
“Killifer adalah mata-mata Walter?”
Daralo bingung dengan message scroll yang muncul di dekatnya secara tiba-tiba. Rupanya message scroll itu adalah laporan yang dikirim istrinya kepada Daralo. Ini adalah laporan keduanya sejak sebelumnya istrinya melaporkan bahwa surat jebakan sudah sampai ke tangan Walter.
Daralo setuju dengan laporan tersebut, karena Daralo sudah tahu bahwa Killifer memang mata-mata Walter. Tapi yang Daralo tahu bahwa Killifer juga merupakan mata-matanya, dan berpihak kepadanya sepenuhnya. Dengan begitu, ia menganggap bahwa laporan dari istrinya adalah berita lama yang padahal faktanya sudah diketahui Daralo sejak Killifer datang.
Di dalam ruangan kaisar, Daralo termenung sendirian sambil memikirkan bagaimana dia bisa membangun panggung untuk besok. Untuk seorang Marquis, Daralo bukannya tak terbiasa dengan pembunuhan, tapi kalau yang kali ini melibatkan raja maka sudah wajar kalau dia juga ragu.
Belum lagi mereka punya Walter. Keinginan Daralo adalah kematian raja, tapi apabila Walter marah akan hal itu, maka Daralo akan menuntut Walter dengan alasan bahwa kemarahannya itu tidak adil dengan dirinya yang sudah merenggut Kaisar Valarish. Skenario terburuknya adalah kepunahan Nasaroth, tetapi hubungan antara Walter, Putri Lennef, dan Ratu Andervine pasti memburuk.
“Hidupku jadi rumit karena orang itu mati..” Daralo berbicara sendiri, mengingat bagaimana sosok sahabatnya, Valarish, yang kini sudah tiada. Ia melihat ke jendela luar, terlihat pemandangan langit malam dengan bintang-bintang yang sangat indah.
Ketika Daralo sedang termenung, tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tanpa permisi ataupun izin, seseorang masuk ke dalam. Orang itu adalah Killifer, sahabat dekat Valarish.
“Killifer, ada apa? Kukira kau sudah tidur.”
“Aku sudah mendapatkan informasi apakah Raja Loiros akan datang atau tidak.. bahkan rute-nya pun aku tahu.” Kata Killifer dengan senyuman penuh percaya diri di wajahnya.
Mendengar itu, Daralo berseru senang. Ia menghampiri sahabatnya dan menyuruhnya untuk duduk agar perbincangannya bisa lebih santai. “Sungguh, memiliki orang dalam itu memang yang terbaik. Coba jelaskan padaku!”
“Besok di siang hari, Raja Loiros akan kemari melewati rute padang rumput di tepi Hutan Zeri. Dan berita bagusnya, dia tidak akan datang bersama Walter, melainkan dengan hanya kawalan dari beberapa Ksatria Kerajaan saja.” Killifer menjelaskan.
“.. beberapa? Ksatria Kerajaan itu kuat, aku tak bisa menjamin kesuksesan misi kalau mereka ada banyak. Lebih tepatnya ada berapa?”
“Kalau tidak salah hanya dua.. kakak beradik, Quine dan Neressy.”
“Haha, bagus, mereka hanya ada dua.” Daralo tertawa, sedangkan Killifer hanya bisa tersenyum ketika sahabatnya tergelitik. “Ayo, Killifer, kita siapkan pasukan sebanyak-banyaknya..”
***
“Walter, kau mau kemana?” tanya Lennef.
“Aku memiliki urusan sebentar, kau tunggu saja disini. Oh, ya, jangan lupa beritahu Hile bahwa kue krim miliknya sudah kumakan.” Aku diiringi dengan Florinas dan Varnella berjalan keluar istana.
“Apa ini tentang Nasaroth?”
Aku menghentikan langkahku, “.. Lennef, kau tenang saja, aku pasti akan segera kembali. Aku juga tidak akan melakukan hal yang buruk kepada mereka.”
Dan dengan itu, Lennef sudah tak lagi memiliki kalimat untuk dikatakan. Dari wajahnya, aku bisa tahu bahwa sebenarnya Lennef tidak khawatir denganku, dia malah khawatir dengan nasib para pasukan Daralo yang sejak awal sudah kujebak.
Aku memegang tangan Florinas dan Varnella, kemudian menggunakan skill teleportasi untuk berpindah tempat ke lokasi perkumpulan yang sudah ditentukan sebelumnya.
