
“Raja Penyihir? Lagi? Memangnya sekuat itukah dia?” tanyaku.
Aku yang menganggap Raja Penyihir hanyalah legenda seketika langsung merinding. Adanya Peri Es disini sudah cukup membuktikan keberadaan Raja Penyihir bagiku. “Dia punya skill.. apa namanya ya..”
“Evolver?”
“Ya, Evolver. Di Perang Besar dahulu, pernah ada yang mengatakan bahwa Raja Penyihir adalah satu-satunya makhluk hidup yang bisa menguasai semua sihir yang ada di alam semesta. Mana-nya tak terbatas, ketahanan dan penyerangannya tak tertandingkan, dan dia bisa memanggil undead sebanyak yang ia mau.”
Semua sihir yang ada di alam semesta? Mana yang tak terbatas? Meskipun hanya membayangkan, aku bisa tahu seberapa mungkin dia bisa memusnahkan populasi dengan kekuatannya itu. Raja Penyihir atau siapapun namanya, kenapa aku bisa memiliki skill yang sama sepertinya?
Oh iya, skill ini bukan punyaku tetapi punya Neressy. Amanah dari Neressy adalah untuk menghilangkan skill itu.
“Ratu Peri Es, ini mungkin—”
“Ahaha!! Panggil saja aku Florinas.”
“.. Florinas, apa kau tahu siapa orang di dunia ini yang memiliki skill yang bisa menghapus skill orang lain?”
Florinas berpikir sejenak, kemudian dengan kesal menjawab, “Aku terkurung disini ribuan tahun, kalaupun memiliki kenalan seperti itu dia pasti sudah menjadi fosil.” Dia memukul pelan kepalaku karena kebodohanku yang tak sadar akan hal itu. “Ah, tapi aku tahu sosok yang bisa menarik skill seseorang.” Ucapnya.
“Apa? Jangan-jangan dia orang tua berusia ribuan tahun?”
“Tidak, dia abadi. Dan juga dia bukan manusia. Dia kembaranku, si Roh Api. Kalau kau mau aku bisa membantumu mencarinya.” Florinas memberiku tawaran seharga emas. Tapi raut wajahnya ketika menawarkan itu sungguh tak bisa dipandang enak. Florinas lagi-lagi terangsang, dan mengincar bibirku. “Tentu ada bayarannya.. kau mengerti kan?”
Lagi-lagi dia mengunci tubuhku, membuatku tak bisa bergerak dipeluk oleh tubuh mungilnya. Dia menciumku dengan ciuman yang lebih lembut dari sebelumnya.
Ah, aku lupa sudah punya tunangan.
***
Setelah itu, aku membicarakan banyak hal dengan Florinas terutama tentang Perang Besar dan Raja Penyihir. Hanya masalah Raja Penyihir itu saja yang membuatku tertarik.
Menurut cerita Florinas, Perang Besar terjadi karena adanya pengkhianatan besar-besaran terhadap makhluk hidup dan Dewa. Ini terjadi karena adanya makhluk yang berkemungkinan untuk melampaui Dewa, yaitu si Raja Penyihir.
Dan secara garis besar, perang terbagi menjadi tiga kubu; yaitu mereka yang mempertahankan tahta Dewa, mereka yang mengikuti Raja Penyihir untuk merebut tahta Dewa, dan mereka yang memusuhi dua kubu lainnya dengan alasan perdamaian yang nyata.
Ras Peri bersama dengan ras Malaikat bergabung untuk mengalahkan Raja Penyihir dan pasukannya. Raja Penyihir sendiri menjalin kontrak dengan iblis dan Roh. Sehingga ini bisa dikatakan sebagai perang langit.
Tetapi perang langit mulai runtuh ketika ras bumi mencoba menghentikan perang. Pada saat itu ras-ras kuat di bumi yaitu Manusia, Dwarf, Elf, Orc, bahkan ras terkuat Dragon, berupaya untuk menghentikkan peperangan yang terjadi di langit dengan cara meminta Dewa memberikan mereka berkah.
Raja Penyihir sayangnya tak tinggal diam, dia mengutus para pasukannya untuk membantai semua ras yang melakukan perlawanan di bumi. Perang pun turun ke tanah. Pada saat itu bumi dipenuhi dengan mayat dari para ras bumi.
