Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 11


__ADS_3

Hari yang ditunggu Lennef pun akhirnya datang, yaitu festival. Meskipun ini belum menjadi hari pernikahan kami, tapi Lennef bilang bahwa di hari inilah kerajaan akan mengumumkan pertunangannya. “Tak ada perempuan yang tak senang akan hal itu,” ucapnya kemarin malam.


Aku penasaran bagaimana kerajaan mengumumkan kepada rakyatnya tentang pertunangan putri. Mungkin mencetak sesuatu seperti lebaran bisa efisien, tapi melakukan festival dengan hanya sebuah selebaran sepertinya adalah hal yang aneh.


Ternyata, kerajaan memiliki tempat tersendiri untuk melakukan festival.


Di tengah ibukota, ada sebuah menara berbentuk silinder yang menjadi tempat diselenggarakannya festival itu, namanya adalah menara Tanel. Di sekeliling menara Tanel, dibuat lapangan yang luas dengan ubin batu. Di lapangan itulah kita akan melakukan perayaan.


Kemarin aku tak sadar akan satu hal, yaitu kerumunan orang yang memadati jalan ketika aku mencari Hile ternyata adalah orang-orang yang mau mendatangi menara Tanel.


Pada pagi hari ini, aku sudah berada di menara Tanel bersama dengan keluarga besar kerajaan. Beberapa jam lagi kami akan keluar dan berbicara kepada kerumunan orang yang sudah datang memenuhi lapangan.


Aku dipakaikan pakaian formal layaknya seorang pangeran. Entah terlihat tampan atau tidak, aku sedikit merasa aneh ketika menggunakan pakaian ini. Rasanya pakaian seperti ini memang tak sesuai dengan kepribadianku.


“Ya, itu terlihat cocok denganmu.” Puji Quine yang bertugas menjagaku di ruanganku. Aku keluar untuk berkaca, kemudian menunjukkan setelan ini padanya.


Berbeda denganku, kulihat Quine tetap menggunakan pakaian ksatria-nya, yaitu zirah tipis yang hanya menutupi dada serta sayap yang menutupi seluruh tubuh bagian belakangnya. “Kau tak menggunakan pakaian bebas hari ini?” tanyaku.


“Tidak, kami tetap ditugaskan untuk berjaga.” Jawab Quine.


“Segitu pentingkah? Memang ada berapa banyak Ksatria Kerajaan disini?”


“Dihitung denganku sepertinya ada 14 orang.”


“14 orang jumlah yang banyak untuk hanya menjaga sebuah festival.”


“Ini sudah jadi tugas kami.” Quine menatap ke bawah.


Aku mengerti, dia sebenarnya juga ingin menikmait festival ini. Tapi karena tugasnya itu, jelas dia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pelindung kerajaan. Aku berpura-pura tak tahu tentang fakta yang Quine coba sembunyikan ini.


“Mungkin suatu hari nanti aku ingin mengajakmu pergi dengan tanpa pakaian itu.” Kataku seraya tersenyum.


Wajah Quine memerah ketika mendengarnya, “A-Apa yang kau bicarakan?”


“Hah?.. O-Oh, tidak! Maksudku bukan kencan! Hanya jalan-jalan biasa..”


“Ya ampun, jangan membuatku salah paham di hari pertunanganmu sendiri.”


***


Lennef tampak cantik dengan pakaian kerajaan, dia tersenyum kepadaku ketika seleasi berganti pakaian. Ia tampak malu menggunakannya, dan dengan menuntut sesuatu dariku atas tatapannya. “Ya, kau tampak cantik.” Kataku sambil tersenyum. Lennef gembira dengan pujian itu.


Kemudian, aku, Lennef, dan Raja Loios berdiri di atas beranda menara, menunjukkan wajah kami pada para pengunjung festival yang ternyata memenuhi lapangan hingga sesak. Lennef gemetar gugup memegang tanganku, berbeda denganku yang nyatanya biasa saja dalam melihat kerumunan orang itu.


Raja Loiros memberikan sambutan atas acara ini, dia berbicara panjang lebar dengan penuh wibawa selayaknya seorang Raja. Omong-omong tentang raja, aku penasaran kenapa Ratu tidak ada disini, apa dia tak ikut ke menara Tanel?


Ketika aku memikirkan dimana Ratu, tiba-tiba Raja Loiros mengoper pengumumannya kepadaku. Lingkaran sihir yang dirapalkan oleh ahli sihir untuk mengeraskan suara, terbang ke arahku tanpa kuketahui.


Raja Loiros mengacungkan jempolnya, dan itu artinya aku harus berbicara sekarang.


