
Di atas ranjang, kami saling berpelukan dengan bibir kami yang saling menempel. Lidah kami saling menjilat, ciuman ini terlalu liar untuk seorang manusia. Berbeda dengan ketika Florinas menciumku, Holiana masih sedikit pengertian. Ia memang tak berencana melepaskanku, tapi tekanannya sangat lemah, Holiana tak memaksakan ciumannya.
Aku berbaring di atas kasur, dengan Holiana berada di atasku. Ia menarik kepalanya. Kami saling bertatap, dengan wajah yang sedikit merah, aku melihat sedikit keraguan pada mata Holiana. Ia menguatkan tekadnya, yaitu dengan cara membuka satu per satu kancing bajunya.
“Tunggu!” aku menghentikan tangannya, ia berhenti tepat sebelum bagian dalamnya terlihat olehku. Dengan sedikit sedih aku berkata, “Aku sudah memiliki tunangan, mungkin kau belum mendengarnya. Tapi aku adalah tunangan dari—”
“Aku tahu.” Potong Holiana cepat.
“Lalu kenapa? Kau tidak seperti dirimu yang biasanya.”
Holiana memalingkan wajahnya. “Ini adalah sumpahku. Aku pernah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku harus hidup bahagia dengan orang yang suatu saat akan menyelamatkanku.”
“.. meskipun begitu, ini hubungan yang salah.”
“Kalau begitu, apa kau mau bertunangan denganku juga?!” Holiana berteriak, mempertanyakan sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merasa kaku.
“.. apa?”
“Aku.. aku tak keberatan bila menjadi istri keduamu. Benar, kalau kau menikah denganku, kau bisa menjadi Raja..”
“Tidak, tidak, tidak,” aku mundur, mengeret bokongku sampai menyentuh ujung kasur. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya menjadi Holiana di saat kita pertama kali bertemu. Aku yang ketakutan, dan Holiana yang memberangkak ke arahku dengan tatapan terangsang. “I-I-Ini ide buruk.. Holiana. Kalau kau terus memasang wajah begitu, aku takut diriku tak bisa terkendali.”
Tanpa mendengarkanku, Holiana memelukku. Ia mendekap wajahku ke dadanya yang nyaman. Dengan suara yang lembut dan hangat, Holiana membisikkan, “Kalau kau tak mau menikah dengaku.. kumohon.. berilah tanda pada tubuhku ini.”
“Tanda?”
Holiana melanjutkan membuka bajunya, “Seharusnya kau tahu..”
Astaga, perlukah diriku melihat tubuh telanjang agar bisa mengerti arti kata ‘tanda’? Ternyata yang dimaksud Holiana adalah hal yang seperti itu, hubungan tubuh dan tubuh, untuk seorang wanita itu memang sebuah tanda.
“Kalau kau menolak, sama saja menghina sumpahku, Walter.”
Sudahlah, sudah..
Aku tak akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu.
***
Florinas terdiam setelah mendengar ceritaku, matanya melotot, tajam, seperti sebuah elang yang siap menerkam mangsanya. Ini adalah wajah yang paling menakutkan, yang pernah Florinas buat dan dia tunjukkan kepadaku.
“Master.. jangan bilang..”
“.. sudah kubilang aku tidak ingat apa-apa setelah itu. Bagaimana ini? Hei, bantulah aku!” aku meminta tolong kepada Florinas dengan setengah menangis. Betapa putus asanya diriku karena menceritakan ini kepada perempuan yang paling sering menggangguku.
Florinas sedikit berpikir, meskipun wajahnya masih seperti menghinaku, ia tampak serius memikirkan solusinya. “Hmm.. kira-kira apa yang akan tunangan Master katakan kalau dia mendengar ini?”
“Jangan itu yang kau pikirkan!! Juga jangan pernah memberitahukannya, kalau tidak aku akan merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian. Kalau Lennef sampai tahu, dia—”
“Kalau Lennef sampai tahu.. kenapa?” tiba-tiba suara yang kukenal terdengar di belakangku.
Suara itu adalah suara tunanganku, Lennef, yang entah kenapa terdengar seperti suara Dewi Kematian bagiku. Aku menolehkan muka perlahan-lahan. Kulihat tunanganku berdiri di balik pintu, kemudian melangkah mendekat dengan wajah curiga yang sangat menakutkan.
Aku pernah tahu tentang instuisi wanita atau semacamnya, kalau hal yang seperti itu memang ada, maka tak salah lagi Lennef akan membunuhku saat ini juga.