Dan ada sedikit ketidakpahaman diantara ras bumi, dimana sebagian dari mereka menganggap bahwa Dewa sengaja membiarkan Raja Penyihir memusnahkan mereka, dan ini berdampak pada penyerangan ras bumi terhadap kubu Dewa.
Terjadilah perang antara tiga kubu itu.
Florinas sendiri tersegel oleh Ksatria yang dikendalikan oleh saudarinya, si Roh Api. Peri dan Roh memang diciptakan sepasang. Tiap pasang Peri dan Roh itu mewakili elemen api, air, es, tanah, angin, cahaya dan kegelapan. Meskipun diciptakan sepasang, sikap mereka sangat berkebalikan. Terbukti dari perbedaan kubu mereka di Perang Besar.
“Oh, benar juga, aku harus mencari orang-orang yang mati.” Kataku kepada Florinas.
Kami sampai di muka gua, tempat dimana aku datang pertama kali. Sejak saat itu, mungkin waktu sudah berlalu dua jam dan matahari mulai sedikit condong ke barat. Tapi tetap saja, yang terlihat masih pemandangan siang dan bukannya senja.
Aku melihat ke tebing curam yang ada di bawahku, “Tebing ini bekas longsor, kemungkinan di bawah sana ada banyak mayat yang tertimbun. Tapi.. turun ke bawah sana bisa membuatku mati kedinginan.”
“Mati? Kau bilang kau sudah menyalin kekuatanku?” Florinas kebingungan.
“Memangnya kenapa?”
“Aku memiliki skill aktif bernama Great Living, itu adalah skill yang dimiliki oleh setiap eksistensi kuat sepertiku, seharusnya dengan skill itu kau abadi sekarang.”
__ADS_1
Hah? Aku abadi?
Tunggu, tunggu! Serius? Aku abadi? Astaga, aneh rasanya ketika ada seseorang mengatakan bahwa aku abadi. Itu berarti aku tidak memiliki akhir di dunia ini? Itu berarti aku akan terus di dunia ini bersama Florinas?
Yang benar saja..
“Tapi tetap saja, masalahnya bukan abadi atau tidak. Aku akan kesulitan mencari mereka.” Jelas aku akan kesulitan, bukan hanya salju yang menumpuk di bawah sana, hembusan angin yang membawa salju padat juga terus-menerus bertiup di sekitar lereng. “Hah.. merepotkan.. kalau seandainya kau tidak membuat gunung itu mendingin.” Aku yang putus asa duduk bersandar di dinding gua.
Florinas ikut duduk di depanku, ia bertanya, “Apa yang kau maksud? Aku sama sekali tak mengendalikan gunung ini, ‘lho.”
“Hah? Jadi siapa?”
“Mana kutahu.” Florinas menaikkan kedua bahunya.
Ketika Florinas menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba permukaan gua tertutup bayang-bayang. Sinar matahari di ujung barat sudah tak lagi terlihat, aku menduga-duga apakah ada awan besar yang menutupi matahari?
Aku menoleh untuk memastikan apa yang menghalangi cahaya yang indah itu masuk.
Dan ternyata, sesuatu yang terbang itulah yang menghalangi cahaya.
Ketika aku memalingkan wajahku keluar jendela, yang kulihat adalah bola mata berwarna merah yang sangat besar melebihi luas gua ini sendiri. Bola mata itu kemudian mundur, menjauh dariku, dan memperlihatkan sosok sepenuhnya.
Itu adalah naga, Ice Dragon.
Ia mengepakkan sayap seramnya kepadaku yang sekarang sudah seperti kotoran di dalam gua. Karena pengaruh cerita dari Florinas yang mengatakan bahwa naga adalah ras terkuat, aku jadi bingung bagaimana harus bertindak.
Naga itu kemudian berteriak, mengeluarkan suara khasnya kepada aku dan Florinas, teriakannya menggema di dalam gua dan hampir saja membuat gendang telingaku pecah.
“F-Florinas.. i-ini berbahaya.. peganglah tanganku.” Aku berbisik kepada Florinas, niatku adalah untuk memindahkan Florinas menggunakan Dimension Teleport. Tapi bukannya memperhatikanku, dia malah sibuk mengagumi naga es yang berkulit biru salju itu.
“Kau yakin membiarkannya? Kalau dari ceritamu, sepertinya dialah yang telah membuat gunung ini dingin sampai ke kota mu.” Ucap Florinas
Ya, itu memang benar. Kuakui itu memang benar. Tapi terkadang fakta itu memang suatu yang menyeramkan ya? Aku tak tahu bahwa yang menjadi penyebabnya adalah naga ini, tapi kenapa dia melakukannya?
