
Ketika masuk ke dalam distrik, aku sadar bahwa keberadaan bocah elf itu terlalu menarik perhatian. Tak ingin ada masalah yang lebih rumit, aku segera menariknya masuk ke dalam kereta milik Christa. Lennef, dan lainnya yang berada di dalam terkejut ketika aku membawa gadis lain.
Kududukan dia di sebelah Quine, kemudian menenangkannya. “Siapa namamu, nak?”
“.. aku.. Elliore..”
“Elliore, nama yang indah.” Dari dalam Inventory, aku mengambil sekantung berlian dan kuberikan pada Quine. “Aku minta tolong ke semua kalian yang ada disini untuk menolong Elliore mencari pakaian yang layak.. makanan, tempat tinggal atau apapun yang dia mau dengan berlian ini. Christa, kau bawa mereka ke pasar. Aku dan yang lainnya akan mengecek keadaan sekitar dulu, jangan menunggu kami.”
“Tuan Walter.. kita tak punya waktu untuk itu.” Kata Christa setengah berteriak dari depan kereta, ia tetap sibuk mengontrol kudanya agar bergerak lambat.
“Tidak, kalau terjadi sesuatu pasti akan selesai. Untuk sekarang kalian pergilah dulu.”
Aku turun dari kereta kuda, kemudian berkumpul dengan sisa rekanku.
Kereta kuda Christa melaju cepat, meninggalkan kami yang berjalan dengan santai. Varnella ada di dalam sana, Quine juga ada, seharusnya aku tak perlu mencemaskan mereka bila hal buruk terjadi.
Lanjut ke pengawasan kami terhadap distrik dalam Kerajaan Imprasia.
Kata surga mungkin masih kurang untuk mencerminkan keindahan kota ini. Tak seorang pun melihat lembah yang menawan, air terjun yang cantik, atau hutan yang menenangkan hati. Yang membuat kota ini indah adalah arsitekturnya yang begitu sempurna. Semua gedung seolah ditata dengan penuh presisi sehingga dari sudut manapun perspektif kami tetaplah cantik. Dicat berwarna-warni, dan hampir semuanya berkilauan, gedung-gedung disini bagaikan hampran pelangi.
Jalanan sangat bersih, lantainya dipoles sehingga tampak seperti marmer yang mewah. Dimana-mana bersih, tak ada noda, apalagi tumpukan sampah yang tersembunyi di dekat sudut. Bentuk dari distrik ini adalah mengerucut, yang mana setiap jalannya seolah dituntun untuk naik ke atas. Dan yang ada di atas sana.. adalah kastil mewah yang tingginya menjulang ke langit.
Berbeda dengan distrik luar, disini sangatlah ramai, orang-orang menggunakan pakaian yang mewah seperti jas dan topi tinggi yang lucu. Kemungkinan besar yang kusebut ‘orang-orang’ itu adalah turis dengan ras manusia. Karena kebanyakan penduduk didominasi oleh ras monster. Tentu, monster dengan wujud manusia.
Jangan kaget ketika kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan setiap perempuan yang lewat di ujung matamu. Ada elf dengan rambut terkuncir yang menjajakan bunga, ada ras kelinci yang melayani sebuah kedai makan, dan banyak lainnya.
Kalau seseorang bertanya, cantik mana antara ras monster disini dengan Lennef? Maka aku akan menjawab lebih cantik mereka. Tapi kalau dengan Florinas, maka Florinas jelas jauh lebih cantik. Keberadaan Peri memang seperti malaikat, karena mereka adalah bidak di sisi Dewa.
“.. aroma yang membuat kepala pusing, benar?” tanya Killifer.
“Ya, kau benar.. orang seperti kita tak pantas berada disini.”
Aroma parfum yang begitu semerbak tercium dari segala titik, entah darimana aroma itu keluar. Tapi aku yakin bahwa ini adalah wangi yang berasal dari campuran wewangian rambut, pakaian, bunga, dan penjual minyak wangi.
“Master.. sepertinya banyak orang memperhatikanku..” Florinas terbang merendah, kemudian bersembunyi di balik punggungku. Itu adalah pertama kalinya kulihat Florinas begitu ketakutan. Aku mencoba mencari tahu kira-kira apa yang membuat peri keras kepala ini begitu minder.
