
Varnella memuntahkan darah segar berwarna merah, wajahnya berantakan, pucat karena pedang yang melemaskannya tertancap di perutnya. Aku sedikit kecewa karena Varnella bisa terkena serangan setelak itu dengan mudah.
Karena kasihan, aku mencabut pedang itu. Aku menggunakan sihir Pain Killer untuk Varnella, sehingga ia tak lagi merasakan sakit, meskipun lubang di perutnya masih terbuka lebar. Dengan begini, Varnella hanya akan merasa lemas dan lelah.
“Kau memiliki wajah yang cukup cantik ketika sedang menahan sakit.. sungguh menakjubkan.” Aku mengusap pipi Varnella dengan menggunakan punggung jariku. Roh Api berambut merah itu hanya bisa diam. “Varnella.. hidupmu sudah berakhir ketika kau menyerangku.”
“Kau.. siapa?”
“Oh, ya, kita belum perkenalan. Aku Meffery Walter, tunangan Putri Lennef dari Kerajaan Raverine, Master dari Florinas.”
“.. bukan itu maksud dari pertanyaanku..?” Varnella bertanya kembali, dengan diulangnya pertanyaan yang sama menjadi peringatan keras kepadaku bahwa pertanyaannya mengandung arti lain.
“Oh, aku.. tak tahu. Yang pasti skill milikku, Double Drive, bisa membuatku menyalin kemampuan target apabila target menyentuh atau menyerangku.”
Mendengar jawaban itu, Varnella menelan ludahnya. Pertama, mustahil ada orang yang bisa mengalahkan Florinas dengan keadaannya yang mungkin terlemah sepanjang masa. Kedua, bayangkan kalau ada manusia yang bisa mengalahkan Varnella yang lebih kuat dari Florinas. Sekuat apapun dia, belum ada satupun orang yang tak terkejut dengan skill milikku.
“Bunuh aku!”
“Tidak mau, kau akan menjadi budakku!”
“.. apa yang kau inginkan?”
“Pertanyaan bagus, aku tak pernah memikirkannya. Mungkin.. tubuhmu juga tak buruk. Aku bisa menggunakan tubuhmu setiap saat kalau aku mau. Lagi, dan lagi, sampai harga dirimu lebih rendah dari kotoran. Bagaimana?”
Varnella semakin tertekan. Dengan luka di perutnya, ia masih bisa menyeret bokong hingga ia menemukan senderan berupa batu yang menyerupai gigi taring. Varnella bersandar di batu itu, mencoba menjauh dariku.
Di tengah ketakutan dan keputusasaannya, Varnella berkata, “Kau mirip dengan seseorang yang pernah kupuja.. Raja.. Penyihir.”
Raja Penyihir?
Aku berdiri, melangkahkan kaki menuju Varnella. Betapa berantakannya wajah Varnella ketika ia ketakutan karena diriku mendekat. Sampai di depan Varnella, aku menarik rambutnya agar wajahnya bertatapan langsung denganku. “Kalau begitu mulai sekarang kau akan memujaku, Varnella. Ya, aku adalah Raja Penyihir.” Aku mengeluarkan senyum licik.
“.. apa.. maksudmu? Kau bukan Raja Penyihir.”
“Benarkah?”
Varnella akan terkejut melihat ini.
Aku menyerahkan nyawaku sendiri pada Staff of Leader yang dipegang oleh Varnella. Tapi karena aku abadi, efek dari kematiannya tak berlaku. Dengan begitu, semua skill yang kupunya tersalin oleh Staff of Leader yang Varnella pegang.
Varnella berteriak histeris, ia menangis, menggelengkan kepalanya karena tak percaya. “Evolver.. Crafter.. Enhancer..” kemudian dia melihat kepadaku. Wajah Varnella yang manis berubah menjadi menyedihkan ketika ketakutan membuatnya kehabisan banyak air mata. “Kau mengerti kan?”
Sudah tak ada lagi yang bisa Varnella lakukan untuk melawan. Dia bersujud di depanku, “Yang Mulia.. Raja Penyihir.”
“Baiklah, bagus, mulai sekarang kau adalah budakku. Ya, satu-satunya yang menjadi budakku adalah kau. Selain itu Varnella, kau wajib memanggilku Tuan Walter, sekali saja kau panggil aku Raja Penyihir maka aku akan mencari cara untuk membunuh dirimu yang abadi.”
“.. aku mengerti, Tuan Walter.”