Dan karena itu, aku terjun bebas dari gua menuju ke tanah.
Aku panik ketika hal itu tiba-tiba terjadi, tapi otakku mulai bekerja ketika sadar bahwa aku sedang menantang maut. “Fly Up!” ucapku. Ini adalah sihir terbang, beruntung aku memiliknya.
Tubuhku melayang, ini benar-benar sihir yang luar biasa. Menerapkan kebalikan dari konsep benda yang jatuh, aku bisa mengendalikan tubuhku sesuka hatinya dengan sihir ini.
Sayangnya, tidak seindah itu.
Ice Dragon kembali berteriak padaku yang ternyata melayang tepat di depan wajahnya. Teriakan yang setara dengan badai itu hampir saja membuatku mati. Dan dari teriakan itu juga, aku mengetahui bahwa Ice Dragon sedang marah.
Aku hanya berjarak 10 meter dari ujung moncong naga yang sedang marah. Apa Dewa bercanda?
“F-F-Flower.. Illusion!”
Aku mengaktifkan sihir sebagai antisipasi, Flower Illusion adalah sihir sejenis hipnotis yang akan membuat target seolah berada di padang bunga yang sangat indah. Seharusnya, tubuh target itu akan terdiam sampai ia berhasil keluar dari sihir itu.
Tapi sayangnya berbeda dengan Ice Dragon, aku berharap dia terdiam tapi malah sebaliknya. Dia terbang tak tentu arah dengan mengepak-ngepakkan sayapnya secara kasar. Aku terkena salah satu kepakan sayapnya dan tertancap di dalam salju di tebing. Untuk seekor naga, apakah bunga adalah sesuatu yang hina?
Ketika Ice Dragon sadar dari efek hipnotis itu, dia mengerang sangat kuat. Aku bisa melihat betapa marahnya Ice Dragon. Dan percayalah itu adalah pemandangan yang menakutkan, dan menjadi lebih menakutkan ketika Ice Dragon mencariku sebagai sasarannya.
Ice Dragon melihatku tertancap di dalam salju, kemudian dia terbang ke arahku seolah ingin menghantamku.
“Gawat, Dimension Teleport!”
Aku berteleportasi ke belakang tubuh Ice Dragon tepat sebelum makhluk besar itu menabrakku. Dan dengan itu, yang Ice Dragon tabrak tak lain hanyalah permukaan gunung yang keras. Naga itu sempat berkedip-kedip sementara waktu, mungkin karena hantaman di kepalanya membuatnya pusing.
__ADS_1
Kondisinya yang seperti itu memberikanku kesempatan untuk menyerang.
Tiba-tiba aku terpikirkan ide yang sangat gila. Aku berencana untuk mengeluarkan dua sihir secara bersamaan. Dengan tangan kiri aku akan mengeluarkan Lightning Bolt dan tangan kananku adalah Fire Ball. Masing-masing sihir kuberikan pasokan 300.000 mana.
“Lightning Bolt, Fire Ball.”
Ternyata itu berhasil.
Tangan kanan dan kiriku mengeluarkan sihir yang berbeda. Aku merasa seperti memegang dua kehidupan di kedua tanganku.
Lingkaran sihir pun muncul, dua lingkaran sihir super besar dengan efek petir dan api tercipta diantara aku dan Ice Dragon.
Tak usah berlama-lama, aku langsung menembakkan kedua sihir itu secara bersamaan. Lightning Bolt dan Fire Ball, dengan targetnya adalah Ice Dragon. Dua sihir yang energinya jauh berbeda itu menabrak badan Ice Dragon, seketika ledakan yang dahsyat pun muncul menciptakan getaran di sekitar gunung.
Ice Dragon melemas, dan lama-lama ia terjatuh. Tubuhnya sudah tak lagi bertenaga, aku menyaksikan sendiri bagaimana ia meneriakkan raungan terakhinya.
Sialnya, karena ledakan tadi, longsor terjadi di sekitaran gunung. Bahkan yang sekarang bukan hanya longsor saju, melainkan batu dan juga tanah. Itu dikarenakan permukaan tempat Ice Dragon menabrak terbelah, dan menciptakan gumpalan yang merosot di arena salju.
