Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 25


__ADS_3

“Keputusan bagus, aku pasti akan sakit jiwa bila kau menolak.” Ucap Loiros.


“Kalau begitu tunggu apa lagi, siapkan barang-barang kalian.. kita akan melakukan pencurian terhadap 13 item langka dan curang itu.”


Sebelum kami semua pergi, Loiros menghentikan kami. “Tunggu sebentar, ada satu orang lagi yang akan ikut dengan kalian.” Selepas mengatakan itu, lagi-lagi ada orang yang masuk ke ruangan dengan pola yang sama dengan Christa Dervin. Orang itu gagah, wajahnya tampan dengan seragamnya yang khas seperti milik Quine. Tentu kami semua mengenalnya, dia adalah Thomas von Neressy. Setelah tak lama jumpa, orang yang pernah kubantu itu kini kembali menunjukkan batang hidungnya.


Neressy berlutut di depan raja, dan sama seperti kami semua yang langsung dipersilahkan berdiri, Neressy tak segan untuk langsung memelukku begitu dia bertemu. Seolah sudah setahun lamanya sejak aku bertemu dengannya, padahal mungkin belum genap 2 bulan.


“Neressy akan ikut dengan kalian.. sebagai antisipasi.” Andervine menjelaskan.


“Baiklah.. lengkap sudah, kita akan berangkat sekarang.”


***


Sebuah cerita sampingan tentang Kerajaan Le-Ugen.


Hari itu sudah menginjak seminggu setelah Meffery Walter meninggalkan Ratu Holiana dan Putri Nerna. Apa yang Walter tinggalkan kepada Putri adalah sebuah harta yang tak tergantikan, yaitu kakaknya yang kini sudah kembali bersosialisasi seperti biasanya.


Mereka menjadi lebih sering berbicara. Putri Nerna mengetahui betapa lucu kakaknya ketika dia sedang berdialog. Holiana tertawa dengan setiap candaan Putri Nerna meskipun candaan itu terdengar tak lucu. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Putri menghargai kakaknya lebih dari seorang Ratu.


Entah bagaimana cara Putri Nerna berterima kasih kepada Walter karena kini kakaknya sudah kembali segar.


Tetap Putri merasa ada yang aneh dengan kakaknya, Ratu dengan rambut ungu itu selalu memasang raut yang aneh ketika membicarakan tentang Walter, ia tak berhenti bicara, dan selalu memuliakan Walter atas setiap perkatannya.


Putri Nerna tidak menganggap itu sebuah kegilaan, tapi sebagai kecenderungan yang biasa saja.


Sampai suatu ketika Putri Nerna memergoki kakaknya.


Malam hari di kerajaan, Putri Nerna sudah lengket akan keringat. Ia mengeluh terus menerus karena tak bisa menyentuh lantai kamar mandi setelah berjam-jam melakukan pertemuan dengan para bangsawan. Putri Nerna yang badannya sudah sangat bau memutuskan untuk mandi di pemandian kerajaan, tentu itu adalah tempat yang luas dengan fasilitasnya yang mewah.


Putri Nerna masuk ke dalam pemandian, uap hangat dari kolam air panas langsung menerpa seluruh kulitnya. Hanya ada satu orang di ruangan itu, pikir Putri Nerna. Dengan hanya bertutupkan handuk putih, Putri mulai menurunkan kakinya ke dalam kolam.


Hingga suara itu terdengar dari kolam yang berbeda..


“Walter.. aku jatuh cinta padamu,.. kumohon jadikan aku istrimu!!”


Putri mengenali suara itu, itu adalah suara kakaknya yaitu Ratu Holiana. Dari kolam yang berbeda, terlihat ratu sedang berendam. Wajahnya memerah, dan dia meneriakkan kata-kata yang sudah cukup untuk membuat putri bermimpi buruk. “Aku.. aku tak keberatan menjadi istri keduamu!!” dan lagi, Holiana terus mengulanginya dengan kalimat yang berbeda.


“.. ya ampun, aku tak tahu bagaimana cara mengatakannya..” Holiana putus asa ketika banyaknya kalimat pernyataan cinta ke Walter dilontarkannya.


Iseng, Putri berkata, “Tinggal bilang, ‘Walter, tolong buat aku berantakan!’ dan dia pasti akan luluh.”