“L-L-Lennef?? A-Apa yang kau lakukan.. disini??” aku bertanya dengan nada yang aneh, keringat dingin bercucuran dari sekujur tubuhku. Hal ini jelas membuat Lennef semakin curiga.
“Florinas, apa yang terjadi dengan Walter?”
“Master tidur dengan—”
“Tidak, aku tidak apa-apa!!” aku menutup mulut Florinas yang iseng karena dengan mudah menjawab itu. Padahal mereka berdua biasanya tidak akur, tapi ketika aku sedang berada dalam masalah, seolah mereka membuat aliansi tanpa berbicara. Perempuan.. sungguh menakutkan.
Ketika situasi mulai tegang karena Lennef semakin curiga, muncul keajaiban yang menolongku. Pintu terbuka, dan terlihat sosok pasangan paling sering menempel yaitu Quine dan Killifer. Quine datang dengan wajahnya yang biasa, begitu juga dengan Killifer.
__ADS_1
Quine datang menghampiri kami bertiga. “Tuan Walter.. kurasa sudah saatnya untuk kita pulang.” Ucap Quine dengan nada yang sopan.
“Benar, Tuan, aku khawatir dengan Kekaisaran Nasaroth yang kita tinggalkan begitu saja. Terutama.. tentang Raja Loiros.” Tambah Killifer.
Oh, iya, aku lupa dengan Kekaisaran itu. Kalau tidak salah, sejak aku membunuh Kaisarnya, negara itu sudah tak memiliki pemimpin lagi. Dan lagi aku tak mengirimkan mayat mereka kembali, apa mereka baik-baik saja disana?
“Menurutmu apa yang akan terjadi pada Kekaisaran kalau Kaisar Valarish mati.. seperti.. siapa yang akan menjadi penerusnya?” tanyaku pada Killifer.
Dengan hanya berpikir sebentar, Killifer menjawab, “Kemungkinan.. Marquis Daralo. Dia adalah orang yang hebat, sahabat sang Kaisar. Kalau dia memimpin, aku ragu negara itu akan hancur dengan cepat.”
“Begitu.. dia orang yang cukup merepotkan.”
Mendengar perkataanku, semua orang yang berada di dekatku menatap heran. Tidak, satu yang tidak menatap heran adalah Florinas. Entah kenapa dia malah tersenyum bangga karena aku mengatakannya. Malahan aku sendiri bingung kenapa mereka kebingungan.
Yang pertama kali bertanya tentang kebingungan ini adalah Quine, “Tuan.. apa anda berencana merebut Kekaisaran?”
Wooaah.. ternyata itu yang mereka pikirkan.
Memang benar, perkataanku tadi bisa terdengar seolah apabila Daralo menjadi penguasa maka itu akan membuaku repot. Tak salah kalau mereka menganggap aku ingin mengusai Kekaisaran. Tapi sebenarnya itu hanyalah seruan yang biasa kukatakan ketika merasa ingin mendapatkan masalah baru.
“Tidak, aku tidak berencana seperti itu. Memangnya apa lagi yang kubutuhkan? Harta senilai segunung emas, dua ahli pedang yang menjadi rekanku, tunangan yang cantik.. dan satu teman baru yang merupakan Roh legendaris.”
“Master, kau tak menyebutku?”
Tidak, kau merupakan kebutuhan tersier bagiku. Omong-omong aku juga tidak begitu peduli dengan kemewahan, jadi anggap saja Florinas adalah ornamen.
“Benar juga.. dimana Varnella? Kalian sudah selesai membelikannya pakaian?” tanyaku pada Quine dan Killifer.
Quine dan Killifer saling pandang, mereka membuat wajah penuh percaya diri seakan ada yang ingin mereka tunjukkan padaku. “Tuan Walter, anda tidak akan percaya ketika melihat Nona Varnella nanti. Ia sangat cantik. Tapi dia merasa malu bila bertemu Tuan, jadi dia menunggu di kamarnya.”
“Baguslah, aku tak sabar ingin melihatnya.”
Tiba-tiba, sebuah burung merpati berwarna putih muncul di depan kami. Ia terbang dari arah barat, mengepakkan sayapnya yang meruntuhkan bulu-bulu seperti salju, dan hinggap di kepala Quine. Burung itu membawa sesuatu di punggungnya, terlihat seperti sebuah bambu yang diikat.
Killifer langsung membuka surat itu, tapi aku menghentikannya dan memintanya agar aku saja yang membacanya terlebih dahulu. Killifer mengizinkanku, bahkan meskipun ini adalah surat pribadi, tampaknya kesetiaan Killifer memang tak perlu dipertanyakan.