Florinas terbang ke arahku ketika gunung itu hampir hancur. Aku lupa bahwa dia ras Peri, ternyata dia memiliki sayap kecil yang tadinya ia sembunyikan.
Dan dengan ini, gunung es benar-benar hancur berantakan. Kabut salju membuat pandanganku buta, tapi aku masih bisa merasakan tabrakan dari bola salju yang menabrak tanah.
“Selamat, kau membunuh Ice Dragon beserta sarangnya.” Ucap Florinas.
***
Aku kembali ke istana dengan berteleportasi, dan entah mengapa Florinas ikut bersamaku. Ratu Peri bertubuh mungil ini menolak untuk menjawab ketika aku mempertanyakan hal tersebut.
Kupikir ya sudahlah, aku bisa memberikan alasan kepada raja bahwa Florinas adalah satu-satunya mayat yang bisa kubangkitkan. Karena mengatakan bahwa Florinas adalah Ratu Peri bisa membuatku semakin terjerat dalam masalah.
Tetapi Florinas tak setuju dengan kebohongan itu. Aku mengatakan kepadanya agar menyembunyikan sayapnya dan berjalan seperti manusia normal, dan dia membantahnya mentah-mentah. Florinas melayang di sebelahku ketika aku berjalan menuju ruangan raja, terlebih lagi pakaian Florinas yang sangat minim membuat diriku semakin terlihat hina dimata para prajurit yang memperhatikan.
“Istana yang cukup mewah. Dulu aku juga punya yang seperti ini, tapi mungkin sudah diambil alih saudariku.” Florinas memuji istana Raja Loiros setelah ia memperhatikan setiap detailnya.
Ketika aku sedang berjalan bersama Florinas, datanglah Putri Lennef dari arah yang berlawanan. Dia berjalan dengan anggun selayaknya tuan putri. “Walter, kau sudah kembali?” sapa Lennef ketika ia melihatku. “Dan.. siapa perempuan yang terbang ini?” Lennef menunjukkan ekspresi jijik ketika melihat Florinas.
Tentu saja dia akan berekspresi seperti itu. Untuk seorang perempuan, pakaian Florinas terlalu terbuka dan itu sangat aneh.
“Mungkin kau takkan percaya, tapi dia ini adalah Ratu Peri Es Florinas.” Ungkapku, sudah mustahil rasanya menutupi fakta ini.
“Ratu Peri Es, perkenalkan, aku adalah Lennef Juliester, putri dari Raja Loiros sekaligus tunangan dari Meffery Walter.” Lennef tersenyum kepada Florinas, tatapan jijik itu hilang tergantikan dengan wajah yang ramah.
Syukurlah kalau mereka bisa akrab, mengingat Florinas yang bersikap tak sopan kepadaku mungkin saja Lennef akan marah.
Baru saja aku akan bersyukur, Florinas mulai membuat ulah lagi.
Florinas terbang mendekat ke arahku kemudian memeluk tanganku diantara dadanya yang berukuran kecil. “Kau hanya tunangannya? Sayang sekali, aku sudah berada satu langkah, tidak, sejuta langkah di depanmu.”
Langkahmu terlalu banyak!
Lennef melihatku curiga, aku ragu apakah itu rasa cemburu atau kesal, yang pasti dia memang merasa terganggu ketika Florinas terlalu akrab denganku. “Walter, apa-apaan ini? Kau punya hubungan apa dengannya?”
“T-Tidak, dia ini hanya—”
“Walter adalah Master-ku, seluruh jiwa dan ragaku adalah miliknya. Bahkan sebagai seorang majikan, dia tetap merawatku dengan baik. Bukankah begitu.. Master?” Florinas mendekatkan wajahnya. Aneh, ketika aku ingin berteriak mulutku sama sekali tak bisa terbuka.
Lennef semakin kesal, “Oh, jadi sebatas itukah kesetianmu terhadap tunanganmu ini? Padahal aku berencana mengadakan festival pertunangan kita.” Ucap Lennef sambil membuang mukanya.
Florinas menggantikan diriku yang tak bisa bergerak dengan bertanya, “Festival? Hal bodoh apa yang kau bicarakan?”
__ADS_1
“Festival ya tentu saja festival. Kerajaan ini akan merayakan pertunanganku dengan Walter, jadi Ratu Peri Es tak perlu ikut campur. Dan juga Walter,.. m-malam ini.. kau tak boleh tidur bersamaku, tidak dengan peliharaanmu itu.”
Oi, yang benar saja?