Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 24


__ADS_3

Yang kudapatkan dari sihir persembahan milik Varnella adalah skill Solar Complex, yaitu skill yang mampu mengubah intensitas cahaya menjadi benda padat berupa senjata. Misalnya aku bisa membuat dua pedang dari cahaya matahari, atau tombak, atau sebagainya, dan setiap senjata itu memiliki suhu yang tinggi dikarenakan berkumpulnya panas dalam satu titik.


Recreation of Intensity adalah sihir penciptaan skill yang menggunakan jiwa manusia, seberapa kuat skill itu ditentukan oleh seberapa banyak jiwa manusia yang dipersembahkan. Itu adalah satu-satunya sihir yang bisa menciptakan skill, karena itu ada banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunnya adalah jumlah jiwa yang diperlukan.


Perlu  jutaan orang yang dipersembahkan untuk membuat skill yang sangat hebat. Itulah kenapa aku yang hanya mempersembahkan beberapa jiwa hanya mendapatkan Solar Complex, yang mana sebenarnya itu bisa dilakukan dengan memanipulasi sihir cahaya.


Dan juga ada beberapa syarat yang harus diperhatikan.


Syaratnya adalah orang yang dikorbankan harus sepenuhnya dikuasai oleh kita, maksudnya adalah pengguna memegang nyawa target secara penuh. Contohnya adalah aku yang bisa membunuh pasukan Daralo kapan saja, berbeda bila pengguna tak mampu membunuh target, maka sihirnya tak akan bisa digunakan. Mungkin ada syarat tambahan seperti mau atau tidaknya Recreation of Intensity menerima jiwa seseorang, seperti Cardella yang jiwanya tak diterima.


Ini hanyalah cerita lama. Segala yang berhubungan dengan Daralo dan Cardella sudah terlupakan seminggu yang lalu. Aku dan timku melakukan apapun yang kami suka. Tapi tentu saja itu tak berarti negatif, kami hanya merasa menjadi kelompok paling mematikan di dunia.


Tak ada yang merasa aneh ataupun takut dengan kami. Itu karena keberadaan kami yang rahasia, dan seluruh informasi disembunyikan langsung oleh Raja Loiros. Peranan kami menjadi kekuatan pertahanan Raverine menjadi sangat penting, yaitu menjadi kartu As.


Jadi bisa dikatakan bahwa kami adalah pasukan gelap Raverine.


Karena kebijakan serius itulah, aku menamai kelompok ini dengan resmi, Omicron.


Tak ada maksud khusus dengan nama Omicron, itu adalah nama yang kami sepakati bersama. Meffery Walter adalah ketua, Florinas adalah wakil, sedangkan anggotanya adalah Quine von Harold, Killifer Voil, dan Varnella.


Putri Lennef tidak termasuk dalam Omicron karena memang sejak awal sudah begitu. Raja Loiros sendiri menganggap kami adalah pasukan yang sangat berbahaya karena kekuatan kami yang hampir tak terbatas.


Setakut-takutnya Raja Loiros, tetap saja aku yang memegang kuasa penuh atas Omicron.


***


Siang hari itu, di istana Raverine, kami semua berkumpul di taman istana untuk menikmati piknik yang menyenangkan. Dengan menggelar karpet dan berjemur di bawah sinar matahari, ditemani banyak bunga dan rerumputan segar, kami menjalin hubungan yang sudah cukup dekat layaknya keluarga dengan cengkrama yang begitu hangat.


Flornas duduk di sebelahku, dan Lennef di sisiku yang lain. Killifer dan Quine tampak malu-malu ketika mereka memakan hidangan yang sama dari piring saji yang sama, sekarang terbukti bahwa mereka memang saling suka. Sedangkan Varnella, dia terlihat sendiri. Tapi beruntung kami mengajak Hile Strosford, Hile mampu mencairkan suasana dengan Roh Api itu.


“Omong-omong, Master.. bagaimana dengan tugas Varnella?” ucap Florinas tiba-tiba, ketika aku mulai menyantap roti lapis.


“.. tugas yang mana?” tanya Varnella kepada Florinas.


“Apa Master tak memberitahumu? Master mencarimu itu bukan tanpa alasan, benar, Master itu hanya membutuhkanmu sebagai pembaca pikiran saja!! Varnella, kau tak lebih hanya sekedar alat sihir berjalan, berbeda denganku yang sudah sering bermesraan—” Florinas berkata begitu dengan sombongnya.


Aku segera menarik telinganya agar dia berhenti mengoceh yang tidak-tidak.