Tak lebih dari sekedip mata, kami sudah berpindah tempat. Suhu berubah seketika, begitu juga dengan hembusan angin. Kami yang tadinya berada di halaman istana, kini sudah menginjakkan kaki di tempat lembab bernama hutan.
Suara kicauan burung dan gesekan daun memenuhi tempat ini, suara bising dedaunan kering yang tertumpuk di tanah ketika menggerakan kaki juga membuat suasana hutan menjadi sangat hidup. Apapun itu, aku tak peduli dengan keindahannya, karena disilah aku akan melakukan eksperimen yang terinspirasi dari Varnella.
Di hutan itu, sudah ada Killifer yang menunggu kami.
Begitu semuanya berkumpul, spontan kami membuat lingkaran dan mereka mendengarkanku bicara.
Tepat di tempat kami berdiri saat ini, sebenarnya adalah area Space Prison milik Varnella, yang nantinya akan digunakan untuk memerangkap para pasukan Daralo. Tapi berbeda dengan penjara yang mengurung seseorang di dalam ruang tertutup, Space Prison bisa membuat seseorang berpindah ke ruang hampa apabila menginjak area sihir yang sudah ditanami sihir itu.
Itulah kenapa nantinya meskipun Daralo membawa jutaan pasukan sekalipun, aku akan menggiring mereka semua masuk ke area lingkaran berdiameter 15 meter ini.
“Pasukan Daralo akan tiba kurang lebih 2 jam, Tuan Walter.”
__ADS_1
“.. baiklah, terima kasih. Berarti dengan ini rencana kita untuk menjadikan mereka tumbal sudah selesai.”
Mereka semua mengangguk.
Kemudian Florinas menyeletuk, “Tapi, dengan hanya penjebakan sederhana ini apakah Master bisa tahu pintar atau tidaknya Daralo?”
“Tentu saja. Justru karena ini sederhana, dia sangat bodoh karena tidak menyadarinya.”
“.. anda sangat hebat, Tuan Walter.” Varnella memujiku.
Semuanya berjalan sesuai rencanaku.
Pertama, aku melakukan sedikit pendekatan terhadap Daralo dengan cara menyuruh Killifer berpura-pura berpihak padanya. Dengan begitu Daralo akan paham bahwa dirinya bisa mengetahui segala tentang diriku dengan mudah. Itulah sebabnya dia bisa melakukan rencana berani dengan menyuruh Raja Loiros datang, tetapi suratnya diberikan padaku.
Kedua, sejak awal aku sudah tahu bahwa Cardella mengintaiku. Itulah kenapa aku berpura-pura menulis surat perintah yang kukirim melalui burung untuk Killifer. Sesuai dugaan, burung itu dijatuhkan oleh Cardella dan diganti isi perintahnya. Padahal sejak awal burung itu memang tidak akan terbang ke Killifer. Dengan begini aku bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Cardella di Raverine.
Ketiga, sejak awal Killifer tidak akan menerima perintah dariku selama menetap di Nasaroth, melainkan menerima perintah dari Florinas yang memasang Space Prison di Hutan Zeri.
Ketika panggung itu sudah siap, maka sudah tak ada lagi yang perlu dipikirkan. Daralo akan datang, dan itu sudah pasti.
“Kalau begitu, semuanya.. kita akan menunggu Daralo disini.” Kataku.
“Ya, dan aku akan kembali menemui Daralo untuk menggiringnya kemari, Tuan Walter.” Kata Killifer.
“Silahkan.”
Killifer pergi dengan berlari ke arah Nasaroth.
Aku mengaktifkan sihir Invicible, yang membuat tubuh kami tak terlihat. Masing-masing dari kami hinggap di dahan pohon besar agar bisa menikmati pemandangan di bawah ketika para pasukan Daralo terhisap ke penjara.
Kurang lebih kami akan menunggu disini selama 2 jam, seperti yang dikatakan Killifer. Dan karena hanya Quine yang tidak ada dalam pertemuan ini, itu artinya hanya ada aku, Florinas dan Varnella. Kami memiliki kemampuan yang bisa mengubah aura kami menjadi lemah atau bahkan menjadi nol, sehingga kami tak akan terdeteksi sedikitpun.