Ternyata, itu memanglah musuh semua perempuan.
Yaitu tatapan mesum laki-laki yang bisa menghancurkan harga diri seorang perempuan dengan hanya sekali serang. Hanyalah aku, Killifer, dan Neressy, tiga orang pria yang paling berbeda di sekitaran sini. Ketika rata-rata orang memiliki badan gemuk dan menggunakan pakaian mewah, hanya kami bertiga yang kurus dan menggunakan pakaian sederhana. Meskipun Neressy menggunakan seragam.
Aku menggunakan kaus dan jaket, serta pedang murahan yang kugantung di sabuk di pinggangku. Killifer seperti biasanya, yaitu mengenakan kaus berkerah yang menjadi ketat karena ototnya. Yang aneh malah Neressy, padahal dia lah yang paling terlihat seperti pangeran, tapi orang-orang tampak sangat membencinya.
“Florinas, tenanglah, kau yakin merasa takut dengan mereka?”
“T-Tentu saja tidak.. aku tidak takut meladeni mereka. Berapapun jumlahnya, aku tak takut.”
Dan untuk Florinas, dia mengenakan kaos tipis tanpa lengan, dengan syal transparan yang menggantung di lehernya. Mungkin yang menjadi perhatian banyak orang itu adalah rok Florinas yang begitu pendek, dan juga karena Florinas terbang menggunakan sayap kecil, tapi masalahnya Florinas juga menggunakan kaus kaki yang menutupi kakinya sampai di atas lutut.
Apa mereka tertarik dengan Florinas hanya dari wajah?
“Neressy,
ini menjijikan, kenapa orang-orang gendut seperti mereka ada disini?” kataku.
“.. memang seperti itu. Mereka adalah orang bodoh yang berlebihan harta, mengisi perut mereka dengan makanan mahal dan menghiasi tubuh mereka dengan pakaian berkualitas. Uang mereka banyak, Walter. Kau tahu apa yang mereka lakukan disini.” Jelas Neressy.
“.. penyewaan wanita..”
“Terkadang ada juga yang bertemu dengan selingkuhannya disini. Rata-rata turis yang datang kesini semuanya sudah memiliki istri, mereka kemari hanya untuk melepas hawa nafsu saja.” Kata Killifer menyambung penjelasan Neressy.
“Karena itulah rata-rata orang seperti kita yang memiliki tubuh bagus menjadi incaran, hati-hatilah ketika malam hari nanti, Walter. Kalau kau lengah,.. bisa ada ratusan wanita yang menyembahmu.”
__ADS_1
Ini bukan surga, ini adalah tempat busuk yang penuh dengan kebahagiaan.
“Call..” aku mengaktifkan sihir Call, dan menghubungi Quine, “Untuk sementara kalian jangan bertemu dengan kami. Menginaplah bersama Elliore di penginapan, kalau uangnya kurang beritahu aku.”
“Aku mengerti, Tuan Walter.”
Untuk beberapa lama, kami berjalan dengan tanpa perbincangan.
Banyak orang yang kami lalui, dan polanya selalu sama, yaitu Florinas yang dirayu lelaki dan kami para pria yang dirayu banyak wanita. Bahkan untuk orang sepertiku yang pernah jatuh cinta pandangan pertama dengan Holiana, sulit untuk perempuan murahan seperti mereka untuk merayuku.
Bukan berarti ini adalah distrik pelacuran, hanya saja memang para wanita itu senang bila berdekatan dengan pria. Uang.. aku sering melihat mereka menerima uang ketika si pria berhasil dihibur.
Ini adalah distrik yang akan kukuasai suatu saat nanti.
“Omong-omong, Walter,.. apa yang kau lakukan pada Nasaroth?” tanya Neressy tiba-tiba.
“.. hanya sedikit urusan antar kelompok. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawabku.
“Aku bukannya marah, lagipula meskipun di negara itu terjadi perang saudara dampaknya tak akan sampai ke Raverine. Tapi kau yakin tak mengambil alih negara itu..? Sumber dayanya ada banyak, kan?”
“Hmm.. aku sudah mengirim orang ke sana.”
“.. siapa?”
“.. Rose Strosford..”
“.. itu nama yang tak pernah kudengar. Apa aku melupakannya?”