“Itu dia!!”


Holiana menunjuk ke Putri Nerna yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya berlatih.


Melihat ada adiknya di belakangnya, Holiana langsung malu. Ia gugup, wajahnya sampai memerah. Putri yang melihat kelakukan lucu kakaknya langsung tertawa, Holiana yang seperti sudah tak punya harga diri sebagai perempuan langsung mencelupkan kepalanya ke air.


***


Dalam misi kali ini, tidak hanya anggota Omicron saja yang ikut. Bahkan Lennef dan Hile juga turut serta. Bukannya sombong, aku hanya tak yakin dengan andil mereka dalam misi ini, mengingat keduanya sama-sama tak memiliki kemampuan tempur. Tapi itu tak menjadikan mereka beban, jangan salah sangka.

__ADS_1


Pada perjalanan kami ini, tak akan ada drama tiga hari perjalanan tak jelas seperti sebelumnya. Kami menggunakan sihir Gate agar bisa berpindah tempat dengan mudah, alasannya adalah karena Christa membawa kereta kuda bersamanya, jadi lebih mudah bila menggunakan portal. Selain itu Hile juga tak begitu senang bila teleportasi instan seperti Dimension Teleport.


Aku sudah berbicara dengan Christa, dia mengatakan bahwa Holy Crown diaktifkan selama beberapa detik saja. Efeknya memang tak begitu besar, tapi sempat menggegerkan dunia, bahkan informasinya saja bisa dengan cepat sampai kepadaku. Diaktifkannya Holy Crown secara main-main bisa dijadikan bukti bahwa negara yang menjaganya tidak serius.


Adalah kerajaannya para monster, yaitu Kerajaan Imprasia, dimana rata-rata penghuninya memanglah monster. Malahan apa yang dikatakan Christa cukup mengejutkan, dimana di kerajaan itu manusia tidak boleh tinggal menetap. Tetapi itu tak berlaku apabila manusianya adalah turis. Lalu bagaimana bila turis itu menginap dalam waktu yang lama? Jelas, peraturannya memang tumpang tindih.


Kami tak seperti orang barbar yang menggunakan sihir Gate di tengah kota, aku lebih senang bila kita muncul dengan tanpa ketahuan, yaitu di pinggir pemukiman.


Masuk ke dalam portal, kami semua menginjakkan kaki di Kerajaan Imprasia.


Neressy sangat takjub dengan sihirku karena dia merasa memotong ruang dengan mudah, sungguh ajaib rasanya ketika dia merasakan dua suhu dan aura yang berbeda di satu tubuh sekaligus. Sedangkan Hile malah bertindak lucu dengan enggan dan takut masuk ke dalam portal.


“Padahal ini dulu hanya desa kumuh yang jelek.. apa yang mereka buat selama aku tersegel?” Kata Florinas ketika dia melihat ke sekeliling kota.


Mendengar Florinas berkata begitu, aku jadi tahu bahwa tempat ini sudah ada dalam buku sejarah Perang Besar. Sekedar info, buku yang kumaksud adalah buku yang pernah Florinas tunjukkan padaku ketika kami berdiskusi dengan Putri Nerna. Sekarang buku itu masih ada di Inventory-ku. Isinya,.. masih diteliti.


Tak perlu berbasa-basi lebih banyak, kami berjalan masuk ke dalam kota. Hile, Quine, Lennef, dan Varnella masuk ke dalam bilik kereta milik Christa, dimana Christa tetap terus mengendarai kudanya secara perlahan di jalanan kota. Sedangkan aku, Killifer, Neressy dan Florinas berjalan untuk mengawal.


Aku melihat betapa aneh dan kumuhnya kerajaan Imprasia. Gedung-gedung seperti dibuat seadanya, susunan batu yang membentuk jalan hampir seluruhnya berlubang, sampah dan noda makanan yang menjijikan menempel di dinding perumahan. Ini terlalu buruk untuk sebuah kota.


Parahnya lagi aku melihat ada banyak manusia bertelinga hewan yang tiduran di pinggir jalan, mengenakan pakaian yang kotor, dan dengan kondisi badannya yang buruk. Mereka terlihat seperti manusia normal, hanya saja kau bisa melihat ras apa mereka dari telinga dan ekornya.


