Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 3


__ADS_3

Di tengah kota yang ramai, dimana tak hanya dilalui oleh manusia tetapi ras lain juga. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari raja, rombongan berkuda yang dipimpin oleh Ksatria Quine melintas diantara keramaian.


Meskipun terburu-buru, Ksatria Quine bukannya kasar terhadap warga yang menghalangi jalannya, ia tetap sabar menunggu sampai ia benar-benar bisa lewat. Karena meski seorang ksatria, Quine von Harold adalah perempuan yang sangat baik hati.


Di umurnya yang baru menginjak 15 tahun, dia sudah berhasil menyandang gelar Ksatria Kerajaan sama seperti kakak laki-lakinya, Thomas von Neressy.


Siang itu, rombongan Quine melintas diantara bangunan kota dengan dikawal oleh prajurit khusus kerajaan. Mereka bergerak berformasi menggunakan kuda. Berkendara di sebelah Quine, yaitu ahli sihir yang terus-menerus melacak target mereka.


Tepat beberapa menit yang lalu, aktivasi sihir yang aneh muncul di kota bagian barat. Kerajaan dikejutkan oleh laporan dari seorang pengawas yang mengatakan bahwa Tuan Neressy melepas mana-nya. Quine yang mendengar laporan itu seketika terkejut, karena melepas mana artinya orang itu sudah mati. Dan yang lebih membuat terkejut, lima belas menit setelah laporan itu dibacakan, sang kakak kembali ke kerajaan dengan kondisi yang baik-baik saja.


Jelas hal ini menjadi tanda tanya besar bagi para anggota kerajaan.


Dan atas perintah resmi dari raja, Quine langsung mengecek tempat kejadian.


“Nona Quine berhenti!” teriak ahli sihir yang mengendarai kuda berdampingan dengan Quine.


Seketika, Quine menarik kudanya dan membuat rombongannya berhenti, “Ada apa?” tanya Quine.


“Objek itu.. objek yang kita kira adalah Tuan Neressy, entah kenapa tiba-tiba berpindah ke akademi sihir.” Jelas ahli sihir itu.


Di tengah kecurigaannya, Quine masih sempat berpikir. Bagaimana bisa perpindahan itu terjadi tiba-tiba? Padahal ahli sihir itu melacak objeknya tanpa jeda. “Apa mungkin, dia menggunakan kemampuan teleportasi?”


“Entahlah.. saya tak bisa memastikan itu.”


“Dimension Teleport, itu skill milik kakak. Bagaimana bisa?” Quine pusing tak karuan. Dalam hati kecilnya ia berharap kalau ini hanyalah candaan dari sang kakak. Tapi menggunakan Dimension Teleport itu sangat gila efeknya. Penggunanya mampu berpindah ke manapun yang ia mau, bahkan masuk dan keluar istana dengan mudah.


Skill milik Quine sendiri adalah Booster, dimana dia bisa meningkatkan kemampuan fisiknya di atas batas manusia. Rekor terbaik dari skill itu, Quine mampu membuat tubuhnya bergerak secepat cahaya meskipun dia kehilangan kesadaran setelahnya.


“Kita menuju akademi sihir! Semuanya, kita berangkat!”


***


Nona Rose membawaku dan Hile menuju ke lapangan terbuka. Disini sepi, tapi aku bisa melihat keseluruhan gedung akademi dari halaman belakang ini. Lapangan dipenuhi dengan rumput hijau yang terawat, juga tak jauh dari sini ada dinding tinggi yang membatasi antara akademi dan jalan terbuka.


Di depanku, disediakan balok kayu dengan simbol target yang kemungkinan akan menjadi sasaran kemampuanku nanti, jarak antara aku dan target adalah 7 meter.


“Sihir macam apa yang dimiliki Ksatria Neressy?” tanya Nona Rose.


Mungkin wajar bagi seorang pengguna sihir untuk mengetahui sihirnya sendiri. Tepat setelah aku menyentuh ksatria tampan itu, aku langsung tahu kemampuan apa saja yang kumiliki. “3 sihir, dan 2.. tidak, 1 skill.”


“Skill miliknya jelas adalah Dimension Teleport, bagaimana dengan 3 sihir itu,bukankah terlalu sedikit?” Hile menanyakan itu.


Kemudian ibunya menjawab, “Tak semua ksatria adalah ahli sihir, Tuan Neressy sendiri lebih banyak memiliki Teknik.”