“Tidak, kemungkinan kau memang belum tahu. Rose Strosford adalah ibu Hile, dia juga seorang pengajar di akademi sihir kerajaan. Tapi meskipun aku yang mengutusnya, nyatanya Nona Rose hanya akan mengatur dari balik bayang.” Jelasku.
“Kau juga sudah menyiapkan orang untuk memimpin Nasaroth?”
Mendengar itu, Neressy mengeluh, “Kau memang lelaki yang berbahaya. Tak kusangka sudah sejauh itu kau memikirkannya.”
***
Jauh masuk ke dalam Imprasia, surga akan lebih terasa. Manusia normal pasti akan melupakan betapa buruknya distrik luar ketika mereka sudah sampai ke depan mancur. Betapa indah dan cantiknya, sebuah air mancur besar yang memakan lahan di tengah kota, menjadi pusat perputaran arah di 4 jalan, dan tentunya menjadi tempat wajib bagi para pelukis untuk mencari pundi-pundi uang dari hasil gambarnya.
“Untuk sekarang, kita cari penginapan saja dulu.” Kataku pada yang lainnya.
“Itu disana!” Florinas menunjuk ke sebuah bangunan yang berdiri tak jauh dari kami.
Kami segera menuju ke penginapan itu, mengingat hari yang sudah terik menjadikan pria-pria normal seperti kami lebih baik tidur daripada menggoda para gadis setengah hewan.
Nama tempat itu adalah penginapan Green Zanac, satu dari banyaknya penginapan yang kami pilih untuk bermalam. Dengan desain bangunan yang cantik, dan hiasan bunga di depan pintu masuknya, membuat siapapun seolah terhipnotis untuk masuk ke Green Zanac.
“200 keping emas untuk setiap kamar dengan kasur dua orang per malam.” Kata resepsionis.
Kami berempat saling pandang ketika mendengar harga menginap yang begitu mahal. Di Raverine, untuk sebuah kamar yang biasa hanya memerlukan 30 koin perak, bahkan dengan 10 koin emas kau sudah bisa mendapatkan sebuah kamar yang istimewa.
100 koin perunggu sama dengan 1 koin perak, 100 koin perak sama dengan 1 koin emas. Sedangkan permata seperti berlian tak memiliki patokan harga khusus, dikarenakan bendanya yang langka dan sulit dibentuk. Tapi sebongkah berlian juga sudah cukup dibilang mahal.
“Kalau begitu, aku pesan 3 kamar untuk semalam.”
“Baiklah, biayanya jadi 600 keping emas.”
Si resepsionis ini adalah perempuan, tapi aku tak tahu dari ras mana dia. Yang pasti dia memiliki sayap sepanjang rentangan tangan yang terbuat dari bulu burung putih bersih, sayap itu mengkerut dengan kerutan yang khas layaknya seekor burung merpati. Aku ragu dia adalah ras burung, memangnya ras seperti itu ada? Ketika kubayangkan seandainya dia memiliki paruh, aku malah kehilangan fokus karena melihat senyumannya yang manis.
Sebelum membayar, aku mendekatkan wajahku ke wanita burung itu, “Apa rata-rata orang disini menginap untuk semalam?”
“Tidak, mereka bisa menginap selama seminggu atau sebulan.”
__ADS_1
“Kutebak penginapan ini memiliki layanan khusus.. benar? Kau pasti tahu maksudku.”
“Tentu saja, semua penginapan memiliki layanan itu. Tapi tuan, sayang sekali karena anda tak bisa menyewaku.”
Mendengar itu, aku langsung jijik. Daripada berlama-lama dengannya, aku segera mengambil emas dari Inventory. Bukannya emas yang disimpan dalam bentuk koin, aku justru mengeluarkan bongkahan emas murni sebesar kepala kerbau langsung di meja si resepsionis. Itu jelas memiliki nilai yang jauh dari 600 keping emas.
Matanya terbelalak ketika melihat emas itu kuangkat dan kuberikan padanya. Sebelum si wanita burung itu mengatakan sesuatu lagi, aku segera meminta kunci kamar.
“24, 25, 26..”
“Terima kasih.”
Kami segera menuju ke lantai atas, dan beristirahat disana.