Aku menelan ludah, dan mendadak menjadi gemetar yang mana sebelumnya tidak. “S-S-Selamat.. selamat siang!” aku mengatakan itu dengan kaku.


Semua orang yang melihatku tertawa, lapangan dipenuhi dengan sorak ramai. Lennef juga tertawa, ia menyembunyikan senyumnya dengan kedua tangan.


Aku menarik napasku sekali lagi, sampai akhirnya aku benar-benar tenang. Saat suara tawa mulai mereda, aku melanjutkan. “Um.. mungkin kalian penasaran kenapa aku bisa ada disini. Siapa aku, darimana aku, dan kenapa harus aku yang menjadi tunangan Putri Lennef. Mungkin diluar sana ada yang lebih layak dariku, dan lebih kuat dariku..”

__ADS_1


Lennef menatapku heran, begitu juga dengan Raja Loiros, keduanya tak mengerti maksud dari pembicaraanku.


“.. tapi, ada satu hal yang membuatku terikat dengan Putri Lennef. Kami akan bahagia, dan kuharap kalian semua juga begitu..” aku menggenggam erat tangan Lennef, dan tersipu karena hal itu. “Aku mungkin tak pantas mengatakan ini, tapi.. bila suatu saat aku yang merupakan pasangan dari Putri Lennef ini menjadi raja, maka beruntunglah kalian! Aku memiliki kemampuan untuk meningkatkan kerajaan ini, selangkah, tidak, bahkan dua langkah lebih maju dari negara lain.”


Aku mengangkat tangan kananku, dan dengan bangga mengumumkan, “Langkah hari ini, adalah lompatan revolusi!”


Teriakan penonton pecah ketika aku mengumumkannya, semua orang bersorak dengan semangat. Namaku yang sudah mereka dengar dari Raja Loiros disorakkan berkali-kali, membuat suasana menjadi sangat meriah.


Diantara penonton, ada yang meneriakkan, “Langkah untuk revolusi!!” dan semua penonton kemudian mengikuti sorakan itu. Kata ‘langkah untuk revolusi’ sudah seperti semboyan yang resmi, mereka dengan semangat meneriakannya.


“Ya, benar, teriakkanlah! Teriakkanlah sampai dunia ini tuli!”


***


Urutan selanjutnya dari festival ini adalah perjalanan pulang keluarga kerajaan ke istana. Kami akan naik kereta kuda yang mewah dan menempuh jalan lurus dari menara Tanel ke istana. Aku terkejut ketika melihat warga yang tak hanya berada di sekitar lapangan, melainkan juga di sepanjang jalan menuju istana.


Suara teriakan warga tak berisitirahat sedikitpun, mereka terus bersorak kepada kami sambil menunjukkan antusiasnya kepadaku dan Lennef.


Florinas duduk di sebelahku, aku melarang keras kepadanya untuk terbang karena itu bisa menimbulkan kecurigaan. Beruntung Florinas tak keras kepala dengan ini, mengingat sebelumnya dia menentang permintaanku yang menyuruhnya untuk tidak perlu ikut ke menara Tanel.


Saat di tengah perjalanan, aku mempertanyakan kepada Raja Loiros, “Dimanakah Ratu? Aku tak melihatnya sejak tadi, apa ratu menunggu di istana?” tanyaku.


Raja mendengar itu langsung memasang raut yang membingungkan, matanya melotot dan alisnya menekuk. Dia menengok kanan dan kiri, melihat ke sekeliling dan baru menyadari bahwa Ratu memang tidak ada. “Andervine.. Andervine tak ada. Kemana dia?!!” raja panik.


Aku jelas bingung melihat reaksi wajah yang segitu paniknya, padahal kupikir ratu memang sengaja tak ikut karena merupakan suatu tradisi.


Lennef juga sepertinya tak sadar bahwa ibundanya tak ada sejak awal, dia ikut panik dan terus-menerus mempertanyakan ibunya kepadaku. Karena tak ingin hal buruk terjadi, raja memerintahkan kepada supir kuda untuk mempercepat keretanya.


Kereta kuda berlalu cepat diantara kerumunan penonton, dan sampai di istana 5 menit


Semua orang termasuk aku bergegas masuk ke dalam istana, kami berlari dengan terengah-engah, bahkan Lennef harus sampai melepas sepatu hak-nya dan menaikkan roknya agar mudah berlari.


Kami sampai di depan pintu istana, anehnya, tak ada penjaga yang menunggu di depan pintu itu. Ini bukanlah gerbang, melainkan pintu masuk ke dalam gedung. Aneh rasanya kalau penjaga bisa dengan lancang membiarkan pintu ini tak terjaga.


Raja Loiros membuka pintu masuk istana yang besar itu dengan kasar. Pintu terbuka, dan kami semua masuk.


