
Christa Dervin, duta besar dari Kerajaan Le-Ugen, datang ke Kerajaan Raverine untuk menyampaikan keberatan Putri Nerna terhadap tindakanku yang mengebor habis gunung Caffarel selama seminggu ini. Aku tak pernah menyangka akan ada hal sekonyol ini yang benar-benar patut dibahas.
Sebuah perjalanan panjang kami tempuh denagan menggunakan kereta kuda. Dari Raverine ke Le-Ugen kurang lebih menghabiskan waktu selama 3 hari, dan ini akan menjadi perjalanan paling konyol dimana aku seharusnya bisa menempuhnya dalam hitungan detik dengan teleportasi.
Le-Ugen adalah kerajaan dengan keamanan tinggi, mereka memiliki ratusan ahli sihir pengawas yang bertugas untuk memasang sihir penjagaan. Sihir itu melingkupi seluruh kerajaan, jadi ketika ada aktivitas sihir yang aneh, maka kerajaan akan langsung tahu.
Christa melarangku menggunakan Dimension Teleport adalah karena kebijakan tersebut, bahkan meskipun seorang duta besar datang bersamaku, itu tetap tidak diperbolehkan karena bisa saja tindakan tersebut merupakan tindak pengkhianatan.
“Ratu-mu terlalu waspada,.. tidak, waspada pun boleh, tapi apa yang dilakukannya adalah suatu kegilaan.” Kataku mengomentari penjelasan Christa.
Christa tertawa kecil dan menjawab, “Ya, mungkin anda benar. Tapi kerajaan kami tak dipimpin Ratu melainkan Putri. Putri Nerna memiliki alasan sendiri kenapa dia begitu was-was terhadap apapun, saya harap anda bisa mengerti.”
“Sudah, sudah, lagipula bukankah ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan?” Lennef menyudahi perdebatan, dia tampak biasa saja dengan semua yang kualami.
Bahkan Lennef yang merupakan seorang putri ikut dengan kami. Dan tentu saja, Killifer, Quine, dan Florinas juga berada di dalam kereta kuda sekarang ini. Christa mengendarai kereta, dan kami sudah 13 jam lamanya sejak perjalanan dimulai.
Quine dan Killifer tertidur pulas, begitu juga dengan Florinas yang bersandar di pundakku.
Hari sudah sedikit gelap, kereta kuda kami sedang melaju di sebuah jalan setapak di tengah padang rumput yang dikelilingi pepohonan lebat. Kami tidak bisa membangun tenda di daerah yang rawan serigala seperti ini, maka dari itu sebelum menemukan penginapan kami akan terus melaju.
Lama-kelamaan, setelah tak ada lagi percakapan, Lennef menutupi mulutnya yang menguap karena kantuk. Tunanganku yang berambut pirang kuning itu kemudian menjatuhkan kepalanya ke pundak kiriku, dia mencoba tidur dengan senyuman masih menempel di wajahnya.
Kedua perempuan cantik kini tidur di pundakku, Florinas bahkan terlihat sangat menawan ketika dia tak banyak bicara. Aku tak akan bicara banyak tentang kecantikan perempuan, menurutku baik itu Lennef, Florinas, ataupun Quine, mereka semua memang cantik. Tetapi jujur, diantara semuanya, Florinas memiliki tipe kecantikan yang berbeda.
“Anda tak tidur, Tuan Walter?” Christa bertanya ketika ia sadar bahwa hanya tinggal aku seorang di kereta bawaannya yang masih membuka mata.
“Berkat beberapa hari pekerjaan berat, waktu tidurku jadi sedikit kacau. Anggap saja aku tak bisa tidur.”
“Begitukah? Tapi ini adalah perjalanan yang cukup panjang, anda bisa tidur terlebih dahulu sampai saya menemukan penginapan.”
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi sungguh aku baik-baik saja. Lagipula aku disini untuk menjaga perjalanan ini bukan?”
Christa tertawa untuk berterima kasih.
***
Marquis Daralo sore itu mendatangi kantor pemerintah distrik untuk menerima laporan rutin bulanan. Dia datang bersama istrinya yang kebetulan juga berhubungan dekat dengan istri dari kepala pemerintah.
Kantor pemerintah tak begitu dibuat spesial, bentuknya tak jauh berbeda dengan gedung-gedung yang ada di dekatnya seperti pabrik minuman atau gudang senjata. Letaknya juga berada di tengah kota yang dilewati banyak orang, hanya saja memang tak banyak orang yang berkeperluan untuk masuk ke gedung pemerintah.
