Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 17


__ADS_3

Aku menawarkan bantuan kepada Putri Nerna, yaitu dengan secara personal meminta maaf kepadanya, berbicara dengan baik-baik. Tapi Putri menegaskan bahwa itu bukanlah ide yang bagus. Untuk seorang anti sosial akut seperti Ratu Holiana, berbicara dengan seorang yang baru adalah hal konyol. Kecil kemungkinanku untuk meluluhkannya, atau mungkin juga mustahil.


Mengingat kondisi Ratu Holiana yang memburuk karenaku, aku tak bisa diam saja. Aku berkata pada Putri Nerna bahwa aku akan memberi Ratu emas, berlian, atau permata apapun yang ada di Inventory-ku.


Dengan sikap tenangnya, Putri Nerna menjawab bahwa itu juga tidak mungkin. Kakaknya sudah tak tertarik dengan apapun yang ada di dunia ini, kecuali satu.


Terdapat sebuah lubangan kecil di dinding kamar Ratu Holiana, hanya Ratu yang bisa membuka lubang itu. Gunanya adalah untuk memberikan makanan kepada Ratu agar tak perlu masuk. Dan di setiap makanan yang dimakan Ratu, terkadang ada surat yang ditulis kepada adiknya, yang menceritakan betapa dia senang melihat uap putih di dekat gunung Caffarel.


Surat itu berhenti ditulis 2 hari yang lalu, dengan isinya adalah pertanyaan ‘dimana gunung Caffarel?’. Putri Nerna takut kalau kakaknya mungkin stres dengan peristiwa itu.


Aku sedikit bersikeras disini, aku akan masuk ke kamar itu dengan cara apapun. Meskipun Putri Nerna melarangku, aku akan tetap masuk.


Di depan kamar Ratu Holiana, aku menelan ludah, gugup karena ragu ingin menyentuh pintu kamar itu atau tidak. Putri Nerna hanya bisa diam ketika aku egois. Dan daripada melanjutkan perdebatan di depan kamar Ratu, Putri Nerna membiarkanku untuk masuk.


Masuk apanya? Pintunya terkunci.


“Kau bercanda? Pintunya terkunci.”


Putri Nerna terdiam, matanya bahkan tak melihat kepadaku. Begitu, dia juga sudah tak mau peduli denganku.


Dengan keegoisan yang sangat tinggi, aku menggunakan Ice Manipulation untuk membekukan kunci yang ada di balik pintu ini. Suara kerak es terdengar di balik pintu, bersamaan dengan hawa dingin. Putri Nerna bingung dengan apa yang kulakukan, ia juga was-was. Kemudian aku menghancurkan es itu, dan itu artinya kuncinya juga hancur. Putri Nerna menjadi panik, dan menahan tanganku.


“Kalau kau berani menyakiti kakakku, ini akan menjadi persoalan yang rumit antara kita.. tidak, antara kerajaan kita.” Putri Nerna mengancamku.


Aku melepaskan tangannya, kemudian masuk ke kamar, “Kau akan terkejut dengan hasilnya.” Aku menutup kamar Ratu, dan menguncinya kembali dengan Ice Manipulation. Terserah apa yang ingin dilakukan Putri Nerna, yang penting aku sudah masuk.


Aku ada di kamar Ratu Holiana sekarang, aku melihat apa yang ada di dalamnya.


Kamar yang luas, dengan sebuah kasur beratap yang menempel di dinding. Karpet merah digelar di tengah ruangan, terdapat beberapa boneka dan bantal di karpet itu. Dekat dengan kasur, terdapat pintu tembus pandang yang memburam, aku tebak itu adalah kamar mandi. Kamar yang sangat lengkap, bahkan terdapat banyak buku disini, perapian juga ada.


Yang paling menarik perhatianku bukanlah ruangan itu, tetapi sosok perempuan berwajah lemah yang duduk di tepi kasur. Tidak, dia tidak menyeramkan. Malahan, dia sungguh manis. Jantungku berhenti berdetak ketika melihat kecantikannya, lebih dari ketika aku bertemu dengan Lennef ataupun Florinas.


