Magic Of Skill

Magic Of Skill
Chapter 2


__ADS_3

Ibu Hile bernama Rose Strosford, umurnya baru 25 tahun, tetapi wajahnya mirip seperti remaja. Hile bilang bahwa ibunya bisa menjadi sangat mengerikan apabila marah, mengingat dia yang seorang guru sihir, aku tak akan berani macam-macam dengannya.


Nona Rose bertanya padaku, bagaimana sosok orangtuaku dan siapa mereka. Aku menjawab bahwa aku tak tahu, wajah mereka bahkan sama sekali tak ingat. Ingatanku tentang dunia dimulai di saat aku kelaparan. Tapi entah bagaimana aku bisa tahu segala hal layaknya orang normal. Lalu momen dalam hidup? Sayangnya sama sekali tidak.


“Ini aneh, tak pernah ada kasus seperti ini sebelumnya.” Ucap Nona Rose sambil memegang dahunya.


Aku sungkan menjawab, “Anda tak perlu repot-repot memikirkannya, anggap saja aku ini sebuah kesalahan.”


Mendengar jawabanku, Nona Rose menggebrak meja sambil berteriak, “Tidak bisa! Aku orang yang sangat penasaran. Tentang ingatanmu, mungkin itu hanya sekedar amnesia, tapi bagaimana dengan skill-mu? Itu terlalu spesial untuk bisa dikatakan sebagai skill.” Terlihat keseriusan yang teramat sangat dari mata nona Rose.


“Sebelumnya, skill itu apa?.. M-Mana..? atau sihir?”


Nona Rose menenangkan diri dengan membuang napas desah, dia menjawab pertanyaanku, “Dari yang termudah, mana adalah tingkat kapasitas sihir seseorang, umumnya seorang petualang biasa memiliki mana sekitar 1000 sampai 2000. Sihir itu sendiri adalah pengubahan konsep dengan mana sebagai bahan bakarnya, namun pengubahan konsep itu sendiri masih terbatas.” Nona Rose menatapku.


“Dan.. skill adalah?”


“Skill tak jauh berbeda dengan sihir, tapi kalau sihir masih masuk diakal, sedangkan skill sudah diluar akal. Memunculkan api, membelah tanah, menyambarkan petir, itu cukup hebat untuk sebuah sihir. Sedangkan skill, kau tak akan tahu pasti. Raja kita, Raja Loiros memiliki skill bernama ‘Complete Order’, dimana dia bisa menyuruh seseorang tanpa bantahan. Bahan bakar skill juga menggunakan mana.” Sambung Nona Rose.


Aku tak begitu paham dengan penjelasan itu. Kalau sesuatu yang dianggap masuk akal itu adalah sihir, bukankah itu aneh ketika seorang memunculkan api dan dianggap biasa? Api muncul karena adanya pembakaran, atau peningkatan suhu, bisa karena gas atau sebagainya. Itu tak masuk akal bila membuat api dengan hanya mana.


Tunggu? Darimana aku paham konsep api?


“Lalu.. apakah Sleeper juga termasuk skill?” tanyaku dengan maksud lain kepada Nona Rose.


Dan dia tampak mengerti akan hal itu, “Aku tahu, kau pasti berkata bahwa membedakan sihir dan skill adalah hal yang rumit. Sederhananya begini, sihir adalah kemampuan yang bisa dilakukan banyak manusia, sedangkan skill umumnya hanya satu atau dua orang.”


“.. aku.. mengerti.”


***


Kota begitu ramai ketika siang hari. Matahari terik, tetapi tidak membuat tubuh kepanasan. Tercium aroma sayur dan buah di sekitarku, juga terkadang aroma parfum yang menyengat. Manusia dan beberapa ras setengah manusia, seperti Elf, peri, dan nona-nona cantik dengan telinga kelinci, mereka semua turut meramaikan pasar.


Hile membawa kantung penuh bayam di tangannya, sedangkan aku menggendong roti panjang yang masih hangat. Kami berencana pulang setelah selesai berbelanja di pasar.


Nona Rose mempersilahkanku tinggal di rumah, tidak, dia bahkan menyuruhku. Urusan uang bukanlah masalah, anggap saja bahwa aku adalah anaknya. Dia memiliki gaji yang cukup layak untuk menghidupi tujuh orang sekaligus. Begitulah yang ia katakan.


“Aku terkejut ras Elf bisa semudah itu berbaur dengan sekitar, apalagi sampai berbelanja di pasar.” Aku menyeletuk kepada Hile yang menunggu es krim pesanannya kepada seorang pedagang.


