Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 12


__ADS_3

Aku berjalan mendekat menuju ke arah Valarish, dia berusaha dengan tegar menahan gemetar tubuhnya. Yang menjadi lucu adalah ketika belati yang ada di tangan Valarish ikut bergetar juga, padahal ia menggunakan itu untuk menahan sang ratu.


Tapi aku sedikit kecewa melihat Valarish yang mentalnya hancur semudah itu.


Lagi-lagi, ketika aku berencana untuk menyentuh Valarish, seseorang dengan pakaian sederhana menghalangi jalanku. Dia adalah orang yang menjaga Hile tadi, dan baru bergerak ketika aku maju. Wajahnya terlihat biasa, pakaiannya juga sederhana, badannya juga tak sekekar orang-orang yang baru saja kupecahkan kepalanya.


Hanya saja aura orang ini terlalu kuat, dia setara dengan 3 orang Ksatria Kerajaan atau lebih.


Ya, seandainya para ksatria tak bertugas menjaga festival, seharusnya ini tak akan terjadi. Raja Loiros juga sedikit ceroboh dengan menurunkan sistem penjagaannya sendiri.


“Meffery Walter, benar? Perkenalkan, namaku Killifer Voil. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu.” Orang itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan senyuman di wajahnya, kemudian dia menarik pedang yang ia gantung di pinggangnya dan mengacungkan senjata besi itu kepadaku. “Kau yang mengalahkan prajurit monsterku, aku sangat tertarik untuk mengoleksi kepala dari orang-orang kuat sepertimu.”


Astaga, muncul satu lagi orang bodoh.


Aku menghela napas panjang. “Kalau begitu coba saja, kau ayunkan pedangmu itu sekuat mungkin ke leherku!” aku menantangnya.


Seisi ruangan terkejut, Lennef bahkan berteriak karena khawatir dengan perkataan konyolku. Sedangkan Killifer juga sama, dia terkejut. Tapi kemudian senyum lebar muncul di wajahnya, Killifer serius menanggapi tantangan itu.


“Wah, itu suatu kehormatan bagiku.” Dia bersiap dengan posisi menebas.


Aku mengangkat kepalaku miring, jadi terlihat seperti aku adalah orang yang sombong, meskipun sebenarnya aku ingin mempertegas daerah yang seharusnya ia potong. Leherku terlihat jelas olehnya, dan terbuka lebar untuk pedangnya. Mustahil baginya untuk meleset.


Setelah beberapa saat bersiap, Killifer melakukan serangan.


Ia menarik pedangnya cepat, dan ia tebaskan ke leherku.


Gerakannya sangat cepat, dan kekuatannya juga luar biasa. Dengan kemampuan pedangnya itu, Killifer bahkan mampu membelah perisai besi tanpa harus mengeluarkan tenaga penuhnya.


Dan benar, pedang itu memang mengarah ke leherku. Melukaiku.


Hile memejamkan matanya, Lennef yang ada di belakangku meneriakkan namaku karena takut, Valarish tersenyum karena melihat aku ditebas. Yang pasti, seisi ruangan melihat kejadian ini dan memiliki hal yang sama, yaitu keterkejutan.


Tapi mereka lebih terkejut lagi ketika menyadari fakta bahwa aku masih hidup. Badanku dan kepalaku masih terhubung, darahku tak berceceran sedikitpun, aku juga tidak mati. Itu memang melukaiku, tapi luka yang dihasilkannya setara dengan dihantam oleh sisi tumpul dari sebuah pisau.


“Ap-?!! Tidak mungkin! Bagaimana.. bagaiamana kau bisa masih hidup?” Killifer terkejut. Ia mengambil posisi mundur beberapa langkah karena takut dengan diriku yang tak terluka sedikitpun.


Aku mengelus-elus leherku yang terasa dingin karena tertempel oleh pedangnya, sungguh tak mengenakan. Kemudian aku menjelaskan, “Berkat tiga bawahanmu tadi, ketahanan fisikku menjadi meningkat pesat. Seandainya aku tak menyentuh mereka, mungkin dengan seranganmu kau bisa membuat kulit luarku terkelupas. Salahkanlah orang-orangmu yang sudah mati!”


Aku kembali berjalan menuju Valarish, tapi Killifer tetap berada di depanku. “Hahaha!! Kau monster yang selama ini kucari, seandainya aku menangkapmu dan menjadikanmu guru di pelatihanku, maka prajuritku—”


Aku menampar Killifer sebelum ia selesai bicara. Tamparan yang cukup keras hingga membuat Killifer terpental hingga beberapa meter, dan tersungkur di tanah. Aku yakin rahangnya pasti patah menerima tamparan sekeras itu. Tapi terima kasih, karena itu aku bisa mendapatkan kemampuan Killifer.


