Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 10


__ADS_3

“Tidak, aku menyuruh mereka untuk menculik gadis yang jauh lebih dekat dengannya, Hile Strosford.” Ucap Marquis Daralo kepada pemimpin pasukan kekaisaran, Killifer Voil.


“Jadi Putri Lennef bukan orang yang paling dekat dengannya?” tanya Killifer memastikan. Sebelum Daralo menjawab, Killifer mempertanyakan hal lain, “Mana dia? Gadis yang kau culik itu, dimana dia?”


Daralo membuat wajah kebingungan yang sulit dimengerti, ia merasa seperti sedang sedih tapi juga merasa tak enak. “Itulah yang ingin kulaporkan padamu..” Daralo mengambil secarik kertas dari dalam kantung pakaiannya, kertas berwarna coklat terang itu terlipat dan baru dibuka oleh Daralo ketika ia menunjukkannna pada Killifer. Yang terlihat di kertas itu adalah sketsa wajah seseorang, “Ini adalah tunangan Putri Lennef, Meffery Walter.”


Killifer mengambil kertas itu, dan mengatakan, “Oh, cukup tampan. Aku terkejut kau bisa mendapatkan sketsanya. Jadi, dimana Hile Strosford? Dia tawanan yang penting untuk kita.”


Daralo ragu menjawab, tapi ia menyerah pada keputusan, “Upaya penculikan itu tak berhasil. Tunangan Putri Lennef rupanya sangat kuat, dia membunuh orang suruhan kita.” Tutur Daralo.


Killifer yang merupakan pemimpin dari pasukan militer terkejut mendengar fakta itu. “Apa kau bilang?” orang suruhan yang Daralo maksud sebenarnya adalah orang yang Killifer pilih, mereka adalah tiga subjek yang berhasil dari pelatihan monster, sedangkan ratusan subjek lainnya meninggal karena tak bisa mengimbangi latihan itu. “Walter membunuh orangku?”


Daralo mengangguk, kemudian melanjutkan, “Ya, dan tak hanya membunuh. Ia memiliki sihir yang sangat rumit. Atomic Shot miliknya, ternyata itu bukan sihir biasa. Ahli sihir kita melaporkan bahwa tiga orang yang ia lawan terlipat-lipat tepat setelah mereka terkena tembakan milik Walter.”


Killifer masih tak percaya dengan hal ini. Tapi karena yang mengatakannya adalah Daralo, seharusnya ia mengerti betul betapa kuatnya Walter. “Terlipat.. apa maksudmu?”


“Sihir itu mampu melipat fisik objek yang dikenainya. Terlipat, dan terus melipat hingga ukurannya menjadi sangat kecil. Selain itu, durasinya sangatlah singkat, itulah kenapa mereka terlihat seperti lenyap. Yang menyeramkannya adalah.. objek itu terus melipat bahkan ketika sihirnya telah selesai, mereka terus berubah menjadi kecil.”


Sudah tak ada lagi yang bisa Killifer katakan, ia dengan otot dan otaknya hanya bisa meratapi kehilangannya terhadap tiga prajurit emasnya. Killifer mengepalkan tangannya, ototnya mengeras hingga terlihat sangat besar. Secara ukuran tubuh, Killifer berada di atas Kaisar Valarish, tapi faktanya Kaisar jauh lebih kuat daripada Killifer. Itulah mengapa Daralo tak takut melihat Killifer kesal.


Sebagai pemimpin pasukan militer, Killifer dibebaskan untuk mengatur porsi latihan dari setiap warga di Kekaisaran Nasaroth, itu berhubungan dengan peraturan dimana setiap warga harus memiliki kekuatan seteara dengan prajurit.


Dan pelatihan monster dibuat oleh Killifer atas dasar nafsu gilanya terhadap perkembangan manusia. Pelatihan keras yang terjadi selama bertahun-tahun, hingga membuat subjeknya bertingkah seperti bukan manusia.


Apa itu masih tak cukup untuk menantang Meffery Walter?


“Tunangan Putri Lennef, sebenarnya siapa dia?”


***


Florinas menunjukkan wajah yang tak pernah terlihat sebelumnya, alisnya mengerut sangat dalam, ia menatap orang yang ia sebut sebagai Master dengan tatapan hina. “Raja Penyihir, berhenti berpura-pura dengan kebaikanmu!”


Aku heran sealigus takut, ketika tombak es yang mengkristal dan mngeluarkan suhu dingin mengikat itu itu ditodongkan Florinas kepadaku. “Florinas.. tenang.. tenanglah!”