Hile mengambil pesanannya, kemudian mulai menjilati es krim itu dengan perasaan senang. “Apa maksudmu? Mereka memang seperti itu.” Kami lanjut berjalan pulang setelah keingingan Hile untuk memakan es krim terkabulkan. “Yah.. kau tahu, ada regulasi yang mengizinkan mereka tinggal disini.”


“Putri. Lennef?” tanyaku.


“Benar, putri sangat baik, dia mengizinkan para Elf untuk-”


“Tolong!! Tolong!! Pencuri!! Pencuri itu mengambil tasku!!” tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari ujung keramaian.


Kerumunan orang di depanku tiba-tiba menepi, seakan mereka membuka jalan untuk seseorang yang akan melewati jalan itu. Tidak, atau mungkin mereka panik? Aku yakin ada seseorang yang berlari ke arahku, dia membawa tas kulit yang cukup besar di tangannya.


Semua orang termasuk Hile menepi, aku tak mengerti mengapa mereka begitu takut dengan pencuri.


Si pencuri berlari dengan kacau ke arahku, wajahnya berantakan karena panik. Seorang perempuan dengan perhiasan mewah mengejarnya dengan lari yang terlalu lambat untuk mendului. Hingga sampai ketika pencuri itu lewat di sebelahku, aku iseng menjulurkan kakiku dan membuatnya tersandung.


Pencuri itu tersungkur dan menyeret wajahnya di tanah, tas yang ia bawa terlempar ke arahku.


“Kau! Kurang ajar!” si pencuri bangun dan menatap marah kepadaku.


Astaga, aku membawa kantung roti dan tas di kedua tanganku. Melepaskan kantung berisi banyak roti adalah hal yang konyol. Sedangkan tas yang kupegang, aku berniat untuk melepasnya, tapi si pemiliknya sudah dekat dan aku merasa tak enak bila menjatuhkannya.


Sesuai dugaanku, si pencuri melawan. Ia mengambil pisau dari saku celananya, itu pisau yang biasa digunakan untuk berkemah di gunung. Melihat aku yang tak bisa menggunakan kedua tanganku, dia maju membawa pisaunya tanpa ragu.

__ADS_1


Bahaya, dia jelas akan menusukku.


Dan teringat satu ide konyol dari dalam benakku..


“Sleeper!”


Tepat sebelum ujung pisau menyentuh dadaku, si pencuri kubuat tertidur dengan sihir milik putri Lennef. Sama sekali tak ada perlawanan, ia jatuh begitu saja dan tertidur nyenyak di tanah.


Semua orang memperhatikanku, aku dan pencuri sudah seperti dua orang pemuda yang mengadakan pertunjukan di tengah jalan.


Dari arah yang berbeda, perempuan si pemilik tas datang menghampiri, aku memberikan tasnya. “Oh, terima kasih, kau menyelamatkanku, nak.” Menggunakan perhiasan yang sangat mewah, dan rambutnya yang sangat wangi. Aku tahu betapa banyak uang yang ia miliki. “Kalau tak keberatan..” ia mengorek sesuatu dari tas itu, “Ini,


sebuah kupon diskon di toko bajuku, mampirlah kalau ada waktu.”


Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Kemudian perempuan kaya itu pergi.


Sekarang.. harus kuapakan pencuri ini? Membiarkannya di tengah jalan adalah yang terbaik, tetapi aku yakin kalau dia akan menghalangi jalan. Dilihat dari para warga yang sangat ketakutan dengan pencuri, aku ragu mereka akan berani menyentuhnya.


Ketika aku memikirkan itu, datanglah seekor kuda dari arah yang sama dengan si perempuan kaya beranjak. Kuda itu ditunggangi oleh seorang yang mengenakan jubah, terlihat sebuah pedang panjang dikaitkan di pinggang si penunggang.


Kuda itu berhenti di depanku, yang menungganginya adalah seorang lelaki tampan berwajah damai dengan rambut hitam yang menarik. Ia persis seperti pangeran. Pangeran itu turun dari kuda, dan melihat keadaan sekitarnya.


“Kau yang melakukan ini?” pangeran menunjuk ke pencuri yang tergeletak di tanah.


“Ya.. maaf.”


“Haha! Kenapa minta maaf? Aku justru ingin berterima kasih.” Pangeran itu tersenyum kepadaku dengan sangat ramah. Ia berbalik ke arahku dan menunjukkan tangannya. Dengan sedikit keraguan, aku menyambut tangannya, kami bersalaman. “Aku adalah Thomas von Neressy, si ahli pedang. Gelarku Ksatria Kerajaan. Terima kasih sudah membantu pekerjaanku.”