Ratu Holiana, tak salah lagi bahwa dia adalah orang yang dimaksud.


Rambut Ratu memanjang sampai ke pangkuannya sendiri, warnanya ungu cerah mirip seperti rambut adiknya. Kulitnya putih mulus, bersih, tak pucat sedikitpun. Untuk seorang perempuan yang mengurung diri selama 2 tahun, dia terlalu sempurna. Tetapi pandangannya lemah, dia seperti kehilangan arti hidup. Aku tahu betul, itu adalah pandangan orang yang tak mau hidup tapi juga takut untuk mati.


“.. bagaimana.. kau bisa masuk?” tanya Ratu Holiana dengan nada yang sangat lemah. Suaranya lembut, pelan, tapi juga feminim dan menggoda. Aku ragu apakah itu adalah kalimat pertamanya selama 2 tahun.


Tekanannya sangat luar biasa disini, aku seperti baru saja mengganggu tidur sang dewi. Dialog apa yang bisa kuucapkan kepada orang baik yang kujahati? “Ratu Holiana..” aku mendekat kepada Ratu dengan gemetar.


Ratu yang cantik itu jauh lebih membuatku takut daripada Kaisar Valarish yang sangat kuat. Pandangan Ratu sungguh memikat hatiku, terlebih ketika dia juga ikut gugup karena aku melangkah mendekat. Apakah ini cinta pada pandangan pertama?


Ratu was-was, ia yang tadinya duduk di tepi kasur menggeser badannya ke tengah kasur. “A-Apa maumu?” tanya Ratu dengan wajah takut.


“Tidak, tidak,.. tenanglah..” aku mengisyaratkan dengan kedua tanganku agar Ratu tenang, aku memperlambat langkahku. “Aku kemari untuk membahas.. gunung Caffarel. Ratu Holiana, aku ingin bicara denganmu.”


Ratu Holiana tertarik dengan ucapanku, tapi dia tak mengaku, “Gunung Caffarel, kenapa dengan gunung itu? Aku sama sekali tidak peduli. Pergilah, bukan kau orang yang ingin kutemui setelah 2 tahun!” Ratu memalingkan wajahnya, ia jelas berdusta tentang ketidakpeduliannya terhadap gunung Caffarel.


Aku sedikit mengambil langkah bodoh. Aku memberanikan diri untuk semakin dekat. Hingga kini aku berada di tepi kasur, duduk disana dengan perlahan seperti tak ingin membuat suara apapun. Ratu semakin takut, dia menjauh dan berlindung dengan bantalnya.


“Aku tak berniat untuk berbuat jahat, Ratu. Tenanglah, aku kemari ingin membantumu.”


“Kau tidak mengerti situasiku, jangan bersikap seolah kau bisa membantu!” Ratu Holiana memainkan tangannya ketika mengatakan itu.


Aku langsung sadar bahwa situasi yang dimaksudnya adalah skill kutukan yang dia miliki. Ratu tak menggunakan sarung tangan, tentu saja dia melepasnya ketika 2 tahun mengurung diri, karena itulah dia takut akan menyentuhku.


Peace Warm! Aku menggunakan sihir itu untuk menenangkan hati Ratu. Tapi dia terlalu bersikeras dengan ketakutannya, Peace Warm tak begitu efektif. Tentu saja bisa menjadi ekeftif bila kutambah pasokan mana-nya, tapi Ratu bisa menjadi gila akan kebahagiaan kalau itu terjadi.


Berarti tinggal masalah kemampuan bernegosiasiku, begitu?


“.. skill yang Ratu miliki, True Death.. itu adalah skill yang sangat menakjubkan.”


Ratu yang mendengar itu langung murka, ia melempar bantalnya ke wajahku dengan keras. “Sudah cukup! Aku ingin kau pergi, apa kau tak mendengarku?!!”


“Aku kemari untuk menyembuhkanmu, Ratu Holiana.”


Saat itulah Ratu terdiam, dia tak membalasku. Meskipun wajahnya dipenuhi keraguan, dia sama sekali tak mencoba untuk percaya. “Kalau kau kemari hanya untuk bercanda,.. aku tak akan mendengarkanmu.”