Meskipun seorang bangsawan kelas atas yang memegang area besar di Kekaisaran Nasaroth, Daralo adalah orang yang tidak begitu memandang gelarnya. Bukannya berarti dia adalah orang yang rendah hati, paling tidak dia sadar bahwa gelarnya adalah rantai yang bisa mengekangnya suatu saat.
Daralo dan keluarganya adalah seorang bangsawan, gelar Marquis diberikan kepada Daralo atas keterlibatannya dalam membangun kota. Bisa dibilang, Daralo adalah orang dengan kesadaran tinggi sebagai pemimpin.
“Tetapi, memang benar bahwa belakangan ini kita kekurangan anggur. Banyak turis dengan profesi petualang yang menetap disini, aku menerima laporan dari Guild bahwa jumlah petualang meningkat dengan pesat. Para petualang itu.. mereka seperti orang bodoh yang melakukan pesta mabuk-mabukan setiap hari.”
Daralo mendengarkan penjelasan tambahan dari kepala pemerintah, Fredick. Setiap kata yang Fredick ucapkan masuk ke dalam telinga Daralo dan menjadi informsai yang berharga, meskipun pandangan mata Daralo tak tertuju kepada Fredick yang merupakan bawahannya, karena ia tengah sibuk membaca laporan tertulis di atas kertas yang Fredick berikan.
“Kau bisa memberitahukan itu kepada para pedagang, buatlah perjanjian keuntungan kepada mereka dengan membeli anggur dari negara luar. Ini bukan masalah yang serius, jadi tak usah terburu-buru.” Kata Daralo, matanya tak lepas sedikitpun dari laporan yang ia baca.
__ADS_1
“Negara diluar, misalnya Raverine?”
Barulah, Daralo kehilangan fokusnya. Ia menaruh laporan itu di meja, kemudian membisikkan sesuatu kepada Fredick. “Untuk sementara, sebaiknya orang seperti kita jangan terlalu berinteraksi dengan Raverine. Aku tak mau ada hal buruk terjadi.” Daralo berbisik sambil melihat kanan kiri, yang padahal ruangan dimana dia duduk itu kosong. Hanya ada istrinya dan istri Fredick yang sedang bercengkrama.
Fredick sedikit kebingungan dengan maksud Daralo yang rancu, “Oh.. aku sedikit mendengar tentang ini. Tapi apa Kaisar Valarish melakukan sesuatu lagi kepada Raverine?” tanya Fredick.
“Seharusnya kau sudah bisa menebaknya, setelah Putri Lennef itu bertunangan, menurutmu apa yang akan Kaisar pikirkan?”
“.. tentu saja, dia akan kesal.”
“Ya, tapi yang kali ini berbeda. Ketika aku melaporkan acara pertunangan itu, Kaisar marah besar, dia mengacaukan festival yang Raverine adakan untuk memperingati pertunangan putri. Tapi di akhir pertemuanku dengan Kaisar, dia sempat mengatakan ingin.. membunuh Ratu Andervine.”
Fredick terkejut, tapi ia menahan suaranya karena tak ingin para istri mendengar perbincangan ini.
“.. kalau Ratu Andervine mati, seharusnya kabarnya sudah sampai ke kita. Tak mungkin Raverine berdiam diri begitu saja, bukan?” Fredick bertanya.
“Itulah masalahnya. Aku juga baru dapat kabar bahwa Ratu Andervine dalam keadaan baik. Aku juga tak ikut dalam pengacauan festival itu jadi aku tak tahu detailnya. Tapi.. bukannya Ratu Andervine yang mati.. belakangan ini aku malah tak melihat Kaisar Valarish.” Kata Daralo dengan raut wajah yang rumit.
Kedua pria itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Tentu tak ada yang bisa dilakukan bagi orang seperti Daralo yang masa bodo dengan semua hal, apalagi Fredick yang hanya seorang pemimpin daerah berskala distrik.
Saat mereka sedang melamun memikirkan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang prajurit dengan zirah masuk dengan keadaan terengah-engah. “Marquis.. Marquis Daralo! Apakah Marquis Daralo ada disini?!” ia seperti orang yang baru saja melihat naga parkir di depan rumahnya, kepanikan yang tak wajar.
“Ya, ya, aku disini. Coba tenanglah dulu!” kata Daralo.
Prajurit itu kemudian berjalan ke arah Daralo. “Situasi yang sungguh gawat. Tepat beberapa menit yang lalu, seorang utusan dari Kerajaan Raverine datang dengan membawa sebuah mayat.. dia menyuruh kita untuk menguburnya baik-baik.” Kata si prajurit, melaporkan hal tersebut dengan suara keras.