Aku menyembuhkan Varnella dengan Cure Heal. Ketika dia sudah sembuh sekalipun, Varnella sama sekali tak menyerangku meskipun di tongkat yang ia pegang terdapat banyak skill yang jauh melampaui Raja Penyihir. Dia setia kepadaku, bisa dilihat dari matanya yang mati. Daripada setia, itu mungkin lebih tepat disebut ketakutan.
Aku merebut tongkat milik Varnella kemudian memasukkannya ke dalam Inventory.
Dengan Dimension Teleport, kami berpindah langsung ke istana kerajaan, bertemu dengan Florinas dan yang lain.
***
Situsai di Kekaisaran Nasaroth menjadi sangat kacau. Marquis Daralo seperti orang bodoh yang mondar-mandir di ruang Kaisar sambil berpikir keras bagaiamana caranya agar ada yang bisa memimpin Kekaisaran tanpa ada satupun orang yang tahu tentang keadaan Kekaisaran saat ini.
Sudah beberapa hari sejak Daralo dan Fredick memakamkan Kaisar Valarish secara rahasia. Karena mustahil bagi Kaisar Valarish yang sudah pernah mati dua kali untuk dihidupkan.
Daralo dan istrinya, serta Fredick dan istrinya, adalah 4 orang yang mengetahui kejadian ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan kedua istri itu saling memahami apa yang suaminya pikirkan.
__ADS_1
Burung pengantar surat ditugaskan untuk membawa pesan kepada Killifer Voil, tapi burung itu tak pernah kembali sampai sekarang. Di tengah kebingungan Marquis Daralo, sahabatnya yang paling bisa menyelesaikan masalah ini justru menghilang begitu saja.
“Bagaimana kalau kau saja yang menjadi Kaisar, Marquis?” tiba-tiba pertanyaan konyol dilontarkan oleh istri Fredick.
Mereka berempat membagi kebingungan dengan saling termenung di ruangan milik Kaisar. Pasangan suami istri itu duduk berhadapan meskipun mereka tak saling memandang.
“Aku tak yakin dengan itu. Bagaimana denganmu, Fredick? Aku tak bisa memutuskan ini sendiri.”
“Mungkin.. kalau itu kau, aku takkan bicara banyak. Hanya saja kita takkan dikenal sebagai negara berotot lagi. Kau mengalahkan lawanmu dengan otak bukan otot, itu kelemahan kita.”
“Sayang, itu bukan kelemahan, justru itu adalah apa yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah negara.” Istri Fredick membantah perkataan suaminya.
“Kau merendahkan suamimu dan memuji suami orang lain? Betapa tidak sopannya.” Fredick memarahi istrinya. Istri Fredick hanya bisa diam, dan meminta maaf sambil menunduk. Karena merasa saran dari istrinya benar, Fredick berkata, “Dari awal aku memang setuju kalau kau yang menjadi Kaisar, tapi kumohon padamu.. tolong.. balaskan dendam ke Raverine sialan itu! Kita tidak mungkin membiarkan begitu saja—”
“Mereka punya Walter! Sudah kubilang, mereka punya Walter, lupakan saja!” Daralo marah.
“.. jadi, kau akan membiarkannya begitu saja? Kaisar kita dibunuh.. Marquis, pemimpin kita dibunuh. Apa kau tak peduli?” Fredick melanjutkan.
“Kenapa kau selalu menyuruhku untuk bunuh diri?!! Kaisar sudah mati, lalu kita harus bagaimana? Kaisar yang merupakan orang terkuat di negara ini bisa mati oleh Walter. Apa kau memikirkan apa yang terjadi bila Walter marah?” Daralo sudah berada di ujung emosinya, ia menarik kerah Fredick dan menunjukkan wajah kesal yang jarang Daralo buat, “Jujur, kalau Walter datang kesini dan mengobrak-abrik Kekaisaran.. maka aku akan dengan senang hati bersujud kepadanya agar dia mengampuniku.”
Seisi ruangan menjadi bisu mendengar keputusasaan Daralo yang menyayat hati. Siapa yang menyangka seorang Marquis yang menguasai banyak tanah di Kekaisaran bisa-bisanya mengatakan hal sememalukan itu.
Fredick memastikan kembali tentang sikap Daralo. “Marquis.. kalau Walter datang kepadamu untuk membunuh istrimu agar kau bisa pergi.. bagaimana?” Fredick sangat tahu betapa cinta matinya Daralo ke istrinya.
Mendengar itu, Daralo tanpa ragu menjawab, “Aku siap menyerahkan istriku.”
“Sayang?!”