Varnella bersikap dewasa dengan tidak mendengarkan apa yang Florinas katakan. Aku merasa lega karena memiliki rekan seperti Varnella. Tapi tampaknya pujian itu harus kutarik kembali ketika Varnella berbisik, “Apakah itu benar?” dengan wajah yang memelas.


Astaga, dia bahkan terpengaruh dengan musuh bebuyutan yang lebih lemah darinya.


“Aku tak bisa bilang benar. Tapi memang itulah alasan awal aku mencarimu, kumohon jangan tersinggung. Karena Florinas yang bodoh ini mulai penasaran dengan jati diriku, ia mulai merekomendasikanmu untuk membantuku.”


“Tuan Walter ingin aku membaca jati diri Tuan?”


“.. semacam itu. Bagaimana kalau masa lalu? Kau bisa membaca masa laluku?”


“Tentu bisa, Tuan, aku akan melakukan semua yang kubisa.”


Varnella berpindah posisi duduk di depanku.


Ia mulai melakukan persiapan dengan menaruh tangannya di kepalaku. Semua orang memperhatikan, suasana semakin lama semakin serius. Terutama Florinas yang tadinya bertindak konyol menjadi sedikit antusias.


Varnella memejamkan matanya, mencoba fokus dengan kemampuan yang akan dia keluarkan. Kami saling menunduk, disitulah aku bisa melihat wajah manis Varnella yang berjarak tak lebih dari 1 meter di depanku. Sungguh terhina rasanya ketika aku tersipu sekian banyak kali sedangkan di sebelahku ada tunanganku.


“Baiklah, ini dia,” Varnella membuka matanya, kini dua bola mata itu berubah menjadi warna kuning terang, bersinar seperti cahaya di tengah kegelapan dan membuatku terlelap akan gemerlap berkas cahaya itu. “People Reading.”


Aku terlelap dalam mimpi panjang.


Terjebak dari rangkaian adegan yang tak kukenali.

__ADS_1


Baik waktu dan tempat, aku sama sekali tak mengenalinya.


Ramai orang berkumpul di satu tempat, mereka meneriakkan hal-hal yang tidak kumengerti. Ada banyak gedung yang mengelilingi kumpulan orang itu, serta benda aneh yang terbang di udara dan mengeluarkan cahaya yang menyorot langsung ke bawah. Terlihat juga diantara mereka ada seseorang yang naik ke atas, mengangkat tangannya, dan berteriak memberi semangat.


Orang yang naik ke atas itu, sangat mirip denganku.


Entah itu dimana, entah itu kapan, aku menggunakan pakaian yang terlihat asing, begitu juga dengan orang-orang yang kupimpin di bawahku.


Kami memperjuangkan sesuatu, aku bisa merasakan emosi ketika orang yang mirip denganku meneriakkan kekesalannya dengan lantang dan gagah.


Tapi pandangan itu tak terlihat dengan jelas sebagi satu rekaman yang pasti, tetapi hanya potongan-potongan gambar acak yang tampak seperti halusinasi. Di akhir potongan itu, aku melihat seseorang diantara dua pasak kayu, dimana kedua tangannya diikat, dan dia dieksekusi dengan menggunakan pedang yang langsung memotong kepalanya.


.. Prince Algerian Harold.


Nama itu tiba-tiba muncul di kepalaku.


Dan bersamaan dengan nama itu, aku terbayang seseorang yang tersenyum ketika seseorang dieksekusi.


Langkah untuk Revolusi!!


......


“Master.. kau baik-baik saja?!! Master! Master, kau dengar aku?!!”


Florinas berulang kali meneriakkan namaku. Dengan panggilan itu, aku harus berterima kasih kepadanya karena kesadaranku perlahan terkumpul. Mataku dapat kubuka kembali, dan aku terlepas dari potongan adegan acak yang rasanya membuatku terlelap dalam mimpi panjang.


”Walter, kau baik-baik saja?” Lennef melanjutkan kepanikan Florinas.


Aku terbangun dalam posisi berbaring, badanku menghadap atas, kepalaku berada di pangkuan Varnella. Semua kepala rekanku berada di atasku, menutupi pemandangan langit biru, mereka melihatku seperti dokter yang melakukan operasi.


Merasa sudah baik-baik saja, aku menaikkan badanku. “Aku.. kembali sepertinya.”


“Bagaimana? Kau berhasil melihat masa lalumu?” Hile yang bertanya.


Karena sejak awal ini bukanlah kemampuan yang kugunakan, melainkan digunakan oleh Varnella. Aneh jika aku juga mengetahui isi dari kemampuan Varnella.


Kami semua melihat ke Varnella, menunggu dia menjelaskan.