Isi surat dalam bambu adalah seperti ini;
‘Keadaan darurat, Kaisar Valarish sudah mati. Killifer, kau jangan bermain petak umpet di saat seperti ini. Kau yang ikut dengan Kaisar Valarish di acara pemberontakan festival pasti tahu sesuatu bukan? Aku tahu kau masih hidup. Tak ada kau diantara mayat-mayat yang dikembalikan ke Nasaroth. Kalau kau menerima pesan ini, segeralah buang pesannya dan pergi ke istana tanpa berbicara dengan siapapun.
Tertanda, Marquis Daralo.’
Marquis Daralo, aku terkejut kau adalah orang yang sangat peduli dengan negaramu sendiri. Padahal untuk seorang bangsawan, apalagi Marquis, dia bisa memanipulasi politik negara dengan mudah dan menjadikan dirinya sebagai Kaisar saat itu juga. Sebuah tiket surga yang tak terbantahkan.
Tapi dia malah memilih untuk memperjelas situasinya.
Apa sebenarnya dia takut kepadaku? Jujur itulah yang kurasakan ketika pertama kali membaca surat ini. Sebuah surat yang ditulis dengan perasaan takut.
“Ada apa, Master?”
Mungkin sesekali aku harus mengerti caranya memimpin.
Rasanya.. aku pernah mengalami ini sebelumnya.
“Maafkan aku, Lennef, bisakah kau panggil Varnella sebentar?” aku meminta tolong pada Lennef. Diakhir kalimat, aku menyertainya dengan kedipan mata yang merupakan kode baginya.
Lennef mengerti bahwa itu adalah pertanda agar dia pergi dan tidak mendengarkan apa yang akan kubicarakan selanjutnya, “Baiklah, aku akan memanggilnya.” Tunangan cantikku pun pergi.
Aku membiarkan tiga orang yang tersisa untuk membaca isi surat dari Marquis Daralo kepada Killifer.
“Kalau tidak salah, Kekaisaran dan Raverine itu bersebelahan kan?” tanyaku.
“Ya, kami hanya terpisah oleh tujuh belas kilometer lahan tanah kosong.”Quine menjawab.
__ADS_1
“Aku sudah memikirkannya. Baiklah, aku akan menguasai Nasaroth.. tapi tidak dengan caraku yang biasanya.”
“Apa maksudmu.. Master?”
Aku menjelaskan rencanaku kepada mereka, “Singkatnya, aku tak akan benar-benar menguasai Nasaroth, tapi aku akan menguasai pemimpinnya terlebih dahulu, si Daralo.”
“Tapi.. itu membuang waktu.”
“Justru itulah, aku memang berencana membuang waktu. Yang kuinginkan dari Nasaroth bukanlah sumber daya alamnya, melainkan tenaga manusianya. Aku membutuhkan segerombolan orang kuat yang berani mati sebagai pasukan cadangan.”
Quine memahami penjelasanku, “Aku mengerti.. kalau Tuan Walter langsung mengangkat diri menjadi Kaisar disana, mereka pasti tidak akan terima dan malah memberontak.”
Killifer memberi penjelasan tambahan yang berisifat negatif, “Kalau begitu kenapa tak gunakan Complete Order, atau Royal Servants untuk membuat mereka semua patuh? Menghipnotis orang di seantero negara bukan hal yang mustahil bagi Tuan.”
“Alasannya ada dua. Pertama, sudah kubilang bahwa ini hanya untuk membuang waktu, anggap saja Nasaroth adalah pohon emas yang kita rawat dengan baik tanpa sihir atau semacamnya, jadi kita bisa nikmati hasilnya secara maksimal. Kedua, aku ingin tahu seberapa pintar si Daralo ini, kalau dia tak sesuai dugaanku maka akan kuganti pemimpinnya dengan yang lain.”
Kini Florinas yang menambahkan, “Master, bagaimana caranya membuktikan kecerdasan Daralo?”
“Mudah saja, kita buat seolah kita adalah tim yang memiliki hubungan kuat dengan raja. Hingga Daralo menghubungi kita, tunjukkan kepadanya betapa lemah kita. Dia akan merasa bahwa dia telah memanipulasi kita, yang berujung pada pemanipulasian Raverine. Jelas dia akan merasa menang. Tapi setiap langkah yang akan ia ambil, haruslah kita yang mengaturnya terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan orang terpercaya Daralo yang bisa mengatur dari balik bayang selain aku.”