Istri Daralo terkejut mendengar itu. Dia berdiri karena saking kesalnya, “Kau tak mencintaiku?” tanya istri Daralo lagi.
“Tentu aku cinta.. tapi..”
Sang istri dengan kesal keluar dari ruangan. Tersisa tiga orang, Daralo dengan kebingungannya, Fredick dan pasangannya yang merasa canggung karena baru saja melihat perkelahian rumah tangga seorang bangsawan di depan mereka.
“Fredick, kau umumkan kenaikan jabatanku menjadi Kaisar. Sekarang juga!”
“Aku mengerti, akan segera kulaksanakan.” Fredick dengan gembira menerima perintah itu.
***
Istri dari Marquis Daralo, Cardella, duduk di saung kecil yang terletak di taman Kekaisaran. Bunga-bunga bermekaran menghiasai seluruh pandangannya, hamparan bunga itu menenangkan pikiran Cardella yang kini sibuk mengurus anaknya yang masih berumur 7 tahun.
Cardella adalah orang yang baik, cerdas, juga dermawan. Ia menikah dengan Daralo ketika usianya 21 tahun, dan ini sudah 8 tahun sejak pernikahannya. Hampir tak ada orang di kekaisaran yang tak mengenal Cardella, dirinya yang awet muda dan tetap cantik dengan wajah ramahnya membuat semua lelaki terpikat, tak terkecuali beberapa anggota bangsawan lain yang melakukan perang dingin dengan Daralo karena ketertarikan mereka dengan istri Daralo.
Umur yang dewasa dan wajah yang awet muda, serta kedudukannya yang tinggi di kekaisaran, Cardella tak memiliki apapun lagi untuk ia raih. Yang ia inginkan hanya satu, dan itu sudah tak lagi menjadi mimpinya karena terlalu mustahil. Yaitu adalah perhatian suaminya yang kian lama kian memudar.
“Ibu.. apa yang ibu pikirkan?”
“.. o-oh, tidak, Ibu tak memikirkan apapun.”
“Begitu..? Hei, lihatlah ibu!” anak perempuan satu-satunya dari pasangan itu tersenyum dengan polos, memberikan seikat bunga yang ia petik dari hamparan bunga. Sebuah bunga berwarna-warni ungu dan merah dirangkai si putri kecil dengan indahnya. “Apakah ini cantik, Ibu?”
“Ya, tentu itu cantik. Tapi kau lebih cantik, sayang.” Cardella mencubit pelan hidung anaknya, kemudian mereka tertawa bersama.
Setelah menunjukkan bunga itu, putri Cardella kembali ke hamparan dan mencari bunga yang jauh lebih cantik. Cardella memperhatikan anaknya dengan seksama di bawah saung kecil untuk berteduh.
“Aku siap menyerahkan istriku.”
Tiba-tiba kalimat yang terdengar menyakitkan kembali diingat oleh Cardella, mirisnya yang mengatakan itu adalah suami tercintanya.
Cardella mencoba untuk mengerti, bahkan awalnya dia setuju dengan pikiran Daralo, bahwa kalau misalkan Meffery Walter datang menyerang berarti itu adalah akhir dari Kekaisaran Nasaroth. Mengingat Kaisar Valarish bukan hanya orang terkuat, tapi hampir tak bisa dikalahkan meskipun satu negara ini menggabungkan kekuatan.
__ADS_1
Kekalahan Kaisar sudah seperti lelucon.
“.. nama Meffery Walter juga tak pernah kudengar sebelumnya. Kenapa.. Daralo bisa setega itu? Kalau aku mati memangnya dia tak peduli? Kalau aku.. dibuat.. ah, Walter tetaplah laki-laki, aku tak tahu apa yang ada di pikiranya.”
Cardella bingung tak karuan. Ia stres, seperti seorang perempuan yang baru saja putus cinta. Seharusnya putus cinta memang kata yang tepat, ketika memikirkan sesuatu tentang Walter ia akan teringat kembali dengan wajah tak berdosa suaminya yang mengatakan hal kejam.
Jauh di lubuk hatinya, ia menyayangkan perbuatan suaminya, dan ia sangat membenci Walter.
Tapi Walter sudah seperti bayangan monster. Itu ‘kan hanya bayangan, untuk apa ditakuti? Wujud asli dari si bayangan bisa saja baik tapi bisa juga buruk, Cardella terlalu cerdas untuk menyadari hal itu. dipikirkanlah suatu hal konyol yang menurutnya sedikit nekat tapi juga efisien.
“Bagaimana.. kalau menemui langsung Meffery Walter.”
