
Quine dan Killifer melakukan duet serangan untuk melawan Ice Dragon yang terus menerus memberontak. Dengan bantuan sihir Fly Up yang kuaktifkan pada mereka, dua orang pengguna pedang itu bisa leluasa menyerang Ice Dragon.
10 menit pertama, Ice Dragon bahkan sama sekali tak terluka. Tapi tujuan dari serangan duet ini adalah untuk menyelaraskan kombinasi serangan antara Quine dan Killifer. Quine yang tipikal perempuan imut yang kuat, dan Killifer yang seorang pria kekar dengan wajah baik hati, kukira mereka berdua akan seperti pasangan suami-istri yang tak akur.
Nyatanya tidak begitu, 20 menit serangan berlangsung, mereka sudah cukup kompak. Tetapi tenaga pun ada batasnya, 20 menit serangan itu sudah terlalu lama untuk terus bergerak dan mengayunkan pedang, mereka sudah kelelahan.
Aku dan Florinas yang sedang duduk di muka gua sambil menikmati roti es krim segera memanggil mereka untuk kembali kemari.
Saat datang, Quine dan Killifer sudah seperti orang yang disuruh berlari mendaki gunung puluhan kali. Badan mereka tak banjir keringat karena udara yang cukup dingin. Tapi rasa lelah mereka bisa terasa dari betapa kacaunya mereka yang langsung berbaring lelah.
“Benarkah? Seorang Ksatria Kerajaan dan pemimpin pasukan militer.. kewalahan dengan naga beku itu?” kataku meledek mereka.
Quine menjawab dengan terpatah-patah, “Tak pernah.. tak pernah ada monster segila itu yang kulawan sebelumnya..”
“Itu benar tuan.. bahkan pedangku.. tak cukup kuat. Tidak, tanganku-lah yang tak cukup kuat.” Killifer juga tak kalah lelahnya.
“Hahaha, kalau begitu biarkan aku yang mengalahkannya dengan sekali tebas.”
Pedang Kutukan dan Pedang Suci sudah terpajang rapi di pinggangku, aku sudah menemukan sarung yang cocok untuk duet kembar itu.
Dengan kedua pedang yang kupegang, aku kembali berhadapan dengan Ice Dragon. Berbeda dengan sebelumnya dimana aku masih baru saja menjadi kuat, aku yang sekarang sudah mustahil kalah melawannya.
Aku mengeluarkan dua pedang kembar itu satu senti dari sarungnya, saat itu juga aura sekejam iblis dan sebaik malaikat bercampur di saat yang bersamaan.
Ice Dragon segera merespon aura itu dan marah besar ketika aku berhadapan dengannya. Posisiku saat ini bahkan masih belum terbang, jarak antara aku dan Ice Dragon yang terbang terbilang masih cukup jauh.
Tapi ketika pedang itu dikeluarkan, Ice Dragon segera terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku.
“Teknik Pedang, Sonic Slash.”
Waktu seakan melambat, seluruh dunia seperti berhenti bernafas.
Tak terjadi apa-apa, tapi kemudian Ice Dragon secara misterius terbelah-belah menjadi beberapa bagian besar. Potongannya rapih seperti dagingnya sengaja disiapkan untuk sebuah hidangan makanan. Tapi tenang saja, setiap potongaannya berukuran lebih besar dari sebuah gubuk.
“Apa-apaan itu tadi?” Killifer terkjeut.
Dilanjutkan dengan Quine, “Apa ada orang lain yang menyerang Ice Dragon?”
“Tidak, itu tadi seranganku. Kalian tidak melihatnya kan? Hahaha!”
“Tapi.. Tuan Walter sama sekali belum mengeluarkan pedang itu dari sarungnya, bagaimana bisa?” Killifer sangat penasaran, dia terlihat bodoh dengan pertanyaan di wajahnya.
Aku menjelaskan, “Tidak terlihat bukan berarti tidak terjadi. Teknik yang kupakai barusan adalah Sonic Slash, yang mana aku bisa mengatur kecepatannya dengan mana-ku.”
Mereka menahan rasa kagum mereka dengan kalimat, “Kami.. masih jauh di bawah Tuan Walter.”
“Yang lebih penting, Master, bukankah lebih baik Master menyentuh Ice Dragon sebelum dia benar-benar mati?”
“Eh? Ice Dragon belum mati?”
“Kalau dipotong seperti itu, mungkin butuh waktu 2 menit untuknya mati. Sekarang masih sempat, ayo cepat Master!”
“Baiklah.”