“Ini tak seperti kerajaan yang kuduga. Memangnya Imprasia segini buruknya kah?” tanyaku berbisik pada Neressy yang berjalan di sebelahku.


“Tidak, ini karena kita berada di distrik luar, memang begini keadaannya. Kalau kau mengira bahwa kita sudah masuk kerajaan, maka aku kurang setuju, karena Kerajaan Imprasia yang sebenarnya ada di balik sana!” Neressy menunjuk ke depan atas.


Aku melihat searah dengan tunjukan Neressy, dan kulihat adalah sebuah dinding yang sangat besar. Dinding itu memiliki tinggi yang sama dengan istana keraajaan kami, berdiri memanjang dari ujung ke ujung. Seolah dinding itu memang dibuat untuk membatasi luar dan dalam.


“Apa di dalam dinding semuanya baik-baik saja?”


“Bahkan lebih baik dari surga. Semua yang kau butuhkan ada disana, seperti bar, Guild, pasar, bahkan tempat pelacuran. Semua ras monster yang ada disana memiliki paras cantik, dan sehat tentunya. Perputaran ekonomi sangat lancar, sedangkan di area ini.. setahuku sistem jual beli pun tak ada.” Jelas Neressy.


“Lalu bagaimana cara orang di distrik luar bertahan hidup?”


“.. banyak cara.” Neressy meliaht ke sekelilingnya, kini dia memperhatikan apa yang kuperhatikan sebelumnya. Dengan wajah kasihan, Neressy melanjutkan, “Pencurian, pembunuhan.. bahkan mengemis.”


“Mereka mengemis kepada orang yang sama-sama miskin?” aku bertanya untuk yang ketiga kalinya dengan sedikit tawa di akhir kalimat.


“Walter, Imprasia lebih kejam dari yang kau kira. Ingat dengan peraturan yang dijelaskan Christa, dimana disitu disebutkan tentang turis?”


“.. oh, ya.. aneh juga tempat sekotor ini memiliki turis.”


“Justru itulah, pemimpin kerajaan ini sengaja menyembunyikan surga miliknya di distrik dalam. Dengan begitu para turis akan terpaksa melalui tempat ini untuk bisa mencapai surga di dalamnya. Umumnya para turis akan melemparkan makanan sisa perbekalan, atau apapun yang bisa dimakan kepara para penduduk.. pemimpin kerajaan menganggap itu sudah cukup untuk memberi mereka makan. Itulah kenapa kau melihat banyak bekas noda makanan di sekitar dinding bukan?”


Adat yang terlalu buruk.


Kami masih memiliki banyak waktu untuk bisa sampai ke dinding. Berteleportasi ke sana pasti akan sangat mudah, tapi aku memilih untuk berjalan agar bisa mengobrol lebih banyak.


Tak lama setelah Neressy bercerita, seorang gadis kecil dengan telinga panjang dan runcing menghampiriku. Ia adalah keturunan ras Elf. Dengan pakaiannya yang penuh dengan tambalan, dan kulit yang melepuh kotor, dia datang dengan sebuah mangkuk di tangannya. “Tuan.. bisakah kau memberikanku sedikit makanan?” katanya.


Melihat itu, Florinas hampir saja marah karena menganggap gadis kecil itu menghinaku. Aku langsung menghentikannya.

__ADS_1


Tak tega dengan keadaannya, aku menghentikan langkah, kereta kuda Christa juga berhenti menungguku.


“Dimana keluargamu, gadis kecil?” kataku.


“Papa dan mama.. di sana.. kakakku juga..!” dia menunjuk ke dinding besar.


Aku saling tatap dengan Neressy tentang betapa canggungnya basa-basi itu. “Kenapa mereka meninggalkanmu disini?”


“.. aku.. jelek. Ayah bilang,.. tak ada.. pekerjaan..?” dia menjawabnya dengan kata-kata selayaknya anak kecil yang terbata-bata.


Aku tak merasa bahwa anak ini jelek, untuk seorang elf dia sudah cukup cantik. Orang tua macam apa yang membiarkan anaknya terlantar di lingkungan seperti ini?


“Nak.. ikutlah dengan kami, aku akan memberimu modal hidup di dunia dalam.” Kataku.