Sekarang, kembali ke Valarish. Ia sudah tak memilki apa-apa lagi untuk melindunginya. Puluhan orang yang ia bawa untuk mengepung ruangan ini juga tak berani maju. Valarish benar-benar ketakutan ketika aku berdiri di depannya dengan tangan dan baju yang bernoda darah.


“Kalau kau berani menyentuhku, aku akan membunuh Andervine! Kau mengerti? Menjauhlah..!” dengan tangannya yang tetap gemetar, Valarish menekan belati yang ia pegang ke leher ratu.


Ratu terlihat sedikit tercekik, tapi ia masih bisa menahannya.


Akan tak tega seandainya ratu benar-benar terbunuh, atau tertebas sedikit. Meskipun sihir penyembuh dan sihir pembangkit bisa kugunakan, tapi tetap saja ratu lebih berharga ketimbang penggunaan sihir itu.


Kalau begitu, aku akan bermain lebih lama dengan Valarish.


“Mannequin!” aku menggunakan sihir itu.


Setelah itu, Valarish tak bisa bergerak. Badannya kaku seperti es. Matanya masih bisa melirik, keringatnya masih berkucuran, tetapi ia tak bisa menggerakan seluruh badannya. Seolah Valarish adalah orang yang beku di dalam sebuah kotak es.


Ini adalah sihir pelumpuh milik Florinas, dimana sebelumnya dia menggunakannya kepadaku agar aku tak bergerak ketika dia menciumku. Itulah alasan kenapa 5 menit ciuman pertama darinya terjadi tanpa perlawanan, karena aku terkena efek sihir pada saat itu.


“Ratu, kau baik-baik saja sekarang! Menyingkirlah perlahan dan pergilah ke sebelah raja.” Kataku.


Ratu mengikuti saranku, ia dengan hati-hati keluar dari sekapan Valarish agar lehernya tak bergesekan dengan belati. Ketika ia berhasil keluar, ratu berlari sambil menangis menuju raja, dan langsung berpelukan dengan suami dan anaknya.


Ratu sudah selamat, dan tak ada apapun untuk dilakukan lagi.

__ADS_1


“Valarish, kau melakukan ini karena ingin mendapatkan Lennef?” aku bertanya pada Valarish. Dengan menonaktifkan efek sihir Mannequin pada mulut Valarish, dia bisa kembali berbicara.


“Kalau iya memang kenapa? Aku yang seorang Kaisar, kastaku jauh di atas dirimu!” meskipun tahu dirinya sedang di ujung maut, membahas tentang percintaannya ternyata membuatnya sensitif.


Aku menghukum Valarish dengan cara mencabut tangannya.


Karena efek dari sihir pembeku, aku bisa mencabut tangan Valarish semudah mematahkan ranting pohon. Tangan Valarish terputus, dan darah yang sangat deras keluar dari tangan kanannya seperti sebuah keran air. Sebelum aku memutus tangannya, terlebih dahulu aku mengunci mulut Valarish agar ia tersiksa tanpa berteriak.


Di tangan Valarish yang terpotong, ada belati yang digunakannya untuk menyandera ratu. Ketika kulihat, ternyata belati itu bukan belati biasa. Ketahanan dan penyerangannya sangat luas biasa, ini sangat efektif untuk bertarung.


Tapi Teknik yang kupunya hanyalah Teknik Pedang. Kalau begitu, aku akan menjual ini untuk mendapatkan pedang yang bagus.


Saat aku memandangi belati Valarish, aku menyadari ada sesuatu yang aneh dengan kemampuan yang kusalin dari Valarish.


Keanehan itu terletak pada skill, dimana Valarish memiliki skill yang mampu mengkombinasikan satu skill dengan skill lainnya. Cara kerjanya sama dengan Evolver, tetapi efeknya terhadap skill. Jelas aku bingung, kalau Valarish memiliki kekuatan yang lebih dari Evolver, kenapa dia tak menggunakannya?


“Kau memiliki skill Crafter, bisa untuk menciptakan skill lain, kenapa tidak kau gunakan untuk memperkuat dirimu sendiri?” aku menanyakan itu kepada Valarish yang masih membeku, dan pada saat itu juga Florinas terbang ke arahku.


Valarish yang sedang menahan sakit entah bagaimana mau menjawab, “Hal bodoh apa yang kau katakan? Skill itu akan menyerap seluruh mana penggunanya dan membuatmu mati. Itu skill bunuh diri, bodoh.”


“Kalau kau mati, bukankah bisa dihidupkan kembali dengan Resurrection? Jangan bilang di kekaisaran-mu tak ada yang bisa menggunakan Resurrection?” kataku.