“Teknik?” tanya Hile lagi kepada ibunya.


“Teknik adalah suatu yang tak lagi berhubungan dengan sihir ataupun skill, meskipun begitu, bahan bakarnya tetaplah mana. Aku tak menceritakan ini sebelumnya, karena Teknik hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki bakat khusus terhadap senjata yang mereka pegang. Walter, katakan Teknik apa yang dimiliki Tuan Neressy?”


“.. ada banyak sekali, aku tak yakin.”


Nona Rose menghela napas panjang dan mengelus alisnya, “Tentu saja ada banyak, harusnya aku tahu.” Kemudian dia menyuruhku untuk bersiap melakukan serangan kepada target yang sebelumnya disiapkan. Nona Rose dan Hile menyingkir ke tepi lapangan. “Seranglah itu dengan sihir!”


“Aku mengerti.” Jawabku.


Sihir yang kupunya ada 4, Sleeper, Aura Control, Summon Angel, dan Lightning Bolt. Selain Lightning Bolt, aku tak yakin semua sihir itu bisa digunakan untuk menyerang. Aura Control adalah sihir untuk membuat penggunanya mengeluarkan aura sebaik malaikat ataupun seburuk iblis, sedangkan Summon Angel adalah sihir tingkat atas untuk memanggil malaikat.


Jumlah mana-ku sangat tinggi, ini pasti karena Neressy sering melatih kapasitas mana-nya untuk menggunakan Teknik.  94.000 adalah jumlah mana-ku, kalau digunakan untuk Summon Angel, maka aku bisa memanggil 4 malaikat.


Tapi jelas itu bukan opsi, dari awal aku lebih memilih Lightning Bolt yang lebih sederhana.


“Walter, kenapa kau melamun? Cepatlah!” Hile berteriak.


Baiklah, ini dia. Mudah saja, seperti saat menggunakan Sleeper.

__ADS_1


Aku mengangkat tanganku ke arah target, telapak tanganku terbuka, dan aku melihat target diantara sela-sela jariku. Aku memikirkan bagaimana sihir itu aktif, yaitu sihir Lightning Bolt yang membuatku bisa mengeluarkan sambaran petir. Sambil aku terus memikirkannya, lingkaran sihir yang cantik pun muncul.


Awalnya hanya satu yang berada tepat di depanku, tapi lama-lama lingkaran itu seperti beranak. Di depanku bukan hanya ada satu lingkaran sekarang, tapi mungkin sepuluh atau lebih.


Bagaimana ini? Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, jadi kulepaskan saja semuanya. Sayangnya, sihir itu tetap terlancarkan.


Lebih dari sepuluh lingkaran sihir menembakkan sambaran petir dengan kekuatan yang dahsyat menuju ke arah target. Suaranya menggelegar hingga seantero akademi, bekas debu dari tanah yang hancur juga membuat pandanganku buta. Ketika ledakan itu selesai, yang tersisa hanyalah kerusakan berupa galian tanah seperti parit yang panas.


Melihat ledakan itu, Nona Rose tersungkur di lantai, begitu juga anaknya.


“W-Walter.. ini.. padahal ini hanya tes.” Nona Rose seperti kehilangan hidupnya, ketika kabut debu menghilang dan memperlihatkan betapa besarnya lubang dinding di belakang target.


Tak lama, murid-murid yang sedang belajar mengerumuni lapangan. Aku seperti dijadikan bahan tontonan oleh mereka. Ada yang takjub, tapi ada juga yang mengira bahwa itu adalah serangan monster. Yang manapun itu, aku hanya panik tak karuan.


Sihir barusan, ternyata itu sihir yang bisa kukendalikan sendiri kapasitas mana-nya. Kupikir dengan mana-ku yang begitu banyak, mana 3000 adalah jumlah yang kecil, tapi tak kusangka bisa sebesar itu kerusakannya.


***


Quine dan rombongannya sampai di depan gerbang akademi. Penjaga yang berjaga di gerbang meminta agar Quine menunjukkan surat izin baginya agar bisa masuk ke lingkungan akademi. Meskipun ksatria sekalipun, peraturan seperti ini juga bukan pengecualian.


Ketika Quine mengambil surat itu dari tas kecilnya, sebuah ledakan muncul di belakang gedung. Persis seperti kilatan petir, meskipun Quine tak menyadari ledakan itu, matanya seperti membuta seketika.