Betapa terkejutnya kami ketika melihat ramainya orang-orang tak dikenal berada di dalam istana. Lagi, mereka bukanlah orang biasa, mereka adalah pria-pria berbadan kekar dengan baju atasan terbuka memperlihatkan dada dan perut mereka yang terbentuk.


Namun yang menjadi perhatian adalah, orang di tengah ruangan yang meggunakan pakaian mewah, tampan, dan memiliki gaya rambut yang tak biasa. Orang itu memegang belati di tangannya, dan terarahkan pada seorang leher wanita yang tak lain adalah Ratu Andervine. Ratu berlutut di sebelah orang itu.


Pria-pria kekar mengitari ruangan, seolah mengepung kami. Bahkan pintu istana pun ditutup dan kami sama sekali tak memiliki jalan keluar. Diantara orang yang mengepung, kulihat ada Hile yang dijaga oleh pria yang memiliki aura yang berbeda dengan orang lain.


Situasinya sangat rumit, sungguh.


“Valarish.. jangan kau lagi.” Raja Loiros menggerutu kesal kepada orang yang menodongkan pedangnya kepada Ratu.


Orang yang bernama Valarish menjawab, “Loiros, senang bertemu denganmu.” Meskipun menjawab Raja Loiros, pandangan Valarish justru tertuju pada Lennef. Dia melihat Lennef dari ujung kepala hingga ujung kaki.  Sungguh pandangan yang sangat menjijikan.


“Apa-apaan ini? Apa tujuanmu?!!” Raja Loiros kesal dan membentak.


Tak gentar dibentak, Valarish mengatakan dengan nada yang menyebalkan, “Aku kesal kalau kau berteriak dengan suara kasarmu itu,” dia mengatakannya sambil menggesek sisi pedangnya pada leher Ratu. Darah merah kental mengalir di pedang. Tapi sepertinya itu hanya luka luar, Ratu masih hidup dan hanya menahan sakit.


Tak tega melihat istrinya disakiti, Raja Loiros ingin segera mengambil tindakan. Aku bisa merasakan aura negatif dan mana terpancar dari Raja Loiros yang kesal dan siap menyerang, tapi sebelum Raja menyerang, Florinas menenangkannya dengan menyentuh pundaknya. “Tenanglah, kalau kau bertindak gegabah, maka istrimu akan mati. Dia tak segan untuk melakukannya.” Kata Florinas pada raja.


“Lalu apa? Kau ingin aku diam melihat istriku terluka? Meskipun dia mati sekalipun, aku bisa membangkitkannya dengan sihir milikku.”

__ADS_1


“Membangkitkannya? Itupun kalau kau masih hidup.” Hina Florinas.


Raja merasa terhina, tapi juga sadar bahwa ada arti penting dari perkataan Florinas. Raja kembali tenang dan mengikuti suasana dengan kepala dingin.


“Valarish.. cepat katakan apa tujuanmu atau kubunuh kau dan jiwamu sekalian.” Kata Raja.


“Tujuanku? Hanya satu. Aku membenci keputusanmu yang dengan seenaknya menjodohkan kekasih manisku dengan pria bodoh di sebelahnya. Putrimu, Lennef, aku ingin dia menjadi istriku. Kalau tidak.. kau akan tahu konsekuensinya kan?” Valarish mengancam. Didengar bagaimanapun, nada bicaranya memang sungguh menyebalkan.


“Kalau kau membunuh istriku, maka aku akan meratakan Kekaisaran kumuhmu itu dengan tanah.” Raja Loiros tak mau kalah.


“Silahkan, silahkan saja. Tepat di tempat aku berdiri, ada area yang bisa menteleportasiku langsung ke istana. Aku sudah siap untuk berperang denganmu. Bahkan, satu-satunya alasan aku tak membunuh Andervine adalah karena aku belum mendapatkan apa yang kumau.”


Ini sangat sulit, aku tak tahu bagaimana harus bertindak.


Dua orang harus kuselamatkan, yaitu Ratu dan Hile, itu artinya aku harus cepat bertindak dengan mengabaikan para penjaga yang kuatnya setara dengan preman yang kulawan sebelumnya.


Tunggu, preman? Ah, benar juga, mereka memiliki tato yang sama di dada mereka. Begitu, jadi preman waktu itu juga salah satu orang mereka.


Hile ada dalam penjagaan orang yang kuatnya di atas para penjaga itu, dia bukanlah orang biasa. Sedangkan Valarish itu kekuatannya lebih jauh di atas, Raja Loiros sendiri sebenarnya bahkan lebih lemah dari Valarish.


Tapi, itu bukan berarti dia yang terkuat. Nyatanya, Valarish masih jauh lebih lemah daripada Florinas, dan itu artinya jauh lebih lemah daripada aku.