***
Kerajaan Raverine sama seperti hari-hari biasanya, tak ada yang spesial. Meskipun begitu, hiasan-hiasan festival seperti lampion dan kertas berwarna-warni masih mewarnai langit. Kemeriahan festival juga masih terasa, terlihat dari bagaimana ramainya pedagang camilan di sekitar jalanan Raverine.
Di tengah jalanan Raverine yang tak padat, seorang perempuan berjalan dengan tenang menuju ke arah luar Raverine. Ia menggunakan mantel dan topeng yang menutupi wajahnya secara penuh. Penampilan seperti itu tak akan dicurigai orang lain, memang terkadang ada orang tak dikenal yang berjalan-jalan menggunakan topeng, masyarakat sudah biasa dengan hal itu. Di tangan si perempuan yang berjalan sendirian itu terdapat sebuah amplop, yang di dalamnya adalah sebuah gambar seorang anak yang tak lain adalah anak perempuannya sendiri.
Di antara langkahnya, perempuan itu membuka amplop yang sudah berkali-kali ia lihat isinya. Gambar itu dikeluarkan dari amplop, dan terlihatlah seorang anak perempuan yang memegang bunga, terlukis menggunakan pensil dan tinta di atas kertas tebal. Perempuan itu, yang tak lain adalah Cardella, melepas rindu dengan anaknya setelah 2 hari tak bertemu, Cardella terlalu berlebihan.
Cardella terlalu larut dalam gambar anaknya, ia tak memperhatikan jalan. Sampai kepala Cardella menabrak sesuatu dan membuatnya langkahnya terhenti. Sebelum Cardella sadar apa yang dia tabrak, langsung dia meminta maaf. “Maafkan aku.”
Orang yang ditabrak itu tak menjawab, tapi sosoknya juga tak pergi dari hadapan Cardella. Cardella mengangkat kepalanya, dan sekarang dia tahu siapa orang yang dia tabrak. Seorang gadis berambut coklat yang dikuncir kuda, mengenakan seragam ksatria yang lengkap dengan pedang di pinggangnya, gadis berkuncir itu bertolak pinggang ke Cardella dengan senyuman yang cantik.
“Maafkan aku, Nona Ksatria..” ucap Cardella dengan sedikit takut.
“Tidak, tidak, tak masalah.” Gadis itu tersenyum lebar, ia terlihat seperti orang ceria yang menjadikan senyuman sebagai gaya hidup. Ia mendekat ke Cardella kemudian menepuk kedua pundak Cardela. “Tapi sayang sekali karena di Raverine tak boleh menggunakan topeng. Sudah tugasku untuk membuat anda melepaskan topeng itu.”
“Apa maksudmu? Tidak pernah ada peratruan seperti itu.”
“Tentu saja ada, hanya anda saja yang tidak menyadarinya.” Ucap gadis itu dengan wajah yang licik.
Melihat wajah licik itu, Cardella sadar bahwa dia sedang dijebak. Ia memang sengaja dibuat menabrak gadis itu sehingga ia bisa meminta Cardella melepas topeng. Tapi untuk sekarang, melepas topengnya di negara musuh adalah sebuah kesalahan. “Aku.. tak bisa melepaskan topengku.”
Wajah gadis ksatia menjadi kesal, “Kenapa?” Seketika aura yang lebih mengerikan dari monster muncul dari sekitaran tubuhnya.
__ADS_1
Cardella memutar otak untuk berbohong. “.. aku.. memiliki penyakit kulit yang mengerikan. Aku tak yakin kau mau—”
Sebelum ucapannya selesai, sebuah pedang ditebaskan langsung ke kepala Cardella. Mustahil untuk menghidar dari serangan yang tak diketahuinya, mata Cardella terbelah karena tebasan pedang itu.
Awalnya terasa dingin, tapi kemudian menjadi panas, dan sangat menyakitkan. Kepala Cardella ikutan sakit, dan tubuhnya menjadi sangat lemas. Tak ada yang bisa Cardella lihat selain warna hitam. Setiap kali ia berusaha melihat, perihnya semakin terasa.
Cardella berteriak kesakitan, ia tersungkur di tanah sambil memegangi matanya yang berlumuran darah.
“Syukurlah tebasannya sempurna, kalau tidak mungkin anda sudah mati.”
“.. kau.. apa yang.. kau lakukan?” tanya Cardella dengan menahan sakit.
“Tenang saja, anda tak akan mati, aku menjamin itu.”