Rencana untuk menemui Meffery Walter menjadi rencana utama Cardella, setelah sebelumnya ia sibuk berkeliling untuk mengumpulkan pasukan tanpa nama yang ia buat untuk menggertak Raverine dengan serangan skala kecil. Itulah kenapa Cardella yang kelelahan beristirahat di saung.
Tak perlu berlama-lama, Cardella langsung berdiri dan mengajak anaknya pergi. Karena tak ingin bertindak bodoh, Cardella memutuskan untuk membawa pasukan yang ia siapkan tetapi dengan sembunyi-sembunyi, dia juga akan masuk ke Raverine sendirian dengan identitas palsu.
***
Aku dan Holiana duduk berdekatan di dalam kamarnya yang tercium wangi manis halus. Holiana yang baru saja selesai mandi masih sibuk menata rambut panjangnya, padahal hanya mengikat rambut dan Holiana jelas menaikkan sikunya, tapi itu membuat aroma badannya tercium menyengat ke telingaku.
Selesai mengikat rambut, Holiana menjadi salah tingkah karena sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengulur waktu. Ia menggunakan pakaiannya di kamar mandi, rambutnya sudah tertata, dan Holiana bilang ia tak pernah menggunakan riasan.
Aku menunggu Holiana yang sedang berpikir.
“.. jadi.. apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Holiana.
Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu, “.. ya?”
“Kau.. b-bukankah kau kemari ingin mengatakan sesuatu?!” Holiana menunjukkan wajah kesal.
“O-Oh, ya, aku lupa.. kau terlalu mengaburkan fokusku,.. aku jadi tak ingat.”
Holiana mendesah takut sambil menutupi badannya dengan kedua tangan, terlihat jelas wajah malu yang menunjukkan kesalahpahaman Holiana terhadap pernyataanku.
“Walter, kukira kau memiliki kabar gembira atau semacamnya.”
“Ah, itu dia! Aku ingat.” Aku menggunaka sihir Inventory, kemudian mengambil tongkat Staff of Leader yang sebelumnya kuambil dari Varnella. Dan baru kuingat juga bahwa di dalamnya masih terdapat bekas skill yang kupunya, karena tak ingin hal merepotkan terjadi, aku mengambil semua skill di tongkat itu dan memasukannya ke tubuhku.
Ternyata ini berdampak menakjubkan. Kukira dengan menyimpan skill yang sudah kupunya, maka itu tak akan ada artinya dan sisa skill-nya akan terhapus. Kenyataannya justru berbeda dengan dugaanku. Semua skill yang kupunya menjadi dua kali lebih kuat, lebih akurat dari sebelumnya. Ini seperti menggabungkan dua skill dalam satu wadah.
Holiana memperhatikanku, dia melihat tongkat kayu yang kupegang dengan perasan sedih. “Kalau kau menggunakan itu, aku akan mati ‘kan?”
“Tenang saja, aku memiliki sihir pembangkit.” Jawabku. Meskipun begitu, Holiana tetap ragu. “.. tenanglah, aku jamin semuanya akan baik-baik saja. Rasanya juga tidak sakit. Holiana, percayalah padaku.” Aku memegang tangan Holiana dengan keyakinan penuh.
Holiana menjawab harapanku sesuai ekspektasi. Dia tersenyum, wajahnya pasrah tapi tulus, benar-benar tatapan yang sangat cocok untuk seorang perempuan yang baik hati sepertinya. “.. baiklah, aku percaya padamu, Walter.”
Dengan begitu, aku mempersembahkan jiwa Holiana pada Staff of Leader.
Holiana mati, skill True Death disimpan di dalam tongkat.
Tak mau berlama-lama menjadikan Holiana mayat, aku segera menghidupkan Holiana dengan sihir Resurrection. Jumlah mana yang kuperlukan hanya berkisar 110.000.
Holiana berada di pangkuanku, ia membuka matanya dan melihat ke wajahku. Kami berdua sama-sama tersenyum, Holiana merasa pangling karena skill yang selama ini menjadi beban hidupnya sudah menghilang.
Aku mengangkat kepala Holiana, “Kau bebas sekarang.”
Holiana tak berkata apa-apa, dia hanya menunduk, tersenyum, dan memberikan pandangan mata yang meluluhkan hati.
“Walter.. kau curang.”
Holiana menciumku, ia menarik kepalaku dan menempelkan bibirnya. Diluar dugaan, aku bahkan tak pernah menyangka Holiana akan seberani ini.
__ADS_1