Kau yakin, kawan? Bersalaman denganku sepertinya bukanlah hal yang bagus.


“Meffery Walter.. gelarku.. pecundang.”


Apa semua ksatria begitu? Neressy meskipun memiliki wajah yang tampan dan kekuatan yang sangat gila, dia tetap bersikap baik kepada orang asing sepertiku. Tampaknya kegilaan itu berlanjut kepadaku, seperti yang Nona Rose katakan bahwa skill-ku otomatis diaktifkan.


Dan karena skill ini, tentunya aku mendapat kekuatan penuh dari Ksatria Kerajaan.


***


Di rumah, ketika aku dan Hile sedang mengupas buah, aku sengaja menceritakan kejadian jabat tangan itu dengan Hile. Dan reaksinya sangat mengejutkan.


“H-Hah?!!” Hile berteriak dengan sangat keras, terkejut dengan pengakuanku. “Kau menyentuh Tuan Neressy? Apa kau gila?” ia memastikan kembali apa yang kuterangkan sebelumnya.


Aku mengatakan bahwa aku mendapat kekuatan ksatria itu, bisa kurasakan dari energi dan kuatnya sekujur tubuhku. “Ya, aku tak tahu apa yang membuatmu begitu terkejut.”


“Kau ini.. ksatria itu adalah sosok yang sangat spesial. Baik sihir maupun kekuatan fisiknya, semuanya dilatih sejak kecil. Dan kau menyalin semua kekuatan itu dalam hitungan detik? Aku takut tubuhmu tak sanggup menahannya.” Hile menjelaskan dengan mimik yang berubah-ubah.


Aku bertanya, “Apa maksudmu?”


“Lihatlah tubuhmu, sama seperti sebelumnya bukan? Ototmu tak tumbuh, dan ekspresimu tak menunjukkan pria yang penuh wibawa. Aku hanya curiga bahwa tubuhmu mungkin tak sanggup menahan kekuatan ksatria.”


Kalau dipikir lagi itu memang masuk akal. Neressy jelas bukanlah orang biasa, ketika bersalaman pun dia seperti mencengkramku karena tangannya yang begitu kuat. Sedangkan aku, tubuhku tak sama seperti Neressy, tapi aku yakin sekali skill-nya tersalin.


Apa kemampuanku ini benar-benar tak beresiko?


Mungkin harus kutanyakan pada Nona Rose.


“Hile, ayo kita ke ibumu, ada yang ingin kuceritakan dengannya.” Ucapku.


“Bagaimana caranya? Ibu bekerja di akademi sihir, butuh waktu seharian penuh dengan berjalan kaki untuk bisa sampai ke sana.” Hile tak menjawabnya serius karena apel di mulutnya masih sedang ia kunyah.

__ADS_1


“Skill milik Neressy, Dimension Teleport sepertinya bisa membuatku berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Malahan.. sepertinya orang itu bisa pergi ke ruang manapun yang ia mau.”


Seolah tak percaya, Hile menatapku dengan sinis, “Bagus, kau mencuri skill sehebat itu.”


Kami melanjutkannya dengan berangkat menemui Nona Rose.


Skill yang mampu memotong ruang itu benar-benar berguna. Aku memegang tangan Hile, kemudian memfokuskan mana untuk menggunakannya. Tempat yang kubayangkan adalah tempat Nona Rose berada. Saat skill-nya sudah siap, kau akan langsung tahu karena seperti ada tombol yang siap ditekan kapan saja.


Aku pun mengaktifkannya, dan kami berpindah tempat.


Aku memejamkan mataku ketika ruang kami terpindah, Hile disebelahku sempat berteriak histeris karena perubahan yang sangat mendadak. Inikah rasanya teleportasi? Rasanya mual karena suhu dan tekanan mencekikku.


Ketika aku membuka mata, betapa mengejutkannya. Ternyata ini adalah sebuah kelas.


Kelas dengan murid-murid yang duduk di meja yang tersusun menanjak ke atas layaknya sebuah tangga. Aku berdiri tepat di depan semua murid, posisi kami layaknya seorang guru.


“.. Hile? Kaukah itu?” terdengar suara disebelah kami, suara itu adalah milik Nona Rose. Di wajahnya tercetak seribu pertanyaan yang dilontarkan kepada kami berdua. Meskipun menyapa anaknya, hal utama yang Nona Rose perhatikan adalah aku, dia mendekat dan bertanya, “Bagaimana bisa kau muncul disini tiba-tiba?” sambil berbisik.


