Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 9


__ADS_3

Aku enggan menyebut apa yang terjadi barusan adalah pembunuhan. Para preman inilah yang memulai masalah di kota, tentu aku tak bisa membiarkannya begitu saja.


Tetapi fakta bahwa aku telah membunuh orang sudah tak bisa dipungkiri, semuanya sudah terlambat. Tanganku tak bercucuran darah, aku tak merasakan kesedihan, merasa berdosa sedikit pun juga tidak. Apa memang rasanya senormal ini ketika merenggut nyawa seseorang?


“Takdir sangat menyeramkan ya, siapa yang mengira akan terjadi kejahatan setelah tadi kita masih tertawa bersama.” Kata Florinas.


Bersama, benar, saat itu aku sedang melihat wajah bahagia Hile.


Hile? Hile tidak ada di sebelahku. Tunggu, kemana Hile?


“Florinas, dimana Hile?!” panik karena anak kecil itu tak berdiri di sebelahku, aku menengok sana-sini diantara keramaian persiapan festival. Hile menggunakan gaun berwarna kuning terang, tapi aku sama sekali tak melihatnya di sekitarku.


Florinas juga baru sadar bahwa Hile menghilang, ia terbang ke atas dan mulai mencari. Aku dari bawah bisa melihat bahwa sang Ratu Peri itu juga panik. Kepalanya berputar kesana kemari, sampai berhenti di satu arah. Florinas menunjuk ke satu ruas jalan sambil mengisyaratkan bahwa dia melihat Hile.


Aku segera berlari menuju tempat yang Florinas tunjuk, ia tetap terbang di atas untuk memanduku. Dengan skill Booster, aku mempercepat lariku. Sebisa mungkin kuhindari tabrakan dengan orang yang bergerak berlawan arah.


Florinas berhenti memandu, dia membawaku ke sebuah jalan yang sangat ramai dengan orang. Sungguh, begitu berbelok ke jalan itu, aku sungguh terkejut karena sejauh yang kulihat hanyalah orang dan orang saja. Bagaimana aku bisa mencari Hile di tengah keramaian ini?


Kutengok Florinas, tampaknya dia kehilangan Hile di pencariannya. Tentu saja, siapapun pasti kesulitan untuk hanya memperhatikan seseorang di antara ratusan orang yang berjalan acak.


Mau tidak mau..


“Super Skill, All of Freeze.”


Membeku, dan semuanya berhenti bergerak. Pandanganku berubah menjadi biru laut seperti layaknya dunia terendam air. Dunia seakan mati, karena hanya aku yang bergerak. Baik waktu, takdir, konsep, dan aliran mana semuanya terhenti membeku.


Di dunia yang sudah tak lagi bergerak ini, aku bisa mencari Hile dengan mudah. Aku terbang menggunakan sihir Fly Up menuju Florinas untuk bertanya kepadanya, tapi tampaknya pemilik asli dari Super Skill ini juga merasakan efek pembekuan.


Ya sudah, aku mencari Hile seorang diri. Seharusnya mudah kalau mencarinya dalam posisi diam seperti ini.


Dari atas aku bisa melihat betapa luasnya jalanan ini, panjangnya bahkan terbentang dari ujung ke ujung. Orang-orang ini pasti berasal dari luar ibukota yang sengaja berkunjung kemari untuk merayakan festival, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kaya yang mengenakan pakaian mahal.


Yang kukira akan mudah ternyata sebaliknya, dari ujung ke ujung, aku mondar-mandir untuk melihat apakah Hile ada diantara mereka. Entah sudah berapa kali aku terbang dari berulang-ulang ke titik awal, hasilnya tetap sama saja. Hile tidak ada disini.


“Tapi Florinas menuntunku kesini, kenapa?” rasanya mustahil kalau Hile benar-benar tidak ada, mengingat Florinas begitu yakin sampai mau menuntunku ke jalan ini.


Seandainya aku memiliki sihir pencarian..


Oh iya, sihir bernama Long Sense ini sepertinya sesuatu yang mirip. Ini bisa meningkatkan indra, yang berarti meningkatkan daya lihat.


Aku bertaruh pada sihir ini, ayolah.


Tak mau ambil pusing, aku langsung mengaktifkan sihir Long Sense dengan menggunakan mana sebanyak 1.000.000, dengan harapan sihir ini bisa mencapai tingkat dimana aku bisa menemukan Hile segera. Hasilnya sungguh mengejutkan. Kepalaku serasa mau pecah, karena melihat hal-hal yang jauh di luar nalar.


