaimana dengan cincinku?” Florinas tak lupa dengan keinginannya.


Karena aku tak mau ia membawa rengekan ini sepanjang perjalanan, aku dengan sedikit terpaksa mengambil cincin itu untuk dibeli. “Cincin ini, berapa harganya?”


“Untuk cincin itu aku tak akan berbohong, harganya 3 koin emas. Kau lihat ‘kan ada berlian di ukiran es itu?”


3 koin emas? Itu terlalu mahal hanya untuk sebuah cincin. Kalau cincin pernikahan sih tak masalah, ini kan hanya untuk hadiah?


Florinas menatapku dengan penuh harap, dia bahkan tidak peduli apakah aku kesulitan atau tidak. Sekali lagi dengan terpaksa, aku mengeluarkan 3 koin emas dari kantung dan memberikannya pada si nenek.


Beruntung Raja Loiros memberiku ratusan keping emas ketika aku mengatakan ingin berjalan-jalan di persiapan festival, itu memang jumlah yang terlalu banyak, tapi bagi raja kepingan emas hanyalah koleksi tumpukan mainan yang berharga.


“Kalau begitu, pakaiakan cincinnya di jari manisku, Master!” Florinas menunjukkan jari manis tangan kanannya. Aku yang sudah terlalu terpengaruh dengan keinginan keras kepalanya hanya bisa menuruti. Tapi aku senang begitu melihat Florinas tersenyum karena di jari manisnya kini terdapat sebuah cincin.


Kami melanjutkan perjalanan, kedua gadis yang berjalan bersamaku sudah tak lagi peduli dengan apa yang mereka lewati, mereka hanya peduli dengan hiasan baru mereka. Florinas mengelus-ngelus jari manisnya seperti kucing kelaparan, sedangkan Hile terus saja membenarkan posisi dari jepit rambut barunya.

__ADS_1


Meskipun aku membelikan Florinas cincin mahal, tapi Hile sama sekali tak iri. Kebahagiaan yang terpancar di wajahnya sebanding dengan kebahagiaa Florinas. Menurutku, perempuan seperti Hile-lah yang paling banyak diincar lelaki di masa depan.


“Hei, kau tak punya mata?”


“M-Maaf..”


“Apa kau ingin cari masalah denganku?”


Tak jauh dari tempat kami berjalan, ada sekuruman orang yang menghalangi sisi jalan yang lain. Dan dialog tadi terdengar diantara kerumunan yang padat itu. Pasti terjadi masalah, pikirku. Aku segera menerobos masuk ke dalam kerumunan, sedangkan Florinas melihatnya dari atas.


Dan tanpa sadar, aku meninggalkalkan Hile.


Rupanya kerumunan itu sedang melihat penghinaan yang dilakukan oleh tiga orang pria berbadan kekar kepada satu orang kakek tua yang tampak sangat lemah. Di sebelah si kakek terdapat keranjang kayu yang tergeletak di tanah bersamaan dengan apel yang bergelinding.


Tiga orang berbadan besar itu terlihat sangat menakutkan, mereka semua memiliki tato yang sama di dada mereka, yaitu tato dengan simbol kepala singa.


Salah satu dari mereka dengan gilanya memukul si kakek. Tumbukan yang sangat keras menghantam si kakek tepat di wajahnya. Kakek itu terbaring di tanah, lemas, dan tak ada satupun yang menolongnya.


Aku memberanikan diri ke tempat kakek itu berada, dan memberikannya sihir Cure Heal agar lukanya segera sembuh. Meskipun sembuh, kakek itu ternyata tak sadarkan diri. Ya, aku bersyukur dia tidak mati setelah dipukul sekeras itu.


“Hei, apa yang kau lakukan? Ingin bertindak seperti pahlawan?” orang yang memukul si kakek menanyakan itu dengan sombong kepadaku. “Sialan, kau mengabaikanku?”


Aku yang membelakanginya harus menjadi sasaran serangan yang selanjutnya. Ia memukulku tepat di bagian belakang kepala. Yang kali ini bahkan lebih keras daripada pukulan si kakek, suaranya benturannya saja terdengar sangat mirip dengan ledakan.


Tapi sayang sekali, pukulan itu sama sekali tak melukaiku. Poin ketahananku sudah berada di tingkat yang jauh di atasnya, dengan kekuatan dua orang ksatria, satu raja, dan peri legendaris, pukulan seperti itu tak lain hanya sebuah tepukan bagiku.


Sadar bahwa pukulannya tak mempan, ia melanjutkannya dengan melakukan tendangan sabit ke arah yang sama seperti sebelumnya yaitu kepalaku. Kali ini, aku menghentikan tendangan itu dengan hanya satu tangan.


“Apa-apaan?!!”


Dia mundur setelah serangan keduanya gagal juga.


Aku membalikkan badanku, dan melihat mereka bertiga dalam kebingungan yang mendalam. Orang-orang di sekitar mulai ramai mempertanyakan kekuatanku, dan hanya mereka yang tampak takut.


“Karena kau memukulku, kemampuanmu sekarang jadi milikku. Mustahil untukmu seorang diri mengalahkanku.” Kataku.


“Jangan sombong kau!”


Mereka yang merasa terhina maju secara bersamaan. Sebelum siap untuk melakukan tinju, aku menggunakan teknik pamungkas yang sangat berbahaya.


“Teknik Kosong, Soul Wiper.”


Hanya dalam hitungan sepersekian detik, aku memukul dada ketiga orang itu dengan telapak tangan. Soul Wiper adalah teknik pembunuh yang memungkinkan penggunanya untuk mendorong arwah keluar dari tubuh target.


Serangan dariku bahkan berakhir lebih cepat dari kedipan mata. Dan setelahnya, mereka terbaring lemas di tanah karena sudah mati.


Florinas terbang di atas kerumunan, tetapi tak ada satupun orang yang menyadarinya. Mata kami sempat bertemu, kemudian dia mengacungkan jempolnya kepadaku sambil tersenyum.


***


Di luar keramaian, seorang gadis dengan gaun yang cantik mencoba untuk melongok di antara keramaian. Ia berjinjit, mendongakkan kepala, tapi usahanya tak berhasil karena tubuhnya yang terlalu pendek.


Kesal karena tak bisa masuk, gadis bernama Hile itu membual, “Walter kurang ajar, dia meninggalkanku di sini.” Jelas Hile marah, pria yang mengajaknya jalan-jalan meninggalkannya begitu saja.


Kemudian sebuah tepukan terasa di pundak Hile, karena merasa ada yang mencoba memanggilnya Hile pun menoleh, “Ya?” tapi bukannya melihat ada orang yang memanggil, Hile justru dibekap oleh kain yang padat.


Entah siapa yang melakukannya, yang pasti orang itu membungkus kepala Hile dengan karung, membuatnya tak bisa melihat dan tak bisa bersuara.

__ADS_1


Pandangan Hile gelap, mulutnya membisu dan hidungnya pengap. Satu-satunya yang bisa ia rasakan adalah tangannya mulai terikat di sebuah tali tambang yang kuat, dan perlahan-lahan tubuhnya diangkat di atas pundak orang yang tak diketahuinya.


__ADS_2