Mereka bertiga berpikir, kira-kira siapa yang bisa menjadi orang itu. Saat mereka sadar dengan apa yang dipikirkan, Florinas dan Quine segera menoleh ke Killifer. Benar, orang yang kumaksud adalah Killifer. Killifer akan bertugas untuk memberikan laporan palsu tentang aku, sehingga dia akan merasa menang. Di saat dia terus merasa menang, aku akan terus memerasnya.
“Misalnya saja, Killifer melaporkan ke Daralo bahwa Meffery Walter bisa diserang kapanpun. Kemudian Killifer akan membawa pasukan kiriman Daralo ke tempat yang kita siapkan sebelumnya. Disitulah, kita bisa lucuti dia dan negaranya sedikit demi sedikit. Oh, ya.. aku tak ingin mempunyai prajurit berotot seperti itu. Jadi anggap saja ini adalah permainan untuk Quine, Varnella, dan Florinas, dengan Killifer sebagai pengaturnya. Nama permainannya adalah ‘lomba mencuri harta kekaisaran’.”
Mereka bertiga terdiam mendengar penjelasan dariku. Meskipun terdiam layaknya patung, bisa dilihat seberapa antusias mereka untuk mencuri uang saku Daralo. Aku bahkan sampai lupa bahwa rencana ini juga terbilang sedikit nekat, tapi mereka yang mendengar itu sebagai perintah sama sekali tidak peduli.
“Master.. meskipun anda memiliki skill yang bisa menyelesaikan rencana itu kapan saja, sungguh hebat rasanya ketika anda mengatakan rencana yang begitu rapih. Memanipulasi orang yang berusaha memanipulasi kita. Ternyata memang benar.. Master bukan orang biasa.”
“Ya.. lagipula aku butuh jiwa untuk dipersembahkan.”
***
“Ampuni aku! Tuan.. kumohon ampuni aku!” pria gendut jelek itu menjilat sepatuku untuk menunjukkan betapa hinanya dia. Tak henti-hentinya dia meminta ampunan.
Dengan kondisi telanjang badan, ia menunjukkan semua bagian tubuhnya yang jelek. Perutnya buncit, dengan lemak berlapis-lapis. Ia bahkan sangat sulit berdiri ketika sudah terlanjur bersujud. Terlebih tampangnya yang seperti pria mesum menjijikan.
Berdiri diantara aku dan Varnella, adalah seorang gadis cantik yang menutupi tubuh telanjangnya dengan kain selimut. Matanya sudah berlinang air karena tangisannya ketika ia diperkosa oleh pria gendut yang sedang bersujud kepadaku.
“Kau ingin mendapatkan pengampunan dariku?” aku bertanya kepada si pria gendut.
Ia yang wajahnya sudah babak belur karena kupukuli kemudian menunjukkan senyuman lebar, “Ya, ya, aku mau,” dan dia mengangguk layaknya anjing.
“Kalau begitu bunuh dirimu sendiri terlebih dahulu.. setelah itu aku akan menghidupkanmu kembali. Dengan fisik yang sempurna, tubuh yang bagus, wajah yang tampan, jadi kau bisa menggunakan perempuan seperti boneka.”
Dia menelan kata-kataku dengan pandangan hampa. “T-Tuan.. kumohon jangan bercanda.. aku.. aku tidak mau mati.” Dia merangkak menaiki tubuhku, memelukku di pinggang dan menangis disana.
Menjijikan.
“Varnella, dimana kau menemukan orang seperti dia?”
“Tentu saja itu bagian dari rencananya, Tuan Walter. Orang ini adalah bangsawan, dia bisa menipu banyak perempuan dengan mudah, terutama perempuan kalangan kelas bawah.” Ungkap Varnella.
“Wah, aku kagum kau bisa menikmati tubuh perempuan kalangan kelas bawah.” Kataku kepada si pria gendut.
Varnella malah yang menjawabnya, “Lihat saja wajahnya, ia adalah mesum akut. Perempuan seperti apapun tak masalah, ia hanya bangsawan bodoh.”
“.. a-apa saya melakukan kesalahan.. T-Tuan.. Tuan Walter?”
“Jangan seenaknya menyebut namaku!”
Respon dengan ketidaksukaanku terhadap si pria gendut, Varnella langsung membakar habis orang itu. Badannya dipenuhi api, asap tebal berkepul di atas kepalanya, bisa terlihat betapa ia tersiksa. Pria gendut menempel kepadaku, tapi rasa panas hanya dirasakan olehnya. Tak lebih dari 10 detik, pria itu berubah menjadi abu.
“Setelah semuanya, semoga saja kau benar Varnella.. tentang persembahan jiwa untuk pembuatan skill ini.”
__ADS_1
“Tentu, Tuan Walter, saya tak akan mengecewakan anda.”