Kemudian Florinas menjawab, “Itu mustahil, Master. Sihir Resurrection adalah satu-satunya sihir pembangkit, dan seseorang hanya bisa dihidupkan dua kali apabila dia mati.”


Itu berarti skill ini hanya bisa digunakan dua kali oleh Valarish? Oh, pantas saja dia memiliki tiga skill. Selain Crafter, Valarish memiliki skill bernama Counter dan Locating. Yang Counter itu berguna untuk menetralkan skill orang lain yang bersifat mengefek secara personal, dan Locating berguna untuk melacak.


Pantas saja Raja Loiros tak menggunakan Complete Order untuk menyuruh Valarish berhenti, karena dia tahu skill-nya akan sia-sia.


Tapi.. aku ‘kan juga menggunakan skill-ku pada Valarish.


“Florinas, Counter berguna untuk menetralkan skill orang lain bukan?”


Florinas mengangguk.


“Lalu kenapa aku bisa menyalin kemampuannya?”


“Itu gila! Skill tidak bekerja seperti itu!” Valarish berteriak kepada Florinas. “Memangnya kau siapa?!! Muncul begitu saja dengan kekuatan hebat, dan mencuri Lennef dariku?! Sialan kau, Walter! Aku bersumpah—”


Sebelum Valarish mencapai akhir kalimat, aku mengayunkan belati yang kupegang untuk memenggal kepalanya. Padahal hanya ayunan ringan, tapi sudah cukup untuk membuat kepala seseorang terpisah dari badannya.


Setelah aku membunuh Kaisar Valarish, Florinas berlutut di depanku.


“Aku menyatakan kesetian penuh padamu, Master. Sebagai sosok yang memegang skill Evolver, dan Crafter tanpa batas.”


“Oh, iya, aku abadi. Berdirilah, Florinas, aku lebih senang menganggapku sebagai keluarga daripada sebagai bawahan.”


Florinas kemudian berdiri dan tersenyum.


Aku dengan belati yang kubawa berjalan menuju Killifer yang tengah kesakitan memegangi rahangnya yang patah, darah keluar dari mulut dan lubang hidung Killifer, tapi ia yang kuat tentu bisa menahan sakit itu.


Ketika aku baru membalikkan badan, semua orang berotot kekar yang mengepung kami langsung keluar dari istana dengan terbirit-birit. Seolah-olah aku adalah malaikat pencabut nyawa yang akan membunuh mereka sebagai target selanjutnya.


Raja dan Ratu berterima kasih kepadaku, meskipun suasananya menjadi canggung karena aku mengotori istana mereka dengan darah. Sedangkan Lennef memperlakukanku seperti pahlawan, dia menarik tanganku dan mengecup pipiku.


Berbalik ke Killifer, ia tak bisa berlari dengan kondisinya yang seperti itu. Ia hanya bisa diam saat aku dan Florinas mendekat, “Kau tak lari, Killifer? Apa rahangmu sesakit itu sampai melumpuhkan keinginanmu untuk hidup?”


Killifer diam, tak menjawab pertanyaan basa-basi itu.


Aku kemudian menunjukkan belati yang kupegang kepada Killifer. “Belati apa ini? Satu ayunan tanpa kekuatan bisa memotong daging. Kau tahu sesuatu?”


Dengan sedikit merapihkan posisi rahangnya, Killifer menjawab, “Itu Dagger of Emperor, belati yang ketajamannya berdasarkan pada kekuatan pemegangnya.” Jelas Killifer dengan nada suara pelan yang aneh.


“Kaisar-mu punya banyak yang seperti ini?”

__ADS_1


“Entahlah.. aku jarang melihat ia memegang senjata. Tapi yang pasti, itu bukan satu-satunya. Dia memiliki ruangan khusus yang digunakannya untuk mengoleksi barang langka seperti itu.”


Kalau Valarish sampai membuat ruangan khusus, seharusnya ada dua atau lebih senjata seperti ini di Kekaisaraannya. Pasti akan bagus kalau ada pedang yang bisa kugunakan. “Ayo Florinas, kita ke istana kekaisaran.” Aku memegang tangan Florinas dan bersiap berteleportasi.


Sebelum aku pergi, Killifer menghentikanku, “Tunggu!” aku dan Florinas terdiam sejenak.


“Oh, aku lupa membunuhmu.”


“Tidak, kumohon.” Killifer menjatuhkan kepalanya ke lantai, dia bersujud kepadaku, “Kumohon, jadikanlah aku bawahanmu.. atau budak pun boleh.”


Aku berpikir, saling bertatap mata dengan Florinas yang terlihat tak mempercayai Killifer. “Apa keputusasaan membuat harga dirimu jatuh?” Florinas bertanya.