Ketika aku berpikir, Valarish melirik ke arah Florinas dan mengatakan, “Ah, aku tambah syaratnya. Kalau kau memberikan Lennef dan gadis cantik yang melayang itu kepadaku, maka kupastikan Ratu-mu aman, dan selamanya Kekaisaranku tak akan mencari masalah dengan kerajaanmu.” Dia menunjuk Florinas.


“Maaf ya, manusia. Aku bukanlah anggota kerajaan ini, kau membunuh Ratu itu pun aku tak peduli. Selain itu, menyerahkan diriku kepadamu sama saja dengan menghina Master.”


“Master? Apa jangan-jangan orang yang ada di sebelahmu itu? Ahahaha!! Meffery Walter, kau pria yang unik rupanya.” Valarish tertawa kepadaku. “Tapi gadis manis, aku bisa memberikan kenikmatan yang tak pernah kau rasakan sebelumnya. Perempuan yang pernah kuberikan kenikmatan itu.. rata-rata dari mereka kini tak bisa memikirkan apa-apa selain diriku.”


Mendengar itu, Florinas mengeluarkan aura yang mencekam. Aura ini ratusan kali lebih kuat daripada aura yang dikeluarkan Raja Loiros barusan. Bahkan, saking kuatnya aura ini, seluruh ruangan seperti membeku dan membuat Valarish merinding. Lennef bahkan sampai harus menahan muntah karena seramnya aura Florinas.


Aku menenangkan Florinas.


“.. kekuatan yang mengerikan, pas sekali dengan seleraku. Kira-kira.. teriakan seperti apa yang akan kau keluarkan ketika kita menari bersama?” Valarish sekali lagi menggoda Florinas dengan tatapan mesum.


Aku yang sudah muak dengan tindakan konyol ini segera mengambil tindakan. Karena Raja juga tidak mungkin menyerahkan putrinya kepada si mesum ini, terpaksa aku yang harus menyelamatkan Ratu secara paksa.


Aku berjalan ke depan, ke tempat dimana Ratu ditodong. Saat itu juga, beberapa penjaga berbadan kekar menghalangi jalanku. Badan mereka besar dan tinggi, aku bahkan kehilangan 80 persen pandanganku ketika berada di depan mereka.


“Dengar, aku tak ingin mencari banyak masalah. Tapi kudengar kau memiliki kekaisaran? Bisakah kau kembali saja dan jangan mengutak-atik keluargaku? Jujur, itu akan sangat membantu.” Kataku kepada Valarish yang tertutupi.


Valarish tertawa mendengar itu, kemudian dia memberikan perintah yang mengejutkan, “Dia tunangan Lennef, bunuh dia!”


Saat itu juga, orang-orang yang menghalangi jalanku menuju Valarish segera meluncurkan tinju mereka. Dengan badan sebesar itu dan kepalan yang sangat keras, aku yakin betul mereka tidak akan merasa sakit meskipun menghancurkan tembok sekalipun. Ya, itu kalau yang mereka pukul adalah tembok.


Mereka memukul secara bersamaan, tapi aku membalas pukulan mereka dengan memukul pada kepalan mereka satu per satu. Aku melakukannya dengan gerakan secepat suara, bahkan tak satupun orang yang mengetahui bahwa aku baru saja memukul.


Satu-satunya bukti pukulanku adalah darah yang mengalir deras dari tangan mereka. Ketika pukulanku bertubrukan dengan kepalan mereka, saat itu juga tangan mereka meledak. Satu pukulan dariku mampu membuat lengan dengan otot kerasnya hancur. Darah mengucur deras dari lengan mereka, dan mengalir di lantai sampai ke sepatuku.


Mereka yang baru saja kehilangan tangannya jelas panik dan syok, mereka merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saat itulah, aku melakukan tendangan memutar dengan targetnya adalah kepala mereka. Hanya dengan satu tendangan dan satu putaran, aku membuat kepala-kepala itu melayang, terlepas dari badannya. Mereka mati seketika.


Semua orang yang melihat kejadian ini panik, Lennef mengumpat di belakang punggung ayahnya, dan Hile menutup matanya. Sedangkan Florinas.. astaga, dia tersenyum.


“Kau mengerti sekarang Valarish? Perbedaan kekuatan kita terlalu jelas. Bunuhlah Ratu, berteleportasilah ke manapun yang kau mau. Tapi, itu artinya kau akan menjadi musuhku, dan aku akan memburumu sampai ke ujung dunia sekalipun.” Kataku.


Valarish terdiam, menelan ludahnya selagi keringat dingin membanjiri badannya.

__ADS_1


__ADS_2