Ternyata mengatakan itu di tempat ini adalah sebuah kesalahan, banyak yang mendengar perkataanku dan mulai merasa senang. Beberapa saat kemudian, banyak orang yang berkumpul di sekitar kami dengan harapan mereka juga bisa ikut ke dalam. Kami sudah seperti kumpulan orang terkenal yang digandrungi banyak penggemar.


Karena keadaannya mulai ricuh, Neressy segera mengumpulkan orang-orangku dan kita semua berteleportasi langsung ke depan dinding.


Anak elf yang kuajak mengobrol barusan juga ikut berteleportasi, wajahnya seperti orang bodoh ketika dia mendaratkan telapak kakinya yang tanpa alas di tempat yang berbeda secara tiba-tiba.


Di dekat dinding, sudah tak ada lagi kesan kumuh atau semacamnya. Mungkin sekitar 50 meter dari dinding. Lingkungan mulai kotor, tapi 50 meter disekitaran dinding, semuanya sangat bersih seolah mereka memang sengaja hanya membersihkan bagian dekat ini saja.


“Hei, hei, Tuan!!” seseorang memanggil kami. Terlihat dua orang yang sempoyongan, memegang dua botol bir di tangan mereka, sedangkan di tangan yang satunya lagi mereka memegang sebuah tombak. Neressy berkata bahwa itu adalah penjaga yang menjaga dinding. “Kalau kau ingin masuk, bayar terlebih dahulu.”


Kita diminta bayaran.


“Berapa aku harus membayar?”


“.. 40 keping emas. Hmm..?” dia melirik ke elf yang kubawa, “Kalau kau membawa bocah dari ditrik luar, maka.. bayarannya menjadi.. 10 kantung berlian.. hihihi, bagaimana dengan itu?” orang yang menawariku harga langsung tertawa geli bersama dengan satu temannya yang lain, terlihat seperti mereka asal memberikan harga tiket itu.


“Apakah lucu ketika kau mempermainkan harga diri seseorang seperti itu?” tanyaku dengan tegas.


“Tentu saja, dia hanya elf yang tak berharga sedikitpun. Kalau kau tak mau membayar sebanyak itu, tak perlu mengajak dia.”


Sudahlah, aku tak ingin bersikap keren lebih lama.


Aku memberikan aba-aba ke semua orang yang kubawa agar mereka pergi terlebih dahulu. Kereta kuda Christa jalan melewati dua penjaga itu, dilanjutkan dengan Killifer, Florinas, dan Neressy yang menggandeng si anak elf.


Melihat teman-temanku masuk seenaknya, jelas dua penjaga itu protes. Mereka melihat ke arahku dengan tatapan yang tak menyenangkan, “Apa kau menghina kami, sialan?”


“.. tidak, kaulah yang barusan menghinaku.”


“Kurang ajar!” salah satu dari mereka menusukkan tombaknya ke perutku, dan satunya lagi menusukkan tombaknya ke dadaku. Kedua serangan itu sama sekali tidak mempan, tubuhku tak tergores sedikitpun, jelas mereka terkejut.


Tapi tujuan dari aku yang menerima serangan itu adalah agar mereka mengeluarkan tenaga, sehingga aku bisa tahu seberapa kuat mereka. Ternyata, sungguh memalukan, mereka tak lebih kuat dari pencuri yang pernah kubuat tidur di awal cerita hidupku. Sungguh pengamatan yang sia-sia.


“Hell Area!” aku mengaktifkan sihir Hell Area yang kusalin dari Varnella.


Sesuai namanya, mereka akan masuk ke dalam area yang penuh dengan api dan pembakaran. Mereka akan masuk ke dalam sebuah kapsul yang ukurannya hanya muat untuk mereka berdua. Lantai dari kapsul itu lebih panas dari lava, dinding kapsul itu lebih panas dari lelehan timah, dan udara di dalam kapsul lebih panas dari seluruh bintang. Bila mereka berontak, maka mereka akan terus menerus menyentuh dinding yang melelehkan kulit mereka. Ketika mereka melihat satu sama lain, mereka akan ketakutan melihat penampakan manusia yang kulitnya meleleh karena panas. Dan ketahuilah, mereka abadi di dalam sana.


Aku pun masuk ke dalam distrik.

__ADS_1


Mereka? Entahlah, aku akan mengeluarkan mereka disaat Florinas sudah tumbuh dewasa.


__ADS_2