Seisi dunia ini seolah tertampilkan di depan mataku, semua benda, semua makhluk hidup, aku melihat semuanya. Hile.. Hile ada dimana?


Kufokuskan penglihatanku pada Hile yang kukenal. Sulit untuk mengendalikan Long Sense apabila menggunakan mana yang berlebihan. Tapi bukan berarti aku sulit menemukan Hile. Menurut penglihatanku, seharusnya ia tak jauh dari sini.


Ia berada di dalam kereta kuda. Dalam kondisi yang terikat dan kepala yang dibungkus kain. Apa-apaan?!


Hile tidak berada dalam kondisi yang bagus. Selain itu ia tidak hilang atau tersasar, melainkan diculik. Aku segera menonaktifkan semua kemampuan dan terbang menuju kereta kuda itu berada.


Tampaknya kereta kuda itu sedang berjalan menjauh dari jalan yang ramai ini, pantas saja Florinas kesulitan mencarinya. Pilihan yang tepat untuk menggunakan pembekuan waktu, kalau tidak kereta kuda itu mungkin sudah tak lagi bisa kutemukan.


Aku meninggalkan Florinas yang baru saja terlepas dari pembekuan. Waktu kembali berjalan, begitu juga dengan takdir. Aku mengejar kereta kuda yang menculik Hile secepat mungkin.


Hingga aku terbang di atas kereta kuda itu, dan mengintip dari atap mereka yang terbuka. Hile tidak sendiri di dalam sana, ada dua orang dengan pakaian jas rapih duduk di sebelahnya, dan terlihat orang yang mengendarai kereta kuda itu juga mengenakan setelan jas yang sama.

__ADS_1


“Fire Ball!”


Aku menembakkan bola api tepat di depan kuda itu. Bolanya meledak di tanah dan membuat kudanya tersungkur. Ledakan ini tentunya kukendalikan, tidak sampai melukai warga yang lewat di dekatnya.


Karena kudanya jatuh, keretanya menjadi tidak seimbang hingga akhirnya ikut terguling. Aku mengaktifkan sihir Protection pada Hile tepat sebelum keretanya jatuh, seharusnya ia tak terluka sedikitpun.


Aku turun ke bawah dan mengecek keadaan Hile. Kereta kuda yang terbuat dari kayu itu benar-benar rapuh sehingga terpeleset sedikit saja sudah membuat semua kerangkanya rusak. Yang tersisa hanyalah bekas patahan kayu dan beberapa orang yang terbaring lemah. Aku mengangkat kepala Hile kemudian melepas tutup kepalanya.


“Hile? Kau baik-baik saja? Kau tak terluka? Maaf karena menyelamatkanmu dengan cara seperti itu.”


Ketika kubuka penutup kepala itu, Hile dalam keadaan menangis. Tubuhnya gemetar karena takut, air matanya jatuh membanjiri wajahnya. Ia bahkan tak berani membuka matanya. Tapi setelah mendengar suaraku, “Walter.. kaukah itu?” Hile bertanya dengan suara pelan.


“Ya, ini aku. Tenanglah, kau aman sekarang.”


Air mata Hile semakin mengalir deras ketika dia membuka matanya dan melihat wajahku. Sambil menangis, gadis kecil itu memelukku dengan sangat erat. “Aku takut,.. kukira hal buruk sedang terjadi. Kukira aku kehilanganmu.. aku.. aku..”


“Maaf, seharusnya aku tak meledakkannya. Tapi seharusnya kau tak terluka, aku sungguh bersyukur kau baik-baik saja. Baiklah, kita pulang sekarang.”


Aku tak tega membiarkan Hile terus menangis seperti ini, bagaimanapun akulah yang membuat ledakan itu. Ketika pulang nanti aku akan meminta maaf kepadanya sebanyak mungkin, bahkan meskipun dia marah pun aku akan menerimanya.


Segera sebelum aku mengaktifkan skill teleportasi, sebuah pisau terlempar entah darimana menuju kepala Hile. Beruntung Hile masih dalam efek Protection milikku, pisau itu hanya memantul dan tidak menggores Hile sedikitpun.


Karena terlalu berbahaya, aku berteleportasi ke istana, meninggalkan Hile di kamarnya. Kemudian berteleportasi kembali ke tempat dimana kecelakaan itu berlangsung. Mana mungkin aku membiarkan penculik itu berkeliaran di tengah kota.


Ketika aku kembali, pencuri itu seolah sedang menungguku. Padahal beberapa saat yang lalu mereka sedang terbaring lemah karena ledakan, tapi sekarang semuanya terlihat baik-baik saja. Jumlah mereka adalah tiga orang, ini mengingatkanku dengan perkelahian yang terjadi antara aku dan pria berotot tadi.