***
Butuh berhari-hari bagiku untuk mengurus gunung es di Perbatasan Timur, setelah kuputuskan untuk menambang semua emasnya atas seizin raja. Beberapa hal yang harus kukerjakan yaitu seperti melelehkan semua salju dan balok es yang tertanam di tanah.
__ADS_1
Aku menggunakan sihir Summon Angel untuk membantuku melakukan pekerjaan ini, karena setelah melelahkan salju, aku harus melakukan pekerjaan berat yaitu mencari emas di dalam gunung dan di bawah gunung. Dengan kata lain ini adalah pekerjaan yang mengharuskanku membedah sebuah gunung besar.
Dengan 2 juta lebih mana yang kupunya, aku bisa memanggil 100 malaikat level tinggi dengan kekuatan tempur satu malaikatnya setara dengan lima ribu prajurit. Itu sebanding dengan konsumsi mana yang diperlukan untuk memanggil satu malaikat, yaitu 20.000.
Langit benar-benar penuh dengan cahaya yang indah, 100 malaikat memenuhi langit, bekerja keras tanpa letih demi menambang semua emas yang ada di gunung. Aku sedikit merasa tak enak melihat mereka melakukan pekerjaan penambang, tapi kesetiaan mereka diluar ekspektasiku, kesetiaan mereka sama atau bahkan lebih dari Florinas.
Omong-omong Florinas juga membantuku dalam pekerjaan ini. Sedangkan Killifer dan Quine kuperintahkan untuk mencari misi di Guild dan membangun kekompakan dalam melawan musuh. Jadi kedua petarung pedang itu tak ikut turun tangan atas pembersihan emas ini.
Kemudian seminggu berlalu. Setelah bekerja siang-malam, dan Florinas juga sudah terlihat seperti ikan kering, kami akhirnya berhasil menambang gunung yang tadinya menonjol ke atas menjadi bolong ke bawah. Emas yang dihasilkan lebih banyak dari yang kukira, bahkan beberapanya adalah berlian dan permata. Semua hasil tambang itu kumasukkan ke Inventory.
Setelah semuanya selesai, 100 malaikat yang kupanggil juga ikut menghilang. Hal yang baru kusadari adalah ternyata mana tidak hanya terkikis pada saat memanggil malaikat, tetapi pada saat mereka diperintahkan juga. Dengan kata lain, setelah memanggil malaikat dengan mana 20.000, mana pengguna akan kembali terpotong
setiap detiknya apabila malaikat yang ia panggil menjalankan perintah yang diberikan.
Kalau mana-ku bisa habis, itu artinya butuh 70 orang sepertiku dengan mana 2 juta untuk bisa terus-menerus memerintah malaikat selama seminggu tanpa henti.
“Tetapi Master, kenapa kau menambang emas yang ada disini? Terlebih lagi semuanya.” Florinas bertanya setelah ia menuangkan kopi ke dalam cangkirku.
Di dekat area tambang, aku mendirikan sebuah rumah kayu kecil untuk beristirahat. Selama seminggu inilah aku tidur bersama Florinas di rumah ini. Tidak, aku tidak menidurinya, maksudku kami hanya tidur seatap.
Kemudian aku memandang bekas tambang yang baru saja selesai dikerjakan. Sangat aneh rasanya ketika seminggu yang lalu baru saja ada gunung di sini, dan sekarang gunung tersebut sudah menjadi lubangan besar di dalam tanah.
“Aku merasa.. aku harus mengambil emas itu secepat mungkin. Kalaupun nantinya ada warga yang protes karena aku mengambil semuanya, aku hanya perlu menggunakan emas ini untuk membangun fasilitas kota.” Aku menengguk kopi dingin tanpa es batu yang Florinas buat.
Florinas mengambil posisi duduk di sebelahku, wajahnya mempertanyakan banyak hal. “Selama ini aku penasaran, kenapa orang sekuat Master baru muncul pada saat ini? Bahkan kalau tak menyentuhku, Master tak akan menjadi kuat dengan drastis. Apa Master menyembunyikan skill Touch Drive sejak kecil?”
Florinas mempertanyakan hal yang paling sering kutanyakan pada diriku sendiri. Aku selama ini juga berpikir, bahwa mungkin saja aku ini memang hidup di dunia ini sejak lahir tetapi kehilangan ingatan dan baru bisa mengingatnya ketika bertemu Lennef. Tapi kalau memang begitu, rasanya tidak cocok dengan fakta bahwa skill adalah bawaan sejak lahir. Kenapa aku yang memiliki skill Touch Drive bisa berakhir sebagai tunawisma?
Setelah memperhatikan wajahku untuk beberapa saat, Florinas berkata, “Apa mungkin Master adalah orang yang bereinkarnasi?”