Daralo kebingungan dengan suasana acak yang terjadi padanya. “Mayat? Mayat siapa?”
Daralo terkejut, begitu juga dengan Fredick yang mendengar laporan itu di sebelahnya. Jauh dalam kepalanya, Daralo takut tapi juga bersedih atas kematian sahabatnya itu. Bahkan dalam situasi ini, Daralo tetap bisa tenang. Yang ia pikirkan adalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
Fredick sudah sangat geram, ia tak percaya bahwa berita yang sudah seperti kiamat ini terdengar sampai ke telinganya. “Marquis Daralo, kita harus segera membalas dendam. Yang melakukannya adalah Raverine kan? Kalau begitu ayo segera serang mereka.”
“Tunggu, biarkan aku berpikir.” Daralo menenangkan dirinya. Orang seperti Daralo termasuk hebat karena bisa menenangkan diri di situasi yang teramat sulit seperti ini. “Untuk konfirmasi.. siapa yang membunuh Kaisar Valarish?”
“Ini adalah informasi resmi dari Raja Loiros, yang membunuh Kaisar Valarish adalah tunangan putri Lennef, Tuan Meffery Walter.”
“Memberitahukan informasi itu langsung dari mulut sang raja? Benar-benar keterlaluan, mereka meremehkan kita!” Fredick tambah kesal. “Ayo, Marquis Daralo, tunggu apa lagi? Kita kumpulkan pasukan dan segera serang mereka.”
“Tidak. Ini bukan sesuatu yang bisa kita hadapi dengan mudah. Meffery Walter.. sepertinya Kaisar kita salah memilih lawan.”
***
Singkat cerita, 3 hari perjalanan yang membosankan berhasil kami tempuh. Mulai dari perjalanan curam di dataran tinggi, berburu makanan di tengah hutan, sampai mengitari sebuah danau besar yang katanya ada monster buas di dalamnya.
Tak satupun dari kami berniat untuk melanjutkan perjalanan di hari kedua, terkecuali Christa. Kami semua sudah seperti kecambah murahan yang lembek tak berbentuk. Lennef yang biasanya memasang citra baik sebagai seorang putri juga berubah menjadi muram, 24 jam ia memegang tanganku agar tak kehilangan kesadaran.
Setelah para kecambah-kecambah itu hampir mati, kami semua sampai di depan gerbang besar yang membatasi antara Le-Ugen dengan dunia luar. Sebuah dinding tinggi yang terbentang dari ujung ke ujung membuat pemandangan di dalamnya sama sekali tak nampak. Di depan gerbang itu, banyak orang yang mengantri untuk masuk ke dalam, karena tampaknya ada pemeriksaan terlebih dahulu sebelum bisa masuk.
Rombongan kereta kuda kami ikut mengantri di barisan panjang itu. Tetapi karena bosan di dalam, aku dan Killifer keluar dari kereta untuk menghirup udara segar.
__ADS_1
Dan saat itulah puncak kekonyolan terjadi. Aku sadar sesuatu hal yang sangat penting, dan baru kusadari saat ini juga.
Aku segera menemui Christa yang saat itu masih di atas kemudi kuda. “Sialan, kau menipuku! Kalau memang tak boleh menggunakan sihir teleportasi ke dalam Le-Ugen, bukankah kita bisa berteleportasi diluar Le-Ugen?”
Killifer yang mendengar itu juga terkejut, sama sepertiku dia juga baru sadar. Saat aku sedang kesal, Christa sama sekali tak menghiraukanku. “Mohon maaf, Tuan Walter. Itu adalah sihir saya, Hipnotize. Saya membuat semua orang lupa akan hal itu. Tapi ini adalah perintah dari Putri Nerna juga, sebagai antisipasi apakah anda memiliki kemampuan teleportasi yang kuat atau tidak.” Jelasnya.
Aku menggeram dalam hati. Sebenarnya seberapa waspada si Putri Nerna itu? Dia pasti sakit jiwa. Memang apa bedanya kalau aku berteleportasi ke sini secara langsung, apa dia berencana membunuhku dengan 3 hari perjalanan itu?
Baiklah, aku mengerti. Perintah Putri Nerna adalah menyuruh Christa untuk menggunakan sihir Hipnotize kepadaku. Jadi dia menjamin dua hal disini. Pertama, kalau memang aku memiliki skill teleportasi, maka itu sudah pasti tidak akan kupakai karena efek dari Hipnotize milik Christa. Kedua, bukan masalah juga semisal aku tak memiliki kemampuan teleportasi, Hipnotize hanya sebagai pelindung utama.
Cukup cerdas. Tapi gila.