“Kalau begitu kita buktikan saja, apakah aku bercanda atau tidak.”


Aku mendekat ke Ratu Holiana, naik ke kasurnya dan merangkak menuju Ratu yang mengumpat di balik bantal. Ratu berteriak pelan, hingga lama-lama kencang. Suaranya imut, tapi juga berisik, dan itu sangat mengganggu.

__ADS_1


Aku menggunakan sihir Silence, untuk membisukan suara yang ada di ruangan ini sehingga tak terdengar dari luar. Jujur, suara Ratu Holiana yang seperti ingin diperkosa ini seperti godaan dan neraka tersendiri bagiku. Aku merasa seperti orang jahat.


Sampai aku berada tepat di depan sang Ratu. Tak ada tempat mundur lagi bagi Ratu, di sekelilignya juga sudah tak ada bantal untuk dilempar. Aku menatap mata Ratu dengan serius, wajah kami berjarak tak lebih dari setengah meter. Mata Ratu seperti sebuah mutiara yang tenggelam di laut dalam, cantik tapi mati.


“.. m-menggunakan tubuhku.. bukan ide yang bagus..” Ratu Holiana menitikkan air mata, ia membuang wajahnya karena takut menatapku. “Kalau kau menyentuhku, kau akan mati.”


“Benarkah?”


“Menyingkirlah! Aku tak suka dengan ini! Aku membencimu, aku ingin kau pergi!”


“Tidak sampai kau mendengarkanku.”


“.. tubuhku bukan untukmu, sudahlah, tak ada waktu untuk mengurusi wanita payah sepertiku. Kalau kau tak pergi, aku bisa repot. Kenapa kau tidak mengerti juga? Kenapa kau mau mendekati wanita berbahaya sepertiku?”


“Kau tidak payah, Ratu. Kau orang yang sangat sempurna.”


.. Karena yang payah adalah Florinas seorang.


“Kau keras kepala sekali! Tak ada gunanya merayuku!”


“Baik, aku akan berterus terang. Aku jatuh cinta padamu!”


“.. keluar!”


“Kau jauh lebih cantik dari wanita manapun yang kukenal.”


“.. keluar, kuperintahkan untuk keluar!”


“Kau terlalu sempurna sampai aku jatuh cinta sebelum kita bicara.”


“Kubilang, keluar!!”


Ratu Holiana menamparku.


Tapi sebelum tamparan itu mendarat di pipiku, aku menahan pergelangan tangannya.


Di situlah Ratu Holiana menyadari hal yang penting. Yaitu fakta bahwa dia telah menyentuhku. Wajah Ratu berubah menjadi pucat, ia panik dan khawatir, “Kau.. kau akan mati.” Dia melepaskan tangannya dan menatapku seperti ingin menangis. Tangannya gemetar, tubuhnya melemas seperti ingin pingsan.


Itu adalah efek skill Counter. Skill yang mampu menetralkan skill apapun. Ini adalah skill aktif, tapi berbeda dengan Double Drive yang aktif dan tidak mengonsumi mana. Counter hanya aktif bila diberi pasokan, terlebih lagi pemakaiannya sangat boros.


Sayang karena aku memiliki mana tak terbatas.


“Kau.. bagaimana bisa?”


“Seperti yang kau lihat, aku tak mati. Skill-mu bukanlah sebuah kutukan, nyatanya aku tak mati. Sekarang kau mengerti kan bagaimana aku bisa menolongmu?”


Ratu Holiana seolah tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Dia melihat kedua tangannya, pandangan yang sangat asing seperti dirinya sedang melihat tangan orang lain.


Crafter, aku mengkombinasikan skill True Death dengan skill Counter. Dan hasilnya adalah skill Natural Death, yaitu versi sempurna dari True Death dimana aku bisa menghendaki orang yang kusentuh apakah aku ingin dia mati atau tidak. Tak cukup sampai disitu, aku menggabungkan Natural Death dengan Long Sense. Dengan begitu skill-nya kembali berubah menjadi Soul Killer.