Alih-alih mendengar dengan serius, kami semua bingung ketika melihat Varnella menitikkan air mata. Wajahnya tak menunjukkan kesedihan, rautnya tak sedang berduka, tapi air mata sebening kristal itu jatuh ke bawah menuju dagu Varnella.


Jelas tak ada yang tahu alasan kenapa Varnella menangis. Kami tak mengintrogasinya, tentu tidak bila sang Roh Api itu menangis dalam keadaan senyap.


Air mata Varnella semakin deras, dia membersihkan wajahnya. Kemudian senyuman mulai muncul di wajahnya, dia berkata, “Tuan Walter.. anda sangat hebat,” katanya dengan suara yang pelan. Lalu dia memelukku, sambil terus menangis haru, “Anda tak akan mengalami neraka itu lagi.. aku.. aku akan.. setia kepada anda selamanya, Tuan Walter.”


Tanpa sedikitpun mengerti maksud dari ucapan Varnella, aku bisa merasakan betapa Varnella menghargaiku sekarang. Nadanya terdengar seolah dia adalah sahabat baikku yang baru bertemu setelah puluhan tahun berpisah. “Ya.. aku menerimamu. Terima kasih.” Kataku.


***


Beberapa waktu setelahnya, Raja Loiros memanggil seluruh anggota Omicron untuk menghadapnya. Di ruangan  yang sama ketika aku menerima lamaran Putri Lennef, dan di tempat dimana aku pernah bersiteru dengan Raja Loiros. Dua pihak yang memiliki otoritas dan kekuatan yang jauh berbeda, yaitu aku dan raja, saling berhadapan dengan hubungan rekan baik.


Searogan apapun diriku, aku masih memiliki kewajiban untuk berlutut di hadapannya. Omicron berbaris tanpa satupun lebih maju atau lebih mundur, berlutut, kepala kami menunduk ke bawah. Raja Loiros, Ratu Andervine dan Putri Lennef duduk di tiga tahta di atas kami.


Tak ada yang tahu pasti raut seperti apa yang tiga superior itu buat, kami hanya bisa menunggu sampai salah satu dari mereka mengucapkan sepatah kalimat.


Lama menunggu, bukannya perintah yang kami dengar, justru suara langkah kaki yang terdengar seperti detakan kaki menuruni tangga. Suara itu mendekat ke arahku. Kemudian belaian halus dari tangan seseorang yang memiliki telapak tangan besar terasa di kepalaku, disertai dengan suara tawa halus Raja Loiros, ia berkata, “Kau membuatku bangga, Walter.”


Aku dengan berani mengangkat kepalaku.


Terlihat wajah beliau yang memang begitu bangga, dengan raut haru dan penuh kehormatan kepadaku. Seoarang raja yang memimpin banyaknya jiwa manusia, kini sedang menunjukkan kebanggaannya terhadapku, mana mungkin aku tak senang?


Besertaan denganku, yang lainnya juga ikut mengangkat kepala. Tetapi Raja mempersilahnkan kami untuk berdiri, dan tidak perlu bersikap formal layaknya raja dan bawahan.

__ADS_1


Keputusan itu jelas kutentang, karena aku tahu sendiri dimana aku berada tak peduli seberapa besar kekuatanku. Ini bukan kerajaan dengan hukum rimba, diriku yang kuat tak membuatku menjadi pemimpin mutlak.


Raja hanya tersenyum, ia tetap mempersilahkan kami untuk bercengkrama tanpa sedikitpun keformalan.


“Walter, sebenarnya ada tugas yang ingin kami berikan kepadamu.” Ucap Ratu Anderinve yang masih duduk tenang di kursinya.


“.. tentunya bukan hanya kau, tapi juga seluruh tim-mu.” Lanjut Raja Loiros yang juga sudah kembali ke kursinya.


“Tugas apa, Yang Mulia?”


“Kau ini, panggil aku dengan namaku saja! Hahaha.. anak muda memang seperti itu, kau terlalu sopan sampai aku merasa jijik. Sudahlah, panggil Loiros dan Anderivine juga tak masalah,” ucap Raja dengan logat yang menggelitik.


“.. Loiros.. tugas apa yang ingin kau berikan padaku?”


Raja meresponnya dengan baik atas penyebutan nama Loiros itu.


Kemudian Raja menaikkan kepalanya seolah memberi simbol ke orang yang ada di belakangku. Karena penasaran, aku pun menoleh. Tak ada siapapun di belakangku. Ternyata Raja mengisyaratkan anggukan naik itu kepada dua prajurit yang menjaga pintu ruangan dari dalam. Mereka membuka pintu sesuai aba-aba raja.


Pintu terbuka, dan seseorang masuk.