“Nona Quine! Itu Lightning Bolt milik Tuan Thomas!” ucap ahli sihir yang Quine bawa.


Tidak, itu terlalu gila untuk sebuah Lightning Bolt. Quine yang lebih ahli dalam bidang sihir ketimbang kakaknya juga belum tentu bisa memunculkan sihir sedahsyat itu.


Tanpa berpikir panjang, Quine kembali melanjutkan perjalanannya dengan mengitari gedung. Penjaga yang menunggu surat dari Quine hanya bisa melongo ketika ksatria itu tiba-tiba pergi. Sayangnya, surat itu sebenarnya sudah terjatuh ketika ledakan itu terjadi dan terbang entah kemana.


Sampai di belakang gedung akademi, ada dinding yang sangat tinggi. Rombongannya mungkin tidak bisa masuk. “Aku akan melompati dinding ini, kalian bagi menjadi dua kelompok dan jaga akademi dari arah depan dan belakang.”


“Siap!” jawab seluruh pasukan yang ikut bersama Quine.


Dengan skill Booster, Quine meningkatkan kekuatan kakinya untuk bisa melompati dinding tinggi itu. Umur 15 tahun, dan terlebih Quine adalah perempuan, tentunya ia memiliki badan yang cenderung pendek. Sedangkan tembok itu memiliki tinggi 3 kali dari tinggi badannya, prajurit yang melihat Quine berhasil melompati itu hanya bisa menelan ludah.


Di tengah lapangan yang Quine susupi, ada pemuda dengan gelagat kikuk yang sedang dikerumuni banyak orang. Bahkan tanpa sihir pendeteksi, Quine langsung tahu bahwa energi sihir milik kakaknya ada di dalam tubuh pria itu.


Quine menggunakan Teknik Pedang, Head Slayer, Quine melompat kemudian mengayunkan pedang ke kepala pemuda yang ia kira adalah target.


***


Sampai kejadian itu terjadi, aku yang sedang dikerumuni oleh banyak orang dan dikagumi sana-sini, tiba-tiba diserang oleh sesuatu yang sangat kuat.


Sebuah tebasan pedang yang entah datang darimana, hampir saja membuat kepalaku terbelah dua. Beruntung, aku berhasil menghindar. Tebasannya yang gagal itu kemudian mengarah ke tanah, dan membuat tanah itu terbelah beberapa meter. Bisa dibayangkan bagaimana nasibku kalau tak menghindar.


Barusan itukah yang disebut Teknik? Teknik ada banyak jenisnya, tapi yang barusan itu pasti Teknik Pedang. Aku juga punya banyak Teknik Pedang, yang barusan itu sepertinya Head Slayer.


Yang menebaskan pedang barusan adalah seorang perempuan, dia mengenakan zirah tipis dengan rok pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Wajahnya terlihat tangguh tapi juga anggun, rambutnya dikuncir dan ditata rapi dengan beberapa kepangan.


“Kau berhasil menghindari itu? Kau berhasil menghindari Teknik yang kuperkuat dengan Booster?” tanya perempuan penebas itu.


“Memangnya kenapa? Kau serius ingin membunuhku barusan?”


“Tentu!”


Bahkan tanpa peringatan, untuk yang kedua kalinya ia menyerang. Bukan dengan Teknik, melainkan dengan serangan biasa. Tapi kecepatannya sangat tidak masuk akal. Ia menebas dengan pola yang sangat rumit dan sudut yang sulit, kalau aku tak menyerap kekuatan seorang ksatria mana mungkin aku bisa mengimbanginya.


Beberapa serangan dilontarkan, aku berhasil menghindari semuanya. Bukannya menyerah, perempuan penebas malah semakin marah karena semua serangan itu sia-sia.


“Teknik Pedang, Absolute Repeater.”


Sial, dia menggunakan Teknik itu?


Si nona penebas menggunakan Teknik yang akan menentukan hidup dan matiku. Penentuan itu dimulai ketika pedangnya kembali ke sarungnya dan Teknik-nya diaktifkan.

__ADS_1


Proses dari Teknik ini adalah, si pengguna berfokus kepada targetnya dengan fokus yang setara dengan membaca seribu buku bersamaan. Fokus itu dilakukan tak lebih dari 1 detik, dan serangan dilancarkan ketika ia berhasil membaca dimana titik vitalku.