“.. kau memanggil namaku bukan? Kau mengingat namaku, aku sangat tersanjung. Aku mendambakan kekuatan, aku jatuh cinta dengan kekuatan lebih dari siapapun. Kalau aku tidak bisa setara dengan orang sekuat dirimu, paling tidak jadikanlah aku orang yang dekat denganmu.”


“Dengan kata lain, kau menawarkan diri untuk setia kepadaku?” kataku.


“Benar. Aku akan setia kepadamu selamanya.”


“Kuterima. Kalau begitu sebagai perintah pertama untukmu, bunuh dirimu sendiri dengan belati ini.” Aku melempar belati yang kupegang pada Killifer.


Dia terkejut dengan perintah dariku, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis, ia jelas lebih putus asa dari sebelumnya. Ketika kau menyatakan rasa setia pada orang yang ingin membunuhmu, dan orang itu mempersenjatakan rasa setia kepada orang yang bersetia kepadanya, ironis bukan?


Killifer tampak ragu. Ia mengangkat belati itu dengan tangannya yang gemetar. Berkali-kali Killifer melihat kepadaku, memastikan apakah perintahku ditarik kembali atau tidak. Kemudian setelah menelan ludahnya, Killifer menusukkan belati itu ke lehernya.


Belati itu menembus leher, dan membuat Killifer mati seketika.


“Florinas, dia mati atas perintah dariku. Apa aku perlu menjadikannya bawahan.. tidak, apa aku harus menjadikannya keluargaku?”


“Semuanya adalah keputusan Master, aku—”


“Tidak, tidak, aku hanya ingin tahu apakah kau keberatan bila dia berada di posisi yang sama denganmu? Secara dia sama-sama bersetia kepadaku.”


“.. aku sedikit keberatan, Master. Berada di posisi yang sama dengan manusia itu, jujur aku sedikit cemburu. Tapi apabila Master menjadikannya keluarga, maka rasa keberatan ini adalah suatu kelancangan yang harus kusingkirkan.”


Florinas, sejak kapan kau mempelajari kalimat berbobot seperti itu?”


Ya sudahlah, aku juga membunuh orang dengan alasan menghukum. Dalam kasus ini Killifer tak melukai siapapun, bahkan meskipun pedangnya itu menghantam leherku nyatanya aku tak terluka. Jadi kalau aku membunuh Killifer, maka pembunuhan ini tak lain hanya kejahatan.


Aku mencabut belati dari leher Killifer, “Resurrection.” Dan menggunakan sihir Resurrection untuk membangkitkannya. Karena luka berat yang dialami Killifer, menggunakan sihir Resurrection pada orang yang terluka menyebabkan penggunaan mana menjadi berat. Untuk membangkitkan Killifer, aku menghabiskan 280.000 mana.


Untuk manusia itu adalah jumlah yang terlalu besar, berbeda dengan ketika aku menghidupkan kembali Florinas yang memang seorang peri. “Eh? Florinas, bukankah kau abadi, lalu kenapa aku bisa menggunakan Resurrection kepadamu?” tanyaku penasaran mengingat sihir ini berguna untuk mereka yang mati.


Florinas menjawab, “Aku memang sejak awal tidak mati, sihir Resurrection milik Master tidak bekerja, tetapi sebagai gantinya mana Master terserap kepadaku. Setelah aku tersegel selama ribuan tahun dan mana-ku terlepas ke area di sekitarku, memang sudah sewajarnya Master menggunakan mana yang banyak.”


Jadi memang benar area gunung tambang di Perbatasan Timur itu adalah ulahmu? Untuk gunung yang membeku perlahan selama ribuan tahun, aku tak heran kalau di Perbatasan Timur yang bukan daerah dingin bisa muncul gunung es secara ajaib.


Di lain sisi, Killifer mulai membuka matanya. Badannya berada dalam kondisi terbaik dengan nol luka, maupun bekas luka. Ia tampak seperti pemuda kuat dewasa yang terlahir kembali.


“Selamat, kau berhasil melewati tes untuk menjadi bawahanku.” Kataku sambil tersenyum.


Killifer dengan senyuman bahagia menyanjungku dengan penuh kesenangan, “Terima kasih, terima kasih banyak.”


“Kau bisa bertanya banyak hal pada Florinas. Tapi satu hal.. panggil aku Walter atau Meffery kalau kau mau. Jangan sekali-kali memanggilku Master, karena aku sangat benci dengan panggilan itu.”


“Aku mengerti.. Tuan Walter.”



Tuan Walter dia bilang..



Florinas melirikku dengan tajam, “Master, perkataanmu barusan itu hanya bercanda kan?”

__ADS_1



Aku menjawabnya dengan mengangkat alis dan bahu.


__ADS_2