Florinas tak mengindahkan perkataanku. Dia mencoba menusuk kepalaku dengan tombaknya, tapi aku berhasil menghindar. Posisiku yang saat itu masih terduduk di lantai membuat penghindaran menjadi sulit. Tak puas dengan hanya sekali serang, Florinas terus mencoba menusukku. Karena itu aku dipaksa mundur dengan menggeret bokong ke bekalang.


“Raja Penyihir tak memiliki skill Touch Drive. Katakan, darimana kau mendapatkannya?!” Florinas bertanya dengan tetap mencoba menyerangku.


Aku yang sudah tak tahan kemudian menangkap tombaknya dan menghancurkannya. “Florinas, tenanglah! Dengarkan aku dulu!”


Begitu tombaknya hancur, Florinas tak menyerah dengan keadaan, dia malah berencana untuk membuatnya lagi. Tapi sebelum ‘mana’ di tangannya terkumpul, aku menggenggam tangan Florinas dengan kedua tanganku. “Dengar, dengar.. skill bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah. Kalau Raja Penyihir yang kau tahu tidak memiliki skill Touch Drive, itu artinya dia tak pernah memilikinya, kan?”


Florinas memahami maksudku, tapi wajahnya tetap kesal. Hanya ada satu sihir yang bisa menciptakan skill, tetapi proses penggunaannya sangat sulit. Meskipun Raja Penyihir sekalipin, aku ragu dia bisa menggunakannya. “Tetap saja.. skill Evolver itu, kau sendiri yang mengakuinya.”


“Aku bisa menceritakannya kalau kau bisa bersikap tenang.”


Kali ini, Florinas menurut. Dia menjadi lebih tenang dan tampaknya siap mendengarkanku.


Tapi


sepertinya itu hanyalah kepalsuan.


Saat kukira dia sudah tenang, dia memaksaku untuk lengah. Dan saat aku lengah, sebuah tusukan dalam menembus dadaku. Tombak es yang Florinas buat ia gunakan untuk membuat dadaku bolong. Rasa sakitnya sungguh tak bisa terbayangkan, jantungku seperti remuk setelah ditusuk dengan es.


Lebih menyakitkan lagi ketika mengetahui fakta bahwa aku abadi.


“Maaf, Master. Aku adalah utusan Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Raja Penyihir.” Florinas mengkhianatiku. Tidak, dia tidak berkhianat, dia hanya melakukan tugasnya. Wajah Florinas benar-benar berbeda dengan wajah gadis yang kuberikan cincin seharga 3 keping emas.


Jantungku yang bolong jelas membuat tenagaku terkuras habis, aku kehilangan kekuatan pada kakiku dan terduduk lemas. Florinas menangkap tubuhku, dan memelukku seraya mengatakan, “Perang Besar telah berakhir.”


“.. Ice Area.”

__ADS_1


Kekalahan untuk Florinas.


Aku memasukkannya ke dalam sihir yang menjadi senjata pamungkasnya. Terima kasih kepada Florinas yang sudah memberikanku sihir ini.


Ice Area adalah sihir dimana target akan masuk ke dalam area yang dipenuhi dengan salju, dan diterpa terus menerus dengan badai yang dahsyat. Dalam pengaktifannya, target akan terikat di sebuah rantai dan merasakan dingin, sedangkan pengguna tidak merasakan dingin dan bisa bergerak bebas bila ia masuk ke Ice Area. Luas area ini mungkin sekitar 5x5 meter, ukuran bukan hal yang penting bila target tak bisa pergi.


“Ice Area?” baik kedua tangan dan kedua kakinya terikat dengan rantai yang ketat, Florinas mencoba melawan meskipun tahu gerakannya terbatas. “Kurang ajar, lepaskan aku!”


Karena area ini adalah milikku, tombak Florinas jelas tak ikut masuk ke dalamnya. Aku segera mengaktifkan sihir Cure Heal pada diriku sendiri dan menutup lubang pada dadaku dengan sempurna.


“Bukankah ironis? Kau masuk ke dalam sihirmu sendiri. Bahkan Peri Es sepertimu tetap merasakan dingin. Bagaimana rasanya berada dalam suhu yang bisa membuat orang mati dalam sepuluh detik? Ah.. aku lupa kalau kau abadi. Florinas, ini adalah siksaan selamanya untukmu.”


Florinas menggigil, karena meskipun dia adalah pengendali es yang handal tetap saja tak berguna kalau area ini bukan miliknya. Dan lagi, Ice Area bukanlah ilusi, ini adalah dimensi nyata yang tercipta oleh kekuatanku.


“Master, kenapa kau melakukannya?” Florinas bertanya.


“Itukah pertanyaan yang kau lontarkan kepada orang yang ingin kau bunuh?” kataku.