“.. apa kau bilang?”
“Ya, masalahnya aku tak memiliki ingatan apapun tentang masa laluku.”
“Kalau begitu bagaimana jika kita mencari tahu tentang masa lalu Master?” Florinas mengatakannya dengan wajah yang berseri-seri, seolah dia berencana memulai petualangan baru.
“Kupikir itu mustahil, mencari sesuatu dengan tanpa petunjuk adalah hal yang mustahil. Lupakan saja, Flornas.” Kataku.
Florinas tak menyerah, ia melanjutkan ajakannya, “Aku punya kenalan yang ahli dalam melihat kepribadian seseorang. Mungkin dengan kekuatannya, kita bisa melihat sosok Master di masa lalu.”
“Kau mengatakan begitu seolah tidak berdosa. Apa kau lupa, dulu kau mengatakan bahwa ingin membantuku mencari Roh Api, yang katanya bisa menarik skill orang lain. Mana hasilnya? Nyatanya kau berusaha untuk membuatku lupa akan hal itu bukan?”
Florinas tertegun. Kenyataan yang kuungkapkan tidak bisa lagi dibantah oleh Florinas. “T-Tapi, yang kali ini aku serius. Lagipula.. tarik-menarik skill itu kan sudah berakhir. Aku bisa menyadari keberadaan Roh Api belakangan ini, jadi kita bisa mulai mencarinya.” Wajah Florinas berseri-seri.
Tunggu, apa-apaan dengan mata yang penuh harapan itu? Apa Florinas merencanakan sesuatu lagi? Makhluk ini, kalau kepalanya sudah penuh dengan kekonyolan pasti memperlihatkan wajah seperti itu, sama dengan ketika dia membujukku untuk membelikannya cincin berlian.
“Oi, kau merencanakan sesuatu kan?” tanyaku.
Lagi-lagi Florinas tertegun, ia melempar sorot matanya ke arah lain, “M-Mana mungkin, aku tidak merencanakan apa-apa, kok.” Meskipun dia berkata begitu, gerak-geriknya terlihat jelas bahwa dia berbohong.
Kemudian aku mengancamnya, “Kalau kau tak mengaku, aku tak akan pernah membagi mana-ku lagi kepadamu. Aku tak peduli, mulai sekarang setiap akan tidur, aku akan menyegel semua mana-ku.”
Dan Florinas jelas terkejut dengan ancaman itu, ia luluh seketika.
Ancaman yang kumaksud berhubungan dengan perjanjianku dengan Florinas. Daripada disebut perjanjian, mungkin lebih tepat disebut keegoisan. Mana Florinas bocor, dan itu terjadi sampai sekarang meskipun hari demi hari kondisinya membaik. Dan untuk mengatasi kebocoran itu, aku memperbolehkannya menghisap mana-ku setiap aku sedang tidur. Tentu saja kami merahasiakan ini dari Lennef. Karena proses pengambilan mana-nya jelas menggunakan ciuman
Si peri sialan ini, aku tak tahu seberapa lama dia menciumku, tetapi ketika bangun di pagi hari terkadang dia tertidur dengan bibirnya masih menempel dengan bibirku, atau terkadang mulutku dipenuhi dengan air liurnya. Untung saja bangunku lebih cepat dari Lennef sehingga rahasia ini masih aman hingga sekarang.
__ADS_1
“Ayo katakan!”
Florinas memainkan kedua jari telunjuknya seperti anak kecil yang habis dimarahi, kemudian dengan nada yang penuh dengan kesedihan dia menjelaskan semuanya. “Saudariku, Varnella si Roh Api adalah roh yang kekuatannya setara denganku. Tapi elemen kami berkebalikan, sifat kami juga. Jadi kupikir kalau Masterbertemu dengannya, Master bisa mengalahkan Varnella.. begitu.”
“Jadi ini hanya dendam pribadimu begitu?”
“Kumohon! Kumohon! Master, aku ingin melihatnya menderita!” Florinas menarik-narik lenganku, peri berusia ribuan tahun ini bahkan tak mempunyai rasa malu dengan meneteskan air matanya hanya karena keegoisannya. Sungguh, Hile sepertinya lebih dewasa dari Florinas.
“Jangan merengek kepadaku untuk berbuat jahat!” aku melepaskan tangan Florinas dari tanganku. Kemudian aku berpikir, membayangkan bagaimana sosok Varnella yang dimaksud Florinas. Kalau tak salah dia juga yang membuat Florinas tersegel. “Kau bilang Varnella sifatnya berkebalikan denganmu.. itu artinya dia baik, kuat, bisa diandalkan, jujur, dan anggun.. begitu?”