“Aku tak sengaja menyentuh Ksatria Kerajaan Thomas von Neressy.. ini adalah skill miliknya.”


“Hah?!! Apa kau sudah gila?!!” Nona Rose berteriak kencang sekali, terkejut dengan pernyataanku sama seperti anaknya beberapa saat yang lalu. Tahu bahwa dirinya menarik perhatian, Nona Rose spontan menutup mulutnya.


Para muridnya yang masih bingung dengan kemunculanku bertanya, “Apa ada masalah, Bu?”


“Tidak, tidak, semuanya baik-baik saja.” Nona Rose memutar otak untuk menjawab itu, tidak, dia memutar otak untuk memikirkan kalimat selanjutnya, “Aku sedang ada urusan, bisakah kalian belajar sendiri untuk beberapa menit kedepan?”


“Begitu.. baiklah.” Jawab beberapa dari mereka.


Kemudian Nona Rose menyeretku keluar dari ruang kelas. Hile ikut di belakangku.


Dia terus menyeretku hingga menyusuri lorong, entah mau dibawa kemana aku oleh Ibu dengan rambut hijau gelap ini.


Dengan tanganku tetap ditarik oleh Nona Rose, aku memperhatikan setiap sudut dari akademi. Ada banyak ruang kelas, lorong-lorong besar, dan aktivasi mana dari segala arah. Beginikah akademi sihir? Seandainya aku menyentuh semua murid disini, kira-kira apa yang terjadi?


Beberapa menit berjalan, Nona Rose melepas tanganku, kemudian dia memaksaku masuk ke dalam sebuah ruangan dengan pintu kayu yang tingginya dua kali lipat tinggi badanku. Kami bertiga masuk ke dalamnya. Di sana ternyata merupakan laboraturium penelitian.


“Ini laboraturium-ku, biasanya aku membuat ramuan disini. Tenang saja, tak akan ada yang masuk. Duduklah disana selagi aku membuatkan teh, Hile juga. Dan ingat, jangan menyentuh apapun!” padahal dua detik yang lalu ia menyuhku duduk?


Ada sebuah meja panjang dengan benda-benda aneh diatasnya, sebut saja sebuah wadah kaca dimana di dalamnya terdapat cairan berwarna-warni. Aku duduk di sebuah bangku kayu yang langsung menghadap ke meja.


Di ruangan ini juga dikelilingi rak buku, tak ada tempat kosong di rak itu, semuanya penuh dengan buku tebal.


“Jadi.. apa yang kau coba bicarakan? Maaf saja, aku juga sibuk, aku akan sangat senang kalau kita tak banyak berbasa-basi.” Ucap Nona Rose memulai pembicaraan ketika ia masih membuat teh.


“Ini sebenarnya hanya sedikit peringatan dari Hile. Langsung saja, aku ingin tanya padamu, apakah tubuhku mampu menahan kekuatan dari seorang ksatria? Terlepas bahwa Touch Drive memang kekuatan untuk menyalin kekuatan. Tapi tetap saja.. apakah tubuhkus siap?” tanyaku, Hile memperhatikan.


Nona Rose menghela napas, ia mulai mengaduk teh di cangkir yang ia pegang. Kemudian dia kembali kepadaku dan memberikan teh itu. “Wajar kalau kau ragu.” Nona Rose duduk di depan anaknya, dan aku mulai menengguk teh. “Kau ingin aku memeriksamu?”


“Untuk seorang pembimbing akademi.. kupikir, ya.”


Nona Rose berpikir sesaat sebelum memastikan. “Baiklah, aku mengerti. Tapi aku ingin kau ikut membantuku juga.”


“Apa yang harus kulakukan?”


“Kau tahu, ini sedikit beresiko, Walter. Gagal sedikit saja maka nyawamu yang akan menjadi taruhan, kau yakin dengan itu?” Nona Rose memperingatkanku sebelumnya.


Kehilangan nyawa? Sepertinya aku tak asing dengan perkataan barusan. Tapi, menurutku jawaban sepenting ini harus secepat mungkin kudapatkan. Ya sudah, mau tidak mau. “Aku siap, kita hanya perlu menghindari kegagalan itu.”


“Kalau itu maumu, baiklah. Aku ingin kau memperlihatkan penuh semua kekuatan yang kau punya.”

__ADS_1


__ADS_2