Disinilah yang membuat semuanya jadi berbahaya. Soul Killer adalah skill aktif yang berupa area berjarak tertentu dengan aku sebagai pusatnya, siapapun yang masuk ke area tersebut bisa kubunuh secara instan. Seramnya lagi, aku bisa mengubah ukuran area itu seluas yang kumau dengan pasokan mana. Kalau begini, nyawa seseorang bisa dengan mudah kurenggut.


“Kenapa.. kenapa kau tidak mati?”


“Apa kau menginginkan aku mati, Ratu?”


“Tidak, tidak, bukan begitu, aku hanya penasaran kenapa skill-ku tidak berfungsi. Apakah, jangan-jangan skill-ku sudah tidak ada?” muncul wajah menyenangkan yang Ratu Holiana buat. Dia pasti mengira bahwa skill-nya sudah lenyap.


Aku dengan jujur mengatakan, “Tidak, skill-mu masih ada. Tapi aku tahu cara menghilangkannya.”


“Kau tahu?”


“.. tentu.”


***


Dengan banyaknya bujukan yang kulontarkan, aku berhasil membuat Ratu Holiana keluar dari kamarnya. Meskipun sebelum itu aku terpaksa menemaninya selama berjam-jam untuk bersiap-siap. Ketika keluar, Ratu terus memegang lengan bajuku, aku bisa tahu betapa traumanya dia dengan tangannya sendiri.


Putri Nerna terkejut ketika kakaknya keluar dari kamar. Putri membuka tangannya untuk memberikan pelukan, tapi Ratu tak menjawabnya. Kedua saudari itu pun paham kalau itu bukan waktu yang tepat untuk berpelukan. Putri Nerna sedikit sedih karena Ratu lebih memilih mendekap kepadaku daripada kepadanya.


Lennef menyapa Ratu Holiana yang kikuk, Lennef tahu betul bahwa Ratu Holiana tidak bisa lepas dariku untuk sementara, jadi dia tidak cemburu.

__ADS_1


Tapi memang benar. Sejak awal melangkah keluar kamar, Ratu memang tak melepaskan sedikitpun tangannya dari lenganku. Bukannya mengendur karena sedikit tenang, pegangannya malah semakin kuat.


“.. kakak, senang bisa melihatmu disini. Tapi.. mungkin aku akan memberikan waktu untukmu agar bisa bersama dengan Walter lebih lama. Bagaimana kalau ke taman di atap? Disana pemandangannya bagus.” Ucap Putri Nerna, mengikhlaskan reuni dengan kakaknya untukku.


Lennef juga menambahkan, “Aku juga tak masalah, lagipula Walter berbakat dalam hal ini.


Semuanya setuju.


“Bagaimana, Ratu?”


Ratu menjawab ajakanku dengan anggukan.


Akhirnya kami pergi ke atap istana. Terdapat sebuah area khusus terbuka yang ditanami tumbuhan dan kolam-kolam yang cantik. Pagar dengan tinggi setengah badan menjadi pembatas antara atap dan ruang bebas. Pemandangan yang kami lihat dari sini sungguh cantik, yaitu pemandangan kerajaan Le-Ugen di sore hari.


Ratu Holiana memegang pagar, matanya tertuju pada matahari yang terbenam di depannya, sesekali ia membenarkan posisi rambutnya yang terhembus angin. Rambut panjangnya yang sudah dipotong sampai pinggang itu berkibar, menambah keanggunan dari sang Ratu.


Hanya ada kami berdua di atap. Florinas, Quine, dan Killifer kuperintahkan untuk mencari tanda-tanda keberadaan Varnella. Mereka belum kembali dari siang, semoga hal buruk tak terjadi. Lagipula Florinas bersama mereka, aku tak perlu khawatir.


Aku kembali memperhatikan Ratu Holiana, matanya tak sedikitpun beranjak dari pemandangan senja di hadapannya. Hingga lama-kelamaan air mata Ratu menetes. Bingung kenapa dirinya menitikkan air mata, Ratu segera mengelapnya sambil sembunyi dariku.


“Pemandangan yang indah bukan?” kataku.