Karena itulah, aku sangat takut ketika nona penebas mulai fokus. Aku bahkan tak memiliki pedang untuk menahan serangan itu.


Dalam waktu kurang dari satu detik, aku mencari kemampuan apa yang bisa kugunakan. Ternyata aku masih memiliki harapan. Tak kusangka, ada juga Teknik Kosong, yaitu teknik yang berandalkan tubuh saja tanpa senjata.


“Teknik Kosong, Weapon Counter.”


Dalam satu detik, Absolute Repeater dilakukan. Pedang si nona penebas mengarah langsung ke leherku dengan kecepatan yang ia tambah dengan Booster.


Dan, aku tak mati.


Weapon Counter jauh lebih ajaib dari yang kukira.


“Kau?!! Bagaimana bisa?!” nona penebas melangkah mundur ketika pedangnya terhentikan.


Tepat satu senti sebelum pedang itu menyentuh leherku, aku menghentikannya dengan cara mencubit bilahnya agar terhenti dengan aman. Sepertinya Weapon Counter adalah Teknik yang memungkinkanku untuk menggagalkan Teknik senjata apapun.


Tahu bahwa serangan pamungkasnya dihentikan, nona penebas tak lagi bersikeras. Ia kembali menyarungkan pedangnya, dan menghadapiku secara dewasa.


Semua orang yang melihat pertarungan kita semakin penasaran dan juga kagum. Orang yang kulawan ini, sepertinya bukanlah orang biasa, dia cukup terkenal di kalangan para murid. Sebenarnya, siapa dia? Kenapa dia mencoba membunuhku?


“Katakan siapa namamu!” ucap si nona penebas.


“Itu tindakan yang tidak sopan. Pertama, perkenalkan dulu dirimu!” kataku.


“Kalau begitu, maaf. Aku Quine von Harold, Ksatria Kerajaan sekaligus adik dari Thomas von Neressy. Sekarang, siapa namamu?”


Eh? Dia, gadis muda ini adalah adik si ksatria tampan?!!


“A-Aku.. Meffery Walter.” Ungkapku.


Quine seperti menunggu perkataan lain dariku. Dia hanya diam, menatap dengan heran kepadaku yang juga menatapnya dengan heran.


“Hanya itu saja? Bagaimana dengan statusmu?” katanya.


“Apa maksudmu? Aku hanya orang biasa.”


“Hah.. sepertinya kau tak tahu alasan aku memburumu?” Quine menghela napas, dan melanjutkan dengan nada yang jengkel. “Barusan kau menggunakan sihir kakakku, Skill kakakku, dan juga Teknik kakakku. Sebenarnya, apa-apaan kau ini?”


“Ini.. ini sedikit rumit untuk dijelaskan.”


“Perkiraanku mengatakan bahwa kau bisa menggunakan kekuatan penuh milik kakakku. Skill miliknya, Dimension Teleport bukanlah mainan. Aku harus melenyapkan Skill itu darimu, atau membunuhmu sekarang juga kalau kau memberontak.”


Ini ancaman yang nyata. Skill itu baru saja kugunakan ke tempat yang bahkan tak pernah kukenali. Aku mengerti kenapa Ksatria Kerajaan bisa memburuku karena hal ini.


“Bagaimana dengan Evolver?” tanyaku.


Quine mendelik bingung, “Apa yang barusan kau katakan?”


“Evolver, Skill milik kakakmu juga, menurutku itu lebih berbahaya dari Dimension Teleport.”


“Hah? Jangan konyol, kakakku hanya punya satu Skill.”


“Tidak, tidak, dia punya dua. Evolver, Skill untuk mengkombinasikan satu sihir dengan sihir yang lain dan menciptakan jenis sihir baru. Apa kau tidak tahu itu?”


Aku merasakan Skill ini agak sedikit aneh. Ingat ketika aku ditanya oleh Nona Rose tentang jumlah Skill yang Neressy punya? Aku menjawab 1, padahal sebenarnya ada 2. Bukan maksudku untuk berbohong, tapi Skil. ini tampaknya tak terdeteksi oleh tubuhku sendiri.


Tidak, Skill ini disegel.


Aku baru membuka segelnya tepat setelah Quine menyerangku, karena panik aku tak sengaja mempersiapkan semua perlawanan.


“Nona Quine?”

__ADS_1


“.. Evolver.. benih kehancuran. Kenapa..?”


__ADS_2