Florinas pun datang, ia yang tak tahu situasinya paham bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.


“Menculik seorang gadis kecil sungguh tidak sopan. Apa karena dia lebih mudah diculik, atau selera kalian yang buruk dalam memilih perempuan?”


Tak menjawab gurauan dariku, mereka bertiga malah memasang kuda-kuda untuk bertarung. Wajah dingin mereka, tatapan mereka yang seperti mayat. Aku ragu apakah mereka benar-benar manusia. Selain itu posisi kuda-kuda mereka yang sama persis, tapi di lain sisi juga kuat, tak salah lagi mereka adalah ahli bela diri.


“Master, urusan mereka biar aku yang hadapi.” Florinas meskipun tak tahu situasinya menawarkan dirinya untuk bertarung.


“Tidak, ini urusanku."


Baiklah, apa aku bisa mengalahkan mereka bertiga?


Mereka bertiga maju secara bersamaan, pergerakan mereka sungguh cepat dan hampir saja membuat fokusku hancur. Ketika mereka sudah dekat, aku menggunakan Teknik Soul Wiper. Dengan telapak tanganku, aku mengincar dada mereka.


Sungguh mengejutkan, ternyata serang Soul Wiper yang kecepatannya tak bisa dilihat dengan mata biasa itu bisa mereka hindari. Aku merasa seperti memukul bayangan ketika tubuh mereka tiba-tiba menghilang.


Tidak, ternyata mereka tak menghilang. Mereka berpindah ke belakangku, dan melancarkan serangan dari sana. Sebuah tendangan yang sangat keras menghantam wajahku, bahkan cukup keras untuk membuatku terpental beberapa meter.


Sakit, aku merasakan sakit. Rasa sakitnya memang tak seberapa, kurang lebih mirip dengan rasa perih ketika menggaruk. Tapi ini menandakan bahwa ketahananku masih bisa dijangkau oleh mereka. Dan lebih buruknya lagi adalah fakta bahwa aku belum menyentuh mereka.


Kalau keadaannya mulai memburuk maka aku akan menggunakan All of Freeze sekali lagi. Untuk sekarang, mari kita lihat seberapa kuat mereka.


Pedang ataupun senjata lainnya, kalau aku menggunakannya mungkin akan lebih baik. Dalam pertarungan ini, dimana mereka terlihat lebih dominan, jujur aku merasa sihir yang bertele-tele menjadi sangat tidak berguna.


Mereka maju, tapi kini tak langsung menyerangku bersamaan, melainkan membentuk formasi segitiga mengelilingiku. Salah satu dari mereka memukulku dengan teknik bela dirinya, aku berhasil menghindar, tapi pukulan lain datang dari arah yang berbeda.


Itu terjadi terus-menerus, aku dikepung di formasi mematikan dimana mereka bisa menyerang secara terus-menerus. Beruntung, kemampuan bela diriku mungkin setingkat dengan mereka. Menghindari pukulan mereka bukan hal yang sulit, tapi sedikit saja kesalahan maka kepalaku akan menjadi sasaran lagi.


Beberapa lama setelah mereka menghujaniku dengan tinju, mereka berhenti memukul.


Setelah berhenti sesaat untuk memulai kuda-kuda baru, mereka mulai menggunakan jurus lain. “Teknik Kosong, Perfect Chop.” Ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


Kali ini, aku merasa seperti sedang beradu panco dengan kematian. Jurus yang mereka keluarkan, sesuai namanya adalah sebuah teknik penebas. Mereka menggunakan tangannya secara menyamping dan efek dari Teknik itu adalah tangan mereka bisa menjadi setajam pisau. Dan bukan hanya menebas, mereka juga bisa menusuk.


Aku seperti kelinci yang melompat diantara tebasan pedang. Dari ujung jari sampai lengan mereka, aku sama sekali tak boleh menyentuhnya. Belum lagi mereka menggunakan kedua tangannya, dengan gerakan kompak layaknya sebuah mesin. Menunduk, melompat, tanpa menangkisnya sama sekali, semuanya kulakukan untuk menghindari serangan tiga arah ini.


Kemudian ketika aku mulai lelah dan fokusku sudah tak lagi terjamin, aku menggunakan jurus yang lain. “Dark Repulser!”


Entah jurus macam apa itu, karena terdengar menakutkan aku menggunakannya.


Saat itu, tanganku mengumpulkan mana dengan elemen kegelapan. Tangan kanan dan kiriku memunculkan bayangan yang padat, berwarna hitam dan terlihat seperti api. Bayangan yang menempel di tanganku itu seolah menggerogoti tanganku perlahan, jadi aku buru-buru melepaskan semua energinya pada salah satu musuh


yang ada di depanku.