Mendengar perkataan dariku, amarah Florinas semakin menjadi. Ratu Peri itu berteriak dengan kencang kemudian menarik-narik rambutku dengan liar. “Jahat! Jahat! Master jahat! Setelah semua yang Master lakukan kepadaku, jadi aku terlihat sehina itu di mata Master?!!”
Berisik.
Varnella atau siapapun itu, bisakah aku menukar Florinas denganmu?
***
Setelah beberapa lama aku dan Florinas menginap di Perbatasan Timur, Quine dan Killifer juga menginap di kota untuk menjadi petualang, akhirnya tepat hari ini kami berkumpul untuk kembali ke kerajaan.
Quine dan Killifer sudah tampak dekat, wajah mereka segar dengan tubuh mereka yang lebih bersemangat dari sebelumnya. Berbeda denganku dan Florinas yang meninggalkan kesan mati suri karena mengerjakan tambang selama seminggu.
Lennef menyambutku seperti menyambut keluarganya yang telah hilang selama bertahun-tahun. Padahal kami selama proses penambangan masih saling bertukar surat. Dengan tangisan bahagia yang kekanak-kanakan, Lennef memelukku untuk melepas rindu.
“Oh, kebetulan sekali, ada yang ingin bertemu denganmu, sayang.” Kata Lennef.
“Siapa?”
“Dia mengatakan dirinya adalah perwakilan dari Kerajaan Le-Ugen, selebihnya dia tidak bicara banyak. Apa kau mau menemuinya dulu? Atau mau istirahat dulu?”
“Eh? Dia ada disini?”
“Ya, dia ada di ruang tunggu. Tapi kalau kau mau, aku bisa menyuruhnya pulang.” Tawar Lennef.
Bukan berarti aku kelelahan juga, lagipula sebelum pulang aku sudah istirahat dengan cukup. Dan lagi menyuruh perwakilan dari kerajaan lain untuk pulang hanya karena aku tak siap menerima tamu adalah hal yang sedikit tak mengenakkan.
“Aku mengerti, aku akan menemuinya.”
Dengan penuh pertimbangan, aku dan yang lainnya menemui perwakilan itu.
Seorang perempuan dengan rambut panjang berwarna hitam, mengenakan pakaian formal yang elegan, duduk di sofa sambil meminum dengan cangkir putih. Perempuan yang tampak muda itu menyambut ramah ketika aku dan lainnya datang ke ruangan yang sama dengannya.
“Senang bertemu denganmu.” Katanya.
Aku duduk di sofa di depannya, Florinas, Quine, dan Killier berdiri di belakangku layaknya seorang penjaga. “Ya, senang bertemu denganmu juga.”
Perempuan tersebut menunjukkan kesan yang ramah, pandangannya santai tapi penuh pesona, pakaian formal dengan rok pendek yang ia kenakan juga mendukung kecantikannya dan bukannya menunjukkan kesan maskulin. “Maaf karena saya membuat pertemuan dengan anda, Tuan Walter.”
“Tidak, tak masalah, hanya saja jangan terlalu banyak basa-basi, aku memiliki banyak urusan.”
“Kalau begitu saya minta maaf. Karena perkenalan adalah hal penting, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya adalah Christa Dervin, duta besar Kerajaan Le-Ugen. Saya kemari atas perintah Putri Nerna.. yang menyampaikan pesan kepada tuan Meffery Walter.”
“.. aku mendengarkan..”
“Tepat dua hari yang lalu, pegunungan Caffarel menghilang dari pemetaan. Puncak gunung yang seharusnya terlihat dari Le-Ugen sudah tak lagi ada. Dengan segala hormat, Tuan Walter, Putri Nerna ingin anda menjelaskan kejadian aneh itu. Karena itulah—”
“Hanya karena hilangnya sebuah gunung, Putri-mu mengirimkan seorang duta? Ayolah, itu bukan urusan kalian!” kataku.
__ADS_1
Karena candaan yang konyol ini, aku merasa sedikit kesal. Daripada harus bersama-sama dengan perempuan itu, aku memilih untuk pergi dari ruang tunggu bersama dengan yang lainnya.
Sebelum aku pergi terlalu jauh dari sofa, Christa berkata, “Ini mungkin terdengar konyol bagi anda. Tapi kami menghargai Ratu kami. Ratu Holiana, satu-satunya pemandangan yang bisa menenangkannya adalah salju putih di atas gunung Caffarel. Tuan Walter, anda bertanggung jawab atas apa yang Ratu kami alami!”