“Tugasku adalah membunuh Raja Penyihir.”


“Dan aku bukanlah Raja Penyihir.”


“Munafik. Kau pembohong, Master.” Florinas melanjutkan, “Lucu sekali kalau ada orang lain yang memiliki skill sehebat Evolver.”


Kemudian aku tertawa dan menjawab, “Ya, memang lucu. Aku mentertawakan kebodohanmu yang mengira bahwa skill Evolver adalah skill yang kudapatkan sendiri.”


Florinas memasang wajah serius, meskipun ia tak bisa menyembunykan ekspresi kedinginannya, “Apa maksudmu?”


“Evolver adalah skill yang kudapatkan dari Ksatria Kerajaan bernama Thomas von Neressy.” Kataku.


Florinas terkejut, dan dia berpikir atas kesalahannya. Inilah yang kumaksud dengan kebodohan, dimana Florinas sama sekali tak memikirkan kenyataan seperti itu. Ia hanya bisa menelan kebodohannya dalam diam. “Skill milik Neressy masih tersegel, itulah mengapa di awal kita bertemu aku memintamu untuk mencari orang yang bisa menghilangkan skill. Aku juga tak mau ada orang yang memiliki Evolver.”


“Hentikan, kau berbohong!” Florinas membual untuk menyembunyikan kebodohannya.


Florinas mendengarkanku, ia tak bisa membantah.


“Beruntung dia sendiri yang memintaku untuk menghilangkan skill-nya. Tapi aku, memiliki skill ini dan siap kugunakan kapanpun. Aku masih berada di sini, di pihakmu, apa kau masih ragu kepadaku?”


Florinas terdiam, dia menunduk dalam, tak mau menunjukkan wajah cantiknya padaku. Ratu Peri itu membisu untuk waktu yang cukup lama. Kulit pergelangan tangan dan kakinya mengelupas karena tertempel pada rantai yang membeku, dia jelas tersiksa.


Ketika aku memperhatikannya, tiba-tiba kulihat Florinas menangis. Air matanya mengalir dari kedua matanya, tapi itu membeku sebelum air matanya menetes ke tanah. Entah raut seperti apa yang Florinas buat, aku ragu dia menangis karena sedih.


“Florinas, kalau kau tak membantuku mencari orang yang bisa menghilangkan skill-nya, maka Perang Besar akan terjadi sekali lagi.”


“Hentikan! Hentikan itu!!” Florinas membentakku, dia mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajah yang dipenuhi dengan kesedihan, “Jangan membuatku mengingat kembali Perang Besar itu. Setelah ribuan tahun aku terlepas dari Perang Besar, apa menurut Master aku bisa diam saja?!!” Florinas terus menangis.


“Florinas..”


“Teman-temanku terbunuh, keluargaku terbunuh,.. bahkan Dewa tak lagi menganggapku. Master.. aku.. tak mau Perang Besar terjadi lagi.”


Mendengar itu, aku mengerti bagaimana perasaan Florinas. Aku menonaktifkan sihir Ice Area dan mengembalikan kami berdua ke tempat semula. Meskipun sudah kembali, Florinas tak menyerangku, dia terduduk di lantai sambil menangis.


Mana mungkin aku tak tersentuh ketika peri legendaris yang sangat kuat saja bahkan sampai menangis seperti itu. Aku mendatangi Florinas, kemudian memeluknya. “Kau bisa percaya kepadaku. Kalaupun aku menyakitimu, kau boleh menyerangku, kau boleh mengamuk sesuka hatimu. Tapi.. Florinas, kau harus tahu bahwa aku tak akan membencimu.”


Ketika aku mengatakan itu, tangis Florinas sampai ke puncaknya. Ia melepaskan air matanya yang terpendam selama Perang Besar. Kami tak peduli meskipun kami berpelukan di tengah jalan, kami tak peduli meskipun Florinas menangis dengan sangat keras.


“Master.. Master.. aku sangat takut!” Florinas semakin erat memelukku, dan dia menangis semakin keras. “Aku tak memiliki apapun.. aku..”


“Kau memilikiku. Bukankah kau yang memanggilku sebagai ‘Master’? Tentu saja, kau adalah milikku, sepenuhnya adalah milikku.”


Florinas terdiam, dia melonggarkan pelukannya kemudian menatapku serius. “Master tak berbohong?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


Perlahan-lahan, Florinas mendekatkan wajahnya. Dia menciumku. Tapi kali ini tidak dengan ciuman yang kasar, apalagi menarik mana. Dia menciumku dengan tulus layaknya seorang gadis.