Cardella merasakan rambutnya ditarik, kepalanya sengaja didongakkan, ini semata-mata agar si gadis ksatria bisa melihat dengan jelas wajah dari Cardella yang topengnya sudah hancur karena terbelah. Selesai melihat wajah Cardella, gadis ksatria menjatuhkan tubuhnya begitu saja.
Cardella sudah tak sanggup melakukan apapun, badannya juga sudah lemas karena dia berteriak yang membuatnya semakin panik. Tapi Cardella masih bisa mendengar, yaitu suara dari gadis ksatria yang berbicara sendiri.
“Tuan Walter, aku sudah mendapatkan Cardella. Apa aku harus membawanya ke lokasi?” ucap si gadis ksatria di antaranya laporan panjangnya yang tak berarti. Tampaknya gadis itu menggunakan sihir tertentu untuk berbicara jarak jauh.
Siapa yang dia hubungi? Apa Meffery Walter?
Mendengar nama Walter diucapkan, Cardella merasa ada pertanyaan yang selesai dijawab. “Kau.. siapa namamu?” tanya Cardella pada orang yang menebas matanya.
“Aku? Namaku Quine von Harold, senang bertemu denganmu.” Nadanya ramah dan hangat.
***
Putri Cardella dan Daralo, melihat dari jendela rumahnya ketika ayahnya pergi keluar rumah meninggalkannya. Dengan hanya meninggalkan pesan agar putrinya tak berbuat nakal, Daralo pergi dengan alasan memiliki urusan. Pada akhirnya si putri memandangi ayahnya dari jendela kamar rumahnya yang besar bagaikan istana. Hingga detik-detik terakhir, putri bangsawan tetap memandangi punggung ayahnya sampai ia benar-benar menghilang.
Ketika ayahnya sudah tak lagi terlihat, yang terbayang di wajah si putri adalah bagaimana ia bisa melihat ayahnya lagi, tetapi dengan wajah ramah yang selama ini hanya bisa dilihatnya lewat mimpi. Apalagi ibunya yang juga pergi dengan alasan yang sama, putri kecil itu sendirian di rumah yang besar.
Ia berbaring di kasur, berguling-guling karena malas, sambil terkadang-kadang memeluk boneka beruang miliknya yang memiliki ukuran sama dengan tubuhnya.
Tiba-tiba, si putri merasakan rasa mual yang sangat menjijikan. Badannya terasa panas, dingin, kepalanya pusing seperti ia baru saja hidup di 2 dunia sekaligus. Kemudian di hatinya terukir sesuatu yang sangat menyedihkan, yaitu kekhawatiran terhadap orang tuanya.
Entah kenapa, si putri merasa bahwa orang tuanya tak akan pernah kembali lagi.
Ia kembali ke jendela, memastikan apakah ayahnya masih ada atau tidak. Sayangnya tidak, ayahnya sudah tak lagi terlihat baik jejaknya sekalipun.
Tak ingin menyesal di lain waktu, si putri mengikuti naluri acaknya. Ia berlari secepat kilat menuju pintu keluar rumahnya. Pembantu di rumah keluarga Daralo yang melihat anak bangsawan itu berlari segera menghentikannya. Tapi si putri tetap bersikeras untuk keluar rumah.
Sampai di luar rumah, ia menuju ke luar pagar.
Sayang sekali karena harapan si putri tak terjawab. Di tempat yang dikiranya bisa berpamitan sekali lagi dengan ayahnya, anak itu hanya bisa meratapi ketika kereta kuda yang membawa ayahnya pergi kini sudah berubah menjadi bintik kecil di ujung jalan.
Berteriak juga percuma.
Apalagi mengejarnya.
“.. ayah.. ibu.. apa kalian akan kembali?”
Putri kecil itu hanya bisa terduduk lemas di tanah ketika kekhawatirannya sudah membunuh energinya. Kemudian, dari belakangnya ia mendengar suara yang begitu ramah. “Nak, kau baik-baik saja?”
Putri kecil menoleh. Yang memanggilnya ternyata adalah seorang wanita dewasa, dengan rambut hijau gelap. Wajahnya cantik, persis seperti ibu dari si putri kecil. Ia menggunakan topi lebar dengan hiasan bulu burung, dan membawa koper besar di kedua tangannya.
__ADS_1
“Siapa kau?” kata putri kecil.
“.. mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku.”