***
Malam hari, disaat matahari sudah terbenam sepenuhnya, bulan dan bintanglah yang kini memberikan kami penerangan. Imprasia menunjukkan wajah aslinya, yaitu kota yang berisikan segala kebahagiaan duniawi. Wanita adalah apa yang dijual di kota ini, tapi bayarannya adalah sesuatu yang tak semua orang bisa membayarnya.
Hampir semua lampu di kota menyala, mempercantik pemandangan ketika aku melihat keluar jendela dari lantai dua penginapan. Diantara bintang-bintang, lampu itu memperjelas aktivitas orang-orang yang berada di bawahnya.
Jauh lebih ganas dan sesat, distrik dalam kini berubah menjadi tempat yang penuh dengan gadis-gadis seksi yang menggoda. Mereka semua berkumpul di jalanan dengan goyangan yang asik, para lelaki kaya yang gendut itu terus menerus merogoh kantung mereka agar bisa melihat wanita cantiknya bergoyang.
Penginapan juga semakin ramai, lampu berwarna merah muda membuat momen romantis semakin terasa. Aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam penginapan dengan lampu yang redup dan berkesan cinta itu.
Aku mendapat laporan dari Quine bahwa dia dan rombongannya baik-baik saja. Elliore juga baik. Kini mereka sedang menginap sama seperti diriku, tampaknya sekantung berlian itu sudah lebih dari cukup untuk perjalanan mereka selama sehari.
“Master.. kau tidak ingin minum?” kata Florinas dengan nada yang sempoyongan, dia baru saja menenggak habis sebuah botol anggur yang kubelikan untuknya seharga 30 koin emas, dan itu sudah botol keduanya. Sungguh sebuah bir yang berkualitas, dengan baunya yang menyengat aku berpikir dua kali untuk meminta segelas dari Florinas. Walau kenyataannya Florinas menenggak habis itu semua sendirian.
Aku memesan tiga kamar, satunya untuk Florinas, dan dua lainnya untuk para pria. Namun wakilku ini sama sekali tak mau berpisah denganku, ia malah membuat keputusannya sendiri dengan menegaskan bahwa tuan dan pelayan tak boleh berjauhan.
“Florinas.. kau terlalu banyak minum.”
Tiba-tiba Florinas memelukku dari belakang. Dari napasnya tercium bau anggur yang begitu menyengat, badannya sangat panas meskipun dia adalah peri es. “Master.. aku cinta padamu.” Kata Florinas sambil terkekeh.
“Ya, ya, aku juga cinta padamu. Cepatlah tidur, aku mau menemui raja kerajaan ini untuk melaksanakan misi kita!”
“.. Master mau berangkat sendirian?”
“Ya, aku lebih senang melakukannya sendirian. Selain itu.. kalau datang sendirian, raja tak memiliki alasan untuk menolakku.”
Mendengar itu, Florinas terdiam. “.. curang.”
“Aku tak sedang main-main.”
“Kalau aku tak boleh ikut, maka akan kuberi tahu Lennef bahwa Master pernah tidur dengan Holiana.” Florinas merajuk, ia sengaja memajukan bibirnya seperti anak kecil yang ingin menangis. Betapa tidak dewsanya wakilku ini.
“Apa gunanya membahas Holiana sekarang? Lagipula cepat atau lambat kita akan tahu bahwa itu hanya kesalahpahaman.” Aku melepaskan pelukan Florinas, kemudian berjalan menuju pintu.
Florinas menghalangi pintu dengan rentangan tangannya, “Kalau aku tak boleh ikut, nanti Master akan kuperkosa.”
“Tidak lucu!! Astaga, jangan mengancamku. Kalau kau yang mengatakannya, jadi terdengar seperti sungguhan.”
“Kalau aku tak boleh—”
“Sleeper!”
“Fyuu..” Florinas jatuh di lantai. Ia langsung tertidur lelap ketika aku mengaktifkan sihir Sleeper. Tak tega, aku mengangkat Florinas ke kasur. Badannya yang ringan tapi kaku memaksaku harus mengangkat Florinas layaknya gendongan ala tuan putris. Saat kugendong, wajah yang masih mabuk itu berkata, “Master.. aku juga ingin menikahimu.”
Kulempar tubuh Florinas ke kasur. Lalu pergi meninggalkannya.
“.. aku akan memikirkan itu.”
__ADS_1