Dan itu juga menjadi ciuman pertama yang kuberikan secara tulus.


***


Malam hari, sehari sebelum festival dilaksanakan.


Aku tidur di kamarku bersama Lennef,


.. dan Florinas


.. dan Hile juga.


Kami tidur bersama dalam satu kasur. Florinas berada di sebelah kiriku, memelukku erat dengan wajahnya yang tersenyum meledek Lennef. Sedangkan Lennef di sebelah kananku, memeluk tapi dengan raut kesal kepada Florinas. Sedangkan Hile, gadis mungil itu sudah tertidur pulas di atasku.


Kami bertiga tidur dalam selimut yang sama. “Tapi kenapa hawa dingin tak kunjung menghilang?” aku bertanya pada diriku sendiri.


Kemudian ketiganya terbangun. “Mungkin itu karena kau tidur dengan peri es jelek itu, kenapa tidak kau usir saja peliharaanmu itu?” Lennef menjawab dengan kalimat yang pedas.


Meskipun begitu bukannya kesal, Florinas malah menggunakan itu untuk amunisinya agar bisa membuat Lennef cemburu. “Ya ampun, kalau Master kedinginan.. bagaimana kalau.. kita melakukans sesuatu yang panas. Aku akan dengan senang hati melakukannya dengan Master.” Florinas bahkan tak tanggung-tanggung dalam membuat Lennef kesal.


“Aku sudah memelukmu dari atas sejak tadi, apa kau masih kedinginan, Walter?” Hile ikut menengahi.


“Kalau memang berniat menjawabku, bisakah kalian menjawabnya dengan serius? Florinas, kenapa hawa dinginnya tetap kurasakan? Kukira yang menjadi penyebabnya adalah Ice Dragon, bukankah kita sudah membunuhnya?” tanyaku pada Florinas.


Kemudian Florinas berpikir, “Hmm.. itu berarti dia belum mati.” Jawabnya.


“Hah? Terkena serangan sekuat itu dan belum mati?”


“Master, Ice Dragon adalah satu dari tujuh naga elemen, dia adalah naga yang bertugas menjagaku. Saat itu Master terlalu tanggung-tanggung dalam menghabisinya, seharusnya langsung saja hujani dia dengan kekuatanku.” Ucap Florinas.


“Begitu.. tapi kenapa dia mengeluarkan hawa dingin, Lennef bilang hawa dingin ini baru muncul setahun yang lalu. Kau sudah ada disana ribuan tahun lamanya, kan?” tanyaku lagi.


“Bukankah itu karena dia terganggu?”


Hal apa yang bisa membuat Ice Dragon terganggu?


“.. Bahkan sampai sekarang aku tak berani menyuruh orangku untuk mencari bongkahan disana, tetapi tetap saja ada orang bodoh yang menambang disana.”


Tiba-tiba, penggalan dialog Raja Loiros kembali muncul di kepalaku.


Astaga, jadi penyebabnya adalah penambang yang mencari emas di sarang naga? Aku tak heran lagi kenapa para penambang itu bisa mati. Hawa dingin yang Ice Dragon keluarkan sepertinya adalah peringatan agar tak mengganggunya.


“Omong-omong.. waktu itu Ice Dragon marah kepada kita kan? Padahal kita tidak mengganggunya.” Aku mengatakan itu kepada Florinas.


“Sepertinya bukan kepada kita, tapi hanya kepada Master. Ice Dragon mungkin menganggap Master telah menculikku.” Ungkapnya.


“Jadi itu salahku?” aku menanyakan itu dengan wajah menyebalkan. Kututup mataku dan kucoba untuk tidur senyenyak mungkin. Tapi tetap saja, rasa dinginnya masih terasa. Pelukan Hile yang lebih hangat dari selimut sekalipun masih belum bisa melindungiku dari hawa dingin yang kubenci.


“Kalau begitu aku ingin menghabisi Ice Dragon secepatnya. Florinas, kira-kira sihir apa yang efektif untuk membunuhnya?”


“Cukup keluarkan saja Atomic Shot milikmu itu, sudah cukup, bukan? Tapi.. aku menyarankan Master menyentuhnya lebih dulu daripada langsung membunuhnya, kemudian kalahkan dia dengan kemampuannya sendiri, seperti yang biasa Master lakukan.”


“Touch Drive kepada ras monster? Memangnya bisa?”


“Tentu saja bisa, aku juga ras monster, tahu!”


“Sayang, jangan berbicara dengan Florinas terus! Aku juga ingin mengobrol malam denganmu!” Lennef merengek.

__ADS_1


“Walter, kau berisik! Aku mau tidur.” Dan Hile memarahiku.


__ADS_2