“Aku baru tahu ternyata Tuan Walter juga bisa frustasi.” Killifer mengatakan itu dengan nada candaan.
Aku menanggapi perkataannya itu, “Tentu saja. Apalagi setelah menambang seminggu dan tidur bersama Florinas.. dia itu memiliki posisi tidur yang aneh. Setiap pagi bokongnya pasti ada di kepalaku, jangankan kelelahan, aku sering mengalami mati suri karenanya. Hah.. merepotkan.” Kesalku.
Killifer tertawa. Entah dia ikut prihatin atau tertarik dengan bahasan itu. “Nona Florinas hanya bisa bersikap seperti itu kepada Tuan Walter, itu adalah suatu keistimewaan.”
“Ya.. mungkin kau benar.” Kereta kuda kami maju karena antrian di depan semakin memendek. Aku dan Killifer bersender di kereta milik Christa ketika ia sudah kembali berhenti. Di depan kami masih ada banyak sekali orang yang menunggu. “Omong-omong, kalau kau membutuhkan sesuatu katakan saja, emas yang kutambang ada segunung dan memuakkan kalau harus dihabiskan seorang diri.”
Killifer merasa tersanjung, wajahnya berseri-seri. “Mungkin saja sekarang Tuan Walter adalah orang paling kaya di dunia. Tapi tenang saja, aku tak membutuhkan apapun untuk saat ini,” Killifer melihat pedang yang ia gantung di pinggangnya, kemudian mengelus gagang pedang itu. “Mendapatkan pedang ini saja sudah merupakan kehormatan bagiku.”
Tatapan Killifer membuatku terharu. Memang benar Killifer memegang peadang yang sangat kuat, tapi tak lebih kuat dari dua pedang kembar yang ada di pinggangku. Dia juga menolak ketika kuberi harta. Orang ini sebenarnya baik, salah kalau hanya menilai fisik Killifer yang besar seperti monster.
“Bagaimana dengan Quine?” tanyaku tiba-tiba.
“.. Quine.. kenapa dengannya?”
“Ayolah, kalian selama seminggu menerima quest bersama dari Guild, bahkan menginap di penginapan yang sama bukan? Jadi.. bagaimana.. belum ada rangsangan dengan Quine?”
Wajah Killifer memerah, ia membuang pandangannya, “J-Jangan bercanda, Tuan Walter. Aku tak memiliki hubungan seperti itu dengan Quine.” Killifer jelas gugup, menyembunyikan sesuatu.
Semoga saja kau salah. Aku akan sangat senang kalau hidupku dipenuhi cerita romantis tentang orang-orang disekitarku. Killider dan Quine bukanlah pasangan yang buruk.
Kembali lagi ke antrian, untuk yang kedua kalinya kereta kuda kami maju beberapa langkah. Aku dan Killifer juga terpaksa berpindah posisi.
“Repot juga kalau hal ini sampai terjadi lagi.” Gumamku kepada diriku sendiri. “Paling tidak kalau memang harus terkena kemampuan lawan, maka aku akan meminta bayaran terlebih dahulu.”
Aku akan sedikit melakukan eksperimen disini. Aku akan menggunakan skill Crafter, yang kusalin dari Kaisar Valarish. Kalau begitu, bagimana kalau menggabungkan skill Crafter dan skill Evolver?
Proses penjalanan skill berlangsung, mana-ku benar-benar seperti habis. Tapi beruntung tubuhku baik-baik saja meskipun sempat terasa mati jantung selama beberapa detik.
Skill Crafter, operasi selesai. Hasil dari penggabungan Crafter dan Evolver, adalah Super Skill Enhancer.
Enhancer memiliki fungsi unik, yaitu dengan meningkatkan kemampuan dari sebuah sihir atau skill. Fungsinya sama, yaitu menggabungkan, bedanya Enhancer tidak menghasilkan skill atau sihir baru melainkan menambah efek kemampuan yang sudah ada.
Kalau begitu sebagai eksperimen lanjutan, aku akan menggunakan Enhancer untuk meningkatkan skill Touch Drive dengan kemampuan Puppet Master. Puppet Master adalah sihir yang berfungsi untuk mengutuk target, sehingga target bisa merasakan rasa sakit dari pengguna.
Super Skill Enhancer, operasi selesai. Hasil dari Enhancer adalah Touch Drive yang berubah menjadi Super Skill Double Drive. Dengan ini, aku bisa menyalin penuh kemampuan seseorang apabila orang tersebut melakukan serangan terhadapku, tak peduli berupa sihir, skill, ataupun fisik.
__ADS_1
‘Double Drive’? Terima kasih. Lucu sekali.