Aliran bayangan terbang di udara menuju ke orang yang kutembakkan, dua orang lainnya yang melihat sihir itu segera melakukan posisi bertahan selagi mereka melihat teman mereka terlahap oleh bayangan hitam.


Ketika sihir itu berakhir, orang yang terlahap oleh bayangan ternyata masih ada. Tapi anehnya, ia tak bergerak sama sekali. Tatapan matanya kosong, badannya tak bergetar seperti manusia pada umumnya. Aku langsung menduga bahwa itu adalah sihir untuk melumpuhkan.


“Sihir yang bagus. Dark Repulser!”


Aku menggunakan Dark Repulser untuk yang kedua kalinya, dan sama seperti sebelumnya kedua tanganku ikut mengumpulkan bayangan. Tapi kini, kedua tanganku kugunakan untuk menembak dua orang di kanan dan kiriku. Sinar hitam kembali terlepas dari tanganku, tapi sayang itu hanya berhasil mengenai lengan mereka saja.


Tepat seperti dugaanku, itu memang sihir pelumpuh. Ketika lengan mereka terkena Dark Repulser, saat itu juga tangan mereka tak bisa lagi digunakan.


Tetapi mereka segera mencerna situasi dan menyerangku dengan menggunakan kaki, aku menghindar ke kanan dan ke kiri. Berkat lumpuhnya salah satu teman mereka, formasi segitiga mereka berantakan dan aku bisa kabur dari kepungan itu dengan mudah.


“Kau tahu? Aku memiliki mana tak terbatas, dan skill aktif yang membuatku abadi. Kalian yakin masih ingin mencari masalah denganku?”


“Meffery Walter..” salah seorang dari mereka menyebut namaku.


“.. kau tahu namaku?”


“Meffey Walter adalah target pembunuhan kami.”


Mereka berdua berlari ke arahku dan siap menyerang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka benar-benar serius. Aku bisa merasakan hawa membunuh yang luar biasa dari mereka.


Tapi bukan hanya mereka yang bisa serius. Aku menarik napas dalam, kemudian mengambil langkah berani. “Evolver: Lightning Bolt, Fire Ball, Dark Repulser.”


Skill Evolver berhasil diaktifkan, hasil dari ketiga sihir yang kugabungkan adalah sihir baru bernama Atomic Shot.


Hawa membunuh kedua orang itu semakin terasa ketika mereka mengambil lompatan jauh, dan melayang ke arahku dengan tinju mereka yang siap diluncurkan.


Tak mau banyak berpikir, saatnya mencoba ekspresimen. “Atomic.. Shot!”


Kedua tanganku bergerak sendiri, terarahkan menuju mereka yang siap membunuhku. Dari kedua tanganku, muncul sebuah sinar berwarna hijau yang menyilaukan mata. Sinar itu sangat panas, bahkan panasnya sampai terasakan olehku yang merupakan penggunanya.


Serangan ini jelas berhasil, aku menembak mereka bertiga pada sudut yang pas. Kemungkinan untuk lari dari sihir sebesar ini adalah nol persen.


Kuhentikan sihirku, sinar hijau itu berhenti terpancar dan semuanya kembali normal.


Sayangnya, normal dalam artianku bukan berarti normal dalam arti umum. Tubuh mereka bertiga menghilang, baik jasad maupun abunya sama sekali tak ada. Aku sadar bahwa sihir itu melenyapkan mereka sampai tak bersisa, dan baru kusadari bahwa kami bertengkar di tengah jalan.


Dan keberuntungan berpihak kepadaku, Florinas melindungi pancaran sinar itu agar tak mengenai gedung dan orang-orang yang lewat.


“Atomic Shot.. menyeramkan..” aku kehabisan nafas karena kelelahan, kemudian menjatuhkan bokongku di jalanan dan duduk disana sambil mencoba memulihkan tenagaku.


Florinas datang menghampiri, “Master.. sihir barusan, apa Master pernah memilikinya sebelumnya?” aneh, Florinas menatapku dengan tajam tak seperti biasanya.


Aku yang kelelahan pun menjawab jujur pertanyaan itu, “Itu hasil dari skill milikku, Evolver.”

__ADS_1


Dan rupanya itu adalah jawaban yang salah. Florinas menciptakan sebuah tombak dari es yang muncul di tangannya, kemudian dia menodongkan tombak itu kepadaku. “Sudah kuduga, Raja Penyihir!”


__ADS_2