Ratu mencoba untuk sedikit terbuka, dia sekarang mau menatapku, “Ya.. kau benar. Aku dulu sering ke tempat ini, saat aku masih sangat kecil. Ayah sering memarahiku karena takut tubuhku terselip di pagar dan terjatuh.” Ratu Holiana mengelus pagar yang ia sentuh, matanya kembali mengingat momen indah itu.


“Ratu Holiana.. sebenarnya—”


“Holiana saja. Panggil aku Holiana saja.” Holiana memperingatkanku dengan senyuman. Baguslah, itu artinya kami sedikit lebih dekat.


“Holiana.. sebenarnya apa yang kau inginkan?” aku bertanya dengan nada serius.


Holiana terdiam untuk waktu yang lama. Suasana hatinya kacau, aku tak bisa menebaknya. Berharap saja itu bukan pertanyaan yang malah memperburuk hubunganku dengannya.


“Entahlah.. aku juga tak tahu,” Holiana melihat ke kedua tangannya. Tangan yang putih dan bersih itu, aku senang melihatnya, tapi Holiana justru merasa jijik. “Mungkin aku hanya ingin menebus dosaku. Bagaimanapun aku telah membunuh orang.”


“Itu bukan salahmu. Kalau aku jadi kau, aku juga pasti melakukan hal yang sama. Cukup gunakan sarung tangan saja dan hidupmu akan kembali normal.”


“Tidak semudah itu. Apa kau tahu betapa mengerikannya ketika orang-orang terbunuh karena sentuhan darimu? Aku melihatnya sendiri. Aku menyentuh mereka, dalam hitungan detik orang-orang itu.. yang mana juga memiliki keluarga.. berubah menjadi mayat. Itu karena kesalahanku.”


Holiana menunduk, dia mungkin tak ingin menunjukkan wajahnya kepadaku.


Tapi aku sedikit terganggu dengan sikap itu. Aku mendekat, kemudian mengelus kepalanya, “Jadi bagaimana rasanya ketika ada orang yang tak berubah menjadi mayat ketika kau menyentuhnya? Apakah mengerikan?”


Wajah Holiana berubah menjadi merah. Ia menyingkirkan tanganku dari kepalanya dengan kasar. “.. j-jangan menggodaku terus.”


Apanya yang kukhawatirkan? Bukankah Holiana memang baik sejak awal? Seharusnya dia lebih jujur dengan perasaannya sendiri.


Ketika aku berdiri bersama Holiana di atap, tiba-tiba hawa di sekitar berubah.


Langit menjadi berwarna hitam, debu-debu hitam turun dari langit. Matahari tertutup oleh awan, cahaya menjadi sangat redup seperti malam hari.


Terdengar suara gaung yang sangat keras dari ujung kota, suaranya mengerikan sampai membuat Holiana ketakutan dan memelukku. Gumpalan energi sihir terkumpul di suatu tempat yang tak kuketahui, tapi aku bisa merasakannya.


Astaga, ini berbahaya.


“A-Ada apa ini..?” tanya Holiana takut.


Aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi.


Kemudian aku kembali melihat matahari. Sediki demi sedikit, matahari itu membuka awan. Cahayanya kembali menerangi kerajaan. Tapi apa yang berbeda? Cahayanya sangat gelap, merah, dan panas. Matahari itu semakin besar, seiring aku melihatnya.


Barulah aku sadar bahwa itu adalah sebuah ledakan.


“Menunduk!”


Aku menarik Holiana ke lantai, kemudian mengaktifkan sihir Protection kepadanya.


Benda yang kusangka adalah matahari ternyata adalah sebuah bom yang meledak dengan kekuatan dahsyat. Aku menciptakan pelindung berlapis untuk melindungi kerajaan. Tapi aku masih bisa melihat betapa besarnya ledakan itu.


Dengan hanya hitungan detik, rumah-rumah warga tertutup oleh kobaran api, dan hanya menyisakan puing-puing yang berserakan. Tubuh manusia yang terbakar gosong bergeletakan di tengah jalan. Kerajaan Le-Ugen saat itu benar-benar terlihat seperti neraka.


Apa-apaan ini sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2