Kami semua kenal orang itu. Dia adalah Christa Dervin, duta besar Kerajaan Le-Ugen yang menjadi bagian dari kelompok sementara kami beberapa hari yang lalu. Tetap dengan pakainnya yang formal tapi mempesona, Christa memikat pandangan siapapun yang ada di ruangan ini. Dia berjalan di atas karpet merah, menuju ke depan Loiros dan berlutut di hadapannya.


Tak lama berlutut, Loiros mempersilahkan Christa untuk berdiri bersama denganku dan yang lainnya.


Kami saling tersenyum satu sama lain ketika Christa ada diantara kami.


“Mungkin kita sudah tak perlu melakukan perkenalan lagi, benar?” tanya Andervine berbasa-basi, ia melanjutkan, “Mulai sekarang kita akan bekerja sama dengan Christa, entah untuk sementara atau berlanjut kedepannya.. tapi kuharap kalian berhubungan baik.”


“Mengenai misi yang akan kalian terima, itu akan dijelaskan oleh Christa.” Kata Loiros.


Loiros dan Christa saling mengangguk. Kemudian duta besar yang manis ini mulai menjelaskan, “Dua hari yang lalu, salah satu dari 13 Eternity Items, entah darimana.. berhasil diaktifkan fungsinya. Yang diaktifkan adalah Holy Crown.”


Mendengar itu, semua orang terkejut. Mereka menunjukkan wajah yang panik dan juga takut. Semuanya, tak terkecuali raja, ratu, dan putri yang kemungkinan sudah tahu mengenai hal ini. Sedangkan aku bukannya tak takut, hanya saja aku memang tak tahu apa itu Eternity Items.


Aku saling pandang dengan Florinas, tanpa pertanyaan sekalipun, wakil tim yang perhatian sepertinya langsung menjelaskan apa itu Eternity Items, “Eternity Items adalah benda-benda super curang yang fungsinya bisa mengabaikan konsep kekuatan dan fisik.”


“Seberbahaya apa?” tanyaku lagi.


“Ada banyak jenisnya, Master. Contohnya saja Extinction Dust, yaitu Eternity Items yang mampu menghilangkan satu ras di dunia secara menyeluruh, mereka akan punah. Bahkan aku yang abadi atau Master yang abadi sekalipun tetap terkena efeknya. Bisa dibayangkan kalau benda itu digunakan untuk ras manusia, maka umat manusia dipastikan punah.”


“.. begitu.. memang benar sangat curang. Tapi itu hanya berlaku untuk satu ras saja bukan? Kalau sudah dipakai apa yang terjadi?”


“Sederhana, ras yang ditargetkan akan lenyap bagai debu. Tapi itu adalah efek dari Extinction Dust, masih banyak Eternity Items yang efeknya jauh lebih gila dari itu.”


Sekarang aku mengerti betapa merepotkannya 13 item curang itu.


“Jangan bilang dari 13 Eternity Items itu belum semuanya ditemukan.” Kataku.


“.. tentu sudah semuanya, tapi itu dijaga ketat oleh beberapa negara. Sebuah perjuangan yang keras untuk mengamankan benda itu. Kau juga tahu kan, apa yang akan terjadi bila bendanya jatuh ke tangan yang salah?” jawab Christa.


Florinas melanjutkan, “Karena tak seperti dua pedang kembar, Eternity Items tak peduli dengan siapa yang menggunakannya.”


Tapi tetap saja itu merepotkan. Benda seberbahaya itu bila dijaga oleh seseorang yang tak dikenal tetap saja membuatku cemas. Bahkan meskipun itu dijaga oleh Loiros sekalipun, aku masih tak menjamin ada orang yang dengan senang hati menahan kekuatannya. Kekuatan yang besar menyebabkan orang menjadi gila, siapapun tahu itu.


“Jadi.. tentang Holy Crown itu.. apa dampaknya bagi kita?” tanyaku.


“Siapapun yang menggunakannya akan menjadi penguasa dunia. Atau bisa dibilang.. raja daripada raja, yang memimpin penuh seluruh daratan dan lautan.”


Mendengar itu, emosiku tiba-tiba naik. Jawaban yang diberikan Christa mengingatkanku pada sesuatu yang jauh tapi juga menyeramkan. Aku bertaruh bahwa diriku pernah hidup puluhan tahun dengan membencinya. Tapi entah apa itu.


Raja dari para raja. Sepertinya aku pernah menentang sesuatu yang seperti itu.

__ADS_1


Tapi dimana?


“.. baiklah.. aku tahu apa yang harus kita lakukan. Omicron, kita berangkat sekarang!”


__ADS_2